March 23, 2020
‘Working from Home’ bagi Ibu Bekerja adalah Mitos

Wabah virus Corona ini bisa jadi momentum untuk meninjau ulang bahwa bekerja di rumah bukan hanya milik perempuan, namun juga lintas seks dan gender.

by Lia Toriana
Issues
Share:

Tidak kurang dari dua puluh kali setiap pagi anak-anak memanggil “Bunda” saat saya mulai working from home (WFH) alias kerja dari rumah. Jumlah tersebut meningkat dua sampai tiga kali lipat jika ditotal dalam satu hari. Tidak pernah menyangka bahwa saya akan rindu bekerja di kantor.

Imbauan pemerintah untuk “belajar di rumah, bekerja di rumah, dan beribadah di rumah” diberlakukan pada 16 Maret 2020 lalu sebagai respons wabah pandemik Covid-19. Situasi ini pun segera diturunkan menjadi kebijakan internal kantor tempat saya bekerja. Semua staf diminta disiplin melakukan social distancing atau pembatasan sosial di dalam kegiatan-kegiatan hariannya, termasuk menjalankan pekerjaan dan memenuhi produktivitas. Maka bekerja di rumah pun berlaku setidaknya sampai akhir Maret 2020.

Saat saya mendapat informasi dan aturan internal kantor diberlakukan, saya bersyukur sekaligus cemas. Bersyukur karena saya adalah bagian dari sekian banyak perempuan bekerja yang memiliki privilese untuk bisa bekerja di rumah. Saya menyadari masih banyak perempuan bekerja di luar sana yang kesulitan mengakses kemewahan tersebut. Selain karena represi atasan, juga target-target profit yang mesti memenuhi neraca namun mengabaikan keselamatan pekerja.

Namun, di sisi lain saya cemas, karena saya masih menganggap bekerja dari rumah adalah mitos. Faktanya, sebagai reproductive labor, perempuan tidak akan lepas dari kerja-kerja dan peran domestik yang melekat. Sehingga untuk bisa 100 persen berfokus pada urusan kantor selama bekerja di rumah adalah tantangan luar biasa. 

Perusahaan konsultasi manajemen kinerja global asal Amerika Serikat, Gallup Inc., membuat jajak pendapat publik pada awal Januari 2020 kepada para pasangan berkarier. Hasilnya, perempuan mendapat beban tujuh kali lebih banyak dalam menjalankan urusan domestik, tentu termasuk di dalamnya merawat anak-anak mereka. Hasil ini mungkin bias Barat, tetapi sebagai perempuan dan ibu bekerja yang tinggal di Indonesia, saya merasa temuan ini relevan.

Baca juga: 5 Pekerjaan Paling Rentan Selama Krisis Corona

Sebuah studi dalam konteks lokal yang menegaskan relevansi di atas dilakukan oleh Diahhadi Setyonaluri dari Universitas Indonesia. Temuan studi menunjukkan bahwa perempuan bekerja di Jabodetabek, khususnya pelaju yang bekerja di Jakarta merasa berat dan kesulitan menjalani peran sebagai pekerja sekaligus ibu. Para ibu tidak leluasa memilih dan tidak sedikit pada akhir cerita kita menemukan para ibu yang terpaksa meninggalkan karier demi keluarga.

Tantangan ibu bekerja di tengah situasi wabah virus corona (COVID)-19 semakin pelik. Diliburkannya sekolah anak-anak, ditutupnya tempat penitipan anak dan bayi, serta anjuran tidak berkunjung ke sanak-keluarga justru semakin membuat kondisi mencekik. Jika anak-anak sekolah, masih ada setidaknya waktu untuk para ibu mengerjakan sejumlah hal. Tempat penitipan juga menjadi alternatif asistensi peran, belum lagi keluarga yang bisa diminta bantuan. Tapi tidak untuk saat ini, dan entah akan sampai berapa lama lagi.

Rentan depresi dan pentingnya empati

Selain privilese yang sudah saya sebutkan di atas, saya berbagi peran cukup tegas dan bisa dikatakan terbuka dengan pasangan. Saat ini saya mesti lebih maklum karena pasangan saya sedang menjalani kuliah lanjutan. Di sisi lain saya cukup merasa beruntung karena ada asisten rumah tangga (ART) yang ikut membantu. Namun, ke semua situasi tersebut tidak akan efektif jika sejak awal kita tidak mengomunikasikan secara terbuka apa yang sebetulnya terjadi di tengah kondisi COVID-19 ini. ART kami misalnya, menganggap bahwa kami tinggal di rumah karena COVID-19 demi keamanan tanpa mesti bekerja, sehingga di awal WFH diberlakukan, dia relatif sibuk dengan ponsel di genggamannya. Namun setelah komunikasi dan pengertian yang kami jelaskan, dia pun memahami situasi yang terjadi.

Terhindar dari depresi masih mungkin dilakukan saat empati di antara anggota keluarga berjalan dengan baik. Empati bisa diajarkan kepada anak-anak sejak kecil. Di tengah masa WFH dan belajar di rumah, setiap anggota keluarga penting memahami perannya masing-masing. Anak sulung saya yang usia praremaja bisa lebih mandiri mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Sesekali dia pun berinisiatif menjaga adiknya. Semua dilakukan bukan semata-mata agar sang ibu tidak depresi, tapi sikap tersebut penting diambil untuk menumbuhkan peduli.

Baca juga: ‘Freelancers’ dalam Krisis Corona dan Tips Atasi Tantangan Keuangan

Kantor tempat ibu bekerja juga berperan penting menjadi bagian dari sistem pendukung produktivitas kerja staf. Tidak sekonyong-konyong hanya menagih hasil akhir, tetapi penting memastikan kesehatan mental, kondisi sosial-psikis pekerja, apresiasi, serta sistem teknologi mumpuni di tengah WFH ini. Jika hal-hal tersebut tidak bisa dipenuhi pemberi kerja, maka di mana pun ibu bekerja, baik di kantor ataupun rumah, produktivitas hanyalah omong kosong belaka.

Bekerja di rumah yang masih bias kelas privilese ini pun disadari tidak sepenuhnya bisa diakses semua pihak, namun kita masih mau melihat bahwa perempuan dan ibu bekerja bisa meraih karier terbaiknya. Kita mau optimis, kesempatan yang sama dan setara bisa diperoleh para perempuan dan ibu bekerja. Kita masih terus berjuang mencapai kesetaraan bahwa perempuan bisa meraih mimpi dan beraktualisasi. Perempuan dan ibu bisa bersuara di ruang publik demi kepentingan dirinya. 

Saat ini pekerjaan rumah terasa berat dan tidak mudah, sehingga mendobrak mitos perlu dilakukan beragam pihak. Tidak hanya secara kultural tetapi juga sistematis. Tanpa bermaksud mensyukuri wabah COVID-19 yang kita alami sekarang, saya melihat kondisi ini bisa jadi momentum yang baik. Momentum untuk meninjau ulang bahwa bekerja di rumah bukan hanya milik perempuan, namun juga lintas seks dan gender. Bekerja di rumah dan peran domestik idealnya dilakukan oleh semua pihak, tidak hanya ibu dan perempuan. Bekerja di rumah dengan teknologi mumpuni juga bisa menjadi opsi mengembangkan alternatif ruang kerja di tengah kemacetan dan polusi yang semakin gawat. Bekerja di rumah di tengah segala peliknya, kita tetap penting menciptakan setara dan adil bagi perempuan dan semua.

Lia Toriana adalah pegiat isu kesetaraan dan kemanusiaan. Hobi menulis di tengah waktu luang demi menjaga kewarasan menjalani peran sebagai ibu dari tiga anak perempuan. Bisa bertukar pesan dan tanggapan di Instagram @liatoriana.