July 16, 2019
Saya Laki-laki, Saya Butuh Feminisme

Laki-laki perlu menyadari bahwa mendukung feminisme juga akan membebaskan mereka dari cengkeraman patriarki.

by Gede Benny Setia Wirawan
Issues // Gender and Sexuality
Share:

Banyak akun feminisme bermunculan di media sosial di Indonesia saat ini. Kebanyakan dari mereka biasanya memuat konten yang mencoba untuk mendidik masyarakat kita tentang feminisme dan juga berupaya untuk meningkatkan kesadaran tentang keadaan perempuan dan gender saat ini. Dari akun-akun tersebut, saya menyadari sesuatu hal: Sebagian besar gerakan feminis di Indonesia diprakarsai oleh perempuan, untuk perempuan lainnya. Hal tersebut sebagian besar bertujuan untuk meningkatkan kesadaran perempuan mengenai kondisi mereka yang ditekan oleh patriarki. Dalam beberapa akun yang menargetkan laki-laki, seperti akun Instagram @lakilakibaru, unggahan yang dibuat berfokus pada upaya mereka untuk mendorong laki-laki agar mendukung feminisme demi perempuan.

Saya tidak beranggapan bahwa ini adalah sebuah kesalahan. Perempuan adalah dan selalu menjadi korban utama patriarki. Perempuan pun perlu menyadari status mereka sebagai korban dan bangkit dari titik tersebut agar mereka dapat memimpin gerakan emansipasi mereka sendiri. Kita tidak membutuhkan emansipasi perempuan yang dipimpin oleh seorang lelaki – seperti sebuah twist gender dari narasi “white savior” (penyelamat berkulit putih) menjadi “male savior”. Perempuanlah yang seharusnya memimpin gerakan emansipasi mereka sendiri.

Namun pada saat yang sama, perjuangan untuk kesetaraan seharusnya tidak hanya sebatas pertempuran antara jenis kelamin. Perempuan dan laki-laki tidak perlu saling sikut antara satu dengan yang lainnya. Laki-laki pun tidak seharusnya mendukung feminisme hanya karena empati atau rasa bersalah atas hak istimewa mereka. Karena laki-laki juga merupakan korban patriarki, hanya saja kebanyakan dari kita tidak menyadarinya.

Memang benar patriarki memberikan kekuatan pada laki-laki, tetapi kekuatan tersebut diberikan secara bersyarat. Untuk mendapatkan kekuatan tersebut, kita harus menunjukkan maskulinitas tradisional. Kekuatan kita baru akan diakui oleh pria lain jika telah berhasil memenuhi hal tersebut.

Bagaimana cara kerjanya di dalam kehidupan nyata? Kita bisa lihat seberapa banyak tekanan yang diberikan pada laki-laki untuk menjadi “laki-laki sejati.”

Laki-laki tidak dapat menunjukkan perasaan, kita harus menjadi seorang individu yang tabah, logis, tanpa emosi. Tentunya disertai dengan stereotip bahwa seorang laki-laki tidak boleh menangis. Emosi seorang lelaki seharusnya hanya ditunjukkan secara dominan, bukan dalam menunjukkan kelemahannya. Stereotip ini berlaku pada laki-laki sejak dini, menyebabkan perkembangan emosional yang buruk.

Seorang laki-laki juga ditekan untuk menjadi pencari nafkah bagi keluarganya. Stereotipnya berupa harapan bagi laki-laki untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Menyediakan bisa berarti banyak hal, namun dalam dunia nan patriarkal, kata tersebut direduksi menjadi kebutuhan materi belaka.

Laki-laki juga didorong untuk terlibat dalam “kegiatan maskulin,” bukan dalam “kegiatan feminin”. Laki-laki baru dianggap sebagai laki-laki apabila mereka terlibat dalam berbagai olahraga kompetitif, baik sebagai penggemar antusias atau sebagai pemain. Sebaliknya, laki-laki tidak diharapkan, bahkan dalam berbagai hal tidak diperbolehkan, untuk terlibat dalam kegiatan rumah tangga seperti memasak dan mengasuh anak.

Apa yang akan terjadi jika laki-laki gagal dalam memenuhi harapan patriarki ini? Bisa dikatakan bahwa kita akan kehilangan “kartu laki-laki” kita. Kita akan kehilangan status maskulinitas kita dan, karenanya, kekuatan kita dalam masyarakat patriarkal.

Kenyataannya adalah bahwa laki-laki hidup dalam rasa takut akan kehilangan “kejantanan” kita. Kita telah dibesarkan dengan pemikiran tersebut sejak dini. Anak-anak biasanya menggunakan kata “banci” dan “girly” sebagai hinaan terhadap laki-laki yang tidak maskulin. Remaja laki-laki yang tidak unggul dalam bidang olahraga dipermalukan. Bahkan sebagai orang dewasa pun kita takut dianggap tidak maskulin. Budaya populer bahkan menempatkan laki-laki yang submisif dan “cuckolds” (yang istrinya selingkuh) sebagai bahan candaan. Kita terus-menerus memiliki ketakutan bahwa istri kita akan menghasilkan upah yang lebih banyak daripada kita; selalu takut maskulinitas kita dapat disaingi oleh laki-laki lain dan terutama oleh pasangan kita.

Seperti patriarki yang menuntut perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga yang akan melahirkan anak, patriarki juga menuntut laki-laki untuk menjadi penyedia nafkah keluarga yang maskulin, atletik, dan logis. Hal tersebut dianggap sebagai “tempat yang selayaknya” bagi kita, padahal jalan pikiran tersebut merupakan hal yang berbahaya bagi laki-laki maupun perempuan.

Ketakutan akan hilangnya kejantanan dan harga diri kita dapat membuat kita tertekan. Lebih parahnya, laki-laki tidak diperbolehkan untuk membahas kondisi mental kita. Melakukan hal tersebut dapat mengurangi kejantanan kita, suatu hal yang harus dihindari dalam masyarakat patriarkal. Dan ketika rasa kesepian tersebut menjadi tidak tertahankan, seorang laki-laki dapat meledak. Menjadi alasan mengapa lebih banyak dari laki-laki yang melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan dengan perempuan – kebanyakan bahkan berhasil melakukannya.

Patriarki tidak hanya merugikan laki-laki secara pribadi, hal tersebut juga dapat membuat laki-laki menyakiti pihak lain. Rasa takut akan kehilangan maskulinitas secara terus-menerus dapat menciptakan kegelisahan. Beberapa menganggapi rasa gelisah ini dengan kompensasi berlebihan, melalui perilaku agresif dan dominan yang dikenal sebagai pola perilaku toxic masculinity. Rasa gelisah kita menurunkan rasa harga diri kita dan perilaku toxic masculinity pun menjauhkan kita dari hubungan yang bermakna.

Seharusnya tidak seperti ini. Rasa gelisah dan pencarian maskulinitas secara terus-menerus bukanlah sesuatu yang harus dilalui oleh seorang pria. Laki-laki bisa menjadi seorang individu yang datang dari semua spektrum gender; beberapa secara alami mengekspresikan kejantanan mereka dengan maskulinitas tradisional, beberapa tidak. Patriarki memprioritaskan satu kelompok laki-laki dibanding yang lain, tetapi feminisme mengatakan sebaliknya.

Sejak Feminisme Gelombang Kedua muncul pada tahun 70an, feminisme tidak lagi secara eksklusif memperjuangkan perempuan. Feminisme berjuang melawan patriarki untuk kesetaraan di antara gender. Akibatnya, feminisme tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk mengisi ruang yang umumnya diisi oleh laki-laki, namun juga untuk memperjuangkan kebebasan laki-laki untuk tidak mengikuti standar maskulinitas.

Feminisme tidak memiliki agenda untuk menghilangkan status maskulin seorang laki-laki, namun untuk juga membebaskan laki-laki, untuk akhirnya jujur dengan ekspresi gender yang kita sukai. Seorang laki-laki feminis tidak akan takut akan kehilangan maskulinitasnya karena mereka menyadari bahwa tidak ada yang salah dari tidak berperilaku maskulin.

Laki-laki membutuhkan pembebasan ini. Laki-laki sudah terlalu lama terisolasi dan terhambat secara emosional. Laki-laki juga sudah terlalu lama memaksa dirinya untuk mengekspresikan maskulinitas, bahkan ketika kita tidak merasa nyaman melakukannya. Maskulinitas tradisional tidak membuat kita menjadi individu yang lebih baik. Sebaliknya, malah mengorbankan kesehatan mental, hubungan, bahkan kehidupan.

Langkah pertama untuk mencapai tujuan yang benar adalah dengan membuat laki-laki menyadari bahwa kita bukanlah penguasa dalam patriarki, melainkan juga adalah budaknya. Laki-laki perlu menyadari bahwa mendukung feminisme juga akan membebaskan mereka dari cengkeraman patriarki.

Saya seorang pria, dan saya butuh feminisme.

Artikel ini diterjemahkan oleh Sheila Lalita dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Benny Wirawan is a medial student and a blogger on on socio-political issues. Find his other writing at https://www.kompasiana.com/bennywirawan./