Women Lead
September 17, 2021

Cinta Lama Bersemi Kembali: Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Balikan

Memori indah bareng mantan yang muncul lagi memang mendorong orang untuk balikan. Namun, kamu perlu mikir ini sebelum menyambung relasi yang sempat kandas.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
Share:

Tak ada yang bisa menduga bagaimana jalan cerita cinta seseorang. Ada segelintir orang beruntung yang setelah pertama kali pacaran, berhasil menjalin relasi dengan pasangannya sampai akhir hayat. Namun, ada banyak orang di luar sana yang mesti jatuh bangun dulu sebelum menemukan “the one” dalam hidupnya. Di antara kisah-kisah cinta itu, ada pengalaman putus cinta dan keputusan untuk kembali berhubungan dengan sang mantan, seperti yang dialami sebagian selebritas ini.

Salah satu romansa yang barangkali melekat lama di benak publik adalah kisah Rihanna dan Chris Brown. Kedua penyanyi itu mulai berpacaran sejak 2008 setelah sempat berkolaborasi dalam lagu “Cinderella” (“Umbrella” remix). Semuanya tampak indah dalam fase bulan madu pacaran mereka, sampai akhirnya pada Februari 2009, satu malam sebelum Grammy Award di mana mereka berdua dijadwalkan tampil, Rihanna mendapat kekerasan dari Brown. Wajahnya yang lebam dan berdarah tak lama kemudian menyebar di media dan mengikuti kejadian itu, Brown ditangkap atas perbuatannya kepada pelantun “Love The Way You Lie” tersebut, dan relasi mereka pun kandas.

Pada 2012, secara mengejutkan Rihanna menyatakan dirinya kembali berpacaran dengan Brown. Mereka bahkan membuat kolaborasi lagi, sehingga opini publik terbagi dua: Yang mendukung pilihannya dan yang menyayangkan ia kembali ke pelaku kekerasan. Relasi Rihanna-Brown part 2 ini berlangsung sekitar setahun. Namun, rasa sayang Rihanna kepada Brown rupanya tak habis-habis bahkan setelah lama mereka berpisah lagi. 

Ada lagi cerita lain putus-nyambung dari mantan pasangan Justin Bieber dan Selena Gomez. Pasangan ini juga mengawali kisah cinta mereka pada Februari 2011. Setelah sempat putus pada November 2012 dan balikan pada April 2013, pasangan ini berkali-kali putus dan balikan lagi pada tahun-tahun berikutnya. Setelah tak resmi berpacaran lagi, mereka sempat “berbalas” lagu yang mengisyaratkan relasi keduanya. Di sisi lain, “Jelena” (Justin-Selena) juga sempat beberapa kali terlihat bersama, dan Bieber juga pada 2015 pernah mengunggah momen-momen mesranya bersama Gomez dulu saat mereka masih pacaran. Hingga akhirnya, mereka berdua benar-benar mengambil jalan sendiri-sendiri dan Bieber saat ini berstatus sebagai suami Hailey Baldwin.   

Baca juga: Pacar Tukang ‘Gaslighting’ Menjebakku dalam Hubungan Toksik

Kenapa Orang Mau Kembali pada Mantan Pasangannya?

Tentu ada berbagai faktor yang membuat orang mau kembali pada mantan pasangannya. Dalam beberapa kasus pasangan menikah, mereka kembali rujuk atas pertimbangan untuk kebaikan anak-anak mereka. Namun pada kasus Rihanna, sebagaimana diwartakan Vanity Fair, ia kembali pada Brown karena ada harapan mantannya itu berubah jadi lebih baik.

“Mungkin saya orang yang jadi malaikat penjaga untuk orang ini [Brown], untuk ada saat dia rapuh, saat dia tidak memahami dunia, saat dia hanya butuh seseorang untuk mendukungnya dan mengatakan hal-hal tepat,” curhat Rihanna. 

Selain harapan situasi bisa jadi lebih baik atau seseorang bisa mengubah mantannya, alasan lain pasangan balikan adalah nostalgia yang mendorongnya untuk mengulang kembali momen indah bersama mantan. Terlepas dari hal buruk yang membuat mereka berkonflik dan akhirnya berpisah, terkadang ada memori manis yang melekat begitu erat dan membuat seseorang sangat rindu mengalaminya kembali.

Keadaan terisolasi selama pandemi sekarang ini rupanya juga bisa berkontribusi terhadap kembalinya seseorang dengan mantannya. Dalam The Atlantic disebutkan, masa karantina meningkatkan rasa kesepian dan bosan seseorang. Kegiatan berinteraksi dengan orang baru dan menemuinya secara langsung untuk penjajakan saat ini lebih terbatas, sementara kebutuhan terkoneksi secara romantis terus ada. Karenanya, tidak heran bila sebagian orang menginisiasi kontak kembali dengan mantannya dan berujung pada komunikasi yang lebih intim. 

Menurut associate professor Psikologi dari Albright College, Gwendolyn Seidman, saat ancaman kematian begitu dekat semasa pandemi ini, orang cenderung mencari makna hidup lebih intens. Salah satunya terkait dengan relasi intimnya dan itu membuat orang mencoba mengontak mantannya dengan harapan bisa kembali bersama, menyatakan bahwa dirinya masih punya perasaan yang sama, atau meminta maaf.  

Kembalinya seseorang ke mantannya juga bisa dilandasi adanya perasaan lebih aman dan nyaman saat berelasi dengan orang yang sudah dikenalnya beberapa lama. Saat melakukannya, ia tidak perlu memulai dari awal membuka diri, menunjukkan kerentanannya, atau memperkenalkan pasangan ke orang-orang terdekatnya lagi.

Di samping itu, ada juga alasan dia takut sendirian--terlebih dengan adanya stigma buruk terhadap lajang di masyarakat dan “expired date” seseorang. Sementara ia tidak kunjung menemukan orang yang tepat, ia merasa khawatir akan menghabiskan waktu hidupnya hanya seorang diri dan secara menyedihkan, sehingga ia memilih balikan.

Alasan membandingkan kehidupan cinta lama dengan kehidupan bersama pasangan baru menjadi faktor lain yang membuat pasangan balikan. Bagi sebagian orang, ternyata menjalin hubungan baru dengan orang lain tidak semenyenangkan atau semulus dengan mantan, sehingga mereka mulai menyesali keputusannya untuk pisah dulu. 

Baca juga: Aku Berhasil Memutus Rantai Kekerasan dalam Pacaran

Hal-hal yang Perlu Jadi Pertimbangan untuk Balik Sama Mantan

Ada beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan jika kesempatan untuk kembali dengan mantan muncul di hadapanmu. 

  1. Apakah kalian berdua sudah menghabiskan cukup waktu berefleksi?

Sebagian orang dengan mudahnya bilang putus dan beberapa hari atau minggu kemudian langsung menyesali dan minta balikan. Memang, ini bukan hal yang sepenuhnya keliru. Akan tetapi yang perlu kita cek kembali sebelum mengambil keputusan ini adalah apakah kita sudah benar-benar siap memulai hubungan lagi

Bila kita belum melakukan introspeksi dan perbaikan diri, atau mengidentifikasi dengan baik di mana letak kesalahan atau gesekan yang membuat relasi lalu berakhir, rasanya sulit mewujudkan relasi yang lebih harmonis nantinya.

Dalam Bustle, psikolog klinis Joshua Klapow mengatakan, “Jika sudah ada waktu cukup semenjak putus (selama beberapa bulan atau tahun), kalian berdua telah berubah sebagai individu… dan kalian menemukan diri satu sama lain sebagai orang baru, skenario [melanjutkan relasi kembali] bisa menjanjikan.”

2. Apakah waktu dan kondisinya tepat?

Memang, cinta tak mengenal waktu dan kondisi, tetapi manusia bisa berpikir logis untuk mengambil suatu pilihan, termasuk balikan dengan mantan. Bayangkan bila pada satu titik, kamu sudah memiliki pasangan dan kemudian nostalgia dengan mantanmu menyeruak kembali serta dibarengi dengan kemunculannya tanpa kamu duga di suatu pertemuan. Apakah serta merta kamu akan memintanya balikan?

Tentu akan ada harga besar yang mesti kamu bayar di depan walau kamu juga bisa dapat reward berupa kembalinya cinta lamamu. Kamu akan berkonflik besar dengan pasanganmu sekarang dan dengan keluarga, bila sudah memiliki anak juga kamu mesti mempertimbangkan perasaan dan pandangan mereka, dan pada akhirnya tidak ada garansi kamu menjadi lebih bahagia dengan memacari kembali mantanmu pada waktu dan kondisi yang tidak tepat itu. Bukan mustahil niat balikan bisa berdampak panjang dan memengaruhi relasi kalian berdua setelah nyambung lagi. Beda cerita bila kalian berdua sedang sama-sama berstatus lajang. 

3. Apakah rasa ingin balikan itu sesaat saja atau menetap lama?

Mungkin kamu pernah melihat meme atau candaan ketika seseorang sedang mabuk parah, dia akan mengontak mantannya dan mengatakan hal-hal tertentu seperti balikan. Atau, pernah enggak kamu memimpikan mantan, terus tiba-tiba rasa kangen kepadanya menyerang seolah balikan sama dia jadi satu-satunya jawaban saat itu. 

Padahal, teringat dan kangen sama mantan itu adalah hal yang wajar sekali karena kalian sudah banyak menghabiskan momen bersama. Kita hanya perlu menerima perasaan itu dulu tanpa perlu buru-buru bertindak. Kita bisa mengevaluasi sejenak apakah perasaan itu hanya muncul pada satu waktu saja atau ia tinggal lama dalam hati kita, dan kenapa itu bisa muncul? 

Jika memang perasaan ingin balikan lama menetap dan didasari kesadaran kamu memang menginginkan dan membutuhkan mantanmu (hanya sosok mantanmu itu saja, bukan membutuhkan sosok laki-laki atau perempuan mana pun untuk jadi pasanganmu saja), sudah memperhatikan poin-poin sebelum ini, kamu bisa mempertimbangkan untuk mendekatinya lagi dan menginisiasi rekonsiliasi.

4. Apakah tekadmu sudah cukup bulat setelah beberapa lama mendekatinya lagi? 

Setelah merasa ada kerinduan mendalam dan keinginan tinggi untuk kembali bersama mantanmu, kamu tidak perlu buru-buru nembak lagi supaya kalian bisa resmi berpacaran. Meski kalian sudah saling mengenal dan pernah melalui masa bersama, diri kalian dan mantan sekarang ini tentu sudah berkembang. Ada perubahan-perubahan tertentu yang membutuhkan penyesuaian ulang.

Di samping itu, kalian juga mesti mengingat lagi, apakah hal yang membuat putus dahulu sudah tidak akan menjadi isu lagi di kemudian hari? 

Karena itulah, kamu tetap butuh waktu penjajakan lagi sebagaimana memacari orang baru untuk menilai ulang apakah kamu bisa menyesuaikan dengan kondisi dia sekarang, apakah kalian sudah punya visi dan prinsip sejalan, dan bagaimana dengan kesiapanmu untuk menghadapi konflik-konflik mendatang bersama orang yang sama? 

Jika tekadmu masih belum cukup bulat, walau relasi pacaran itu urusan privatmu, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan orang-orang yang kamu percayai tentang rencanamu balikan itu. Bisa jadi pandangan mereka lebih objektif dalam menilai apakah kamu akan bisa menjalani relasi sehat dengan mantanmu setelah sempat berkonflik dan putus dengan dia dulu. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop