February 5, 2023
Safe Space

Pelecehan di Ka’bah Era #MosqueMeToo: Bahkan di Rumah Tuhan Perempuan Tak Aman

Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan Lebanon di Tanah Suci, jadi bukti kuat kekerasan tak pandang tempat dan pakaian.

Avatar
  • January 25, 2023
  • 6 min read
  • 886 Views
Pelecehan di Ka’bah Era #MosqueMeToo: Bahkan di Rumah Tuhan Perempuan Tak Aman

Peringatan Pemicu: Ada gambaran pelecehan seksual dalam cerita.

Warga negara Indonesia (WNI) Muhammad Said, 26 terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan Lebanon di depan Kabah, Mekkah. Dilansir dari CNN Indonesia, Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu RI Judha Nugraha, (22/1) bilang, oleh pengadilan Arab Saudi, pelaku divonis hukuman dua tahun penjara dan denda 50 ribu Riyal Arab Saudi atau sekitar Rp200 juta. 

Namun, keluarga pelaku tampaknya tidak menerima vonis tersebut. Pada (21/1), anggota keluarga Said, Ana mencuit dengan akunnya @iniakuhelmpink. Ana menuliskan kronologi berbeda dan menyebut Said tak pernah melakukan pelecehan seksual. Sebaliknya, Said dipaksa mengaku oleh aparat setempat. Lagipula, imbuhnya, buat apa Said melecehkan orang di Tanah Suci padahal ia tahu itu adalah tempat suci, lokasi beribadah orang Muslim.

Unggahan Ana ini sempat mendapatkan banyak perhatian dari warganet Twitter, menyentuh 45.000 likes. Namun, di tengah keributan, seorang dengan akun @endah_musya*** membocorkan putusan hakim yang menyebutkan, pelaku diduga memegang dada korban dari belakang dengan tangan kanan dan korban merasakan sakit karenanya.

Tindakan terduga pelaku juga dibuktikan oleh rekaman video Closed Circuit Television (CCTV) yang diamankan petugas. Dilaporkan Tempo, dalam CCTV itu Said melakukan pelecehan seksual dengan cara menempelkan badannya dari belakang ke tubuh korban berkali-kali pada 10 November 2022.

Baca Juga: Atas Nama Baik Pesantren Jombang, Kekerasan Seksual Dipinggirkan

#MosqueMeToo, Gerakan yang Buka Tabir Pelecehan Seksual di Kabah

Peleecehan seksual di Kabah bukan hal baru. Ini sudah terjadi berulang kali, dan membuat banyak perempuan korban mengalami trauma berkepanjangan.

Dalam laporan BBC Indonesia, “Anggi” mengalami tiga kali pelecehan saat beribadah haji di Mekkah pada 2004. Karena pelecehan tersebut, ia mengaku trauma kembali ke Tanah Suci. Pasalnya, baik Anggi, kendati mengalami pelecehan seksual selama haji atau umroh, mereka tak pernah bisa menceritakan pengalaman itu.

Mereka terpaksa bungkam lantaran takut bakal dihakimi. Beberapa menyebutkan, pelecehan adalah “ganjaran” atas apa yang mereka perbuat di dunia. Tendensi menyalahkan korban itulah yang mengakibatkan korban enggan melapor. Karena tak ada laporan masuk, maka ada anggapan bahwa tempat sesuai Ka’bah mustahil menjadi arena pelecehan seksual.

Terkait pelecehan di Kabah, sebenarnya sejak 2018, cerita itu sedikit banyak mulai di-spill oleh para korban. Adalah perempuan Pakistan Sabica Khan yang mengaku dilecehkan selama melakukan Tawaf, salah satu rukun haji di laman Facebook.

Keberaniannya bicara ini mendorong ratusan perempuan Muslim berbagi pengalaman serupa. Singkat cerita, feminis Muslim Mona Eltahawy membangun gerakan perlawanan pelecehan seksual di tempat ibadah. Dalam tulisannya yang diterbitkan The Washington Post, Eltahawy menuturkan, gerakan ini menjadi respons solidaritas atas pengalaman Khan dan ratusan perempuan Muslim lain.

Ia lantas memulai #MosqueMeToo. Maksudnya sederhana, ia ingin membuat ruang aman bagi para perempuan Muslim untuk berbagi pengalaman traumatisnya menjadi korban pelecehan seksual di tempat ibadah.

Dengan tagar #MosqueMeToo, Eltahawy mencuit pengalamannya sendiri tentang pelecehan seksual selama Haji pada 1982, saat masih berusia 15 tahun. Pengalaman pertamanya dilakukan oleh laki-laki yang sedang melakukan tawaf. Di tengah kerumunan dan dalam keadaan berhimpit-himpitan dengan jemaah lain, pelaku menabrak Eltahawy dan meremas pantatnya.

Pelecehan kedua terjadi saat ritual mencium batu hitam (Hajar Aswad) yang terletak di salah satu sudut Ka’bah. Bersama ibu dan jemaah perempuan lainnya, Eltahawy menunggu giliran sampai polisi Saudi mengatur barisan, seraya memberi isyarat agar para jemaah laki-laki mundur dan bergantian dengan perempuan. Saat pergantian dan dalam keadaan membungkuk untuk mencium Hajar Aswad, polisi Saudi justru meraba payudaranya.

Eltahawy masih ingat bagaimana di dua kejadian itu, dia sama sekali tidak bisa melawan atau bereaksi. Ia cuma terdiam, malu dengan apa yang ia alami, dan berujung menangis karena ketakutan. Pengalaman ini membuat dirinya hancur dan butuh bertahun-tahun buatnya untuk mengakui bahwa apa yang ia alami adalah pelecehan seksual. 

Tindakan Eltahawy dalam memulai gerakan #MosqueMeToo pun membuahkan hasil. Cuitannya mendapatkan likes lebih dari 2.500 kali dan dipenuhi dengan ratusan cerita serupa. Ia pun kemudian menyarankan agar perempuan mulai menggunakan tagar #MosqueMeToo untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait pelecehan seksual di tempat-tempat ibadah dan di Tanah Suci.

Baca Juga: Lagi, Pejabat Remehkan Kasus Pelecehan Seksual: Sudah Saatnya Berubah, Pak, Bu!

Pelecehan Seksual Tak Pernah Pandang Tempat dan Pakaian

Masih ingat dengan kontroversi iklan pakaian Muslim Rabbani? Dalam unggahan videonya di akun resmi Instagramnya Desember lalu, Rabbani secara eksplisit menuliskan perempuan yang berpakaian minim itu bodoh. Mereka mengundang nafsu laki-laki untuk melecehkan mereka. Jadi ketika mereka dilecehkan tidak sepatutnya yang disalahkan adalah pelaku. Perempuanlah yang harus bisa menjaga diri salah satunya dengan pakaian tertutup.

Lewat unggahan itu Rabbani dapat banyak kecaman sampai Direktur Marketing Rabbani Ridwanul Karim mengunggah video klarifikasi yang ujung-ujungnya juga tetap menyalahkan korban atas pakaian yang mereka kenakan.

“Wanita yang berpakaian terbuka itu akan mengundang seorang pria yang berniat berpikiran buruk. Tidak berlaku sebaliknya. Wanita sekehendaknya menggunakan pakaian tertutup. Tidak memberi kesempatan untuk pria yang berpikiran jorok,” ujar Ridwanul dikutip dari Magdalene.

Terdengar miris memang, tapi tindakan Rabbani dan pernyataan Ridwanul jadi realita pahit gunung es kekerasan seksual di Indonesia. Budaya pemerkosaan begitu kental, sehingga jika ada tindakan pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi, menyalahkan korban jadi respons pertama dan paling utama. Pakaian yang korban kenakan dan tempat atau waktu korban mengalami kekerasan seksual selalu saja jadi alat ampuh masyarakat menghakimi dan menyalahkan korban.

Perempuan berulang kali disuruh menjaga diri. Menutup tubuhnya dan tidak berpakaian ketat atau minim. Tidak boleh keluar malam sendirian atau ke tempat-tempat yang dianggap sumber maksiat. Selalu ada celah masyarakat mendikte, mengatur, sekaligus menghakimi perempuan.

Tetapi dari gerakan #MosqueToo, kita setidaknya jadi paham. Pelecehan dan kekerasan seksual tak pernah satu kali pun berurusan dengan tempat, waktu, atau cara berpakaian perempuan. Perempuan dengan busana setertutup apa pun seperti saat melakukan ritual haji dan umrah. Tak peduli juga perempuan berada di Mekkah, masjid, dan di tengah siang bolong, mereka tetap saja rentan mengalami pelecehan atau kekerasan seksual.

Hal ini tak lain karena pelecehan dan kekerasan seksual selalu berasal dari intensi pelaku, bukan dari tubuh perempuan seperti yang selama ini dipermasalahkan. Intensi yang berakar dari ketimpangan atau ketidakadilan gender di masyarakat. Karenanya di dalam setiap pelecehan dan kekerasan seksual seperti yang dikutip dari penelitian terbitan Indian Journal Psychiatry akan selalu melibatkan unsur kontrol, kekuasaan, dominasi, dan penghinaan.

Baca juga: Predator Seksual itu Berlindung di Balik Jubah Gereja

Untuk mendapatkan kekuasaan dan kendali atas korbannya, pelaku kekerasan seksual (mayoritas laki-laki) melakukan praktik-praktik seperti manipulasi, pemaksaan dan, ancaman. Pelaku mungkin tidak menganggap tindakan tersebut memuaskan secara seksual, tetapi tindakan ini terkait erat dengan menegaskan kekuasaan bagi laki-laki terhadap perempuan, sehingga tindakan pun tetap dilakukan.

Ini dicontohkan dalam kasus pelecehan yang dialami Eltahawy. Ia menceritakan bagaimana salah satu pelaku pelecehan seksual saat ia diumur 15 tahun justru semakin erat meremas pantatnya saat Eltahawy berusaha menolak. Dengan kenyataan inilah, dibandingkan secara terus menerus memasang kaset lama yang selalu memojokkan dan menghakimi perempuan, apalagi dengan dalih not all men, masyarakat harus mulai mengubah cara berpikirnya. Bahwa perempuan bukanlah objek seksual sehingga harus dihormati penuh eksistensinya. 


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *