Women Lead
March 04, 2021

Pengalaman Saya Berbincang dengan Istri Terduga Teroris

Berbincang dengan salah satu istri terduga teroris membuat saya menyadari bahwa ia dan keluarganya menanggung beban hidup sangat berat karena stigma negatif masyarakat.

by Moch. Hisyam Putra
Issues
Share:

“Mas ini siapa? Dari mana? Ada keperluan apa?”

Saya masih mengingat dengan jelas, ekspresi wajah "Bunda" ketika mengajukan pertanyaan tersebut pada September 2018 silam. Dengan wajah yang tampak trauma, ketakutan, sekaligus curiga, ia berkali-kali mengajukan pertanyaan tersebut hanya untuk memastikan bahwa saya dan teman saya bukanlah seorang intel yang sedang ditugaskan untuk mengintai kesehariannya.

Melihat kepanikan Bunda, saya berusaha menjelaskan dan memberi pengertian secara perlahan bahwa saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan instansi kepolisian. Saya hanyalah seorang tamu yang ingin mengenal lebih dekat dengan Bunda.

Kala itu, hari-hari memang masih menjadi masa yang mencekam dan penuh kewaspadaan bagi Bunda. Bagaimana tidak? Tiga bulan sebelumnya, suaminya telah ditembak mati oleh Detasemen Khusus (Densus 88) di depan sebuah musala. Suaminya diduga terkait dengan jaringan teroris yang melakukan pengeboman gereja di Surabaya.

Bunda tidak mengetahui secara persis detail peristiwa penembakan itu. Namun dengan nada yang amat rendah, Bunda mau menceritakan persitiwa itu kepada saya.

Pada saat kejadian, ia berhalangan hadir untuk melaksanakan salat tarawih karena harus menjaga orang tua nya yang sedang sakit di rumah. Proses penembakan terjadi begitu cepat. Ia hanya mendengar dua kali tembakan. Pertama, tembakan serentak dan kedua tembakan tunggal. Setelah itu, Bunda keluar rumah dan melihat sudah banyak kerumunan beserta polisi.

Dalam hati Bunda, ia hanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa begitu banyak polisi di depan musala? dan kenapa juga hingga terjadi tembakan? Ia mulai gelisah dan khawatir kepada suami dan anaknya yang saat itu sedang salat tarawih di musala.

Tak lama kemudian, Bunda mendapat jawaban atas teki-teki dalam hatinya itu. Seorang anak kecil berumur 12 tahun tiba-tiba muncul dari tengah kerumunan. Anak kecil itu terlihat menahan tangis dan berlari ke arah Bunda sembari menenteng sebuah sandal orang dewasa.

Bunda melihat ke arah anak kecil itu dan seketika menyadari bahwa anak kecil itu adalah anak bungsunya yang tadi berpamitan salat tarawih bersama suaminya. Sedangkan sandal yang dibawanya ialah sandal suaminya. Tangis kemudian pecah. Suami Bunda ditembak mati di depan anak bungsunya.

Saya mulai menarik napas panjang mendengar cerita mencekam tersebut. Namun, saya tidak pernah menyoroti kenapa suaminya ditembak mati dan apakah suaminya benar terlibat atau tidak dengan jaringan terorisme dalam tragedi Surabaya.

Baca juga: Merenungkan Nasib Perempuan dan Anak di Kamp Pengungsian ISIS

Saya menyadari, bukan wewenang saya mempertanyakan hal itu. Saya hanya berfokus memikirkan apa yang akan dilakukan Bunda setelah peristiwa ini? Bagaimana kehidupan anaknya ke depan setelah melihat langsung penembakan ayahnya? Apa yang akan terjadi kepada keluarga Bunda? Belum selesai memikirkan hal ini, tiba-tiba anak bungsu Bunda menyahuti ceritanya:

“Waktu (salat) witir, ayah keluar itu, Bun, orang-orang musala ikut keluar semua. Musalanya itu sepi, witirnya sepi. Cuma ada tiga orang. Lainnya ikut keluar. Jadi yang bareng (salat) sama Ayah itu polisi semua,” ujarnya.

“Terus tak lihat kok ada mobil polisi di luar. Terus, Ayah ditembaki, langsung setelah itu Ayah diangkat ke mobil polisi. Terus, tak lihat itu ada sandal ayah ketinggalan, terus tak bawa.”

Anak sekecil itu begitu mengingat detail peristiwa penembakan terhadap ayahnya. Saya juga masih ingat dengan jelas ekspresi anak bungsu Bunda ketika menceritakan peristiwa ini. Ia terlihat emosi dan bersemangat meninggikan nada bicaranya, sesekali ia juga memperagakan dengan gerakan.

Bunda mengatakan kepada saya bahwa inilah tugas terberat Bunda setelah peristiwa tersebut, yaitu memberikan pengertian kepada anak-anaknya atas apa yang telah terjadi pada ayahnya. Bunda tidak ingin jika anaknya nanti terjebak dengan rasa trauma dan dendam atas peristiwa yang menimpa ayahnya.

Apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya, sudah ia anggap sebagai cobaan dan salah satu jalan takdir Tuhan dalam hidupnya. Dengan mata yang berkaca-kaca Bunda menuturkan kepada saya,

“Sekarang seluruh orang tidak ada yang mendekat ke kami. Kami kehilangan banyak hal atas kejadian ini karena seluruh pemberitaan koran dan media yang menyudutkan kami. Kami tidak akan pernah meng-counter (pemberitaan), karena kami tidak punya kekuatan,” kata Bunda.

“Kami sudah marah dan kecewa. Kami akan selesaikan sebisanya aja. Yang harus saya pikirkan sekarang adalah kebutuhan anak-anak, seperti makan, sekolah, dan lainnya. Saya akan lakukan yang terbaik untuk anak-anak agar tidak mengalami trauma.”

Dari penuturan Bunda, saya berusaha memahami bahwa apa yang dialaminya memang hal yang cukup pelik. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan, menjadi perempuan single parent itu saja sudah berat, apalagi menjadi single parent dengan menyadang stigma keluarga teroris. Ini artinya perempuan itu harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan anak-anaknya, sekaligus berjuang melawan pengkucilan masyarakat dan media terhadap keluarganya.

Baca juga: Perempuan Korban Terorisme: Rentan Terpapar Doktrin Tapi Luput dari Catatan

Film dokumenter karya Daniel Rudy Haryato yang berjudul Prison and Paradise (2010) juga mengisahkan demikan. Para istri pelaku Bom Bali 1 harus berjuang sendiri untuk membesarkan, merawat, dan mendidik anaknya agar tidak mengalami trauma psikologis. Pada akhirnya, korban yang paling menderita dari aksi terorisme adalah perempuan, seperti istri-istri para teroris itu sendiri.

Kondisi mereka cukup kompleks dan tak bisa diseragamkan. Bahkan mungkin, mereka juga sebenarnya tidak mengetahui bahwa keluarga mereka terjerat jaringan terorisme. Ini karena dalam keluarga seorang teroris, perempuan sering kali menjadi sosok yang tereksklusi dalam proses dialog mengenai ajaran yang diterimanya.

Selain itu, dengan kondisi keluarga yang sangat ekstrem terhadap ajaran agama, istri seorang teroris mungkin berada pada kondisi yang sangat tidak berdaya untuk hanya sekadar melakukan negoisasi terkait ajaran yang diterimanya. Segala proses dialog dan pengambilan keputusan keluarga dikuasai oleh laki-laki sebagai kepala keluarga secara penuh .

Karenanya, bisa dilihat bahwa apa yang dialami kebanyakan istri teroris adalah dampak dari ketimpangan pengambilan keputusan di lingkungan keluarga Mereka harus ikut menanggung segala konsekuensi dari sebuah keputusan yang tak pernah sekali pun bisa ia negoisasikan. Mereka adalah korban yang dilupakan.

Pada akhirnya, bagi saya, satu-satunya hal yang harus dikutuk dari aksi terorisme adalah pelaku beserta keseluruhan tindakannnya. Tidak adil rasanya jika masyarakat dan media juga ikut mengutuk istri, anak, dan seluruh anggota keluarganya, mengingat mereka bisa jadi juga merupakan korban dari kerasnya ideologi terorisme itu sendiri.

Jika kita ingin serius memutus mata rantai jaringan teroris, kita perlu mulai mengubah stigma terhadap keluarga terduga ataupun pelaku terorisme. Menjauhi dan mengucilkan keluarga teroris justru semakin membuat mereka tenggelam dalam jaringan teroris yang lebih luas.

Mari mulai memahami bahwa mereka juga merupakan korban, mereka juga butuh diselamatkan. Kita harus mulai mengulurkan tangan kita secepatnya untuk mereka. Jangan biarkan jaringan teroris yang lebih besar mengulurkan tangannya lebih dahulu daripada kita. Ini adalah cara terbaik untuk membangkitkan kepercayaan keluarga pelaku terorisme, bahwa mereka masih bisa melanjutkan hidupnya tanpa mengharapkan bantuan dari jaringan teroris.

Moch. Hisyam Putra adalah seorang lulusan sarjana Sosiologi, FISIP, Universitas Brawijaya. Sejak lulus hingga kini, ia masih aktif sebagai asisten peneliti di beberapa proyek penelitian akademik di almamaternya.