August 25, 2020
5 Hal yang Bisa Dipelajari dari Hubungan Oscar dan Reggy Lawalata

Kisah aktris Reggy Lawalata dan desainer Oscar Lawalata memberikan pelajaran penting mengenai hubungan orang tua dan anak.

by Selma Kirana Haryadi
Lifestyle
Share:

Aktris dan pemain sinetron Reggy Lawalata belakangan ramai diperbincangkan warganet setelah dia membagikan kisah perjalanan sekaligus penerimaan dirinya terhadap sang anak, perancang busana Oscar Lawalata, seorang transpuan. Di tengah meningkatnya diskriminasi dan persekusi terhadap kelompok LGBT, dan banyak orang tua yang mengusir atau tidak mau lagi mengakui anak mereka yang LGBT, sikap penerimaan Reggy terasa menghangatkan hati.

Relasi antara anak dan orang tua yang terbangun di antara Reggy dan Oscar, yang meski tak sempurna, memperlihatkan bagaimana masing-masing bisa menekan ego, tidak merasa harus didengarkan tapi terkadang lupa mendengarkan lawan bicara. Sering kali kita merasa paling menderita sendiri, tapi lupa bahwa ada orang lain yang sama menderitanya.

Dalam kasus ini, memiliki anak yang seorang transgender pasti tidak mudah. Tapi banyak orang tua lupa, bahwa menerima diri sendiri yang seorang transgender juga bukan perkara gampang. Setidaknya, baik Oscar maupun Reggy Lawalata sama-sama mengakui dua hal itu.

Alih-alih merasa paling menderita sendiri, keduanya justru berusaha memahami kesulitan satu sama lain. Dalam dua video yang berjudul ‘Untold Story Reggy Lawalata - Anakku Feminin’ dan ‘Untold Story Oscar Lawalata - Merdeka Diri’ di kanal YouTube The Lawalatas, Reggy dan Oscar Lawalata menceritakan sudut pandang mereka dalam perjalanan menerima satu sama lain. Tidak semua orang seberuntung mereka, tapi paling tidak ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman dan relasi mereka.

Baca juga: Penerimaan Keluarga Penting Bagi Transpuan

  1. Tidak saling menarik diri ketika masalah datang

Begitu mengetahui bahwa putra sulungnya memilih untuk menjadi seorang perempuan, Reggy tak langsung menerimanya. Ada jeda lima-enam tahun pergolakan batin sebelum akhirnya ia bisa menerima kondisi Oscar. Tapi Reggy tak pernah menyalahkan keadaan, apalagi memilih untuk menjauhi Oscar hanya karena identitasnya berubah. Begitu juga halnya dengan Oscar. Meski tahu ibunya sempat mempertanyakan keputusan hidupnya, ia menyadari bahwa ia harus terus mencari dan melakukan pendekatan yang tepat untuk menjelaskan kepada ibunya. Mereka tidak saling menarik diri atau lari dari masalah, tapi menghadapi hal itu, saling bicara, kemudian mencari jalan tengah dari permasalahan yang ada. Meski perjalanan itu sama sekali tidak mudah, tapi keberanian dan pemikiran yang terbuka sangatlah membantu proses tersebut.

  1. Tidak merasa paling benar sendiri

“Saya aja sakit. Gimana dia?” kata Reggy saat menceritakan bagaimana dia menyaksikan tatapan aneh orang-orang terhadap Oscar yang penampilannya selalu berbeda. Hal ini juga diakui Oscar sering ia alami. Ini menunjukkan bagaimana baik Reggy, sebagai orang tua, tidak merasa paling menderita sendiri karena harus menerima anak yang transgender. Tapi Reggy juga menyadari dan menghargai bagaimana perjuangan anaknya lebih besar lagi dalam menerima identitas dirinya sendiri.

Baca juga: YouTuber Hina Transpuan: Natural Belum Tentu Benar

Relasi anak dan orang tua yang toksik terbangun dari penolakan salah satu, atau kedua belah pihak, untuk saling mendengarkan. Padahal lewat mendengarkanlah kita jadi bisa mengetahui apa yang sesungguhnya sedang dialami dan dirasakan seseorang. Menolak mendengarkan dan membuka pikiran terhadap kemungkinan baru sering kali membutakan seseorang dan mematikan empatinya pada orang lain. Terlebih orang tua, yang sering kali merasa bertanggung jawab penuh terhadap anaknya, sampai-sampai merasa bahwa anak harus mengikuti kemauan orang tua tanpa mengindahkan aspirasi dirinya sendiri. Tapi Reggy setidaknya sudah berusaha mendengarkan dan mencari tahu kondisi anaknya, dengan menempatkan diri sebagai support system utama di tengah masyarakat yang penuh penghakiman. “Bantu mereka, jangan dibuang,” ujar Reggy.

  1. Berpikir terbuka dan mau mempelajari kondisi satu sama lain

Oscar mengatakan, “Kalau gue diusir, gue siap. Kalau mereka enggak bisa nerima gue, gue siap. Tapi gue enggak akan membenci mereka, karena mereka belum ngerti. I hope suatu hari nanti mereka ngerti.” Ini juga menunjukkan bahwa relasi orang tua dan anak yang baik juga membutuhkan keterbukaan dan saling mengerti dari kedua belah pihak. Mengerti dalam hal ini bukan hanya mengerti di mulut, tapi juga mengerti sikap dan pembawaan satu sama lain untuk menemukan cara yang tepat dalam bersikap. Oscar menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan kondisinya pada sang ibu, yang diakuinya masih punya kecenderungan konservatif dan keras. Di sisi lain, Reggy juga mencari tahu kondisi anaknya dari berbagai pihak untuk menguatkan sang anak ketika ia dibutuhkan.

Baca juga: Hendrika Mayora Transpuan Pertama yang Jadi Pejabat Publik

  1. Tidak peduli kata orang, percaya pada kemampuan satu sama lain

Pandangan orang terhadap Oscar tak jadi masalah buat Reggy yang percaya bahwa transgender atau bukan, laki-laki atau perempuan, Oscar tetaplah anak yang dititipkan Tuhan padanya, yang harus ia lindungi sepenuh hati. Reggy bahkan tak ragu menyimpan “dendam positif”, dalam artian ia siap menunjukkan pada orang-orang yang selama ini meragukan Oscar, bahwa anaknya itu kelak akan menjadi orang sukses.  Reggy juga percaya bahwa selalu ada hal positif dari hal yang menimpa seseorang, termasuk perubahan identitas Oscar yang mengantarkan lahirnya berbagai karya milik anaknya itu.

  1. Saling memaafkan

Proses panjang nan kalut seperti ini memang tidak pernah mudah, baik bagi anak maupun orang tua. Tentu saja ada luapan emosi yang lepas baik disengaja ataupun tidak. Baik Oscar dan Reggy sama-sama mengakui adanya sikap yang sempat tidak bisa diterima satu sama lain. Tapi setelah melalui proses panjang, juga melakukan usaha terbaik untuk saling mengerti, saling memaafkan di kemudian hari adalah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk melepaskan segala beban. Terlebih lagi ada esensi toleransi di sana, dalam hal ini memahami bahwa emosi merupakan bagian dari diri setiap manusia, hanya yang membedakan adalah cara dia mengelolanya agar tidak merugikan orang-orang di sekitarnya.

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Suka berdebat, bertanya, dan belok ke kiri. Juga suka kamu. Kenapa konsep tentang normalitas harus ada, padahal tidak ada satu pun nilai yang absolut di dunia ini? Kalau tahu jawabannya, jangan sungkan kabari Selma di Instagram @selma.kirana