June 02, 2020

Puisi Nubuat

Bilah-bilah tubuhku tercecer ketika hewan liar yang lapar itu telah mengoyak

by Ng. Lilis Suryani
Culture // Prose & Poem
Virginity Perawan 51 Thumbnail, Magdalene
Share:

I/

Hidup merangkak dari tulang-belulang

Terseok-seok di tengah padang ilalang

Siapa mengintai di ujung sana

Bajingan lain atau bayang-bayang

Yang tampak beringas dengan taring tajam

Aku katakan bahwa

“Bilah-bilah tubuhku tercecer ketika

Hewan liar yang lapar itu telah mengoyak

Pakaian, rambut, lalu menyeret degup jantungku

Ke dalam gelap yang lebih pengap

Tinggal anyir liur dan bau darah yang asing

Merebak di seluruh permukaan subuh”

 

Beberapa burung pipit terbang melintas ladang

Kulihat tubuh lain tergeletak mengurai luka

Di perutnya, musim membukit membuat sebuah pusara

Baca juga: Mata di Ujung Cahaya

II/

Dan catatlah pengakuan:

Aku perawan yang memberikan rahim kepada waktu

Sebelum sekawanan serigala membuang anak

Ke dalam jurang tubuhku

Kini Yusuf hidup dalam sumurku

Meringkuk di antara lumut dan rasa takut

Ia  terus menyebut nama-nama bintang

Juga bulan dan matahari silih berganti

Dalam haus, bagai zikir yang tak kunjung putus

Sementara telah lama aku kering dan habis air mata

: bawalah cinta pada pengembaraan berikutnya

Setelah kau pergi kuinginkan mimpi

Dengan nubuat yang lengkap

Bagaimana para perempuan di rumah Zulaikha

Membawa pisau yang mengiris tangan mereka

Untuk mengupas nama-nama pemerkosa

Yogyakarta 2020

Baca juga: Sajak Aan Mansyur 4: Ibuku dan Aku

Ng. Lilis Suryani tinggal di Yogyakarta. Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada. Sajak dimuat di beberapa media daring dan terkumpul dalam antologi bersama Puisi Pilihan Kibul 2017. Media Sosial: @puiside