March 27, 2020
Rentan di Berbagai Sisi: Nasib Perempuan di Tengah Pandemi

Mulai dari aspek kesehatan hingga kekerasan, perempuan berada di posisi lebih rentan di tengah pandemi COVID-19.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues
COVID19_CoronaVirus_Corona_Perempuan_KarinaTungari
Share:

Maret ini, kehamilan “Dian” memasuki trimester ketiga. Ketika COVID-19 mewabah dan imbauan pembatasan fisik serta bekerja dari rumah disuarakan pemerintah, ia harus meminimalisasi kunjungan ke rumah sakit dan menunda jadwal pemeriksaan kehamilannya bulan ini.

“Gue jadi lebih parno karena belum ada studi yang membuktikan penularan virusnya bisa dari ibu ke anak atau nggak. Kalaupun gue terpapar dan anak gue enggak, tetep kasian aja dia nanti," ujar perempuan berusia 28 tahun itu.

"Biasanya kan gue suka pakai lagi baju yang udah gue pakai keluar. Sekarang gue kalau abis belanja atau dari luar, langsung bersih-bersih, baju langsung gue taruh tempat cucian,” imbuh dia. 

Dian juga merasakan dampak wabah ini pada pekerjaannya sebagai jurnalis media daring. Meski kantornya memerintahkan semua pegawai bekerja dari rumah, ia tetap harus mengikuti perkembangan kasus. Selain itu, karena tidak ada asisten rumah tangga, ia pun tetap harus memegang urusan domestik seperti memasak dan berbenah.

“Dan karena suami gue juga di rumah aja, dia suka request ini itu. Jadinya, gue suka ke-distract, enggak fokus ke kerjaan,” ujar Dian.

Ia masih merasa beruntung karena sang suami mau berbagi pekerjaan rumah tangga, sesuatu yang tidak terjadi di banyak rumah tangga lain. Dalam masyarakat patriarkal, pembagian tugas domestik masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan, termasuk sebagai caretaker. Peran semacam ini, beserta sejumlah kondisi lainnya dalam kehidupan perempuan, membuat mereka berada di kondisi lebih rentan ketika wabah penyakit menyebar.

Apa saja kondisi itu dan mengapa membuat perempuan kian rentan di tengah pandemi?

  1. Burnout berkat beban domestik dan kantor

Berkaca dari kondisi perempuan dalam kondisi wabah terdahulu, Badan PBB untuk Dana Kependudukan UNFPA menyatakan dalam situsnya bahwa saat Ebola mewabah di Afrika Barat pada 2014-2016, perempuan lebih mungkin terinfeksi penyakit karena peran sebagai caretaker. Saat mereka keletihan mengurus rumah dan keluarga, daya tahan tubuh mereka dapat melemah sehingga peluang mereka terpapar virus dan berkondisi lebih parah semakin besar. Situasi menjadi kian rentan apabila mereka mengurus anggota keluarga yang sedang sakit.

Baik sebagai ibu rumah tangga maupun perempuan bekerja, beban di pundak perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki ketika peran gender tradisional diterapkan. Ibu rumah tangga saja dapat merasa lebih tertekan ketika mengurus anak dan suaminya selama hampir seharian pada masa pemberlakuan social distancing ini, apalagi perempuan-perempuan bekerja. Sebagian dari mereka menganggap bekerja di rumah dengan hasil optimal itu mitos belaka. Pasalnya, fokus bekerja mereka sangat mungkin terpecah, terlebih bila pasangan juga bekerja dan tidak bisa (atau tidak mau) mengurus anak dan rumah, serta tidak ada sistem pendukung yang bisa diandalkan dalam rumah tangga.

Baca juga: Kerja dari Rumah Saat Krisis Corona: Sistem Susah-susah Gampang   

Di tengah budaya masyarakat yang ingin serbacepat, pencapaian target kerja atau produktivitas menjadi hal yang terus digenjot. Terkadang ada perusahaan yang tutup mata terhadap kondisi genting sehingga tidak menurunkan target-target karyawannya dan meminta mereka tetap menunjukkan kinerja seperti biasanya. Saat budaya ini terinternalisasi dalam diri pekerja perempuan, mereka terdorong untuk memenuhi tugas-tugas yang diberikan kepadanya sekalipun mereka juga mesti mengurus keluarga. Jika demikian situasinya, peluang perempuan bekerja mengalami burnout menjadi lebih tinggi dan harga yang mesti dibayar kemudian akan membengkak.

  1. Potensi perempuan tenaga medis terpapar virus

Dari aspek kesehatan, perempuan dapat tercebur di situasi rentan karena peran mereka sebagai tenaga kesehatan. Data dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) tahun 2017 menunjukkan dari total 359.339 perawat, 71 persennya adalah perempuan. Di tengah kecemasan masyarakat dan meningkatnya jumlah orang yang terpapar COVID-19, mereka harus bekerja ekstra hingga melampaui jam kerja sehingga kondisi fisik serta psikis mereka menjadi rentan.

Tidak hanya masalah ini, beberapa tenaga medis juga mesti menghadapi prasangka buruk dan sikap diskriminatif masyarakat. Pada Rabu (25/3) lalu, kepada Kompas, Ketua PPNI Harif Fadhillah menyampaikan bahwa sejumlah tenaga medis dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan diusir dari kosnya setelah merawat pasien-pasien positif Covid-19. Lingkungan sekitar mereka khawatir para tenaga medis ini turut terpapar virus corona.

  1. Masalah ekonomi, relasi, dan KDRT

Permasalahan lain yang mungkin dihadapi perempuan dalam kondisi pandemi adalah perkara relasional dengan pasangan. Ini dapat terjadi karena faktor perekonomian sebagian keluarga yang terpengaruh akibat adanya social distancing dan penurunan aktivitas sehari-hari, khususnya bagi keluarga orang-orang yang bekerja di sektor informal atau pekerja dengan upah harian di kota-kota besar. Masalah besar seputar finansial bisa juga diakibatkan oleh pemberhentian kerja suami atau istri akibat kebijakan pengurangan karyawan kantornya di tengah krisis ini.

Baca juga: ‘Freelancers’ dalam Krisis Corona dan Tips Atasi Tantangan Keuangan

Keadaan ekonomi keluarga bisa semakin buruk jika terjadi kenaikan harga bahan-bahan pangan. Permasalahan finansial ini sering kali menjadi pemantik konflik rumah tangga, bahkan disebut sebagai salah satu alasan perceraian yang jamak di Indonesia.

Percekcokan pasangan dapat pula bersumber dari kegagalan memegang banyak pekerjaan dalam satu waktu. Suami dan istri yang sama-sama bekerja membutuhkan waktu untuk berfokus dengan pekerjaannya. Ketika salah satu dari mereka tidak mau mengalah meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk urusan rumah tangga atau tidak fleksibel dalam pembagian kerja, pertengkaran di antara keduanya potensial terjadi. Semakin banyak urusan yang berantakan, entah di pekerjaan atau di rumah, semakin mungkin suami dan istri menjadi semakin emosional dan relasi mereka memburuk.  

Konflik dalam rumah tangga berhubungan erat dengan isu berikutnya yang kerap terjadi dalam kasus-kasus wabah sejak dulu, yakni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ketika pemerintah menerapkan kebijakan social distancing, para perempuan akan “dipaksa” untuk tetap berada di rumah sekalipun kondisi di sana penuh kekerasan. Mereka yang biasanya punya jalan keluar sementara berupa kegiatan studi atau kerja di luar rumah, kini tidak bisa kabur dari situasi menyiksa mereka. Kondisi menjadi semakin buruk karena kinerja lembaga-lembaga yang mengadvokasi perempuan korban KDRT terhambat seiring adanya penyesuaian sistem kerja selama social dan physical distancing.

Baca juga: Wabah Corona Langgengkan KDRT, Hambat Penanganan Kasus

  1. Postpartum depression

Kebijakan physical distancing yang membuat perempuan terbatasi untuk keluar rumah juga dapat berimplikasi negatif terhadap para ibu muda dengan kondisi depresi pascamelahirkan (postpartum depression). Mereka bisa menjadi semakin tertekan karena melulu harus berhadapan dengan situasi di rumah—tangis bayi, menyusui, pekerjaan domestik menumpuk—dan sulit mencari pelepasan atau kabur sejenak dari lingkungan yang ditempatinya sehari-hari.

Kalaupun mereka ingin mencari pertolongan profesional, mereka dapat menemukan rintangan lain karena banyak tempat praktik psikolog atau psikiater yang membatasi pertemuan dengan klien sementara waktu ini. Tidak hanya aspek psikis, para ibu dengan postpartum depression juga lebih rentan terpapar penyakit akibat melemahnya sistem imun mereka.

  1. Asisten rumah tangga rentan dieksploitasi

Di samping isu-isu ini, Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga menyoroti nasib asisten rumah tangga (ART) dalam situasi pandemi. Dalam siaran persnya, Komnas Perempuan menyampaikan bahwa social distancing tidak berlaku bagi ART sehingga mereka—yang tidak memiliki jaminan kesehatan—rentan dieksploitasi majikan. Mereka mau tak mau menanggung tekanan fisik serta psikis lebih sebagai imbas kehadiran penuh waktu seluruh anggota keluarga majikannya. 

Kerentanan ART pada masa wabah ini tidak hanya ditemukan di dalam negeri. BBC memberitakan, banyak buruh migran, termasuk dari Indonesia, yang bekerja sebagai PRT di Hongkong mendapatkan masker untuk melindungi diri mereka dari penularan virus. Di samping itu, ketika mereka rentan dieksploitasi majikan, mereka juga mendapat ancaman pemecatan bila kedapatan keluar rumah pada hari libur mereka.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop