October 05, 2020
Sikap Pilih Kasih Orang Tua Berdampak Panjang

Sikap orang tua yang pilih kasih terhadap anak-anaknya berpengaruh panjang terhadap kesehatan anak-anak tersebut dan hubungan di antara mereka.

by Sheri Madigan dan Jennifer Jenkins
Lifestyle
Parenting 41 Thumbnail, Magdalene
Share:

Banyak saudara kandung, ketika mereka berkumpul saat sudah dewasa, bercanda mengenai siapa yang jadi anak kesayangan. Namun, apakah ini cuma candaan semata?

Ketika kita sudah mulai dewasa, rasa sebal kita terhadap anak yang difavoritkan boleh jadi berkurang. Tapi, ternyata tidak juga. Kekecewaan terhadap orang tua yang pilih kasih ternyata berefek panjang. Sangat mungkin sampai kita dewasa, rasa kecewa terhadap saudara kandung yang jadi anak kesayangan terus terbawa.

Ternyata, orang tua memang menunjukkan perilaku yang berbeda ke masing-masing anak-anak mereka, dan tentu saja, anak-anak memiliki standar yang berbeda untuk melihat sikap ini.

Peneliti telah mempelajari fenomena ini dengan mengamati anak-anak ketika mereka berinteraksi dengan orang tuanya. Mereka meminta anak-anak dan orang tua tersebut untuk menceritakan interaksi tersebut. Seberapa sering orang tua dan anak tertawa dan bermain bersama? Seberapa sering mereka bertengkar dan berselisih?

Penilaian mereka nantinya dibandingkan dengan saudara kandung lainnya untuk menentukan apakah satu anak mendapat perhatian positif atau negatif lebih banyak dari yang lain.

Satu temuan yang menarik dalam penelitian ini adalah ketika perbedaan perlakuan orang tua kepada anak-anaknya kecil, konsekuensinya kecil hingga hampir tidak ada. Hanya ketika perbedaan perlakukan ke masing-masing anak besar, maka perbedaan ini akan berpengaruh pada kesehatan anak-anak dan hubungan di antara mereka.

Masalah yang dihadapi orang tua

Penelitian mengenai berbagai jenis hubungan menunjukkan, bagian penting dari bagaimana kita akrab dengan orang lain adalah tentang cocok tidaknya kepribadian kita dengan mereka. Dari sana, kita bisa memutuskan apakah kita bisa dekat dengan orang itu atau tidak. Hal ini juga berlaku untuk orang tua dan anak.

Walau kebanyakan orang tua mencintai dan merawat semua anaknya, mereka mau tidak mau akan menemukan anak yang lebih cocok dengan mereka. Satu anak mungkin lebih bergaul, yang lain mungkin lebih sering marah, yang ketiga lebih mudah belajar.

Baca juga: Pola Asuh Otoritatif yang Hangat namun Tegas Bermanfaat Bagi Anak

Perbedaan-perbedaan dalam bagaimana orang tua memperlakukan anak-anaknya dipengaruhi oleh gen anak-anak mereka. Para orang tua memperlakukan kembar identik, yang kesamaan DNA 100 persen, lebih setara daripada ketika mereka merawat kembar non-identik, yang kemiripan DNA-nya hanya 50 persen.

Semakin berbeda kepribadian anak-anak, maka semakin berbeda pula perlakuan orang tua terhadap mereka.

Pendorong lain, tentu saja, adalah umur anak. Orang tua berinteraksi dan mendisiplinkan anaknya berdasarkan perubahan umur yang menunjukkan kemampuan mereka. Perbedaan umur dan kepribadian anak-anak mendasari perbedaan perlakuan orang tua yang dilihat oleh anak-anak.

Namun, sementara umur dan kepribadian adalah alasan mengapa satu anak mendapat perhatian lebih dari orang tua dibanding yang lain, masalah yang lain adalah tekanan yang dihadapi orang tua. Ketika orang tua mengalami kesulitan finansial, masalah kesehatan mental, atau konflik pasangan, pilih kasih menjadi semakin terlihat.

Dampak terhadap kesehatan fisik dan mental

Sayangnya, sikap pilih kasih dapat memecah belah saudara kandung. Sikap pilih kasih juga membuat saudara kandung menjadi tidak dekat satu sama lain, baik di masa kecil maupun dewasa. Ini merupakan beberapa temuan dari pilih kasih yang dirasakan, maupun yang diamati.

Banyak yang menganggap anak yang menjadi favorit diuntungkan karena perlakuan spesial tersebut walau ini memang benar jika kasus pilih kasihnya tidak begitu terlihat. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada anak yang diuntungkan ketika pilih kasihnya terlihat mencolok. Ketika pilih kasihnya antara satu anak dengan anak yang lain cukup timpang, hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental.

Alasan untuk ini belum terlalu jelas. Bisa saja terjadi karena ketidakadilan atau ketika mereka difavoritkan, mereka takut untuk tidak menjadi anak favorit lagi.

Baca juga: Matrescence: Apa yang Saya Pelajari Saat Bertransisi Jadi Ibu

Namun, yang perlu diketahui dari temuan ini adalah penjelasan orang tua tentang mengapa mereka memperlakukan tiap anak berbeda dapat mengubah pandangan anak-anak. Penjelasan yang baik dari orang tua akan membuat tingkat stres anak lebih rendah.

Ada lima tips untuk menjadi orang tua yang lebih adil:

  1. Langkah pertama adalah sadari hal tersebut terjadi, dan cari bantuan dari pasangan, anggota keluarga, teman, atau ahli—untuk mengerti mengapa itu terjadi. Sebagai pengingat, pilih kasih sangat mungkin terjadi ketika tingkat stres tinggi.
  2. Ketika anak mengeluh atau mereka bertengkar dan menyebut salah satu dari mereka mendapat lebih, jangan abaikan itu. Peka terhadap perasaan anak dan cari tahu mengapa mereka dapat merasa seperti itu.
  3. Berikan penjelasan. Terkadang anak-anak memang perlu diperlakukan berbeda, seperti ketika satu anak sedang sakit, terluka, atau punya kebutuhan spesial. Ketika ini terjadi, jelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
  4. Hindari membandingkan anak-anak. Meski alami untuk mengatakan, “Kenapa kamu tidak bisa jadi lebih seperti kakakmu?”, hal ini menjadi perbandingan yang tidak adil. Coba fokus terhadap apa yang tiap anak lakukan dengan baik, tanpa mengadu mereka satu sama lain.
  5. Sisakan waktu sendiri untuk tiap anak. Sebanyak mungkin, coba cari waktu 10 menit tiap hari untuk dihabiskan berdua dengan tiap anak agar mereka punya perhatian penuh dari orang tua. Lakukan aktivitas apa saja yang mereka sukai dengan Anda.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Sheri Madigan adalah asisten profesor di Canada Research Chair in Determinants of Child Development, Owerko Centre at the Alberta Children’s Hospital Research Institute, University of Calgary. Jennifer Jenkins adalah Atkinson Chair of Early Child Development and Education and Director of the Atkinson Centre, University of Toronto.