July 02, 2020
Si Budi Kecil, Si Budi Bencong

Si Budi kecil yang kerap diejek bencong menjadi simbol penenang bagi Budi dewasa saat ia gelisah karena tuntutan yang sama.

by Budi Winawan
Culture // Prose & Poem
Share:

Hari pertama mengenal aksara, si Budi kecil diajari bagaimana mengeja namanya. "Ah, buat apa sih aku melakukan ini? Ini kan namaku! Aku sudah tahu bagaimana mengeja ini dengan sangat baik". Begitu pikirnya. Tapi toh ia melakukannya juga. Ia eja namanya dengan sabar. Pura-pura, tentu saja. Si Budi kecil aslinya bukanlah seorang penyabar (dan terus begitu hingga lebih dari 20 tahun kemudian. Kelak kau tahu).

Dunianya kemudian meluas. Si Budi kecil diajari bagaimana berhitung, yang lagi-lagi tak begitu ia sukai karena ia sudah bisa melakukannya. (Di masa depan ia akan jadi salah satu orang yang jago matematika di kelas. Kelak kau tahu). Si Budi kecil, lewat buku-buku, juga diperkenalkan pada banyaknya penghuni Ibu Pertiwi yang ia tahu tak akan pernah ia jumpai seumur hidupnya (atau setidaknya sampai 20 tahun kemudian. Lebih dari itu, siapa yang tahu?).

Yang Budi kecil tahu dan kenal semakin banyak. Ia tahu sejarah bangsanya. Ia tahu bagaimana lingkungannya punya nilai dan norma. Ia tahu bagaimana ia hidup; karena semua organ tubuhnya berfungsi dengan baik dan ia tahu bagaimana caranya; ia tahu bagaimana jantungnya berdetak, paru-parunya menarik-buang napas, hatinya menawar racun, dan banyak lainnya. Lagi-lagi ini adalah hal yang mudah dimengerti oleh si Budi kecil. Ia memang tak tahu bagaimana mengendalikan kerja jantung, paru-paru, hati, dan lainnya. Tapi ia tahu ia tak bisa dan tak perlu bisa.

Kemudian si Budi kecil diberitahu bagaimana caranya hidup sebagai laki-laki. Ia bermain robot dan mobil-mobilan, ia bermain petak umpet, ia bermain bola sepak dan kasti. Ia juga bermain engklek dan lompat tali. Sesekali, ia juga memainkan boneka Barbie milik kakak perempuannya. Ia juga sesekali bermain bersama teman-teman kakaknya yang juga perempuan. Ia tidak ingat kapan, tapi tiba-tiba teman-temannya yang laki-laki memanggilnya bencong, yang ia ketahui kemudian sebagai ejekan untuk anak laki-laki yang seperti perempuan.

Baca juga: Perisakan Anak Betul-betul Merusak

Sampai Budi sudah tidak kecil lagi, sampai Budi sudah dewasa (setidaknya secara usia), ia tidak pernah paham maksud dari "seperti perempuan". Mengapa sesuatu hanya boleh untuk dan dilakukan oleh laki-laki, sementara yang lain hanya boleh untuk dan dilakukan oleh perempuan? Di usianya yang sudah tidak lagi terdiri dari satu angka saja, Budi melawan semua laki-laki yang menghinanya. Ia tidak pernah mau diatur bahkan oleh orang tuanya. Mana mungkin ia mau diatur oleh "1001 aturan menjadi seorang laki-laki". Ia tidak mau diharuskan bermain bola (ia tidak lagi menyukainya). Ia tak mau diharuskan bermain layang-layang. Ia tak mau diharuskan berdiri di depan pintu angkot sepulang sekolah ketika ia bisa duduk di dalam. Ia tak mau terlibat dalam obrolan tentang menikmati tubuh perempuan. Usianya masih belum secukup itu, dan birahinya bukan tentang itu.

Ia tahu betul ia lebih menyukai tubuh pria-pria telanjang yang bisa ia lihat di sumur umum terbuka dekat rumahnya tanpa perlu berusaha sembunyi-sembunyi. Tak pernah terlintas dalam benaknya "apakah jangan-jangan benar aku ini bencong?". Karena ia juga tahu betul bahwa menyukai laki-laki bukan hanya sesuatu yang boleh dialami oleh perempuan. Kelak ia bahkan tahu bahwa disukai oleh laki-laki bukan hanya sesuatu yang bisa dialami oleh perempuan.

Tentu saja ini rahasia. Tanpa tahu ini saja ia sudah diejek bencong. Bukan cuma oleh mereka yang seusia atau yang lebih tua, tapi juga oleh mereka yang lebih muda. Beberapa kali, segerombolan laki-laki adik kelas meneriakinya "MBAK MBAAKK!!! DUH AYUNE!" dari depan pintu kelas mereka yang ada di seberang lapangan basket. Bukan hanya karena ia lebih sering bermain bersama teman-teman perempuan, tapi juga karena gerak gerik dan caranya berbicara konon seperti perempuan. Apa sih itu gerak gerik perempuan? Apa sih itu cara bicara seperti perempuan? Si Budi kecil yang dulu tahu banyak hal, kini tak tahu apa-apa. Mungkinkah karena ia tak sekecil dulu lagi?

Baca juga: Sang Liyan

"Ah, pasti karena mereka lebih kecil,” pikirnya setiap kali ia melawan.

Tanpa ia sadari, ia lelah. Tanpa ia ingat sejak kapan, ia berhenti melawan. Kemudian ia pindah ke kota. Masih jadi Budi yang sama. Kali ini, bukan Budi bencong. Cukup Budi saja.

Bertahun-tahun kemudian, ia bukan lagi si Budi kecil. Tapi sesekali, jelang dini hari, lewat tangis dan overthinking, ia kunjungi si Budi kecil. Si Budi kecil yang melawan mereka-mereka yang mengejeknya Budi bencong. Ia gandeng tangan si Budi kecil ketika ia takut berjalan melewati segerombolan laki-laki di kampung sekitar rumah kosnya. Genggamannya menyiratkan, "Jangan khawatir, mereka tidak akan meneriakimu bencong".

Di gerombolan laki-laki yang lain—dalam pekerjaannya di balik layar televisi, di tengah skena indie bergelimang alkohol dan asap rokok, di antara obrolan industri kreatif tentang perangkat keras dan segala teknis penggunaannya—si Budi kecil ada di sampingnya. Ketakutannya masih ada. Di antara dan bersama gerombolan laki-laki itu, Budi tidak pernah merasa bisa dan boleh besar. Tapi setidaknya ia tidak kecil sendirian. Ada si Budi kecil bersamanya. Meyakinkannya untuk setidaknya berusaha sekali lagi jadi besar bersama.

Budi Winawan adalah seorang penyair digital di podcast Sajak Virtual, dan kreator podcast Review SJW yang membahas isu sosial dan budaya, juga politik dan lingkungan yang terdapat dalam film, serial TV, dan kultur pop lainnya.