September 25, 2020
Reggy Lawalata dan Stigma Sebagai Janda

Stigma, pelecehan, dan prasangka terhadap janda membuat Reggy Lawalata ingin membantu banyak ibu tunggal.

by Hera Diani dan Siti Parhani
Wo/Men We Love
Share:

Mengobrol dengan aktris/pengusaha Reggy Lawalata adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. Dia hangat dan lucu, sangat ekspresif, tapi juga lugas serta apa adanya, tanpa ada pencitraan sedikit pun.

“Aduh, kenapa di video YouTube itu gue gak ada lemah lembutnya sama sekali ya,” ujarnya sambil meringis, mengacu pada video-video The Lawalatas di kanal YouTube, yang mengisahkan kehidupan Reggy dan kedua anaknya, desainer Oscar Lawalata dan aktor Mario Lawalata.

Video-video itu mencuri hati banyak pemirsa, terutama karena keterbukaan keluarga ini soal proses Oscar (kini bernama Asha) sebagai transpuan. Di tengah berita-berita yang begitu banyak tentang persekusi terhadap kelompok transgender, dan LGBT+ pada umumnya, kehangatan dan penerimaan keluarga Lawalata pada Asha membuat hati hangat.

Yang juga menyentuh adalah cerita Reggy sendiri sebagai ibu tunggal yang membesarkan kedua anaknya tersebut sendirian selama 20 tahun, sebelum Reggy kemudian menikah lagi.

Lahir dengan nama lengkap Ragnild Antoinette Lawalata pada 1960, Reggy menikah pada usia remaja, 17 tahun, dan bercerai pada usia 24 tahun. Ia menceritakan bagaimana stigma, pelecehan, dan prasangka yang ia dapat sebagai janda, dan bagaimana pergulatannya menghidupi dirinya dan kedua anaknya.

“Wah, saya itu mengalami ngutang di warung. Lalu cari uang dengan menjahit, bikin set sarung tangan dapur,” ujar Reggy.

Sebagai janda muda yang cantik, tidak sedikit laki-laki yang menghujaninya uang, perhiasan, dan mobil mewah, termasuk dari seorang pejabat yang ingin menjadikannya pacar simpanan. Tapi ia menolak semua itu karena tidak nyaman. “Saya seperti tidak punya harga diri, bisa dibeli. Kita sebagai perempuan jangan jadikan fisik kita sebagai alat untuk hidup enak secara instan,” ujarnya.

Pengalaman menjadi ibu tunggal membuatnya ingin berbagi dan menguatkan sesama single moms, karena melihat banyaknya stigma dan penghakiman terhadap kelompok ini, sampai banyak para janda yang tidak mau terbuka dengan statusnya.

“Saya sering mengadakan pertemuan dengan para single moms. Sayang sekali pandemi ini jadi menghentikan kegiatan ini,” ujarnya.

Dalam obrolan seru selama hampir dua jam di rumahnya di Jakarta Selatan (dengan mematuhi protokol kesehatan tentunya), Reggy berbicara mengenai kehidupan sebagai ibu tunggal, ketabuan soal perceraian, dan membesarkan seorang anak yang transgender.

Berikut adalah bagian pertama ringkasan obrolan tersebut.

Magdalene: Kenapa sekarang memunculkan video-video The Lawalatas itu?

Reggy Lawalawata: Awalnya saya ingin bikin buku. Saya sering mengumpulkan single moms di rumah saya. Terakhir saya mengumpulkan sekitar 100 orang dan kita berbincang. Saya kan sudah jadi single mom selama 20 tahun, jadinya bisa merasakan kesulitannya. Waktu saya bercerai, keadaannya saya bukan orang berada, saya itu benar-benar berusaha, saya harus berjuang, melalui itu semua tanpa teman. Di hari-hari sulit itu saya hanya ditemani oleh satu kaca selama 12 tahun. Si kaca ini yang selalu menemani saya kalau sedih, senang, atau apa pun itu, saya selalu bicara sama kaca itu.

Kenapa kaca? Saya itu janda di usia 24 tahun. Orang-orang ada yang belum menikah, saya sudah punya anak dua dan janda. Bagi saya enggak gampang, misalnya saya ngobrol sama cowok, curhat-curhat terus tiba-tiba jadi beda perasaan. Saya ngobrol sama cewek jadi gosip. Saya ngobrol sama suami orang, istrinya cemburu. Waktu itu saya masih muda, kalau orang lihat pasti enggak nyangka saya sudah punya anak. Saya pikir ini keadaannya cukup sulit, akhirnya kaca yang jadi teman saya. Nah, saya mikir dengan adanya video kita bicara dari hati ke hati itu kan lebih menyentuh. Sehingga mereka (para single moms) itu lebih merasa dirangkul.

Baca juga: 5 Hal yang Bisa Dipelajari dari Hubungan Oscar dan Reggy Lawalata

Di hari tua saya ini, bersama tim kecil saya, kita pengen membuat kerja sama dengan komunitas yang bertujuan kepada single moms, anak-anak yang hidup dengan perceraian orang tuanya.

Saya tahu kalau banyak perempuan digebukin, tapi saya enggak pernah mengalami digebukin. Kalau ada komunitas yang bisa membahas tentang hal ini, saya orang yang pernah mengalami (perceraian) tapi saya bisa keluar dari persoalan itu. Saya ingin menuangkan itu semua supaya orang-orang kayak saya bisa keluar dari situasi ini, itu aja harapan saya.

Jadi saat ditanya kenapa YouTube? Awalnya mau buku karena setiap habis ngobrol sama orang selalu diminta bikin buku. Saya pikir apa perlu ya, apa kalau saya bikin buku ada orang mau baca? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ada mungkin ratusan orang yang minta saya bikin buku. Saat itu jadi terbersit untuk bikin saat umur masih 50an. Eh enggak jadi-jadi udah 10 tahun, sampai anak-anak tanya, apa saya masih pengen nulis buku?

Anak-anak bilang sekarang buku udah enggak dibaca lagi, sekarang cetak mahal, apa-apa mahal. Mending YouTube aja. Saya bahkan enggak tau YouTube itu apa awalnya (tertawa).  Semuanya dijelasin sama mereka, sampai akhirnya kita sepakat bikin yang bener-bener nampilin keluarga kita, semuanya di-direct sama Mario.

Di YouTube itu memang aku juga enggak mau rumpi-rumpi. Cuman mau sharing tentang kehidupan. Itu kita ngegodoknya ada kali enam bulan, karena dari pertanyaan pun kita benar-benar pikirin, jadilah kanal YouTube. Terus ada penulis Dewi Layla Sari bilang kalau keluarga kami itu unik karena masing-masing punya karakter berbeda-beda. Oscar juga berpikir, apa saya cerita tentang kisah saya saja. Ya sudah diputuskan untuk bikin kanal The Lawalatas sekalian.

Tante Reggy luar biasa kuat, dari mana menemukan kekuatan dalam menjalani hidup?

Makanya kalau jadi nulis buku saya tadinya mau kasih judul Dari Mana Datangnya Kekuatan Itu. Karena kalau saya ingat-ingat lagi dan mundur ke belakang, saya mikir, gila ya kok bisa saya punya pemikiran kayak gitu. Kok gue berani begini ya, kok bisa begitu ya. Karena kan saya orangnya enggak bisa abu-abu. Kalau A ya A, kalau B ya B, saya orangnya strict. Tapi ya saya harus mendisiplinkan anak-anak, saya harus keras, kalau enggak ya bagaimana?

Jadi perempuan Indonesia dan single mom itu sangat superpower, itu luar biasa loh. Belum kalau perempuannya kerja dan bagi waktu. Saya waktu ngurus anak-anak itu enggak dititipkan, jadi mereka apa-apa berdua, kalau lapar goreng telur lah, apalah. Nyuci baju berdua. Memang saya benar-benar disiplin sekali terhadap mereka.

Saya melihat jadi single mom sekarang itu tantangannya lebih luar biasa, karena anak-anak sekarang itu sangat kritis, they know everything. Zaman Oscar masih kecil...ya sebetulnya membesarkan anak pasti sulit, tapi lebih gampang karena keadaaan. Sekarang banyak sekali informasi dan gangguan lain seperti drugs, film-film porno, itu kan terlalu terbuka, jadi repot kita sebagai orang tua untuk mengontrol. Masa iya kita harus lihat handphone-nya tiap menit, kan enggak mungkin. Pembekalannya itu lebih kompleks. Jadi orang tua yang harus lebih cerdas. Ya mau single mom atau bukan itu kan enggak gampang sekarang membesarkan anak.

Saya juga membesarkan anak-anak itu dengan komunikasi. Menurut saya seberapa sayangnya kita sama anak-anak tapi komunikasi enggak jalan ya nothing. Kita bisa bilang I love you, tapi membesarkan anak bukan cuman ngomong, harus ada juga tindakan, seperti kissing, hugging, perhatian, caring, itu semua jadi satu. Tentunya dengan porsi yang berbeda, tergantung karakter, keadaan, masalah. Jadinya untuk saya touching itu perlu sekali.

Baca juga: Asha bukan Oscar: Membongkar Miskonsepsi Soal Transgender

Dari mana asalnya budaya komunikasi dengan anak itu mengingat di Indonesia biasanya tidak seterbuka itu?

Saya itu orangnya, kalau bicara sama orang lain selalu mencoba masuk ke dalam dirinya. Misalnya, kalau saya bicara dengan Mario, saya masuk jadi Mario, begitu pun kalau dengan Oscar. Bagi saya orang tua itu tidak 100 persen haknya pada anak, anak itu kan tetap punya hak. Saya melihat di Indonesia, hak anak itu tidak ada. Apa kata Mama, apa kata orang tua itu harus selalu dituruti. Jadi kalau Bapaknya bilang jadi dokter ya udah anaknya jadi dokter. Bapaknya bilang jadi lawyer, ya sudah jadi lawyer, itu saya kurang setuju dengan yang begitu.

Saya selalu bilang kalau saya pernah ada di posisi sebagai anak dan merasakan itu semua. Saya selalu ingat-ingat saya waktu SMP maunya apa sih, waktu SMA maunya apa sih, yang membuat saya pengen tahu, pengen ini. Nah, itu saya biasanya masuk tuh di anak-anak, dan memang di keluarga saya terutama ayah saya itu sangat powerful banget kasih sayangnya. Ayah saya itu selalu berkomunikasi, itu yang kemudian membuat saya mengerti komunikasi itu penting.

Mungkin karena faktor saya menikah saat masih muda, terus saat muda juga bercerai, saya jadi switch sendiri mau gimana nih nantinya, gimana nanti anak-anak. Akhirnya dengan cara apa? saya mendekatkan mereka dan saya rangkul mereka. Ke mana pun saya, kamu harus ikut. Apa pun yang saya lakukan mereka harus tahu.

Bagaimana reaksi publik setelah video-video The Lawalatas tayang?

Umumnya bagus, banyak yang bilang pengen meluk Mama Reggy. Saya jadi ingin bercerita lebih banyak lagi, mengadakan pertemuan, tapi sayang lagi COVID-19 begini. Padahal saya mau kalau diajak ke mana aja, misalnya kalau ada pertemuan Jawa Timur atau Papua sekalipun saya mau. Keinginan keras saya untuk sharing karena di kita ini kan sering kali terhalang oleh sesuatu yang dianggap tabu. Mau ngomong ini tabu, ngomong itu tabu. Kalau ini bisa jadi satu wadah kenapa sih enggak dibuat saja, kan faktanya perceraian banyak. Anak-anak LGBT, itu kan kita enggak bisa tutup mata atau belagak enggak ada. Bagi saya itu, marilah kita menolong dengan kemampuan masing-masing dan kelebihan masing-masing bisa jadi kekuatan.

Cita-cita saya itu di hari tua ingin bercerita tentang pengalaman saya, asam garam yang sudah saya lewati. Saya terakhir ngobrol dengan dengan teman saya aja dia sampai nangis karena katanya bisa merasakan kesulitan-kesulitan yang kami obrolkan. Ternyata dia pisah juga dengan orang tuanya dari umur lima tahun kayak Oscar. Nah, kan kayak begitu bagi saya ada kepuasan tersendiri. Orang yang sedang melewati fase sulit lebih enak berbicara sama orang yang sudah melewati semua itu dalam hal yang positif, jadi kuatnya juga kuat positif. Jangan kita kuat karena menjelekkan orang lain, ya laki dia begini lah begitu lah. Saya enggak pernah ngomong sama anak-anak satu hal pun tentang ayahnya. Meski saya bercerai saya enggak punya dendam. Jadi mereka enggak punya rasa dendam kalau ketemu ayahnya, meski udah puluhan tahun enggak ketemu. Apa pun yang terjadi dia tetap bapak kamu.

Baca juga: Reggy Lawalata dan Tabu Seputar Perceraian

Hera Diani, seperti banyak orang Indonesia lainnya, memiliki dua nama dan ia senang karena perempuan Indonesia tidak perlu menggunakan nama belakang ayah dan suami mereka. Ia pencinta budaya populer, namun kritis terhadap aspek-aspek buruk budaya tersebut, seperti konten-konten yang mengandung pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, serta The Kardashians. Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.