January 28, 2020
Okky Madasari dan Buku yang Membentuk Pola Pikir Kritis Anak

Keprihatinan penulis Okky Madasari pada kualitas bacaan anak mendorongnya menulis buku anak-anak.

by Siti Parhani, Reporter
Wo/Men We Love
Okky Madasari
Share:

Sepanjang kariernya sebagai penulis, Okky Madasari konsisten mengangkat isu-isu sosial politik seperti ketidakadilan, diskriminasi, dan konservatisme agama dalam novel-novelnya. Sebut saja Entrok (2010) yang menceritakan diskriminasi beragama pada masa Orde Baru; Maryam (2012) tentang persekusi Ahmadiyah; dan Pasung Jiwa (2013) soal buruh perempuan; dan Kerumunan Terakhir (2016) yang menyoroti kegelisahan menghadapi era teknologi.

Isu-isu “berat” ini dibalutnya dalam novel fiksi populer dan menarik dibaca, sehingga ia meraih Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2012. Perempuan kelahiran Magetan, Jawa Timur, itu mengatakan, tema-tema kemanusiaan merupakan bentuk pembebasan diri, dan ia percaya pada kekuatan cerita untuk mengubah cara pandang dan membangun kesadaran pembaca.

“Dengan menghadirkan realitas ketidakadilan dalam sastra, saya percaya pembaca akan mendapatkan kesempatan untuk mengalami dan merasakan berbagai masalah dalam masyarakat yang kerap kita abaikan,” ujarnya dalam wawancara lewat telepon dan WhatsApp dengan Magdalene (22/1).

Desember lalu, Okky merilis buku non-fiksi pertamanya Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan, yang dibagikan secara gratis.

Belakangan, Okky merasakan keprihatinan baru mengenai penulisan buku di Indonesia, khususnya kualitas buku cerita anak. Saat mencari buku cerita untuk putri semata wayangnya, Mata Diraya, yang kini berusia lima tahun, Okky merasa sedikit kecewa dengan dunia literasi cerita anak berbahasa Indonesia yang didominasi cerita-cerita agama, penuh dengan petuah bijak maupun pesan moral.

Menurutnya, pasar buku anak di Indonesia masih menempatkan buku cerita anak hanya sebagai medium penyampai ajaran agama serta nilai-nilai budi pekerti yang masih bias. Padahal masa kanak-kanak adalah masa yang paling tepat untuk membangun fantasi anak, ujarnya.

Ia menilai bahwa cerita anak yang didominasi ajaran agama, dan kebanyakan hanya membahas tentang bagaimana menjadi anak yang baik, justru bisa mematikan imajinasi anak.

Baca juga: Madame Asterix Sajikan Terjemahan dengan Bumbu Humor Lokal

“Buku semacam ini juga tidak mendorong mereka untuk berpikir kritis,” kata Okky, yang sedang menempuh pendidikan doktoral di National University of Singapore dan berfokus pada cultural censorship.

“Anak-anak butuh sebuah cerita yang imajinatif, yang meyakinkan bahwa itu benar-benar nyata terjadi, hingga tanpa disadari mereka bisa mengintepretasikan dan mengambil nilai sesuai dengan kesimpulan mereka sendiri. Cerita-cerita seperti itu akan diingat oleh anak-anak hingga mereka dewasa,” tambahnya.

Eksplorasi dan imajinasi

Terdorong oleh keinginan untuk menciptakan cerita anak yang tak melulu berisi pesan moral supaya patuh pada orang tua maupun agama, Okky pun merambah pada novel cerita anak. Lahirlah seri Mata, yakni Mata di Tanah Melus (2018), Mata dan Rahasia Pulau Gapi (2019), serta Mata dan Manusia Laut (2019).

Buku-buku ini mengisahkan petualangan anak perempuan berusia 12 tahun bernama Mata, ke berbagai tempat di Indonesia, mulai dari Ternate sampai Nusa Tenggara Timur. Ceritanya menyiratkan pesan tentang keberanian, persahabatan, dan bagaimana menghadapi situasi yang sulit.

“Seri Mata sejak awal direncanakan akan terdiri dari empat buku. Sekarang saya sedang menulis yang keempat,” ujar Okky.

Selain mengajak anak berfantasi, ia juga menggambarkan realitas sejarah dengan menyisipkan kondisi Indonesia saat masa penjajahan Portugis, sehingga anak bisa belajar sejarah dan memetik nilai-nilai yang ada di dalamnya tanpa mereka merasa bosan. 

Okky mengatakan bahwa ia tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam penggarapan cerita anak ini.

“Menulis novel anak bagi saya merupakan bagian dari eksplorasi, penjelajahan imajinasi dan estetika dalam perjalanan saya sebagai pengarang. Lebih dari itu, ketika saya percaya bahwa karya sastra memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran, maka usia kanak-kanak merupakan salah satu periode penting dalam perjalanan manusia,” ujarnya.

Baca juga: Innosanto Nagara Kenalkan Aktivisme Lewat Buku Anak

Berpikir kritis

Pasar buku anak di Indonesia termasuk menguntungkan karena buku anak laku keras di pasaran. Riset Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 2015 menunjukkan bahwa pangsa pasar buku anak di Indonesia adalah 22,64 persen. Secara kasat mata, berbagai acara tahunan pasar buku impor murah yang selalu penuh dengan orang tua yang mau menghabiskan uangnya untuk memborong buku-buku anak.

Sayangnya, penulis dan penerbit lokal belum mampu menyajikan cerita anak yang lebih variatif, ujar Okky. Padahal banyak cerita-cerita yang dipercayai dan hidup di masyarakat Indonesia yang patut diketahui anak, tambahnya.

“Sayangnya, banyak penulis buku anak di Indonesia masih menempatkan buku cerita anak hanya sebagai penyampai ajaran agama, atau dogma tentang budi pekerti yang serba hitam putih. Hal ini justru membatasi kebebasan imajinasi, yang akhirnya tak menarik dan tak berkesan untuk anak-anak,” ujar Okky.

Menurut Okky, cerita-cerita yang menghadirkan realitas sosial dibalut dengan fantasi dan petualangan akan diingat oleh mereka hingga dewasa, dan menjadi sebuah kesadaran berpikir serta pembebasan diri sejak dini.

“Nilai-nilai yang saya harapkan akan dimiliki pembaca, seperti berpikir kritis dan berani membebaskan dirinya sendiri, juga berlaku untuk pembaca kanak-kanak,” ujarnya.

Saat ditanya apakah ia akan fokus pada pembuatan cerita anak, Okky mengatakan bahwa menulis baginya adalah bagian kerja dari kemanusiaan, sehingga ia bisa mengeksplorasi apa saja.

“Seri Mata sejak awal direncanakan akan terdiri dari empat buku. Sekarang saya sedang menulis yang keempat, buku terakhir. Setelah itu, saya bisa menulis apa saja—novel dewasa, novel remaja, atau bisa juga novel anak lagi. Seperti yang saya bilang, ini bagian dari eksplorasi seorang pengarang,” ujarnya.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.