February 9, 2023
Magde PCR

Jaga Hubungan Baik sama Mantan Pacar, Perlu Enggak Ya?

Sebagian orang menilai mantan pacar adalah bagian dari masa lalu. Namun, apakah benar relasi baik dengan mantan tidak perlu dijalin?

Aurelia Gracia
  • January 13, 2023
  • 6 min read
  • 764 Views
Jaga Hubungan Baik sama Mantan Pacar, Perlu Enggak Ya?

“Alda” dan “Ivan” berhenti komunikasi sejak keduanya mengakhiri hubungan romantis di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Merasa sakit hati, Alda menghapus kontak dan memblokir media sosial Ivan.

Sampai suatu hari di semester akhir perkuliahan, notifikasi masuk ke ponsel Alda. Nama Ivan tertera di sana. Laki-laki itu menanyakan kabar dan kesibukan Alda. Dari situ, hubungan Ivan dan Alda membaik. Sesekali mereka membahas fotografi, bidang yang digeluti Alda dan menjadi hobi Ivan.

Momen itu membuat Alda merefleksikan masa lalu–ketika ia putus dari Ivan, lalu memilih “mengusir” Ivan dari hidupnya. Relasi yang berakhir dengan tidak baik menjadi alasan kuat bagi Alda, mengambil tindakan itu. Alda berpikir pendek, menganggap lebih baik untuk tidak berteman lagi dengan Ivan.

Perempuan yang bekerja sebagai social media specialist itu pun mengaku, keputusan tersebut mencerminkan usia Alda yang dulu belum dewasa, ditambah amarah yang masih meluap. Beberapa tahun berlalu, Alda menganggap sebenarnya tak perlu merespons patah hati dengan bertindak demikian.

“Aku jadi mikir, ngapain harus marah sama masa lalu? Toh udah terjadi,” tutur Alda. “Kayaknya ya dulu cuma marah aja. Aku belum bisa memproses rasa marahku.”

Setelah berdamai dengan masa lalu, Alda dan Ivan kini berteman. Sesekali mereka bertukar kabar, dan membahas hal-hal yang disuka. Kebetulan, Alda dan Ivan sefrekuensi dalam fotografi dan selera musik. 

Tentu Alda bukan satu-satunya orang, tapi ia menunjukkan kemungkinan menjaga hubungan baik dengan mantan pacar. Sesuatu yang dihindari sebagian orang, atau belum tentu dapat dilakukan.

Hal itu bukan perkara mudah. Bahkan sering dilihat sebagai ancaman, untuk relasi romantis yang sedang dijalani. Lantas, apakah menjaga hubungan baik dengan mantan pacar memang perlu dilakukan?

Baca Juga: Balikan Sama Mantan, Ya atau Tidak?

Pro Kontra Berteman dengan Mantan Pacar

Buat sebagian orang, mantan pacar enggak lebih dari masa lalu. Seperti pacar Alda saat ini yang berpendapat begitu. Alda mengaku, pacarnya enggak bermusuhan dengan mantan-mantannya. Ia hanya tidak bersikap friendly, sebagaimana Alda yang berteman dengan Ivan.

Sebenarnya ada berbagai alasan untuk tidak menjaga hubungan baik dengan mantan pacar. Misalnya belum memproses masa lalu, khawatir memengaruhi dan merusak relasi baru yang dijalin, pertemanan tidak akan mengurangi patah hati akibat putusnya hubungan, dan relasi yang pernah dijalin tidak sehat.

Ada juga yang mengatakan, berteman dengan mantan pacar sama artinya dengan mencari back up plan, kalau hubungan baru enggak berhasil. Namun, enggak ada salahnya juga, kalau sebagian orang memilih move on dan memulai sesuatu yang baru.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki alasan dan kebutuhannya masing-masing. Jadi, berteman dengan mantan pacar bukan perkara benar dan salah. Opsi untuk tidak berteman, mungkin jadi pilihan kalau relasi tersebut hanya akan merugikan.

Sementara jurnalis Joy Deitcher menuliskan di Vox, pilihan itu bergantung pada budaya komunitas di sekitar kita. Berbeda dengan orang heteroseksual yang memilih tidak berteman dengan mantan pacarnya, komunitas queer cenderung berhubungan baik dengan mantan pacar karena komunitasnya lebih kecil.

Misalnya dalam episode di musim kesembilan Will & Grace (1998-2020). Ketika Grace (Debra Messing) melihat Will (Eric McCormack) membuat sarapan untuk mantan pacarnya, Grace menyatakan keheranannya. Ia heran bagaimana laki-laki homoseksual bisa berteman dengan semua mantan pacarnya, sedangkan dirinya tidak pernah.

Baca Juga: Mengenal ‘Cushioning’: Punya Pasangan Cadangan di Relasi Romantis

Hal tersebut juga dibuktikan dalam riset yang dilakukan Rebecca Griffith, Omri Gillath, dan Xian Zhao–peneliti di University of Kansas, Amerika Serikat.

Dalam riset Staying friends with ex-romantic partners: Predictions, reasons, and outcomes: Friendship with ex-romantic partners (2017), para peneliti juga menyebutkan alasan lain komunitas queer memiliki hubungan baik dengan mantan pacar. Di antaranya, keterbatasan memiliki keamanan, dengan minimnya dukungan keluarga, teman-teman, dan institusi. Maka itu, komunitas queer menjaga relasi dengan mantan pacar, supaya tetap berperan sebagai support system.

“Chalcantie” (35), seorang ilustrator, note taker, dan pentranskrip yang berdomisili di Yogyakarta, menepis stereotip tersebut. Dalam wawancara bersama Magdalene, sebagai queer, Chalcantie mengatakan motivasinya berhubungan baik dengan mantan pacar adalah kesadaran sebagai orang dewasa. Ia tidak ingin bermusuhan ataupun dendam dengan mantan pacarnya.

“Queer memang lebih minor di masyarakat umum, tapi aku enggak pernah merasa lingkup queer itu kecil,” terang Chalcantie. “Jadi aku enggak pernah takut enggak punya teman atau support system, kalau musuhan sama mantan.”

Chalcantie menjelaskan, ia berupaya berhubungan baik dengan mantan pacarnya juga untuk kebaikan psikisnya. Relasi tersebut membuat Chalcantie lebih nyaman melanjutkan hidup, sekaligus sebagai bentuk menutup hubungan dengan cara terhormat.

Alasan Chalcantie untuk memperbaiki relasi dengan mantan pacar juga dituturkan Griffith, Gillath, dan Zhao dalam risetnya. Ketiganya menemukan alasan selain ingin mencari keamanan dan menjalin hubungan baik, yakni adanya kebutuhan praktis.

Kebutuhan dalam hal ini didefinisikan sebagai membangun jaringanmaupun bekerja dengan mantan pacar. Sebab, kemungkinannya relasi yang meregang dapat menutup kesempatan dalam berkarier.

Alasan itu pula yang membuat Alda memilih berteman dengan Ivan. “Kita nggak tahu kalau akan butuh dia (mantan pacar). Jangan sampai (hubungannya) menutup opportunity ke pekerjaan,” ujarnya.

Upaya Bangun Pertemanan dengan Mantan Pacar

Setiap hubungan yang berakhir memiliki alasannya tersendiri. Mayoritas orang membutuhkan waktu untuk memproses dan memaafkan, sekalipun relasinya berakhir dengan baik. Itu menjadi alasan mengapa mereka yang baru mengakhiri hubungan romantis, tidak dapat langsung berteman. Kenyataannya, situasinya tidak baik-baik saja.

Psikolog dan penulis Marisa G. Franco menuturkan pada artikel yang sama oleh Deitcher. Menurutnya, untuk bisa berteman, seluruh pihak yang terlibat perlu berupaya untuk memperbaiki hubungannya. Diawali dengan membicarakan yang mereka alami sewaktu menjalin relasi, termasuk membahas apa saja yang bikin sakit hati. Langkah tersebut diyakini akan membantu menata pertemanan. Dengan catatan telah memproses kejadian di masa lalu. 

Baca Juga: ‘Retroactive Jealousy’: Cemburu dengan Masa Lalu Pacar

Alda menceritakan, ia dan Ivan melakukan upaya serupa dengan yang dijelaskan Franco. Keduanya saling meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan sewaktu hubungan berakhir.

“Kita akhirnya membahas dan refleksi lagi, kalau pengalaman itu bisa jadi pelajaran,” ungkap Alda. Perempuan 24 tahun itu merasa beruntung berteman dengan Ivan, karena bersikap suportif dan menghargai Alda–termasuk hubungan Alda dengan pacarnya.

Kemudian, ia membangun batasan dengan mantan pacarnya. Secara terus terang Alda menyampaikan kepada Ivan, kebaikannya tidak memiliki intensi selain berteman. Pernyataan itu disambut baik oleh Ivan yang sepakat dengan Alda.

“Dia juga bilang kalau enggak pengen apa-apa,” kata Alda. “Itu bikin aku tenang, karena kita nggak ada keinginan lebih. Bedanya dulu punya history aja.”

Menurut Franco, menetapkan batasan juga menjadi hal mendasar ketika membangun pertemanan dengan mantan pacar. Seperti topik yang dibahas dalam obrolan, apakah boleh menelepon, atau cukup mengirimkan pesan. Franco juga menyarankan untuk tidak membahas dan bersikap seperti di masa lalu.

Bagi Alda, membicarakan relasi romantis dengan pasangan masing-masing, adalah pembahasan yang perlu dihindari. Pasalnya, cerita tersebut akan menunjukkan situasi hubungan, sekaligus membuka celah terjadinya perselingkuhan.

“Kalau cerita terlalu dalam, possible banget kekosongan di hubungan itu diisi (mantan pacar),” jelas Alda.

Meskipun demikian, perlu diingat tidak semua hubungan dengan mantan pacar dapat berakhir pada pertemanan, maupun perlu diperbaiki. Sebab, tidak semua orang mampu memproses masa lalunya dengan baik. Terlebih jika hubungan yang pernah dijalin meninggalkan trauma mendalam, dan berbahaya untuk kembali berinteraksi. Akhirnya, ketika berupaya memperbaiki relasi malah berakhir toksik.

Apabila itu terjadi denganmu, sebaiknya kamu memvalidasi diri. Setidaknya kamu mencoba membangun pertemanan, hanya saja tidak berhasil sesuai ekspektasi. Toh pada akhirnya, kebaikan untuk diri sendiri yang perlu diprioritaskan.


Editor:  Aurelia Gracia
Aurelia Gracia
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *