November 13, 2019
‘Ratu Ilmu Hitam’: Santet Jadi Keadilan Terakhir Bagi Korban Kekerasan Seksual

Ratu Ilmu Hitam versi 2019 menunjukkan sulitnya perjuangan penyintas kekerasan seksual meraih keadilan.

by Elma Adisya, Reporter
Culture // Screen Raves
RatuIlmuHitam
Share:

Ketika cinta ditolak, dukun bertindak. Dalam film horor Ratu Ilmu Hitam yang baru diluncurkan pada 4 November, dukun bertindak saat penyintas kekerasan seksual gagal memperoleh keadilan yang pantas didapatkannya.

Berbeda dari film Suzzanna berjudul sama di tahun 1981, versi 2019 ini tidak menampilkan witch hunt dari seorang perempuan yang dituduh dukun santet di kampunya. Ratu Ilmu Hitam besutan  sutradara Kimo Stamboel dengan naskah dari Joko Anwar menampilkan bagaimana Murni (Putri Ayudya) akhirnya memakai ilmu santet untuk membalas dendam pada pelaku kekerasan seksual terhadapnya.

Murni si Ratu Ilmu Hitam versi Suzzanna membalaskan dendamnya pada masyarakat termasuk mantan kekasihnya yang menuduhnya sebagai dukun santet. Sedangkan Murni versi sekarang memiliki dendam yang sangat mendalam pada semua orang yang terlibat dalam skandal di panti asuhan tempat ia dibesarkan.

Mencekam, membuat geregetan, sekaligus memancing rasa mual, Ratu Ilmu Hitam berhasil memperlihatkan perjalanan panjang dan berliku bagi korban kekerasan seksual untuk mendapatkan keadilan. Para aktor bermain cemerlang, termasuk Hannah Al Rashid dan Ario Bayu, yang berperan sebagai suami istri yang menjadi sasaran santet.

Minggu lalu, Magdalene mengobrol singkat bersama dua aktor Ratu Ilmu Hitam (RIH) yaitu Hannah Al Rashid dan Ario Bayu, serta Kimo, yang membahas santet dan isu-isu perempuan dalam film tersebut. Berikut adalah cuplikan obrolan tersebut.

Magdalene: Hannah dan Ario tumbuh besar di luar Indonesia, dan Hannah bukan dari keluarga Jawa. Apakah akrab dengan isu santet-menyantet ini?

Hannah: Walaupun gue dari kecil tinggal di London, hal-hal mistis seperti santet sebenarnya sangat dekat dengan hidup gue. Bokap gue kan pemain silat, dan silat itu sangat berkaitan dengan hal-hal spiritual. Bokap gue sangat percaya dengan hal-hal mistis. Selain silat, Bokap juga suka mengoleksi keris dari seluruh Indonesia. Ada yang boleh kita pegang, ada yang enggak boleh kita pegang. Gua juga pernah melihat keris  itu bergerak-gerak sendiri.

Ario: Gue besar di keluarga Jawa yang masih mempraktekkan budaya Jawa. Tapi waktu pindah ke Australia, gue enggak dekat lagi sama mistisisme budaya Jawa. Ketika gue balik ke Indonesia, gue mulai berdekatan dengan budaya-budaya Jawa lagi, dan akhirnya jadi cinta banget sama budaya Jawa dan banyak yang mistis juga dari hal-hal itu. 

Baca juga: Film Sebagai Katarsis Bagi Penyintas Kekerasan Seksual

Bagaimana proses kreatif dari Ratu Ilmu Hitam?

Kimo: Sesuai kesepakatan dengan Joko Anwar, dan Sunil G. Samtani dari Rapi Films, kita pengen membuat film RIH ini berbeda dengan versi 1981. Kami putuskan untuk mengambil tema keluarga. Waktu pertama kali Joko submit draf pertama naskahnya, itu sebenernya lebih sadis dari naskah yang akhirnya kita filmkan sekarang. Akhirnya setelah tujuh kali bolak-balik revisi naskah, jadilah Ratu Ilmu Hitam versi 2019.

Fenomena santet sendiri bukan hal baru yang gue denger. Hal ini terjadi di dalam masyarakat. Tidak sulit buat gue untuk riset soal santet. Untuk mengarahkan para pemainnya, gue mewawancarai orang-orang yang pernah mengalami santet.

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh pemain dan juga sutradara dalam merealisasikan cerita?   

Hannah: Dari awal gue sudah tahu kalau film ini bakal menguras fisik dan mental gue. Tapi yang paling berat bagi gue itu di sisi emosional dalam cerita ini. Karena gua orangnya belum pernah mendapatkan cerita yang se-emosional ini. Pas karakter gue, Nadia, melihat foto-foto anak-anak perempuan yang difoto sama pelaku, itu sebenarnya gue sangat ke-trigger. Pertama kalinya gue menangis di depan screen ya di film ini juga.

But actually I’m very grateful with Kimo, karena sebenernya karakter Nadia lebih badass di naskah, tetapi on screen kita lebih tone down karakternya, I don't know why.

Baca juga: Suzzanna, Ratu Horor Sekaligus Ikon Feminis dan ‘Queer’

Kenapa karakter Nadia di-tone down dari versi naskahnya? 

Kimo: Alasannya, agar lebih terhubung saja dengan karakter-karakter Ibu-ibu muda di Indonesia. Di kehidupan nyata, dalam strata kelas seperti Nadia, seorang ibu muda dengan anak tiga, jarang yang jago berantem pake celurit. I think ini tantangan buat Hannah memerankan mama-mama muda yang udah punya tiga anak, tapi tetep bisa survive dalam kondisi ekstrem. Semoga ini membuat penonton relate. Sejauh ini, mama-mama muda yang dateng pada saat premier  film ini senang melihat karakter lo, Han. 

Hannah: Takutnya setelah ini, gue cuma dapat karakter mama-mama muda terus. 

Kimo: It's another challenge (tertawa).

Hannah: Adooohhh… 

Kimo: Dan bagian yang paling sulit buat gue, ketika gue harus membuat adegan foto-foto itu. Wah, itu enggak gampang banget. Bagi gue yang juga memiliki anak perempuan, gue enggak bisa membayangkan hal itu. Nah, ini salah satu yang paling sulit buat gue, karena kita menyentuh hal-hal sensitif. Enggak boleh ada kesalahan dalam adegan foto itu.

Memang biasanya Hannah selalu dapat karakter yang sama terus?

Hannah: Suka begitu sih, ditawarin karakter yang sama terus. Makanya actually I am quite grateful, kita tone down si Nadia ini, dan membuat dia lebih soft. Kalau enggak, ya sulit lagi buat gue mendapatkan kesempatan menunjukkan sisi soft namun badass si Nadia.

Mengapa Ratu Ilmu Hitam versi 2019 ini mengangkat isu kekerasan seksual, berbeda dengan versi aslinya?

Kimo: Idenya dari Joko, dan gue setuju karena itu isu universal yang harus terus menerus diangkat buat memancing dialog dalam masyarakat.  Di dunia nyata, dengan situasi dan kondisi yang saat ini terjadi, hampir tidak mungkin Murni mendapatkan keadilan. Maka dari itu, di film ini ia pun memilih jalan santet.

Hannah: Bagi gue, film ini memperlihatkan ke kita, bahwa seorang predator di dunia nyata adalah seorang master manipulator, yang mereka bisa melakukan apa saja untuk memanipulasi orang yang paling polos untuk menutupi kejahatan mereka. Dan itu terjadi di mana saja. Contoh si Pak Bandi ini, seorang pengurus panti, yang literally a father to so many vulnerable children di panti asuhan itu, yang enggak punya pondasi, yang enggak punya support system lain. Dilecehkan, dimanipulasi habis-habisan. Dan ini terjadi setiap hari di dunia nyata.

Baca juga: Christine Hakim: Film Horor Bukan Cuma Hiburan

Apakah memang film ini ingin memperlihatkan bahwa hukum di Indonesia tidak bakal membuat orang seperti Murni mendapatkan keadilan?

Ario: Kalau hukumnya tidak berlaku, ya  mereka mau pergi ke mana? Mau minta tolong ke siapa? Nah, metaforanya di Ratu Ilmu Hitam, jalan yang diambil oleh Murni adalah santet, karena menurut dia enggak ada yang bisa membantu dia. Buat gue ini sangat menakutkan.

Hannah:  Selama  Rancangan Undang-Undang  Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) enggak disahkan, ya (orang seperti) Murni tidak bisa mendapatkan keadilan. Di Ratu Ilmu Hitam versi 2019 ini, juga diperlihatkan payung hukum kita yang lemah, masyarakat yang suka victim blaming dan masyarakat yang membolehkan predator berkeliaran dengan impunitas itu fucked up banget! 

Bagaimana dengan karakter anak-anak dalam cerita ini, karena dari awal, anak-anak memegang peran penting dalam perkembangan plot. Apa yang ingin disampaikan dengan hal tersebut?

Kimo: Sederhananya kita cuma pengen memperlihatkan apa yang dilakukan si karakter-karakter anak ini ketika si karakter orang dewasa juga sibuk dengan chaos yang terjadi. Menurut saya, dengan adanya karakter anak-anak ini, menambah ketegangan di penonton, secara psikologis.  

Ario: Metafora di Ratu Ilmu Hitam disampaikan dari karakter Hanif dan teman-temannya ketika besar di panti asuhan. Karena mereka tidak memiliki figur orang tua, dan melihat satu-satunya father figure di panti asuhan itu adalah Pak Bandi. Mereka jadi mudah sekali dimanipulasi oleh Pak Bandi. Akhirnya si anak-anak yang polos ini jadi jahat juga, padahal sebenarnya mereka 100 persen tidak bersalah.

Hannah: Betul, menurut saya juga, Ratu Ilmu Hitam memperlihatkan siklus kekerasan yang tidak akan pernah putus pada anak-anak. Apa yang dialami oleh Hanif dan anak-anak perempuan di saat itu, kekerasannya terulang lagi ke anak-anak Hanif  dan panti asuhan yang mati di bus itu. Ya akan terus di situ, ketika enggak ada yang menghentikan siklusnya.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo