April 06, 2020
Riset Menjawab Kenapa Kita Bisa Ketagihan Nonton Netflix

Alasan pelarian dari tekanan dan rasa bosan melandasi orang ketagihan menonton di Netflix dan layanan sejenis.

by Yearry Panji Setianto
Lifestyle
Share:

Meningkatnya popularitas konten media global seperti acara serial televisi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penting yang dihubungkan dengan praktik binge-watching atau aktivitas menonton terus menerus dalam satu waktu. Dengan ekspansi global dari layanan menonton seperti Netflix yang sudah memiliki lebih dari 154 juta akun di lebih dari 190 negara selama 2019, menonton secara terus menerus perlahan menjadi kebiasaan baru bagi banyak orang.

Tapi kebiasaan tersebut memiliki dampak negatif. Survei yang dilakukan oleh organisasi nirlaba American Academy of Sleep Medicine (Akademi Amerika untuk Ilmu Kedokteran Tidur) pada 2019 menemukan, 88 persen orang dewasa di Amerika mengalami kurang tidur karena tidak bisa berhenti menonton acara televisi atau film dari saluran layanan penyedia hiburan lewat internet.

Menggunakan internet untuk menonton acara hiburan semakin umum dilakukan di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan kebiasaan binge-watching juga bisa menjadi fenomena global. Kegiatan binge-watching yang membuat seseorang tidak berhenti menonton sering disamakan dengan ketagihan atau adiksi menonton. Biasanya hal ini terjadi ketika penonton menikmati acara televisi. Misalnya, ketika seseorang menghabiskan waktu menonton beberapa episode terus menerus, seperti lima episode dalam satu waktu.

Lama kelamaan kebiasaan ini bisa memicu ketagihan menonton yang lebih parah.

Binge-watching bisa terjadi jika audiens, konten, dan struktur mendukung secara bersamaan.

Gangguan dan pelarian

Pada 2013, saya terlibat dalam riset dengan mahasiswa di Ohio University di Amerika Serikat untuk mencari tahu mengapa orang melakukan praktik binge-watching. Kami menemukan setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi: (1) Alasan audiens menonton; (2) Konten dengan jalan cerita yang bersambung; (3) Struktur kanal media yang meluncurkan seluruh episode dalam satu seri secara bersamaan serta fungsi putar otomatis untuk episode selanjutnya.

Kami melihat alasan 34 pelajar Amerika berusia antara 18 sampai 24 tahun saat mereka menonton acara televisi terus menerus dari layanan menonton seperti Netflix, Hulu, dan Amazon Prime. Motif mereka beragam, tapi alasan yang sering terucap adalah menonton sebagai pengalihan perhatian dan pelarian. Mereka yang merasa sedang di bawah tekanan cenderung melakukan binge-watching untuk mengalihkan mereka dari pekerjaan.

Sedangkan kelompok lainnya menggunakan mekanisme yang sama untuk menolong mereka dari kebosanan, khususnya saat mereka tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan. Inilah mengapa anak muda sering melakukan binge-watching di akhir pekan, bahkan sampai mengorbankan kehidupan sosial mereka.

Berdasarkan riset saya, drama adalah genre yang paling menarik untuk ditonton terus menerus. Jalan cerita yang terus bersambung dengan akhir yang menarik membuat orang ingin menonton episode selanjutnya. Mereka terbawa dalam dunia di cerita tersebut, pengalaman ini menjadi sangat menyenangkan hingga mereka tidak bisa berhenti menonton.

Struktur

Sebelum munculnya layanan tontonan streaming, orang harus menunggu satu minggu sebelum episode baru dari serial TV dirilis. Saat ini, platform streaming sering merilis seluruh rangkaian episode dalam satu waktu sekaligus. Secara otomatis, sistem mereka memainkan cuplikan episode berikutnya. Strategi ini mengubah cara orang menonton serial, mendorong mereka untuk terus menerus menonton.

Seperti yang terjadi pada 2019, Netflix meluncurkan enam episode drama zombi Korea, Kingdom bersamaan dalam satu waktu. Acara ini sukses di tingkat global dan direkomendasikan sebagai salah satu dari 15 tontonan serial yang harus ditonton pada 2019.

Teori efek pewarisan (inheritance effect theory) menganggap audiens menjadi makhluk yang pasif dan tidak termotivasi untuk mengganti saluran televisi ke acara lain. Kepasifan tersebut muncul karena struktur dari media yang digunakan memengaruhi mereka untuk tidak melakukannya. Kepasifan semacam ini semakin mendorong seseorang melakukan cenderung tetap menonton saluran yang sama.

Kebiasaan menonton terus menerus bisa terjadi jika audiens memiliki waktu untuk menyaksikan konten yang mereka sukai melalui layanan hiburan seperti Netflix. Saya berpendapat ini mungkin menjadi praktik biasa dalam beberapa tahun ke depan karena meningkatnya jumlah platform layanan hiburan. Industri konten juga memanfaatkan peluang besar ini.

Hubungan antara bagaimana pemain industri menghasilkan dan mendistribusikan konten mereka dengan pola konsumsi audiens akan berdampak pada budaya populer. Hal ini terutama terlihat pada fenomena binge-watching yang semakin marak dalam waktu dekat.

Tidak bisa dimungkiri, binge-watching sudah menjadi suatu hal biasa bagi audiens saat ini. Namun dengan dampak kesehatan yang negatif yang dimilikinya, apakah kita bisa meninggalkannya?

Kita bisa mencobanya dengan menonton episode satu per satu tanpa terburu-buru.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Yearry Panji Setianto adalah asisten profesor di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten.