May 15, 2020
Tak Pandang Gender dan Latar Belakang, Sufisme Sentuh Banyak Perempuan

Webinar perdana Magdalene Learning Club membahas perempuan sufi dan aspek feminisme dalam spiritualitas bersama Prof. Musdah Mulia.

by Siti Parhani, Reporter
Issues // Politics and Society
Islam_Sufisme_KarinaTungari
Share:

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
Yang abadi padaku

Lewat syair-syair yang sering ia senandungkan, ibu sufisme Rabi’ah Al-Adawiyah menggugah kesadaran spiritualitas manusia dalam beribadah. Hidup di Irak pada abad 8, perempuan muslim itu menyebarkan cara beriman yang mengedepankan hubungan antara individu dengan Tuhannya. Alih-alih menginginkan imbalan surga atau ketakutan akan neraka, ia lebih memperlihatkan spiritualitas dalam beragama.

Dalam cerita lain, dikisahkan bahwa Al-Adawiyah keluar rumah membawa kendi dan obor. Ketika ditanya warga apa yang hendak ia lakukan dengan kedua benda tersebut, ia menjawab bahwa ia hendak memadamkan neraka dengan air di kendinya dan membakar surga dengan obor supaya orang-orang tak lagi beribadah hanya untuk mengharap surga dan neraka.

Meski kisah hidup Rabi’ah Al-Adawiyah sering dijadikan contoh keteladanan dalam beribadah, ajaran sufisme yang dicontohkannya justru masih awam dan belum jamak ditemukan di Indonesia. Bahkan ada beberapa ulama yang saat ceramah mengatakan sufisme adalah ajaran sesat yang lebih mirip ajaran Hindu karena menarasikan spiritualitas dan meditasi.

Lalu sebenarnya apa sufisme itu? Bagaimana mencapai kesempurnaan cinta seperti Al-Adawiyah?

Profesor Yurisprudensi Islam Musdah Mulia mengatakan, pelabelan sesat terhadap sufisme terjadi karena kebanyakan orang beribadah hanya secara literal alih-alih kontekstual, sehingga sufisme dianggap bid’ah (sesat) karena ajarannya yang lebih menekankan ketenangan jiwa, bukannya ketakutan akan hal-hal transenden seperti surga dan neraka seperti pada umumnya.

“Istilah sufi sendiri muncul karena sebagian orang ingin lebih dekat dengan Allah, artinya sufisme ini berhubungan dengan masalah spiritualitas atau jiwa. Karena berhubungan dengan jiwa jadinya sifatnya abstrak, jadinya enggak mengenal jenis kelamin, gender, maupun perbedaan warna kulit dan latar belakang kita,” ujar Musdah dalam webinar perdana Magdalene Learning Club, yang bertema “Perempuan-Perempuan Sufi, Unsur-unsur Feminisme dalam Spiritualitas” (7/5).

“Tuhan memberikan mandat yang mengajarkan kita untuk lebih sering menguliti diri sendiri daripada mengurus urusan orang lain. Mereka yang menganggap sufisme itu sesat mungkin belum menempatkan pentingnya literasi spiritual dalam beragama,” kata Musdah.

Menurutnya, konsep spritualitas yang dianut Rabi’ah Al-Adawiyah bukan hal yang baru dalam Islam. Nabi Muhammad sendiri sering melakukan meditasi di Gua Hira selama bertahun-tahun, merenungkan kegelisahannya tentang masyarakat Arab pada masa Jahiliyah yang hanya mengenal hukum rimba.

Baca juga: Lewat Buku Muslimah Reformis, Musdah Mulia Tekankan Penafsiran Feminis-Humanis

Setelah menjadi nabi, Muhammad sering melakukan kontemplasi atas dirinya dan keadaan umatnya. Di Gua Hira tempat Nabi Muhammad mengasingkan diri itulah selanjutnya beliau memperoleh pengalaman spiritual yang tinggi yaitu wahyu dari Allah. Proses perenungan Nabi Muhammad ini jarang tercatat, justru banyak ditemukan di dalam hadis-hadis riwayat Aisyah.

Berbeda dengan zaman Nabi yang sebisa mungkin membuat Allah dekat dengan perasaan manusia, posisi agama sekarang ini lebih mirip organisasi yang menciptakan banyak sekat dan acap kali menempatkan laki-laki pada hierarki paling tinggi, kata Prof. Musdah.

Di tengah ajaran Islam yang patriarkal dan judgemental, sufisme menawarkan ajaran yang tidak mengenal jenis kelamin, maupun latar belakang. Hal tersebut pula yang menjadi alasan banyak perempuan maupun mereka yang merasakan krisis identitas lebih nyaman memilih tasawuf sebagai jalan hidup untuk mendekatkan diri pada Allah, tambah Musdah.

“Tuhan itu seharusnya sesuatu yang dekat tak berjarak seperti urat nadi,” ujarnya.

Jalan terjal dan sunyi

Meski dikesankan hanya mengedepankan syair, meditasi, serta tarian whirling dervishes yang berputar-putar, Musdah Mulia mengatakan bahwa sufisme atau tasawuf bukanlah jalur yang mudah untuk ditempuh. Perlu ada kemauan untuk belajar lebih dalam melihat posisi manusia dengan penciptanya.

Namun jika kita tertarik untuk memperbaiki spiritualitas diri, hal itu bisa dimulai dengan cara sederhana, yakni bertanya pada diri sendiri, ujarnya.

“Kita harus selalu bertanya dalam hidup ini kita siapa? Ngapain ada di dunia ini? Habis dari dunia ke mana? Kalau tidak begitu mungkin spiritualitas kita akan terus kosong,” kata Musdah.

Tasawuf bisa dikatakan sebagai ajaran yang melawan masyarakat yang hanya beragama secara fiqiah, atau hukum, sehingga mudah menyebut sesuatu halal dan haram. Imam besar sufi Al-Ghazali menjelaskan bahwa pokok-pokok dalam tasawuf itu berhubungan dengan hablum minallah dan habluminanas, yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia.

Dalam tasawuf dikenal istilah tarekat yang dapat diartikan sebagai sistem pengajaran atau jalan untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqam) dalam rangka proses pendekatan kepada Allah. Untuk belajar sufi memang idealnya harus dengan mursyid atau guru spiritual. Melalui guru inilah tarekat mulai membangun sistem ajaran dan metode-metode tasawuf, misalnya seperti zikir dan do’a.

“Sayangnya di Indonesia itu memang jarang sekali adanya mursyid, saya pernah ketemu tapi dia tidak dianggap di masyarakat,” ujar Musdah.

Untuk dapat menjalani tasawuf sepenuhnya sampai pada tingkatan Rabi’ah Al-Adawiyah yang menemukan keutuhan cinta hanya pada Tuhan bukan manusia ada enam tingkatan, yaitu:

  1. Maqam tobat

Untuk bisa mendekatkan diri pada Allah, kita harus mulai dengan pertobatan. Hakikatnya, perbedaan manusia dengan malaikat adalah hawa nafsu. Jika malaikat bisa sepenuhnya patuh pada Allah tanpa cela, sedang manusia adalah sumber kekhilafan karena adanya hawa nafsu, baik nafsu mata, pikiran, maupun syahwat.

“Di tahap pertama ini saja orang menjalani proses yang berbeda-beda, karena berkaitan dengan pengendalian nafsu akan diri sendiri. Ada yang bertahun-tahun baru menyelesaikan maqam tobat, ada yang setahun sudah bisa sampai tahap ini. Jadinya setiap melakukan kesalahan harus sadar,” ujar Musdah.

  1. Maqam Zuhud

Zuhud bisa diartikan sebagai jalan hidup yang menghindari perilaku hedonisme, menjauhkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi. Tapi zuhud tidak berarti memutuskan kehidupan dengan unsur duniawi lalu pergi ke hutan yang lebih sedikit godaannya. Seorang sufi diharuskan tetap bekerja dan berbaur dengan kemajuan zaman namun wajib mengendalikan nafsu untuk berperilaku konsumtif.

“Bukan berarti menghindar, yah, justru dengan adanya godaan untuk hedon, iman kita diuji jadi lebih kuat,” kata Musdah.

  1. Maqam Sabar

Sabar di sini bukan sabar dalam artian statis yang hanya  didefinisikan sebagai pasrah menerima keadaan. Tapi sabar seharusnya bersifat dinamis atau refleksi diri untuk terus menyampaikan kebenaran meski keadaan sedang sulit.

Maqam sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan, tapi lebih kepada menahan diri dalam memikul kesusahan baik dalam sesuatu perkara yang tidak diingini maupun dalam kehilangan sesuatu yang disenangi.

  1. Maqam Tawakal

Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan, dan mewakilkan segala urusannya kepada Allah tapi dengan catatan ia sudah melakukan berbagai usaha terlebih dahulu. Musdah mencontohkan, ada seorang sahabat yang tidak mengikat untanya ketika sedang beristirahat. Ketika ditanya oleh Nabi Muhammad mengapa ia tidak mengikat untanya, ia menjawab bahwa ia sedang bertawakal kepada Allah apa pun nanti yang akan terjadi pada untanya. Tawakal tanpa adanya usaha terlebih dahulu semacam itu yang dilarang Nabi.

“Padahal belum ada tuh usahanya mengikat sudah bilang tawakal. Kata Nabi, itu bukan tawakal tapi lalai. Jadi istilah tawakal itu setelah kita usaha habis-habisan,” ujar Musdah.

  1. Maqam Rida (Maghfirah)

Apa pun usaha yang kita lakukan ujung-unjungnya adalah untuk mengharapkan rida Allah. Dikisahkan pada riwayat sufi bahwa ada dua perempuan di tanah suci, yang satu berkata hendak ke baitullah (rumah Allah) dan yang satunya lagi hendak pergi ke Ka’bah. Ketika perempuan kedua bertanya kepada perempuan pertama kenapa ke baitullah, ia menjawab bahwa ia tidak mencari benda ciptaan Allah berwujud fisik Ka’bah tapi lebih kepada pencarian spiritual untuk mencari keridaan pemiliknya.

Baca juga: Kelompok Pengajian 'Salam' Kaji Islam dari Perspektif Kemanusiaan

  1. Maqam cinta

Sebagai tingkatan paling tinggi, maqam cinta bisa diraih ketika kita sudah memiliki rasa cinta pada Tuhan lebih daripada terhadap ciptaan-Nya. Saking besarnya cinta kita pada Tuhan sampai tidak ada ruang untuk orang lain, karena cinta kita pada Allah sudah memenuhi segala kebutuhan kita akan kasih sayang. Sebagai tingkatan paling tinggi maqam cinta mereka yang sudah bisa sampai di tahap ini biasanya dijuluki sebagai orang-orang istimewa.

Perempuan sufi

Karena karakter ajarannya yang tidak mengenal jenis kelamin, gender, maupun perbedaan warna kulit dan latar belakang kita, Musdah mengatakan bahwa sufisme sejak awal telah menarik perhatian banyak perempuan. Selain Rabi’ah Al-Adawiyah, sebetulnya masih banyak tokoh perempuan sufi yang berperan menyebarkan ajaran ini, seperti Hyuna, Syahwanah, dan Aisyah Al-Bauniyyah.

Syahwanah, misalnya, membuat Imam Ghazali terpukau karena dikenal sering menangis setiap kali salat dan menyebut nama Allah, teringat akan dosa-dosa yang telah diperbuatnya karena ia sempat melupakan Tuhan.

“Sampai ia menyebut bahwa batal berwudu bukan lagi perkara bersentuhan dengan lawan jenis atau buang angin, tapi ia merasa harus berwudu kembali ketika dia melupakan Tuhan,” kata Musdah.

Sayangnya, di tengah masyarakat yang patriarkal, narasi sufisme juga didominasi oleh laki-laki. Selama ini jika membicarakan sufisme tokoh yang selalu hadir adalah laki-laki. Di Indonesia, mursyid laki-laki pun lebih menonjol.

“Dalam sufisme, feminitas dan maskulinitas itu seimbang. Asmaul husna (99 nama baik Allah) itu menggambarkan Tuhan dengan karakteristik yang lebih feminin. Sayangnya, pendidikan (agama) di sekolah tidak menumbuhkan aspek feminin makanya ada perempuan tegas dianggap seperti laki-laki,” ujarnya.

Ajaran sufisme yang bersifat nonbiner seharusnya bisa membantu meningkatkan ajaran agama yang lebih ramah gender dan tidak memandang latar belakang manusia, Musdah menambahkan.

Magdalene Learning Club adalah program Magdalene.co yang berfokus pada pemberdayaan, pembelajaran, dan saling berbagi. Di tengah pandemi ini, acara dilakukan secara daring lewat webinar, dengan jadwal yang bisa dipantau pada kalender kegiatan di sini.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.