March 06, 2020
Queer Love: Kapan Seseorang Disebut Queer?

Banyak orang masih bingung mengenai definisi queer dan kapan seseorang bisa disebut queer.

by Paramita Mohamad dan Downtown Boy
Issues // Relationship
Share:

Dear Magdalene,

Apa sih sebenarnya queer itu? Sebagai queer, apakah itu sebuah proses di mana kamu masih bingung tentang orientasimu atau udah tahu jati dirimu?

Best,

Queerious

Kata Mita:

Hai Queerious,

Kalau di Amerika, kata queer sering kali digunakan sebagai padanan “not straight”. Queer menjelaskan “sexual orientations and gender identities that are not exclusively heterosexual or cisgender”.

Arti harfiah queer sebetulnya aneh atau tidak biasa (“unusual, strange, odd”), namun pada akhir abad 19, maknanya berkembang menjadi cemoohan buat laki-laki yang dipandang berperilaku feminin. Namun sejak 1990-an di AS, kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) merebut kembali kata ini, dan menjadikannya sebagai istilah inklusif bagi mereka yang bukan “straight”. 

Saya pun menggunakan kata queer untuk merujuk pada makna yang sama. Di Twitter, saya memakai istilah itu juga agar tidak seketika mendatangkan caci-maki dari kalangan homofobik. Mereka tampaknya belum familier dengan istilah ini.

Baca juga: Queer Love: Benarkah Pria Gay Anti-Komitmen?

Dengan makna “not straight”, masuk akal jika istilah itu digunakan untuk melabelkan orientasi atau identitas seksual orang yang masih dalam proses pencarian, namun sudah cukup yakin ia tidak bisa menyebut dirinya eksklusif heteroseksual atau cisgender. Kadang-kadang kita lebih yakin kita bukan orang yang seperti apa daripada kita itu sebenarnya siapa, kan?  

Tapi bisa juga istilah ini digunakan buat mereka yang sudah mantap dengan identitas dan orientasi seksualnya. Misalnya, saya tahu ada orang yang menjelaskan dirinya sebagai biseksual homoromantic. Buat dia, biseksual artinya bisa merasakan atraksi seksual terhadap semua gender dan ekspresi gender, sementara “homoromantic” artinya ia hanya bisa mempunyai perasaan cinta romantis dalam hubungan yang “not straight”. Karena ini cukup rumit, ia sering kali menyebut dirinya queer

Jadi tidak perlu bingung dengan istilah, Dear Queerious. Pilihlah cara yang paling nyaman buatmu untuk menjelaskan siapa dirimu selama itu jujur, baik ke dirimu sendiri maupun ke orang lain. Kalau ingin mendeskripsikan orang lain, tanya ke orangnya bagaimana ia biasa mendeskripsikan dirinya.

Baca juga: Queer Love: Antara Melela atau Tidak

Downtown Boy says:

When it comes to analytic reasoning tasks, there are two kinds of people in this world: Ones who always read the fine prints, and the slob ones who don't. The slobs tend to always get in troubles–and that’s me–and they also tend to under-analyze.

Why am I saying this? Because this is the kind of question I never asked myself. I know that I’m queer, and that’s that. So I feel that I’m probably not in the best position to give you the definition of “queer” (this column is called Queer Love not Queer Studies after all). Instead of providing “intellectual exercise” on queer relationship, I'm rather here to console and to be your teman curhat when your partner suddenly acquired a foot fetish, or when you find yourself making out with your pious and super-conservative neighbor. And so when that time comes, I'll be at your service

Paramita Mohamad bekerja merancang strategi komunikasi agar mereka yang ingin membenahi Indonesia bisa menggugah mereka yang tak peduli. Selain itu, ia mengabdi pada tiga kucing rupawan yang dikenal sebagai Trias Politicats. Diambil dari lagu hit klasik Petula Clark, Downtown Boy alias DB, adalah hipster usia 20an yang terjebak dalam tubuh pria gay berumur 40an. Ia pegawai kantoran biasa di Jakarta dan hobinya termasuk mendengarkan lagu-lagu lama dan olahraga yang menantang secara fisik. Dulu ia suka bela diri tapi terpaksa berhenti karena punggung bawahnya cedera. Semua temannya menduga cedera tersebut akibat sesuatu yang lebih mencurigakan.