January 18, 2020
Saat Adik Remaja Jatuh dalam Depresi, Kita Bisa Bantu Apa?

Sebagai kakak, saudara, atau teman yang lebih dewasa, kita bisa melakukan sejumlah hal saat remaja putri mendapat tekanan sampai depresi.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues // Politics and Society
SupportGroup Sisterhood_Karina Tungari
Share:

Pada Selasa (14/1) kemarin, kasus bunuh diri terjadi di sebuah SMP di bilangan Jakarta Timur. Remaja putri berinisial SN melompat dari lantai empat gedung sekolahnya. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit segera setelah insiden tersebut, tetapi dua hari berselang, ia mengembuskan napas terakhir.

Kematian SN ramai dibicarakan di Twitter dan sempat menjadi trending topic. Sebagian orang berspekulasi bahwa SN bunuh diri karena menerima perundungan di sekolah. Namun, hal tersebut dibantah pihak sekolah dalam sebuah wawancara di Kompas. Lebih lanjut, pihak sekolah menyatakan bahwa SN terlihat seperti siswa pada umumnya, tidak ada yang aneh. Jadi, mereka masih belum paham motif SN melakukan bunuh diri.

Kasus kematian SN kembali mengingatkan kita perkara kesehatan mental yang masih minim dibahas di berbagai lingkungan, mulai dari yang terdekat seperti keluarga, sekolah, pergaulan sehari-hari, hingga level media dan para pengambil kebijakan. Beberapa kali mungkin kita dapati artikel-artikel yang mengatakan bahwa depresilah yang sering kali membuat orang bunuh diri. Namun, apakah kita benar-benar mengenali hal yang satu ini? Sebagai orang yang lebih dewasa, kita punya tanggung jawab untuk membantu para remaja. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan agar para remaja mengetahui isu kesehatan mental dan tidak jatuh dalam keinginan menyelesaikan hidupnya sendiri.

  1. Kenali bahwa depresi tak melulu berwajah muram

Dalam masyarakat, masih ada salah kaprah soal “wajah” depresi. Anggapan bahwa penderita depresi pasti sering murung, menangis, tidak bisa menjalankan aktivitas harian dengan baik, menunjukkan perubahan sikap, dan suka mengurung diri sering diamini banyak orang. Sebagian penderita memang kelihatannya demikian, tetapi sebagian lainnya justru tidak menampakkan perubahan sikap. Bahkan ada yang dalam kesehariannya terlihat masih bisa tertawa, tidak bermasalah dengan teman dan keluarga, dan hasil studi atau performa ekstrakurikulernya bagus-bagus saja. Seperti kata pihak sekolah SN, “dia kelihatan biasa-biasa saja”.

Gampang-gampang susah memang mengetahui apakah seorang remaja putri mengalami depresi atau tidak. Yang bersangkutan sendiri mungkin juga tidak sadar bahwa dirinya mengalami hal tersebut. Hal paling mungkin yang bisa kita lakukan adalah dengan menanyakan kabarnya, berbagi cerita, sampai kita mendapati sesuatu yang membebaninya selama ini, tetapi tidak pernah tersuarakan atau dibiarkan begitu saja. Cara kita bertanya pun bukan dengan menginterogasi. Ada strategi tertentu yang perlu diterapkan supaya remaja tersebut mau bercerita dan percaya kepada orang yang lebih dewasa di sekitarnya. Hormati batasannya sebagai individu yang punya privasi, tetapi tetaplah menjadi sosok yang terbuka dan menyambutnya ketika ia butuh saran dari orang dewasa selain orangtua.

Baca juga: Bunuh Diri pada Anak Muda dan Bagaimana Menghadapinya

  1. Jadilah teman yang mendengarkan, bukan menggurui

Saat adik, teman, atau saudari kita sudah mau bercerita, jadilah pendengar yang baik. Posisikan diri kamu sebagai teman, bukan sosok yang lebih superior. Pahami bahwa pada masa remaja, seseorang bisa mengalami beragam konflik terkait identitasnya, masalah pertemanan, atau konflik dengan orangtua. Menemukan sosok menghakimi saat ia berkeluh kesah adalah hal yang sangat tidak diinginkannya.

Sepanjang ia bercerita, tidak jarang orang dewasa tergoda untuk menasihatinya berdasarkan pengalamannya sendiri. Padahal pengalaman dan kemampuan tiap orang dalam menghadapi masalah itu berbeda. Di samping itu, yang diperlukan seseorang saat mendapat tekanan adalah telinga, alih-alih mulut yang mendiktenya melakukan sesuatu.

Baca juga: Jadi Pendengar yang Baik Saat Teman Ingin Bunuh Diri

Ada perbedaan antara sikap memberi saran dengan menggurui. “Bagaimana kalau kamu…” atau “Kalau kamu mau, kamu bisa  coba untuk…” lebih enak didengar daripada “Kamu itu harusnya begini…” atau “Nih, ya, aku kasi tau dari yang udah pernah ngalamin”.

Katakan juga kepadanya bahwa wajar jika ia merasa sedih, marah, atau kecewa terhadap sesuatu, jangan menyangkal emosi-emosinya. Merasakan sesuatu yang negatif itu sah-sah saja, asal ia tidak hanyut di dalamnya dan melupakan keinginan untuk bangkit kemudian.

  1. Jangan pernah menyepelekan masalahnya

Bisa saja masalah yang diceritakannya segampang menjentikkan jari bagi kita untuk diatasi. Namun bagi dia, melawan tekanan itu ibarat menaklukan monster raksasa. Putus cinta dengan pacar saat SMP atau SMA itu bisa dirasa bak kiamat buat dia. Dapat teguran dari guru atau gagal mencetak prestasi di kegiatan ekskul membuat kepercayaan dirinya terpuruk. Dimusuhi dan diremehkan teman satu geng, atau dibilang gendut bisa membuat dia mau kabur ke negara lain.

Jika kita pernah merasakan hal-hal macam ini bertahun-tahun lalu, sepatutnya kita bisa memahami dan berempati pada remaja yang sedang mengalaminya. Jangan pakai kacamata dan cara mengatasi masalah ala orang seumur kita sekarang ketika memberi saran kepada remaja putri. Dalam menghadapi remaja yang sedang bermasalah atau depresi, sdalah suatu hal yang tabu untuk mengatakan, “Yaelah, masalah beginian aja sampe bikin nangis” atau “Cuma gara-gara diputusin pacar sampe nggak mau sekolah?”.

Baca juga: Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

  1. Berikan referensi soal isu depresi dan kontak profesional

Bila kita punya pengetahuan soal kesehatan mental, bagikan pemahaman itu kepada remaja putri kenalan kita. Namun jangan sampai referensi yang kita berikan dijadikannya alat untuk melakukan diagnosis mandiri. Ia boleh saja mengafirmasi sejumlah gejala depresi, tetapi penilaian dari psikiater atau psikolog tetap diperlukan guna mengarahkannya pada metode pemulihan yang tepat.

Pertolongan dari profesional juga diperlukan karena kita sebagai orang dewasa yang mendampinginya belum tentu punya kapasitas untuk menyugesti cara-cara pemulihan. Hanya karena kita pernah mengalami tekanan serupa dengan si remaja putri, bukan berarti cara yang kita pakai sama ampuhnya dalam mengatasi masalah dia.

  1. Bicara pada lingkaran terdekatnya jika memungkinkan

Dalam sebuah diskusi soal kesehatan mental yang saya datangi, seorang psikiater pernah mengatakan bahwa pemulihan kesehatan mental seseorang tidak cukup hanya diusahakan oleh individu bersangkutan. Tak peduli berapa kali pun ia ikut terapi, sejauh apa pun ia berusaha memperbaiki diri dan pola pikirnya, jika lingkungan sekitar atau aspek psikososialnya tidak mendukung, ia akan sulit memulihkan kondisi kejiwaannya. Yang sering terjadi, lingkungan sekitarlah yang terus berkontribusi besar terhadap tekanan mental seseorang hingga bukan mustahil ia berniat mengakhiri hidup.

Jika kamu mengenal orang-orang terdekat si remaja putri, yang kamu rasa bisa mendukung dia, sampaikan kepada mereka untuk lebih peduli terhadap aspek kesehatan mental adik atau kenalan kamu itu. Misalnya, orang tua kamu belum paham kenapa anaknya jadi gampang menangis dan marah-marah sendiri, beri mereka pengertian bahwa adikmu sedang mengalami masalah berat. Minta juga mereka untuk berusaha lebih mendengarkannya daripada mengomeli.

Tentu saja poin yang satu ini tidak gampang dilakukan, apalagi jika yang dihadapi tidak dapat menerima penjelasanmu. Ketika hal ini terjadi, saran lain yang dapat kamu berikan kepada adik atau saudarimu adalah dengan menjaga jarak dari lingkungan terdekatnya yang memicu tekanan bila memungkinkan. 

Illustrasi oleh Karina Tungari

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop