June 02, 2020
Perempuan Korban Terorisme: Rentan Terpapar Doktrin Tapi Luput dari Catatan

Pemahaman agama yang maskulin dan budaya patriarki menjadi alasan mengapa perempuan lebih mudah terdoktrin.

by Siti Parhani, Reporter
Issues
Share:

Perempuan dalam aksi terorisme sekarang ini tidak lagi hanya berperan di belakang panggung. Dalam kasus pengeboman di Surabaya pada 2018 lalu, misalnya, yang melakukan aksi bom bunuh diri merupakan perempuan. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat ada sekitar tiga kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh perempuan sejak 2016. Diantaranya kasus pengeboman di Surabaya, Sidoarjo, dan Medan.

Peneliti Yayasan Prasasti Perdamaian Dete Aliya mengatakan, perempuan kini banyak dilibatkan dalam aksi terorisme karena dianggap tidak mudah dicurigai ketika aksi berlangsung, belum lagi perempuan cenderung lebih mudah didoktrin paham jihad dengan pendekatan emosional seperti dipacari atau dinikahi terlebih dahulu.

“Bahkan sekarang ini ada perempuan yang mendoktrin perempuan lain untuk terlibat aksi. Kasus terorisme di Medan pada 2019 salah satu contohnya, di mana istri pelaku jauh lebih ekstrem dalam mempercayai jihad dengan jalan kekerasan ketimbang suaminya, ia juga merencanakan sendiri aksi pengebomannya,” ujar Dete dalam webinar diskusi buku Insprasi Jihad Kaum Jihadis (14/5) yang diadakan oleh Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB).

Menurut Dete, pelibatan perempuan sebetulnya sudah lama terendus. Penangkapan Dian Yulia dan Ika Puspita pada 2016 lalu yang merupakan mantan buruh migran di Hongkong yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menjadi titik balik peran perempuan dalam kelompok radikal. Mereka direkrut dengan tujuan pendanaan untuk membuat kelompok ekstrimis terus berjalan.

Baca juga: Merenungkan Nasib Perempuan dan Anak di Kamp Pengungsian ISIS

“Enggak heran kalau perempuan banyak jadi budak seks ISIS di Suriah. Di beberapa kasus justru istri yang meminta suami untuk ke Suriah,” Dete menambahkan.

Selama masa pendampingannya dengan perempuan korban kasus terorisme, Dete menemukan fakta lain bahwa selain permasalahan politis yang menyasar penyerangan terhadap lembaga negara, tak jarang para perempuan didoktrin menggunakan narasi kiamat. Mereka dibuat ketakutan secara terus-menerus sampai akhirnya merasa bahwa kiamat akan datang sebentar lagi, sehingga jalan pintas untuk masuk surga adalah dengan ikut berjihad melakukan penyerangan.

“Perempuan itu kan korban, banyak yang tidak terlalu paham tentang jihad. Mereka direkrut untuk kepentingan politik laki-laki. Dalam beberapa kasus ada perempuan yang direkrut sebagai alat untuk mempermalukan laki-laki bahwa perempuan saja mau ikut, kenapa laki-laki enggak. Sehingga ya pantas dianggap maskulin,” ujar Dete.

Kiyai Husein Muhammad dari Fahmina Institute, Cirebon, mengatakan, pemahaman agama Islam yang amat maskulin dan budaya patriarki yang menempatkan laki-laki di hierarki paling atas menjadi alasan mengapa perempuan lebih mudah terdoktrin masuk dalam narasi yang sudah mereka buat sendiri. Minimnya pengetahuan yang dimiliki perempuan serta terjebak dalam paradigma laki-laki pemimpin dan selalu benar seolah membuat tak ada kesulitan berlebih untuk mendoktrin perempuan.

Baca juga: Ahli: Ketaatan Mutlak pada Suami Salah Satu Faktor Perempuan Terlibat Terorisme

“Bahkan untuk mengiming-imingi laki-laki agar mau bergabung pun menggunakan bidadari sebagai imbalan berjihadnya. Artinya perempuan tidak pernah bisa sepenuhnya lepas dari kepercayaan yang mereka bangun,” ujar Husein.

Pemahaman jihad yang keliru

Menurut Husein, konsep jihad yang diadopsi kelompok radikal selalu dilatarbelakangi sejarah permusuhan Islam yang mengambil kejadian-kejadian heroik semasa perang. Namun yang diambil dan ditelan konsep perangnya saja tanpa mau melihat apakah secara esensial dan substansial sesuai dengan realitas jaman sekarang ini atau tidak, ujarnya.

“Sumber terbesar konflik adalah kekeliruan dalam bahasa. Padahal sekarang ikhtiar untuk mendapatkan penghidupan dunia yang baik, menyejahterakan sesama itu sudah disebut jihad, enggak usah jauh-jauh jadi perang yang menyakiti orang. Mereka mereduksi sesuatu yang tadinya suci menjadi tidak suci,” ujar Husein.

Baginya, kelompok ekstremis yang berujung pada terorisme merupakan fase akhir dari proses kekeliruan yang panjang. Fase pertama adalah konservatisme, yang selalu memandang kebenaran dari kejadian masa lalu tanpa melihat dari sisi kontekstual. Kedua, fanatisme, saat konservatisme dibiarkan terus menerus dan menganggap apa yang dipercayainya sebagai sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Ketiga, radikalisme, yang bukan hanya masalah kepercayaan tapi sudah pada ambisi untuk menghancurkan sistem yang dianggap tidak sesuai dengan kepercayaanya.

Dalam menarasikan pemikiran radikalnya, kelompok ekstremis biasanya membangun kepercayaan publik dengan menarasikan musuh bersama yang muncul dari dua sisi, yaitu internal dan eksternal.

“Sumber terbesar konflik adalah kekeliruan dalam bahasa. Padahal sekarang ikhtiar untuk mendapatkan penghidupan dunia yang baik, menyejahterakan sesama itu sudah disebut jihad.”

“Serangan eksternal biasanya ya melawan sekularisme yang sudah mengikis nilai keislaman dan menguasai dunia. Kedua serangan internal dengan narasi krisis kepemimpinan yang tidak pro-Islam dengan sistem baru yang merusak kaum muslimin. Jadinya yang disalahkan sistem demokrasi yang tidak sesuai dengan Islam,” tambah Husein.

Narasi adanya musuh bersama tersebut yang selalu digunakan untuk mendoktrin perempuan agar ikut berjuang. Dalam kasus lain yang ditangani Dete misalnya, ia menemukan perempuan buruh migran yang secara sukarela bergabung dalam gerakan teroris karena melihat keadaan Indonesia yang semakin kacau balau, dan melirik konsep khilafah sebagai solusi. Mereka mau ikut bergabung dengan alasan ingin menjadi aktor perubahan politik di Indonesia.

Rentan tapi luput dari catatan sejarah

Meski menjadi pihak yang paling rentan dimanfaatkan kelompok radikal untuk melancarkan aksi terorisme, perempuan nyatanya masih minim dalam catatan penanganan kasus terorisme.

Ahli sosiologi dan antropologi agama, Lies Marcoes, mengatakan ia merasa kesulitan mencari sumber tentang peran perempuan dalam gerakan Islam radikal di Indonesia. Menurutnya, penulisan sejarah yang masih maskulin dan permasalahan konsep jihad politis selalu diidentikkan dengan laki-laki, padahal perempuan turut jadi korban doktrin paham radikal.

“Seandainya sejarah Islam ditulis dengan perspektif feminis, narasi yang ditimbulkan akan sangat berbeda, bisa jadi lebih membicarakan tentang peradaban ketimbang kekerasan,” ujar Lies.

Baca juga: Bagaimana Propaganda Teroris Meradikalisasi Perempuan

Alasan lain mengapa perempuan seolah dihilangkan dari narasi pergerakan kelompok radikal adalah, banyaknya pihak yang lebih fokus pada penanganan gagasan-gagasan jihad politis terkait ideologi yang menentang sistem demokrasi. Deradikalisasi dengan mereduksi ideologi para jihadis dianggap sebagai permasalahan utama yang harus ditangani.

“Selama ini penanganan kelompok radikal hanya sebatas pada strategi untuk meminimalisir paham-paham radikal, sehingga abai pada permasalahan human security yang justru mencakup permasalahan perempuan. Penanganan perempuan yang rentan kena doktrin itu adanya di human security,” ujar Lies.

Sulitnya menggali lebih dalam tentang peran perempuan mengharuskan Lies tidak hanya membaca kitab-kitab keislaman tapi juga buku-buku sastra yang sezaman dengan kitab tersebut, sehingga ia lebih mudah mencari tahu bagaimana peran perempuan ditempatkan pada masa tersebut

“Memoar perempuan hampir tidak keluar. Bagi saya, harus ada mekanisme nyata yang menjadikan pengalaman perempuan adalah kebenaran yang sudah seharusnya dicatat. Bagaimana mereka merasa harus ikut terlibat sebagai seorang perempuan, bagaimana mereka dijadikan alat untuk melangsungkan berbagai serangan,” ujar Lies.

Dalam  hal ini baik Lies, Dete maupun Husein sepakat bahwa perempuan sudah seharusnya punya ruang diskusi yang memadai dan memiliki catatan sendiri yang lepas dari maskulinitas.

“Dan penting untuk melihat apa ayat-ayat dalam Al-Quran itu secara parsial, artinya harus dibaca secara menyeluruh, baru menyimpulkan, bukan hanya setengah-setengah tapi menyesatkan. Di kehidupan nyata perempuan yang harusnya dimuliakan justru dijadikan budak seks oleh kelompok ekstremis seperti ISIS. Tindakan tersebut sama halnya dengan penyelewengan terhadap agama,” kata Husein.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.