February 25, 2024
Culture Screen Raves

Review ‘Dear David’: Fantasi Seksual Perempuan yang Dimasalahkan

Tidak ada salahnya punya hasrat seksual, itu tandanya kamu normal, siapa yang mau melarang?

Avatar
  • February 19, 2023
  • 5 min read
  • 1285 Views
Review ‘Dear David’: Fantasi Seksual Perempuan yang Dimasalahkan

Peringatan Major Spoiler!

Waktu itu aku sedang merasa bosan karena tidak punya stok film untuk ditonton. Aku pun memilih meng-scrolling film apa yang akan tayang di Netflix. Mataku pun tertuju pada trailer film berjudul Dear David. Trailer yang menarik membuat tanganku mengklik tombol notifikasinya.

 

 

Apalagi ketika yang berperan sebagai pemeran utama, Shenina Cinnamon dan Emir Mahira. Sudah lama sekali tidak melihat Emir Mahira di layar kaca. Layar kaca yang kumaksud menonton di TV. Maklum sebagai anak yang tinggal di pulau kecil di pojok Sumatera, bioskop sangat langka bagiku. Terakhir aku melihat aktingnya di film Rumah Jendela. Wow sudah lama sekali, ya.

Ketika kantorku mendapat undangan untuk menghadiri press conference dan screening Dear David, aku langsung mengiyakan tawaran itu. Ternyata Dear David seperti apa yang kubayangkan, segar dan menyenangkan.

Baca juga: Review Episode 3 ‘The Last of Us’: Yang Bikin Satu Bumi Nangis Berjemaah

Berfantasi yang Dilarang hingga Penerimaan Jati Diri Seorang Remaja

Adegan pertama film ini pun diisi dengan fantasi liar seorang perempuan di dalam sebuah hutan. Di mana ia berimajinasi kalau sedang diburu oleh binatang buas berwujud manusia. Tiba-tiba adegan berubah menjadi sosok Laras di kamar yang sedang mengetik sebuah cerita di laptopnya. Ternyata adegan pertama tadi adalah fantasi Laras yang ia tuangkan melalui tulisan.

Sosok Laras sendiri dalam Dear David ini digambarkan sebagai sosok yang ambisius. Keambisiusannya ini ia tunjukkan melalui prestasi akademik dan jabatan sebagai Ketua OSIS. Namun siapa sangka Laras menyimpan sebuah rahasia.

Rahasia Laras, menjadi penulis cerita alternate universe (AU) memang tidak diketahui oleh orang lain. Ia menyimpan sendiri cerita ini hanya untuk konsumsi pribadinya saja. Tapi siapa sangka keteledorannya mengakses AU di komputer sekolah membawa boomerang bagi Laras dan David, tokoh utama cerita AU-nya. Akun yang dia buka

AU Laras pun tersebar ke seluruh sekolah. Bukannya menjadi bahan ejekan justru teman-teman di sekolahnya menyukai cerita ini. David awalnya siswa biasa saja mendadak terkenal karena namanya sebagai tokoh utama di cerita AU itu. Namun sayangnya pihak sekolah justru menganggap ini perbuatan buruk yang mencoreng nama sekolah.

Menurutku sebagai seorang penikmat AU dan fanfiction tidak ada salahnya untuk berekspresi. Mau itu remaja atau dewasa semua berhak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa harus didikte. Apa yang dilakukan Laras ini justru tidak mencoreng nama pihak sekolah. Laras hanyalah seorang remaja yang juga bebas untuk mengeluarkan hasrat dan gairah dalam dirinya.

Aku dan kalian juga pasti pernah merasakan hal seperti Laras. Berimajinasi tentang sosok yang disukai dan membayangkan orang itu menaruh hati pada kita. Dulu aku sering berpikir apakah aku normal karena berfantasi seperti ini? Jawabannya pun baru aku temukan ketika sudah beranjak dewasa, dan itu normal, guys. Tidak apa-apa untuk berfantasi, tidak apa-apa untuk berekspresi, kamu manusia, kamu punya hak untuk itu semua. Kalau kamu punya hasrat tandanya kamu normal. Jadilah dirimu sendiri.

Baca juga: Review Film Ali dan Ratu Ratu Queens

Masalah Parenting dan Coming Out Jarang Digambarkan dalam Film Indonesia

Di saat tersebarnya cerita AU Laras dan identitasnya terkuak, pihak sekolah justru menyalahkan tindakan Laras ini. Sebagai pihak sekolah sebetulnya ranah pribadi seorang siswa bisa dilindungi tanpa harus mencapnya sebagai orang yang jahat.

Untunglah Laras mempunyai sosok ibu yang tidak pernah menuntutnya untuk melakukan apapun. Ia percaya dengan semua keputusan Laras. Tidak menghakimi dan selalu menguatkan Laras.

“Kalau kamu dikeluarkan , ya, tinggal pindah. Kalau kamu enggak bisa masuk UI gara-gara ini, ya, cari kampus lain. Kamu jadi anak mama saja itu sudah cukup buat mama. Mama enggak pernah minta lebih dari itu,” ujar ibu Laras dalam sebuah scene di film ini.

Penggalan dialog dalam ibu Laras dalam Dear David ini sangat mengena dihatiku. Aku hampir menangis ketika mendengar ucapan ibunya. Sangat sulit sekali ditemukan di antara Asian Parents yang selalu menuntut anaknya untuk menjadi sempurna tanpa cela. Mungkin parenting ibu Laras bisa menjadi salah satu contoh yang baik.

Selain masalah parenting yang ditonjolkan, ada satu scene yang cukup mengejutkan di film ini. Dilla, sahabat Laras yang coming out kalau dia berbeda dari lainnya. Ia mengungkapkan kalau selama ini menganggap Laras lebih dari pada teman. Keteguhan hati Dilla untuk speak-up tentang identitasnya ini pun menjadi bukti bahwa menjadi sosok berbeda memang perlu banyak pertimbangan. Sikap berani Dilla ini juga bisa menjadi contoh bagi yang masih ragu dengan identitas kalian.

Baca juga: ‘Ngeri-ngeri Sedap’ dan Film Batak yang Berusaha Lepas dari Jakartasentris

Cinematography dan Akting Para Pemain yang Ciamik

Aku salah satu orang yang begitu menikmati sekali cinematography di Dear David ini. Setingan sekolah, rumah, jalanan, gereja hingga fantasi Laras semua digambarkan dengan mulus. Apalagi untuk scene ketika Laras berimajinasi kalau dia dan David tinggal di sebuah pulau kecil nan tentram. Benar-benar memanjakan mata.

Seperti yang diekspektasikan dari film-film produksi Palari Films, cinematography dihadirkan dengan indah. Sebagai penggemar film dari Palari Films seperti Aruna dan Lidahnya (2018) dan Ali & Ratu Ratu Queens (2021), setiap sudut ditampilkan begitu ‘nyata’.

Tidak hanya cinematography yang disuguhkan sangat apik, akting para pemain juga ciamik. Akting Shenina Cinnamon sebagai Laras sudah tidak diragukan lagi. Ia mampu membawa karakter Laras, sosok anak gereja, penurut yang mempunyai fantasi liar dengan baik.

Dia pun beradu peran dengan Emir Mahira, kita kenal dulu dia sebagai sosok aktor cilik yang sangat piawai dalam berakting. Aktingnya di Rumah Jendela sungguh membuatku terpukau. Walaupun ada beberapa aktingya sedikit flat di Dear David, namun ia bisa membawakan scene panic attack dengan baik.

Sekali lagi Dear David bisa menjadi rekomendasi tontonanmu di waktu luang. Isi cerita yang beragam akan banyak membuka pikiranmu. Meskipun sekarang sedang banyak perdebatan tentang film ini, tapi itu balik ke selera masing-masing. Jangan menjatuhkan karya orang lain hanya karena tidak sesuai ekspektasi. Berkritik itu tidak dilarang tapi bertutur katalah dengan indah.


Avatar
About Author

Chika Ramadhea

Dulunya fobia kucing, sekarang pencinta kucing. Chika punya mimpi bisa backpacking ke Iceland.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *