February 2, 2023
Culture Screen Raves

‘Superstore’: Kombinasi Karakter Nyeleneh dan Isu Buruh yang Jadi ‘Superlucu’

Menonton para karakter di toko retail ternyata bisa semenyenangkan dan selucu ini.

Candra Aditya
  • January 25, 2023
  • 4 min read
  • 362 Views
‘Superstore’: Kombinasi Karakter Nyeleneh dan Isu Buruh yang Jadi ‘Superlucu’

Superstore adalah sitkom yang sempurna: killer jokes, cool characters dan durasinya friendly.

Sudah lama sekali saya menantikan kehadiran sitkom ini di streaming service lagi, setelah hilang dari Amazon Prime. Ketika saya mendapatkan notifikasi bahwa seluruh keenam musim Superstore bisa ditonton di Netflix, saya bahagia bukan main. Ini adalah tontonan paling tepat bagi kalian yang suka kebingungan mau nonton apa saat sedang makan.

Lebih penting lagi, ini adalah tontonan sempurna bagi kamu yang rindu cerita komedi yang bisa mengundang lebih dari sekadar tawa.

Baca juga: Review ‘Triangle of Sadness’: Mengolok-olok Orang Kaya Lewat Humor Östlund

Karakter Unik, Cerita dari Toko Retail, dan Joke Super Jitu

Superstore dimulai dengan Jonah (Ben Feldman) yang memutuskan untuk menjadi pegawai Cloud 9, sebuah swalayan raksasa yang punya cabang di mana-mana (bayangkan Lotte Mart atau semacamnya). Jonah, yang ngaku kuliah hukum dan berpenampilan seperti middle class, sebelumnya tidak pernah merasakan kerja dengan gaji jam-jaman seperti orang-orang yang bekerja di Cloud 9. Obrolannya dengan Amy (America Ferrera) adalah pelajaran pertama untuk tidak memandang rendah para pekerja ini.

Sebagai workplace comedy seperti The Office atau Parks and Recreation, tentu saja sitkom ini membahas tentang kelakuan para pegawai dan juga pembeli swalayan yang aneh-aneh. Dari peraturan korporat yang mencekik, kelakuan karyawan yang tak biasa, budaya kerja retail yang menarik, sampai sub-plot “will-they-won’t-they”. Semuanya bikin Superstore jadi tontonan nyaman. Tidak seperti kebanyakan sitkom, seluruh episode Superstore memberikan sesuatu yang segar. Semakin saya menonton Superstore, semakin saya ingin berlama-lama nongkrong dengan para karakter.

Sumber foto: Netflix

Dibuat oleh Justin Splitzer, Superstore punya banyak jokes yang tak terbatas. Dari jokes yang sangat spesifik dengan bisnis retail, seperti tentang bagaimana pusingnya menghadapi pelanggan saat Black Friday, sampai jokes lebih umum tentang relationship. Para penulis Superstore bahkan membuat transisi adegan dengan visual gag yang sangat efektif dan luar biasa kocak.

Dengan setting retail, Superstore memang sudah menang banyak karena banyak sekali bahan jokes yang bisa diolah. Tapi ia kemudian menjadi spesial karena sitkom ini memiliki ensemble character yang unik. Bisa dibilang, karakter pendukungnya sengaja dibuat lebih over-the-top dari kebanyakan sitkom sejenis. Bisa dibilang selain Amy dan Jonah (karakter utama memang cenderung dibuat paling normal), karakter-karakter pendukung Superstore masuk kategori nyeleneh.

Baca juga: Alasan Plot Whodunit ‘White Lotus 2’ Beda dan Gay Twitter Terobsesi Series Ini

Mark McKinney berperan sebagai Glenn Sturgis, manajer toko yang sangat polos, luar biasa naif, dan super religius. Tingkahnya yang nyeleneh menjadi semakin lucu karena ia berhadapan dengan asistennya, Dina Fox (Lauren Ash) yang merupakan kebalikannya. Dina sangat vokal, lumayan brutal, tidak segan-segan untuk melakukan apa saja demi menuruti peraturan perusahaan dan sayang sekali dengan burung-burung peliharaannya. Cekcok antara Dina dan Glenn meskipun masuk kategori klasik, tetap terasa fresh karena latar Superstore yang unik.

Selain mereka, ada Mateo (Nico Santos, kamu mungkin melihatnya di Crazy Rich Asians), karyawan gay yang gemar bergosip dan bermalas-malasan. Bestie-nya adalah Cheyenne (Nichole Sakura), seorang teen mom yang gaul, tapi lumayan lemot. Garret (Colton Dunn) adalah Chandler Bing-nya Superstore. Ia kebagian jatah untuk mengeluarkan komentar-komentar sarkas dan humor yang sangat kering.

Mereka semua adalah karakter-karakter yang tiap episodenya mendapatkan jatah storyline. Tapi, selain mereka, favorit saya adalah karakter-karakter yang awalnya hanya menjadi sempilan, tapi lama-lama diberi jatah untuk bersinar. Ada Sandra (Kaliko Kauahi), staff yang Dina gemar bully dan kebetulan memiliki ingatan yang luar biasa; Carol (Irene White), musuh bebuyutan Sandra yang masuk kategori sociopath; dan Marcus (Jon Barinholtz), staf yang cara pikirnya perlu diteliti oleh profesor Harvard.

Saya sangat menikmati sekali setiap kali Superstore mengajak kita untuk melihat semua orang ini berinteraksi di tempat yang sama pada saat yang bersamaan. Kekuatan utama sitkom ini menurut saya adalah ketika semua orang berteriak, mengucapkan pendapat mereka dengan ngotot, sesuai dengan karakter mereka. Tunggu sampai kamu mendengar pembahasan soal apa yang terjadi kalau Beyonce menculik Oprah saat bayi.

Baca juga: Wednesday Addams, Alter Ego yang Mungkin Kita Dambakan

Jujur, sampai sekarang saya masih menyesalkan keputusan NBC untuk menghentikan Superstore. Padahal sitkom ini adalah salah satu sedikit representasi buruh yang paling menghibur dan nyata yang ada di TV. Abbott Elementary sekarang menggantikan itu untuk sementara, meskipun topiknya beda sektor. Meskipun fokus utama Superstore adalah menghibur penonton, ia tidak pernah menghindar dari topik-topik serius. Dan yang paling krusial: dia sangat topical. Dari soal isu union sampai imigrasi (dengan latar dirilis saat Donald Trump berkuasa), semuanya ditampilkan tanpa ragu-ragu.

Musim keenam alias musim terakhir mungkin akan jadi tontonan time capsule yang sangat berharga, karena Superstore memutuskan untuk menggambarkan usaha retail di awal-awal Pandemi COVID-19. Melihat orang-orang berhamburan rebutan tisu dan hand sanitizer, atau melihat para karyawan harus berdiri berjauh-jauhan saat meeting memang terkesan lucu sekarang. Tapi, Superstore mengingatkan bahwa orang-orang seperti Jonah-lah yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk kita semua.

Superstore dapat disaksikan di Netflix


Editor:  Candra Aditya
Candra Aditya
About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *