March 13, 2020
Queer Love: Bisakah Kita Membelokkan Orang Jadi LGBT?

Bisakah kita membelokkan seseorang menjadi bagian dari LGBT?

by Paramita Mohamad dan Downtown Boy
Issues // Relationship
Share:

Dear Magdalene,

Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang itu bagian dari LGBT atau bukan? Apakah kita bisa mem-“belok”-an orang yang hetero? Saya suka dengan seseorang. Namun hingga saat ini yang saya tahu, orang tersebut bukan merupakan bagian dari LGBT. Orang ini sangat baik kepada saya. Bagaimana cara membedakan apakah orang ini juga suka dengan saya atau hanya sekadar nyaman? Saya takut kalau saya sudah ke-geer-an, ternyata dia bukan bagian dari LGBT.

Salam,
Suka dari Jauh

Kata Mita:

Dear Suka,

Mari kita mulai dari hal yang mendasar. Kita sebetulnya tidak bisa bilang apakah seseorang “bagian dari LGBT”. LGBT bukan klub, sekte, partai, atau organisasi apa pun. 

Manusia bisa mempunyai orientasi dan identitas seksual yang berbeda-beda. Sebagian (kecil) manusia ada yang orientasi seksualnya bukan heteroseksual, tapi gay, lesbian, atau biseksual. Ada juga yang mengidentifikasikan gendernya sebagai transeksual (alias bukan cisgender). Jadi mari mulai dengan istilah yang tepat: Seseorang bisa saja kebetulan gay, lesbian, atau biseksual. 

Kedua, kita tidak bisa mengubah orientasi seseorang. Dengan kata lain, tidak pernah ada orang yang “dibelokkan” menjadi LGBT. Yang ada adalah kadang-kadang orang baru menyadari bahwa dia tidak straight setelah ia jatuh cinta pada orang lain yang sama gendernya. Saya rasa mayoritas manusia awalnya berasumsi bahwa kita heteroseksual, sampai akhirnya terbukti sebaliknya.  

Ketiga, Dear Suka Dari Jauh, seandainya kamu ada di depan saya, saya akan minta izin agar kita bisa duduk berdekatan. Mari bicara tentang rasa, ketika rasa suka bercampur aduk dengan gelisah. Darah yang berdesir dan dunia yang lebih cerah ketika hadirnya dia bisa kita rasakan. Hati yang terombang-ambing oleh pertanyaan: Apakah dia punya perasaan yang sama dengan kita?

Saya tidak bilang bahwa perasaanmu pasti sama dengan saya, Suka, tapi saya ingin kamu bisa melihat bahwa ini bukan masalah dia “bagian” dari apa pun atau apa orientasi seksual orang ini. Pertanyaan utamanya adalah apakah dia membalas perasaan romantis kita. Dan jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Bahkan kalau misalnya dia punya orientasi seksual yang sama dengan kita, bisa saja kan dia tidak membalas taksiran kita, baik straight atau gay.

Baca juga: Queer Love: Benarkah Pria Gay Anti-Komitmen?

Jadi bagaimana kalau kita jatuh hati pada orang yang kita tidak tahu perasaannya pada kita? Ada banyak cara untuk tahu. Cara paling aman adalah dengan berputar-putar. Misalnya bertanya apakah dia pernah suka dengan orang lain, dan orang yang seperti apa. Cara paling cepat adalah langsung bertanya, kalau bisa di situasi yang terasa alami. Apa pun caranya, Suka, semuanya mengandung risiko penolakan sebesar 50 persen.

Adakah risiko kehilangan teman dan orientasi seksual kita disebarluaskan tanpa seizin kita? Tentu ada, kalau dia ternyata tidak sebaik yang kamu kira. 

Tapi, Dear Suka, saya diberi kesempatan untuk mengisi kolom ini adalah karena saya kebetulan lahir lebih dulu daripada lebih dari separuh orang Indonesia, sehingga mengalami banyak hal lebih dulu daripada mereka. Pengalaman hidup saya membuat saya percaya ini: Beri orang lain kesempatan untuk memberi kejutan indah pada kita. It’s usually worth it. 

Jadi, Suka, ambillah risiko dan mencari tahu apa yang sebetulnya ia rasakan ke kamu. Siapa tahu dia membalas perasaanmu (Horeee!!! Selamat!). Siapa tahu dia bisa jadi teman yang bisa menerima dirimu apa adanya.

Terakhir, Suka, jangan pernah menggunakan paksaan. Hargai martabat orang lain. 

Good luck, Suka. Tell me how it goes

With love,
PM

Downtown Boy says:

Dear Suka,

How to detect signs of homosexuality? I have partially covered this issue when discussing 'gay' husbands who enter—for a lack of better term—'unconsented' heterosexual marriage.

There are subtle and obvious signs to find out if your object of desire is in your field or not. Nonetheless if we delve deeper into signs and gestures I’m afraid we might fall into the trap of perpetuating stereotypical traits as opposed to recognizing the importance of non-scene signs. Side note to the activists: Stereotypes do exist otherwise you wouldn't keep Simba and Milo as your felines.

For practicality sake, I'm going to assume that you're a guy and I see that you are already have some kind of relationship with your love interest (orang ini sangat baik sama saya). So rather than finding out his sexuality, why don't we find out if he's into you MORE or not, shall we?

Also read: Queer Love: Kapan Seseorang Disebut Queer?

  1. Check the history of your chat with him in the past weeks or so, can you see the pattern on who initiates the contact first? If he tends to strikes up the conversation then that's a good sign.
  2. Whether it's a soiree of Shakespeare reading in Cikini or Champions League match nobar in Cipinang, he always makes plans WITH you.
  3. It's raining cats and dogs and you know Jakarta is about to be submerged with yet again another floods, and he still shows up to see you—with smiles. Grrrrrl, he's into you all right because he goes out of his way to see you.
  4. He makes little satisfying gestures to pleaseeee you. Now, I'm not talking about my favorite foreplay here, get your mind out of Cilincing gutter! But you'll know it when he brings your favorite snacks, candies or whatever.
  5. He remembers key aspects of your life; it's not just about birthdays and favorite food but also other seemingly mundane but key part of your life like your previous jobs, and your school.

All of these signs may not warrant the golden key for you to make the further move if he had a girlfriend or appear to be on the fence. In this particular case, you're dealing with someone who are still unsure with what he wants. If this was the case, then my advice to you is to shield your feelings with extra strength bulletproof armor.

Never initiate and never put his need over you. Dealing with someone who's unsure about his sexuality often leads to heartbreaking situations, due to his unresolved toxic baggage. It's not your job or anyone's duties to court him into your field. Forget your vested interest to get him into your field because you're doing it because you want him. Otherwise you wouldn't break a sweat for him, would you?

Remember, you can't make someone gay unless they're born one and decides to finally accept and love himself.

Best,
DB

Paramita Mohamad bekerja merancang strategi komunikasi agar mereka yang ingin membenahi Indonesia bisa menggugah mereka yang tak peduli. Selain itu, ia mengabdi pada tiga kucing rupawan yang dikenal sebagai Trias Politicats. Diambil dari lagu hit klasik Petula Clark, Downtown Boy alias DB, adalah hipster usia 20an yang terjebak dalam tubuh pria gay berumur 40an. Ia pegawai kantoran biasa di Jakarta dan hobinya termasuk mendengarkan lagu-lagu lama dan olahraga yang menantang secara fisik. Dulu ia suka bela diri tapi terpaksa berhenti karena punggung bawahnya cedera. Semua temannya menduga cedera tersebut akibat sesuatu yang lebih mencurigakan.