Women Lead
September 01, 2020

Pelajaran Soal Relasi Remaja Putri dan Orang Tua dari Kasus ‘F’

Orang tua perlu memberi ruang privasi bagi anak remajanya, tetapi juga tetap harus mempertahankan komunikasi yang baik dan terbuka.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Kasus perginya “F”, remaja putri 14 tahun yang berpacaran dengan Wawan, 41, kawan orang tuanya yang juga merupakan duda beranak dua hangat diperbincangkan publik beberapa waktu lalu. Melalui akun Instagram @pempek_funny, kisah F ini diangkat, termasuk soal dirinya yang sempat dihamili Wawan dan melahirkan anaknya, lalu sekitar sebulan kemudian meninggalkan bayinya dan menghilang dengan Wawan seraya membawa motor keluarganya.

Sementara ibu F bergumul dengan kesedihan selama beberapa waktu, proses hukum pun berjalan untuk mencari F dan menjerat Wawan karena sudah menyetubuhi anak di bawah umur. Dilansir Pikiran Rakyat Pangandaran, Wawan sempat membawa F berpindah-pindah ke beberapa tempat di Jawa Barat sampai akhirnya mereka ditemukan di Sukabumi pada 21 Agustus lalu, dan Wawan berhasil ditangkap polisi. Setelah diinterogasi, Wawan mengaku telah menjalin hubungan dengan F selama tiga tahun, yakni saat F masih berumur 11 tahun.

Peristiwa yang F alami menjadi pengingat bagi para orang tua akan adanya bahaya dari predator-predator seksual yang mengintai anak-anak mereka. Namun di samping masalah ini, ada hal lain yang sepatutnya tidak luput diperhatikan: Hubungan antara orang tua dan anak remaja, terlebih jika berkaitan dengan relasi percintaan remaja tersebut.

Dalam salah satu unggahan @pempek_funny terkait kasus F, disebutkan bahwa orang tua F baru mengetahui anaknya hamil ketika kandungannya sudah memasuki usia lima bulan, dan saat tetangganya mulai menyampaikan kecurigaan dia terhadap perubahan tubuh F.

Menurut psikolog dari Maragama Consulting, Semarang, Diana Mayorita, hal tersebut bisa mengindikasikan adanya komunikasi yang kurang antara remaja dan orang tuanya.

“Hal yang membuat saya janggal adalah justru tetangganya yang menyadari terlebih dahulu soal kehamilan F. Dari sini dapat diasumsikan bahwa hubungan komunikasi orang tua F dan anak kurang baik, kelekatan juga kurang terbangun. Maka, sangat mungkin jika anak mencari objek kelekatan lain yang bisa memberikan support secara emosional dan penerimaan,” kata Yori.

Pemberian-pemberian Wawan bisa menjadi pemancing F untuk melakukan hal yang dia inginkan, termasuk untuk berhubungan seksual dengan remaja tersebut. Ketika tindakan manipulatif dan mendatangkan risiko besar bagi F ini dijalankan, F masih berada di titik belum mampu berpikir mana yang baik dan buruk dalam mengambil keputusan, imbuh Yori.

Baca juga: Pendidikan Seks di Usia Dini Bisa Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

Privasi vs. komunikasi terbuka

Berkomunikasi secara hangat dengan remaja merupakan pelajaran yang susah-susah gampang bagi sebagian orang tua. Di satu sisi, remaja mulai menginginkan adanya ruang personal atau privasi yang tidak diintervensi oleh orang tuanya, apalagi berkaitan dengan percintaannya. Namun di lain sisi, mereka sebenarnya juga masih memerlukan bimbingan dari orang dewasa ketika menjalin relasi.

Menciptakan komunikasi yang hangat dan terbuka dengan remaja tentu tidak bisa dilakukan seketika saat orang tua melihat ada yang tidak beres atau berubah dari anaknya. Yori menyatakan bahwa ini harus dibangun sejak kecil, salah satunya dengan menunjukkan penerimaan.

“Banyak sekali orang tua yang secara tidak langsung sudah menutup adanya pintu keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak dengan tidak menanggapi secara positif apa yang ditanyakan anak pada usia emas (0-5 tahun). Hal tersebut seakan sepele, namun sebenarnya sangat vital,” ujar Yori.

Menurutnya, sebagian orang tua mungkin saja merasa anak yang banyak bercerita atau bertanya sangat mengganggu, bahkan memberikan cap negatif kepadanya. Ketika hal ini terjadi, anak akan merasa kurang mendapat penerimaan sehingga cenderung membentengi diri atau menciptakan ruang privasi yang menurutnya lebih aman dari penghakiman atau cap buruk oleh orang tua.

“Bagaimanapun anak memiliki hak untuk membentuk ruang privasi versinya sendiri. Namun, orang tua tetap perlu bersikap suportif, dengan tetap mengambil andil dalam membuka ruang komunikasi dengan anak. Orang tua tak perlu terlalu kepo dengan apa yang dirasakan atau dialami anak, namun juga mesti memberikan ruang tanpa judgement jika sewaktu-waktu anak membutuhkan seseorang untuk berdiskusi,” kata Yori.

Memberi ruang privasi dan membuka ruang diskusi di mana anak dapat terbuka membawa dua nilai penting secara bersamaan. Menurut Yori, dengan memberikan ruang privasi kepada anak, terutama remaja, orang tua dapat menanamkan kepercayaan kepada anaknya sekaligus mengajarkan anak bertanggung jawab atas dirinya. Sementara dengan membuka ruang diskusi, orang tua mencontohkan perilaku egaliter lewat komunikasi dua arah serta sikap menghargai pendapat satu sama lain tanpa langsung menyalahkan.

Konsep consent dan pelajaran dalam berelasi

Kasus seperti yang dialami F dan orang tuanya merupakan mimpi buruk yang tidak diinginkan siapa pun. Sebagai upaya pencegahan, menurut Yori, orang tua bisa menyampaikan tentang konsep consent sebagai hal krusial untuk diingat remaja ketika berdiskusi mengenai relasi.

Baca juga: Saat Adik Remaja Jatuh dalam Depresi, Kita Bisa Bantu Apa?

Ia mengatakan, banyak orang tua yang melupakan consent atau meminta persetujuan anak untuk banyak hal karena merasa berhak atas diri anak, misalnya soal memaksa anak memakai baju tertentu. Meski tujuannya baik, bila hal ini dilakukan dengan pemaksaan, anak dapat berpikiran bahwa tindakan di luar persetujuannya bisa dibenarkan ketika dilakukan figur-figur otoritatif atau lebih tua misalnya. Akan lebih baik bila orang tua mengajak anak untuk berlogika soal apa yang baik dan buruk sehingga anak punya daya untuk memilih yang terbaik baginya sebagai pelajaran awal mengenai consent.

“Selain itu soal relasi, mengajarkan consent itu bisa melalui pendidikan seks, misalnya memberikan pemahaman pada anak bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang asing disertai dengan alasan logisnya,” ujar Yori.

Ia menambahkan, perbincangan orang tua dan anak soal pendidikan seks tidak hanya seputar consent, tetapi bisa pula melingkupi bentuk-bentuk pelecehan seksual, aktivitas seksual berisiko, juga nilai dari sebuah relasi.

“Soal self efficacy dan self esteem juga itu sangat penting diajarkan pada remaja yang sedang pada fase membentuk jati dirinya. Banyak kasus kekerasan pada remaja putri terjadi karena tidak paham sebenarnya siapa dirinya,” kata Yori.

Meskipun remaja perlu diberikan ruang untuk memilih dalam berelasi, orang tua tetap berhak mengintervensi saat mengetahui ada perubahan signifikan dalam diri anak, misalnya ketika anak terlihat murung atau emosional. Namun, Yori mengatakan bahwa ada strategi dalam melakukan intervensi ini.

“Bagi orang tua yang kurang suportif pada anak, anak akan merasa tidak nyaman saat melakukan pembicaraan dengan orang tua begitu ia terlihat mengalami perubahan setelah berelasi. Anak akan lebih percaya pada teman sebaya untuk bercerita dibanding orang tuanya sendiri karena merasa lebih diterima. Dalam kondisi demikian, orang tua perlu memosisikan diri sebagai teman, bukan sosok yang selalu menasihati,” ujar Yori.

“Belajar untuk memasuki logika anak remaja memang agak sulit bagi orang tua yang kaku dan kuno, sehingga bisa sangat terkesan otoriter. Karena itu, orang tua juga perlu belajar soal dunia remaja agar bisa dengan mudah berkomunikasi dengan anaknya dan mengintervensi ketika ada muncul perubahan tertentu.” 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop