Culture

Pengalaman Nonton Konser Harry Styles: ‘Love On Tour’ adalah ‘Safe Space’ bagi Penggemar

Dari sekian konser, baru ‘Love On Tour’ yang membuat saya merasa aman. Saya bisa melihat, sosok idola berperan penting untuk menciptakannya.

Avatar
  • March 17, 2023
  • 9 min read
  • 720 Views
Pengalaman Nonton Konser Harry Styles: ‘Love On Tour’ adalah ‘Safe Space’ bagi Penggemar

“My name is Harry. It’s an absolute pleasure to be with you tonight. Thank you so so much.”

Sejak (17/3), kalimat itu terngiang di kepala. Cara Harry Styles memperkenalkan diri ketika konser bikin hati saya mencelus. Tutur katanya terdengar rendah hati. Sebab, berkaca dari pengalaman saya menonton konser dan festival musik, enggak semua musisi memperkenalkan diri di atas panggung, atau mungkin, ini hanya bias karena kekaguman saya terhadap Harry.

 

 

Baca Juga: Asam Garam Konser BLACKPINK: Pengalaman Saya Nonton ‘Born Pink’ ‘Day-2’

Semua berawal pada 2014, tahun keempat One Direction berkarier dan awal saya menjadi penggemar. Waktu itu Harry bukan member favorit saya, tapi ia punya faktor X yang mencuri perhatian. Barulah ketika One Direction memutuskan hiatus, fokus saya berpusat pada Harry.

Saya enggak menampik, kekaguman itu didukung penampilan fisik dan musiknya. Namun, personanya lebih dari itu. Pernyataan selanjutnya akan terdengar seperti bualan, tapi saya banyak belajar dari Harry.

Misalnya di tur perdana “Harry Styles: Live On Tour” pada 2018. Cara Harry berpakaian berbanding 180 derajat dari eranya bersama One Direction. Hampir di setiap aksi panggung, ia mengenakan setelan jas bermotif—kebanyakan floral yang lekat dengan citra perempuan. Harry juga mengibarkan bendera pride, dan membantu penggemar melela atas keinginan mereka.

Saya yang saat itu masih queerfobik mulai mengenal Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression, and Sex Characteristics (SOGIESC). Perlahan juga menepis konstruksi sosial, terkait peran laki-laki dan perempuan di masyarakat.

Kepekaan terhadap isu sosial dan hak-hak perempuan juga awalnya saya pelajari dari Harry. Beberapa kali ia berpartisipasi untuk menghapus kekerasan bersenjata di Amerika Serikat (AS), dan bergabung dalam Black Music Action Coalition yang mengatasi rasisme sistemik di industri musik. Ia juga memberikan keuntungan penjualan salah satu produk merchandise-nya untuk GLSEN—organisasi edukasi di AS untuk mengakhiri kekerasan dan diskriminasi terhadap orang-orang queer.

Meskipun sejumlah aksinya dinilai problematik, yang Harry lakukan cukup membuka mata akan ketidakadilan sistemik di masyarakat. Setidaknya bagi saya.

Dari cara saya mendeskripsikan Harry, mungkin terlihat sosoknya begitu sempurna dalam imajinasi saya. Kenyataannya, perasaan bertentangan kerap kali muncul. Misalnya saat Harry dituding queerbaiting atau menyampaikan pidato kemenangan “Album of the Year” di Grammy Awards yang kontroversial, Februari lalu.

Kejadian-kejadian tersebut sedikit banyak menyadarkan, Harry juga punya kekurangan. Ia bukan sosok sempurna yang dielukan dan diharapkan penggemarnya. Namun, hal ini enggak mengurangi antusiasme saya, untuk menyaksikan aksi panggungnya secara langsung.

Butuh waktu sembilan tahun, hingga akhirnya bisa melihat penampilan Harry dari dekat. Sebenarnya saya menonton konser One Direction di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta pada 2015 silam. Dikarenakan menonton dari tribun, saya enggak bisa melihat mereka lebih jelas. Sejak hari itu, saya bertekad untuk menyaksikan One Direction–atau Harry–dari festival paling depan.

Mimpi itu berhasil direalisasikan di National Stadium, Singapura. Berkat teman yang mendapatkan tiket di bagian VIP Gold, saya dan Harry berada di ruangan yang sama, dengan jarak pandang kurang lebih lima meter.

Kilas balik ke sembilan tahun belakangan, nyatanya bukan perjalanan mudah. Lantas, begitu Harry muncul dari balik panggung dan menyanyikan “Music For a Sushi Restaurant”, saya enggak berhenti berpikir: Bagaimana mungkin ini orang yang sama, dengan yang saya puji hampir setiap hari lewat layar ponsel?

Bagaimana ia adalah Harry, yang beberapa kali disebut dalam tulisan-tulisan saya?

Baca Juga: Harry Styles, Seksualitas Figur Publik, dan Peliknya ‘Queerbaiting’

Konser Sebagai Ruang Amandan Euforia “Love On Tour”

Sore itu stadion terlihat lebih megah, dengan ribuan penonton yang excited melihat penampilan Harry di Love On Tour—judul tur konsernya. Mereka datang dari berbagai kalangan: Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, hingga usia lanjut.

Sayangnya, properti di stadion sendiri kurang mendukung. Tak ada spanduk bertaburan, bertuliskan “Love On Tour 2023” layaknya di negara-negara lain—baik berukuran besar maupun kecil seperti yang diharapkan. Sepengamatan saya, satu-satunya yang ada hanya backdrop wajah Harry dari turnya di Amerika Serikat pada 2021, ditambah tulisan judul tur tersebut.

Hal itu sedikit banyak mengurangi euforia. Namun, saya tetap merasa sedang mengikuti parade karena outfit penonton. Tipikal konser Harry, mereka kebanyakan mengenakan boa, pakaian warna-warni, dan berbahan payet. Bahkan, seorang bapak yang menemani anaknya menonton, memakai setelan jas sequin warna-warni mirip unicorn. Ada juga yang mengenakan kostum pisang dan semangka—merujuk beberapa judul lagu Harry yang menyebutkan buah-buahan.

Saya memilih berkain batik dan mengenakan atasan brokat putih. Sempat khawatir akan underdress, karena enggak sesuai ‘dress code’. Tapi, slogan ‘Treat People With Kindness’ yang diusung Harry dan fandom ini meyakinkan saya, untuk percaya diri mengenakan pakaian apa pun.

Keraguan itu juga dialami “Ingrid”—bukan nama sebenarnya—seorang kenalan asal Singapura yang saya temui sewaktu konser. Perempuan 20 tahun itu takut dihakimi, lantaran mengenakan kemeja bermotif hati seperti overalls yang Harry kenakan di Love On Tour London hari pertama. Namun, selama di stadion, Ingrid justru merasa berada dalam safe space.

Ngomong-ngomong soal safe space, saya sepakat dengan Ingrid, Love On Tour adalah ruang aman bagi penonton. Berada di stadion malam itu membuat saya merasa heart-warming, melihat semua orang tersenyum dan mengekspresikan dirinya tanpa ragu. Mungkin karena seisi ruangan, adalah orang-orang dengan ketertarikan dan tujuan yang sama: Ingin bersenang-senang.

Bahkan, Harry ikut terlibat dalam menciptakan safe space di konsernya. “If you want to sing, if you want to dance. Please feel free to be whatever it is you always wanted to be here tonight,” ujarnya di awal konser.

Khawatir penonton dehidrasi dan pingsan, Harry juga memastikan penontonnya baik-baik saja—karena udara malam itu cukup hangat. “It’s a little bit warm, is everyone okay? Is everyone staying hydrated? If you need it, let me know. I love you,” tambahnya.

Ucapan Harry kemudian menyadarkan saya. Ruang aman di konser—maupun fandom, akan terbentuk apabila musisinya memiliki perhatian yang sama. Bagaimana pun, penggemar meniru idolanya. Mereka akan bertindak serupa dengan yang “diajarkan”, sebagaimana fandom Harry menghidupi slogan ‘Treat People With Kindness’.

Faktor itu, yang menurut saya, mendukung Love On Tour Singapore berjalan mulus. Penampilan Harry juga begitu impresif. Ia punya energi yang besar, diwujudkan lewat aksi panggung dan interaksinya dengan penonton. Dalam durasi itu pula, Harry tak berhenti mengitari panggung berbentuk T.

Contohnya saat membawakan lagu “Cinema”, “Late Night Talking”, dan “Satellite”. Harry punya gerakan tariannya sendiri. Entah sambil berlari, melompat, atau mengentakkan kaki—yang disebut “Satellite stomps” —mengikuti irama lagu. He was born to be a popstar, pikir saya.

Sementara ketika “As It Was” dinyanyikan, giliran penonton yang bikin Harry takjub dengan teriakkan lirik “leave America”. Teriakan itu seolah permintaan, lantaran Harry paling sering tur di benua Amerika dibandingkan belahan dunia lainnya.

Semakin malam, aksi panggung pun semakin spesial dengan fan service yang diberikan. Selama Love On Tour, biasanya Harry membacakan sign, menyanyikan selamat ulang tahun dan lagu yang tidak dirilis dalam album, atau mendapati penonton berpakaian menarik.

Di konser kemarin, ia menyanyikan “She’s Dressed As a Banana”, lagu bikinannya tiap ada penggemar mengenakan kostum pisang. Harry juga membantu lelaki melamar pacarnya, dan menyimpan gambaran wajah yang dibuat anak kecil berusia sekitar enam tahun. Dengan senang hati, penonton bersorak riuh, menyambut orang-orang yang mendapatkan atensi Harry.

Sayangnya, kesempatan ini kadang disalahgunakan penonton. Misalnya pasangan di depan saya. Mereka membawa sign enggak senonoh, bertuliskan ajakan untuk Harry agar melakukan threesome dalam aktivitas seksual.

Kalimat-kalimat sejenis selalu bikin miris, sekalipun konteksnya lelucon. Namun, penggemar rela melakukan apa pun demi mendapat perhatian Harry, tanpa menghargai dan memikirkan perasaannya. Tindakan tersebut mencerminkan perilaku publik, yang kerap lupa bahwa figur publik di atas panggung adalah orang yang sedang bekerja. Bedanya, mereka berada di bawah spotlight.

Begitu pula penonton yang membawa sign berukuran lebih besar dari ketentuan—seukuran kertas A4. Mereka enggak sadar mengganggu pandangan orang-orang di belakangnya dalam menikmati konser. Alhasil, ekspektasi saya melihat Harry dengan jelas, beberapa kali terhalang.

Baca Juga: Ini Konser Kami Juga: Bagaimana Agar Acara Musik Bebas Kekerasan Seksual

Mengalami Post Concert Depression

Selama 90 menit, saya berusaha menatap Harry lekat-lekat dengan mata sendiri. Tak menghiraukan sosoknya terlihat lebih kecil, meskipun ada layar yang membantu penglihatan lebih jelas. Keinginan saya malam itu hanya satu, membanjiri ingatan bahwa pernah melihat Harry secara langsung. Walau sesekali kelimpungan, sambil membagi fokus untuk merekam di ponsel.

Sebelum malam itu tiba, saya mengira akan menangis dan bahagia luar biasa selama konser. Kenyataannya, kepala saya sibuk mencerna apakah konser ini benar-benar terjadi.

Ketika lampu meredup dan “Sign of The Times” dinyanyikan, perasaan campur aduk mulai berkecamuk. Lagu tersebut menandakan, konser memasuki babak encore dan akan segera selesai. Sedangkan saya enggak ingin, momen yang dinantikan tahunan itu berakhir.

Namun, waktu yang tak diinginkan akhirnya tiba. Harry menutup Love On Tour Singapore dengan Harry whale—aksinya menyemburkan air layaknya paus, usai menyanyikan “Kiwi”. Lalu Harry berlari membawa bendera pride, dan menghilang di balik panggung.

Baca Juga: Review ‘Don’t Worry Darling’: Hidup yang Didamba Para Misoginis di Kota Utopis

Pernyataan ini mungkin terdengar dramatis, tapi hati saya terasa kosong, begitu Harry tak lagi terlihat. Meninggalkan National Stadium, saya berjalan dengan tubuh lemas dan tatapan kosong, menerobos kerumunan Stasiun Stadium untuk pulang naik Mass Rapid Transit (MRT).

Euforia malam itu seketika jadi memori. Saya akan kembali menjalani hari-hari sebagai penggemar, yang mengagumi idolanya dari layar ponsel. Ternyata secepat itu, post concert depression (PCD)—perasaan sedih setelah menonton konser—muncul. Suatu emosi yang saya takut hadapi.

Tangisan yang tertahan selagi konser, akhirnya pecah begitu sampai di hotel hingga malam berikutnya—sambil mengingat pencahayaan, megahnya panggung, dan satu per satu lagu yang dibawakan. Perasaan saya begitu lega dan bangga, seluruh kerja keras dan penantian selama ini terbayarkan. Lebih dari melihat idola, konser tersebut adalah pembuktian untuk diri sendiri, bahwa saya bisa mengubah keinginan jadi pencapaian.

Kendati demikian, kesedihan tetap mengusik. Sedih lantaran enggak tahu apakah bisa melihat Harry lagi, selagi aktif berkarier sebagai penyanyi. Sedih mengingat akan kembali pada perbedaan zona waktu, membuat keberadaannya tidak senyata malam itu.

Bahkan sampai saat ini, seminggu setelah konser, saya masih memproses momen “Love On Tour Singapore”. Sambil mengenang kegembiraan, lewat video-video yang direkam.

Entah sampai kapan PCD ini berlangsung, saya mencoba menikmati setiap memorinya. Satu hal yang saya tahu pasti, tekad sembilan tahun lalu kembali muncul: Saya rela kerja keras lagi, demi bertemu Harry meski hanya sekali lagi.


Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *