January 23, 2026
Issues

Nasib ‘Host Live Shopping’: ‘Live’ Berjam-jam dan Hak Seperti Buruh Magang

‘Live shopping’ jadi cara alternatif toko ‘online’ berjualan, dan rekrutmen ‘host’ pun banyak dibuka. Namun, bagaimana nasib mereka?

  • January 23, 2026
  • 8 min read
  • 150 Views
Nasib ‘Host Live Shopping’: ‘Live’ Berjam-jam dan Hak Seperti Buruh Magang

Rira baru 21 tahun, tapi sudah pernah bekerja sebagai host live shopping di tiga tempat berbeda. Awalnya 2024, ia mencari pekerjaan lewat Glints. Lowongan pekerjaan host live shopping untuk sebuah produk perawatan wajah muncul. Melihat tanggung jawab yang cocok untuk mahasiswa semester awal, Rira melamar di sana.

Proses rekrutmennya tak panjang. Rira hanya diwawancara, kemudian diminta live di TikTok dan Shopee. Tak ada pelatihan, Rira belajar jadi host dengan menonton live toko lain, sambil mempelajari informasi produk tempatnya bekerja.

Selama jadi host live untuk brand tersebut, Rira bekerja enam kali seminggu, dengan durasi live enam jam per hari, dibagi dua shift. Dengan gaji Rp3 juta, ia menempuh jarak sekitar 40 kilometer dari Cibubur ke Bekasi, Jawa Barat.

Penghasilan itu tak cukup. 

“Jujur nggak nge-cover (ongkos),” katanya sambil tertawa getir. “Dengan jam kerja itu, harusnya aku dapat gaji lebih tinggi dari UMR (Bekasi), tapi kantornya gak beres.”

Ia bersama enam pekerja lain di-PHK beberapa bulan sebelum setahun bekerja. Menurut Rira, kantor melakukannya agar tak perlu memberikan Tunjangan Hari Raya (THR).

Setelah berhenti kerja di kantor tersebut, Rira dihubungi pedagang makanan di Blok M, Jakarta Selatan. Ia ditawarkan jadi host live shopping di warung makan. Dengan gaji sekitar Rp2 juta per bulan, bisa reimburse uang transportasi, dan diberikan makanan.

Namun, pemberi kerja tak memenuhi hak Rira: tidak ada gaji.

“Pas kutanya (gajiku), atasan malah bilang, ‘kok buru-buru?’. Makanan yang dikasih juga ternyata sisa dari warung, tapi udah lama. Ya aku keluar aja,” ungkap Rira.

Kemudian, ia kembali ditawari jadi host live shopping Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produk kecantikan. Gaji yang diberikan tepat waktu, tapi jam kerjanya bikin Rira kelelahan. Kantor barunya punya 4 shift live shopping.

Pertama, pukul enam sampai sembilan pagi. Kedua, pukul sembilan pagi sampai 12 siang, dilanjutkan pukul tiga sampai enam sore. Ketiga, pukul enam sore sampai delapan malam, dilanjutkan pukul 12 malam sampai tiga pagi. Keempat, pukul tiga sampai enam pagi.

Jika bisa memilih, Rira lebih suka live selama enam jam langsung ketimbang harus menunggu tiga jam, seperti shift dua dan tiga. Ia mengaku lebih capek menunggu selama jeda. Ditambah kondisi ruang istirahat di kantor yang kotor, tak layak pakai, sehingga Rira beristirahat di ruang live yang sedang tak digunakan.

Lelahnya bertambah ketika live di tanggal kembar dan gajian. Jumlah pelanggan meningkat karena banyak diskon yang ditawarkan. Mereka pun aktif menanyakan produk, membuat Rira kewalahan.

“Pernah mau nangis karena pas payday (live-nya) rame banget. Waktu itu baru masuk (kantor), belum hafal semua informasi produk. Beneran rasanya capek banget,” cerita Rira.

Dari live tersebut, ada 500 transaksi dengan total penjualan hampir Rp40 juta. Namun, bonus yang Rira terima tak sebanding, sekitar Rp30 ribu.

Meski bekerja sebagai host live shopping tak mudah, Rira memilih tetap menjalankannya demi portofolio—ia adalah mahasiswa semester awal jurusan Ilmu Komunikasi. Dari pekerjaan ini, Rira merasa kemampuannya berbicara di depan publik terlatih. Selain itu, gaji yang diterima bisa digunakan untuk uang jajan.

Sebelum populer, live shopping awalnya diperkenalkan oleh Alibaba pada 2016. Waktu itu, perusahaan teknologi multinasional tersebut merilis Taobao Live untuk mengembalikan sistem teleshopping. Tujuannya agar konsumen langsung terhubung dengan penjual, lalu membeli barangnya.

Cara belanja ini semakin populer sejak pandemi COVID-19. Live shopping jadi medium bagi pedagang untuk berjualan, karena pertemuan sosial dibatasi. Melansir Forbes, pada 2020, pembeli online di Cina mencapai 600 juta orang. Sementara persentase dari total pendapatan di e-commerce berjumlah 20 persen.

Artinya, live shopping efektif dalam meningkatkan penjualan. Ini menjelaskan mengapa toko online sampai merekrut host, dan kini menjadi pekerjaan yang lowongannya banyak kita temukan.

Baca Juga: Di Balik Toko Online, Ada Kerja Perempuan yang Terabaikan

Host Live Shopping Sebagai Pekerjaan Baru

Setelah di-PHK pada 2023, Raras, 27, mencari cara untuk tetap punya pemasukan. Di LinkedIn, ia menemukan sebuah rekrutmen freelance untuk host live streaming produk milik klien.

Lalu, ia mendaftar. Tak butuh waktu lama hingga Raras mengikuti tahapan berikutnya: wawancara, foto seluruh badan dan tampak depan, membuat video prototipe sedang live shopping, serta tes live shopping di kantor. Kemudian, Raras resmi diterima sebagai host live shopping yang bekerja di akhir pekan. Sampai sekarang, Raras berjualan produk elektronik dan peralatan rumah tangga.

Selain Raras, Jessica, 33, bekerja paruh waktu sebagai host live shopping. Ia bekerja untuk sebuah agensi, yang memegang klien merek-merek besar dari perusahaan multinasional. Dengan jadwal kerja fleksibel dan jam kerja per bulan yang tak menentu, penghasilan Jessica per bulan pun tak pasti.

“Lumayan buat nambahin kebutuhan sehari-hari,” kata Jessica.

Loker sebagai host live shopping yang ramai dicari perusahaan besar mencerminkan kebutuhan brand untuk jualan.

Di LinkedIn, lebih dari 99 perusahaan mencari host live shopping. Di Glints, sekitar 150 perusahaan juga menawarkan pekerjaan ini. Sementara di Instagram, lebih dari 200 tempat kerja membuka lowongan host live shopping—ada yang hanya membayar gaji, ada juga yang menambahkan bonus penjualan dan uang makan. Bahkan, PT Paragon Technology and Innovation—sebuah perusahaan kosmetik—memiliki Paragon Creator Hub. Yakni  platform yang menaungi dan mengembangkan keterampilan kreator konten, termasuk host live shopping.

Kepala Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Surya Lukita Warman pun mengamini, host live shopping termasuk dalam lowongan kerja yang paling banyak diiklankan, pada Januari sampai Agustus 2025.

Baca Juga: Di Balik Melonjaknya Utang ‘Paylater’ Anak Muda Hingga Absennya Pemerintah

“Dari 10 lowongan kerja yang diiklankan, host live shopping ada di urutan ketujuh,” ungkap Surya dikutip dari Kompas.id.

Selain di kalangan agensi dan perusahaan, perekrutan host live shopping juga dilakukan oleh UMKM seperti Esta Alam, toko online di Pangalengan, Jawa Barat, yang menjual alpukat hass dan kopi arabika. 

Dewi, 36, petani alpukat sekaligus pemilik toko tersebut, merekrut salah satu buruh tani sebagai host live dan memberikan pelatihan.

Dewi bilang ia butuh host live shopping untuk menggantikan di waktu tertentu. Misalnya, ketika Dewi sedang mengantar pesanan pelanggan ke ekspedisi.

“Soalnya penjualan utama kami sekarang di Shopee live. (Penghasilannya) bukan buat kebutuhan sehari-hari lagi, tapi ngebantu bayar pekerja kebun,” cerita Dewi pada Magdalene.

Selama tiga bulan terakhir, Esta Alam menjual tiga ribu kilogram alpukat hass di Shopee live. Pendapatannya bisa sampai Rp100 juta. Dewi bilang, ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penjualan ke tengkulak, yang menghargai alpukatnya Rp3 ribu per kilogram. Sebab, tengkulak ragu dan belum familier dengan jenis alpukat tersebut.

Alasan itu jadi alasan Dewi mengandalkan live shopping. Hasil kebunnya harus segera dijual selama masih segar, sehingga Dewi berusaha menjangkau konsumen lebih luas. Selain penghasilan, keuntungan dari pemasaran ini adalah kemampuan menjelaskan produk dan membangun kepercayaan konsumen, yang belum mengenal alpukat hass.

Namun, di balik live shopping yang membantu penjualan, perempuan yang bekerja sebagai host rentan mengalami Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Seperti Rira, yang beberapa kali mendapatkan perlakuan tersebut dari penonton live, lewat kolom komentar. Biasanya, ia mengabaikan komentar dan melanjutkan pekerjaan. Tapi, saat pertama kali mengalami KBGO, Rira menangis hingga seorang rekan kerja menggantikan shift-nya.

Selain KBGO, perempuan juga rentan mengalami kejahatan fisik, jika bekerja di malam dan dinihari. Rira, salah satunya. Jam kerja yang seharian, bikin Rira sering kali live pukul 12 malam hingga tiga pagi. Membuat dirinya bermalam di kantor dan pulang jam lima pagi, setelah azan subuh.

“Aku mendingan nunggu sampai pagi, soalnya di daerah situ (tempat kerjanya) rawan begal atau maling,” katanya.

Baca Juga: Viral dan Diminati Banyak Orang, Kenapa TikTok Shop Ditutup?

Hak dari Pemberi Kerja yang Masih Miris

Tak ada perlindungan kerja yang diterima Rira, Jessica, dan Raras. Mereka hanya menerima gaji yang dihitung per durasi live shopping. Saat mengabarkan soal KBGO yang diterima pun, atasan Rira hanya menyarankan untuk melaporkan komentar ke platform.

Sebagai perusahaan yang juga mengadaptasi live shopping, PT Paragon Technology and Innovation belum memberikan tanggapan terkait pemenuhan hak dan perlindungan kerja para host live. Namun, dalam wawancara tertulis dengan Head of Streamverse ParagonCorp, Barry Baldemar menyebutkan, Paragon memberikan dukungan kepada host berupa pengembangan keterampilan.

“Kami mendukung (host live shopping) dalam bentuk pemahaman produk, penguatan kemampuan komunikasi digital, dan exposure terhadap praktik digital marketing,” tulis Barry.

Idealnya, host live shopping menerima gaji dan tunjangan—seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, bonus, THR, dan uang transportasi. Pemberi kerja bisa menyesuaikannya dengan status kepegawaian. Selain itu, pemberi kerja juga perlu menentukan jam kerja yang tak mengganggu jam istirahat pekerjanya. Namun, dikarenakan host tak memiliki kepastian jam kerja dan status kerjanya disebut pekerja lepas atau talent, mereka tak mendapatkan tunjangan tersebut.

Sebenarnya, kebijakan pemerintah juga berperan dalam kondisi ini. Undang-undang Cipta Kerja memperkuat pemberi kerja, untuk memutuskan hubungan kerja dan menghilangkan perlindungan kerja. Sebab, pekerja tidak memiliki posisi tawar saat di-PHK, masalah perlindungan pekerja tidak diprioritaskan, dan bisa diupah rendah. Ini dikarenakan status mereka yang dikategorikan sebagai mitra atau pemagang.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) perlu menyusun UU khusus. Utamanya, yang mengatur kerja platform digital dan gig economy, supaya pekerja mendapatkan haknya—bukan sebagai mitra.

“Kalau eksploitasi host live shopping dilanjutkan, generasi muda akan putus asa dalam mencari pekerjaan. Seolah dapat kerja, padahal gak manusiawi,” terang Bhima.

Sebagai freelance host live shopping, Raras merasa cukup beruntung bisa memilih jam kerja sesuai jadwalnya. Namun, melihat teman-temannya yang full time menjalankan pekerjaan ini, Raras mengharapkan jam kerja yang lebih manusiawi untuk mereka. Sebab, teman-teman Raras bisa live shopping selama enam sampai delapan jam sekaligus.

Sementara Rira, berharap pekerjaan ini lebih dihargai. Minimal digaji UMR, dapat bonus, dan uang transportasi. Ke depannya, ia ingin berhenti sebagai host live shopping, untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.