July 22, 2020
Pilihan atau Tuntutan: Refleksi 2 Ibu Rumah Tangga

Bagi dua perempuan ini, menjadi ibu rumah tangga tidak berarti dirinya terepresi dan serta merta tunduk pada peran gender tradisional.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Peran perempuan sebagai ibu rumah tangga masih menjadi hal yang memicu polarisasi. Ada yang merasa itu memang wajar, bahkan kodrat perempuan. Ada yang menyebutnya sebagai cerminan nilai patriarkal, dan jikapun merupakan pilihan, itu adalah pilihan yang dipengaruhi nilai-nilai patriarkal yang sudah terinternalisasi.

Ressa Ria dan Nurvina Alifa tidak merasa menjadi keduanya, karena menurut mereka, menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan yang mereka ambil secara bebas.

Ressa, 29, adalah ibu seorang putra berusia 1,5 tahun. Dengan latar pendidikan sebagai sarjana Antropologi dari Universitas Padjadjaran, Ressa sempat bekerja menjadi peneliti penuh waktu selama lima tahun sebelum menikah dan memiliki anak. Ketika putranya lahir, ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dengan mengerjakan beberapa pekerjaan lain secara lepas.

“Ketika memutuskan mau punya anak, aku udah tahu konsekuensinya apa dan siap dengan itu. Aku enggak melihat ini sebagai beban kerja karena memang ini hasil kesepakatan dengan suami yang menurutku fair. Menjadi ibu rumah tangga dan mengerjakan hal domestik itu buatku bukan kewajiban, melainkan pilihan,” kata Ressa.

Dalam menjalankan rumah tangganya, sebisa mungkin ia melakukan segala sesuatu tidak secara terpaksa. Misalnya soal memasak, ia tidak mau melakukannya hanya karena takut suaminya akan marah bila ia tidak memasak.

Sementara bagi Nurvina, menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang memudahkan dirinya dan Rian, suaminya.

“Gue sama Rian sadar kalau ini mudah bukan karena kami melakukan hal yang menjadi kodrat kami. Yang kodrati buat perempuan kan cuma melahirkan dan menyusui. Misalnya tentang pengasuhan anak, untuk deket sama Bilal [anak Nurvina yang berusia 4 tahun], Rian butuh usaha dua kali lebih besar dari gue. Akhirnya, karena gue sama Rian mau gampangnya aja, ya sudah, gue aja yang handle Bilal,” ujarnya.

“Lagi pula kalau gue kerja juga, itu enggak membebaskan gue dari kerja domestik. Double burden gitu, dan gue enggak mau itu. Selain itu, kalau gue kerja, gue enggak punya waktu buat diri gue sendiri. Waktu gue jadi habis buat kerjaan gue dan Bilal,” perempuan 30 tahun ini menambahkan.

Baca juga: Setara dalam Rumah Tangga

Ia bisa saja menyewa asisten rumah tangga jika memutuskan bekerja setelah punya anak. Namun, pada saat itu ia mempertimbangkan penghasilannya yang akan banyak terkuras untuk membayar asisten rumah tangga, ongkos transportasi, dan sebagainya.

Tidak inferior

Bagi Ressa dan Nurvina, kerja domestik yang mereka jalankan tidak lebih rendah nilai fungsinya dibandingkan kerja publik. Hanya saja, masih ada sebagian orang yang memandang sebelah mata pilihan mereka ini.

“Ketika orang tahu bahwa gue punya kapasitas untuk bekerja dan akhirnya memutuskan ngerjain kerjaan domestik sebagai ibu rumah tangga, sering kali mereka nanya, ‘Lu enggak pengen kerja lagi?’, ‘Abis itu [menikah dan punya anak], lu mau ngapain? Lu nggak mungkin kan di rumah terus?’,” ujar Nurvina.

“Seakan-akan kalau gue enggak menghasilkan uang, ada sesuatu yang disayangkan dari gue,” ujar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia ini.

Saat mengerjakan tugas domestik, Ressa melakukannya dengan sukarela dan senang hati alih-alih karena tuntutan masyarakat terhadap seorang perempuan yang sudah menikah.

“Ketika aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga, enggak berarti pride aku kecoreng. Aku suka masak, aku juga enggak bisa lihat tempat berantakan. Suami aku orangnya santai, aku enggak bisa kayak gitu, jadi kalau lihat sesuatu berantakan, aku rapiin. Bukan karena itu sebagai beban kerja domestik, tapi karena emang aku enggak suka lihat berantakan dan aku suka masak,” ujarnya.

Selain karena anaknya masih batita dan membutuhkan kedekatan dengannya lebih sering, Ressa juga merasa menjalankan peran ibu rumah tangga sembari bekerja lepas adalah pilihan yang lebih nyaman dibandingkan kembali bekerja penuh waktu di kantor.

“Aku sempat depresi waktu kerja kantoran dan sempat ke psikolog. Pas aku freelance, aku jadi lebih bebas atur waktu, jadi lebih ringan bebannya,” kata Ressa.

Jadi ibu rumah tangga, enggak jadi feminis lagi, dong?

Sebelum memutuskan menikah, Ressa telah terjun di berbagai penelitian dan menjalankan aktivisme terkait isu gender dan feminisme. Hal itu terus dijalankannya setelah berumah tangga. Kini, ia menjabat sebagai ketua Samahita, sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang pendampingan penyintas kekerasan seksual di Bandung.

Baca juga: Setara dalam Rumah Tangga

Ia mengakui saat masih pacaran dulu, suaminya dulu masih memegang nilai patriarki dan ingin istrinya lebih mengurus hal domestik.

“Sampai akhirnya kami mulai sering diskusi soal patriarki, dan aku mulai kenal isu gender dan feminisme setelah bikin skripsi tentang strategi coping ibu rumah tangga terkait ekonomi keluarga. Terus aku pikir, ini enggak bisa kalau pandangannya masih kayak gini, aku enggak mau lanjut kalau begitu,” ujar Ressa.

Setelah sempat mengorganisasi acara One Billion Rising untuk melawan kekerasan terhadap perempuan di Bandung, Ressa mendapat undangan pelatihan gender dari Yayasan Pulih. Ia pun mengikuti kegiatan itu dengan mengajak suaminya. Sedikit demi sedikit, pandangan patriarkal suaminya berubah setelah mengikuti pelatihan tersebut. Ini terlihat ketika beberapa waktu kemudian, Ressa menceritakan kepadanya pengalaman dia pernah dilecehkan secara seksual dan menghadapi trauma setelahnya.

“Aku mau tahu respons dia, akan nyalahin aku atau seperti apa reaksinya? Kalau responsnya jelek, aku udah siap untuk putus. Tapi ternyata, reaksinya sesuai hasil pelatihan gender tadi,” kata Ressa.

Pernah ada temannya yang menganggap dirinya tidak akan jadi feminis lagi bila menikah, lantaran hal itu adalah salah satu perwujudan budaya patriarkal.

“Aku sih jawabnya kalau kita nerapinnya pakai cara lama ya iya, kita kebawa. Aku percaya, aku enggak akan pakai nilai-nilai itu,” kata Ressa.  

Setelah melihat perubahan sikap dan pandangan suaminya itu, Ressa merasa dirinya bisa berkeluarga dengan model berbeda dari keluarga konservatif lainnya. Nilai-nilai feminisme dalam keluarga telah ia dan suaminya sepakati bersama dan masih mereka jalankan sampai sekarang.

Terkadang Ressa menghadapi reaksi normatif ketika menjalankan rumah tangga dan pola asuh dengan nilai feminisme. Dalam pengasuhan anak misalnya, sewaktu putra Ressa menangis dan orang-orang menanggapinya dengan, “Anak cowok kok nangis?”, Ressa kerap mendebatnya. Ressa merasa wajar saja siapa pun menangis sebagai bentuk luapan emosi. Atau ketika ada yang melihat suaminya mencuci piring, masih ada saja yang mengomentari hal tersebut.

Baca juga: Peran Vital Ibu Rumah Tangga dan Petani Perempuan dalam Aktivisme Lingkungan

Menjaga kewarasan di tengah kerja domestik

Mengerjakan tugas domestik sering kali mendatangkan kelelahan yang setara dengan melakukan pekerjaan publik. Sayangnya, masih ada orang yang menganggap, ‘Ah, kan cuma di rumah aja’.

“Padahal, di rumah doang kan enggak hanya leha-leha. Itu juga melibatkan kerja, baik yang kelihatan maupun enggak kasat mata,” kata Nurvina.

Untuk menjaga kesehatan, baik fisik maupun mentalnya, ia pun biasa meminta Rian untuk turut serta mengerjakan beberapa hal, seperti menjaga anak atau mencuci piring ketika ia sudah terlalu lelah. Setiap minggu pun ia meluangkan waktu untuk istirahat dan suaminya mengerti betapa letihnya mengerjakan tugas domestik. Seperti halnya sang suami yang punya hari libur pada akhir pekan, seorang ibu rumah tangga seperti Nurvina pun membutuhkan ruang dan waktu untuk dirinya sendiri dan terbebas dari tugas domestik sejenak agar tidak meledak dan berimbas pada interaksi dengan anaknya di kemudian hari.

Pembagian tugas domestik juga Ressa lakukan dengan suaminya secara fleksibel. 

“Aku bikin kesepakatan, kalau aku yang masak, dia yang cuci piringnya. Itu sepele kelihatannya, tapi berpengaruh. Aku kan juga harus menyediakan waktu dan tenaga buat urus anak, tenaga aku enggak akan cukup kalau aku harus urusin beres-beres sendiri. Kita harus pilih salah satu, enggak bisa semuanya aku yang kerjain. Kalau aku pegang anak, dia yang beres-beres, begitu juga sebaliknya,” ujar Ressa.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop