October 17, 2019
Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

Orang yang sedang depresi tidak bisa pulih hanya dengan bersyukur, jadi jangan katakan itu pada mereka.

by Shafira Amalia, Reporter
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Peringatan pemicu.

“Masih banyak orang di luar sana yang lebih parah kondisinya daripada kamu. Kamu kurang bersyukur saja.”

Pernyataan itu sering kali dilontarkan kepada orang yang menghadapi depresi. Mungkin tujuannya baik, tapi perkataan itu sering kali meremehkan masalah kesehatan mental yang dihadapi orang tersebut, membuatnya enggan mencari pertolongan profesional karena khawatir dengan stigma.

Terkadang kita tidak menyadari bahwa jika ada seseorang yang sedang sedih dan memutuskan untuk menghubungi kita, mereka sudah mempercayai bahwa kita bisa menjadi bantuan pertama mereka. Sering kali yang mereka perlukan hanya didengar saja.

Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya tidak dikatakan kepada seseorang yang sedang depresi.

1. “Ah, gitu saja, bisa dilewati kok ini.” atau “Udah, lupain saja.”

Orang yang depresi sebetulnya mengalami kesulitan untuk menjangkau orang lain dan mencari pertolongan. Jadi jika seseorang sudah menghubungi kita dan menceritakan masalahnya, jangan sepelekan. Dengan kalimat-kalimat seperti ini, kita terkesan tidak sopan, acuh tak acuh, dan menyepelekan perasaan serta kondisi mereka. Seakan-akan perasaannya berlebihan karena seharusnya dapat dilupakan dengan mudah.

2. “Kamu kurang bersyukur.”

Depresi adalah sebuah gangguan mental serius yang tidak dapat diatasi hanya dengan bersyukur. Kalimat seperti ini bukan tidak membantu, tapi juga bisa membuat temanmu merasa bersalah.

Padahal semua perasaan semua orang valid dan tidak pantas untuk dibanding-bandingkan karena masalah yang dihadapi setiap orang berbeda-beda. What’s a breeze for you can be a hurricane for someone else.

Baca juga: 5 Akun Instagram Bermanfaat Soal Kesehatan Mental

3. “Jangan negatif terus, deh.” atau “Ayo berhenti mengeluh.”

Kalimat seperti ini juga menunjukkan bahwa kita menganggap sepele masalah yang dihadapi teman kita. Seakan-akan masalah yang dihadapinya itu seharusnya dapat diselesaikan dengan mudah, yaitu dengan pikiran yang positif dan berhenti mengeluh.

Semua orang juga ingin berpikir secara positif, tetapi tidak semua orang memiliki hak istimewa itu. Jangan lupa bahwa seseorang yang depresi memang memiliki kecenderungan untuk terlalu memikirkan segala sesuatu serta memiliki pikiran-pikiran yang negatif, dan ini bukan atas keinginan mereka sendiri.

Selain itu, fakta bahwa teman kita menghubungi kita, itu berarti bahwa dia percaya kita akan mengerti perasaannya. Apakah pantas jika kita membalasnya dengan menyederhanakan persoalan bahwa mereka hanya mengeluh?

4. “Kamu kurang beriman saja.”

Mungkin untuk beberapa orang, berdoa dan beribadah akan membantu mereka merasa lebih tenang dengan perasaannya. Tetapi seseorang dengan depresi tidak dapat sembuh hanya dengan doa.

Kita harus mulai memperlakukan gangguan mental sebagai suatu penyakit yang benar-benar serius dan butuh pengobatan atau penanganan yang khusus. Apakah kita akan memberitahu seseorang yang menderita usus buntu untuk berdoa saja? Pastinya mereka membutuhkan penanganan medis juga, kan?

Apa yang sebaiknya dikatakan:

1. “Tidak apa-apa sedih atau kecewa, itu bisa dimengerti.”

Jika ada teman yang menghubungi kita karena ia sedang depresi, tunjukkan bahwa kita ada untuk mendengarkannya. Selanjutnya, kita dapat menunjukkan bahwa kita mengerti situasinya dan alasan mengapa mereka dapat merasa seperti itu.

Kalimat-kalimat seperti, “Wajar kok kamu sedih sekarang,” atau “Tidak apa-apa nangis dulu. Kalau sudah merasa cukup, kita sama-sama bangkit lagi, ya,” dapat sangat membantu mereka melewati masa-masa yang berat. Ini karena kita memperlihatkan kepada mereka bahwa apa yang mereka rasakan adalah suatu hal yang valid, wajar, dan dapat dimengerti.

Baca juga: Menemani Orang dengan Gangguan Mental

2. “Aku ada di sini untukmu, ada yang bisa aku bantu?”

Tunjukkanlah bahwa kita di sini untuk mereka dan bersedia membantu mereka. Tenangkan mereka, pastikan kepada mereka bahwa kita memang ada di situ untuk mereka secara tulus.

Tanyakan kepada mereka apa yang dapat kita lakukan. Apakah mereka butuh solusi, hanya ingin didengarkan saja, atau juga membutuhkan dukungan mental. Biarkan mereka menentukannya, tetapi yang paling penting adalah terlihat bahwa kita mengerti, tulus mendengarkan mereka, dan juga membantu mereka melewatinya.

3. “Aku tahu semua sedang sulit, tapi kamu pernah lewati masa-masa sulit sebelumnya, aku percaya kamu juga bisa lewati ini.”

Kita bisa menggantikan kalimat “Ah gitu saja, bisa dilewati kok” dengan kalimat ini. Niatnya mirip tetapi kita menunjukkan bahwa kita benar-benar mengerti situasinya dan juga perasaannya. Kita juga memperlihatkan bahwa kita percaya mereka kuat dan mampu untuk melewati masa sulit seperti ini. Terus berusaha untuk memberikan mereka kata-kata yang dapat membangkitkan mereka kembali dan memberikan mereka dukungan emosional yang mereka butuhkan.

4. “Boleh aku peluk?”

Terakhir, saat mereka sudah lebih tenang dan lega, peluklah. Terkadang pelukan lebih berarti dari semua kata-kata yang dapat kita ucapkan kepadanya. Tunjukkan kepada mereka bahwa kita mengetahui bagaimana sulitnya melewati itu dan menghadapi itu semua, tetapi kita percaya mereka bisa melewatinya.

Shafira Amalia merupakan lulusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Demi memenuhi hasrat dan kegemarannya dalam menulis, Shafira mengalihkan mimpinya dari menjadi diplomat ke menjadi reporter. Menurut Shafira, berjuang menghancurkan patriarki tak kalah menariknya dengan cita-cita dia bertemu dengan Billie Eilish.

Follow Instagram Shafira di @sapphire.dust.