Women Lead
May 25, 2021

Antara Yangon dan Jakarta, 'Sisterhood' yang Tak Luntur Dihantam Kudeta

Persaudaraan dengan sesama perempuan tidak hilang, meskipun ada kudeta menghadang.

by Rei Firdha Amalia
Issues
Myanmar protes dan solidaritas
Share:

Sisterhood adalah persaudaraan tanpa batas, seperti yang terjadi antara saya dan teman saya, “Lily". Saat pertama kali mendengar kabar bahwa rezim militer menggulingkan pemerintahan yang sah di Myanmar, Lily adalah orang pertama yang saya hubungi.

Are you alright?”’ saya mengirim pesan lewat salah satu platform komunikasi virtual.

“Not good, dear. Everything is going crazy,” balasnya.

Lily adalah salah satu teman terdekat saya ketika mengambil sekolah lanjutan di Manila, Filipina, dan San Jose, Kosta Rika. Dia yang selalu saya tanyakan pendapatnya ketika berdiskusi masalah kekerasan berbasis gender atau isu kesetaraan, dan juga soal kehidupan percintaan sampai bumbu masakan.

Ketika menjadi tetangga semasa sekolah, saat salah satu dari kami ada masalah atau dilanda kerisauan, biasanya Lily akan mengajak saya ngebir di pinggiran Sungai Marikina, Manila, sampai tengah malam. Lily adalah pendengar yang tidak ada tandingannya. Entah kenapa dia selalu bisa fokus dan jarang sekali teralihkan perhatiannya walaupun suara band di bar dekat tempat kami nongkrong cukup menggelegar.

Kini, terpisah jarak Indonesia-Myanmar, saya tidak bisa mengetuk pintu kamarnya untuk mengajak nongkrong sambil curhat. Tapi saya mencoba tetap hadir, mencoba mencari waktu yang tepat saat kami sama-sama bisa berkomunikasi dengan baik. Biasanya setelah lewat jam 22.00 waktu Jakarta, atau 21.30 waktu Yangon—beruntung waktu kami hanya berbeda setengah jam. Pagi dan siang hari biasanya Lily cukup sibuk, entah itu turun ke jalan untuk ikut protes, berkoordinasi dengan jaringannya, atau sekadar berdiskusi dengan keluarganya tentang bagaimana mereka bisa tetap bertahan di situasi yang tidak terkendali tersebut.

Baca juga: Bagaimana Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Myanmar Tidak Pro-Gender

Perempuan di Tengah Kudeta Myanmar

Suatu waktu, tidak seperti biasanya, Lily mengirimkan pesan pada saya di pagi hari. Isi pesannya berupa alamat tempat tinggal barunya untuk sementara waktu. Dia bilang, malam sebelumnya ada puluhan tembakan yang diarahkan militer secara tak terarah di daerah tempat tinggalnya. Alhasil, pagar rumahnya pun kena tembak.

Malam itu juga, sebagai satu-satunya anak yang masih tinggal dengan orang tuanya, dia mencoba mencari cara untuk pergi ke tempat yang lebih aman. Dia menghubungi kerabat dekatnya yang tinggal di daerah pinggiran Yangon dan dirasa lebih aman. Pukul lima pagi, dia bergegas, menuntun orang tuanya mencari tumpangan untuk sampai di perbatasan kota, dan untungnya selamat sampai tujuan di rumah kerabatnya.

How are you, really?” saya mengirimkan pesan di malam hari, tak lama setelah dia berpindah tempat tinggal.

I am crying, quietly,” balasnya.

Lily bilang, dia tak pernah membayangkan harus menjadi pengungsi di Yangon, kota tempat dia dibesarkan. Dia juga bercerita bagaimana dia harus meninggalkan dua anjing kesayangannya di rumah karena tak bisa membawa mereka pergi ketika menyelamatkan diri. Lily mengungkapkan rasa lelah menjadi pengambil keputusan di keluarganya, seperti keputusan mengenai ke mana mereka harus pergi, di mana harus tinggal, transportasi apa yang bisa dipakai, dan sebagainya. Apalagi kedua orang tuanya sudah lanjut usia dan mereka diselimuti banyak ketakutan.

Credit: Wikipedia common

Mencoba menjadi yang paling tegar dan meyakinkan kedua orang tua yang panik bahwa semuanya akan baik-baik saja tentu tidak mudah. Situasi darurat juga membuatnya hanya bisa tidur 2-3 jam sehari. Lily sungguh adalah sosok perempuan tangguh di tengah kudeta Myanmar. Betapa saya berharap bisa terbang beribu kilometer hanya untuk memeluknya.

Baca juga: Gelap-Terang Rekam Jejak Aung San Suu Kyi dalam Politik Myanmar

Komunikasi yang saya jalin dengan Lily tidak hanya antara kami berdua. Kami juga punya group chat berisi lima orang teman dekat lainnya yang tidak pernah absen memberikan dukungan kepada Lily dalam bentuk pesan tertulis dan suara, atau lainnya. Sering kami khawatir ketika Lily tidak juga berkabar, biasanya karena jaringan internet yang diputus di Yangon. Beberapa waktu, jaringan telepon genggam juga tidak bisa digunakan, dan Lily bergantung sepenuhnya pada jaringan internet.

Do you have enough money, dear? Would it be helpful for us to raise fund?  tanya kami yang cemas dan ingin membantu Lily dalam hal apa pun yang kami bisa, termasuk pendanaan.

Namun, Lily mengatakan ia sendiri kesulitan untuk bisa ke ATM dan mengambil uang. Dari pagi, biasanya orang-orang mengantre di ATM (bisa sampai 2 jam!) untuk mengambil uang. Walau pagi hari dirasa menjadi waktu yang paling aman untuk mengambil uang, nyatanya ada saja beberapa orang yang ditahan oleh militer tanpa alasan yang jelas ketika mereka sedang mengantre di ATM.

“My parents have enough cash for two months. Until then, I am not going to the ATM,” balasnya.

Saya dan teman-teman terdekat Lily berharap ada cara lain untuk membantunya. Tentu ada berbagai cara, misalnya dengan mengikuti berbagai protes, baik secara virtual maupun langsung turun ke jalan untuk berdemonstrasi mendorong pemulihan demokrasi di Myanmar, sambil tetap mengedukasi diri sendiri mengenai perkembangan situasi di sana.

Namun, seperti halnya kehidupan kami di Manila dan San Jose dulu, menjadi pendengar yang baik dan mendengarkan keluh kesahnya dari kejauhan sambil memastikan Lily tetap berkabar dan bertahan di tengah kegilaan rezim militer Myanmar, menjadi yang terutama. Ribuan kilometer jarak ini tidak lantas membuat solidaritas antara perempuan Indonesia dan Myanmar menjadi luntur. Sisterhood is borderless!

Rei Amalia pernah menghabiskan dua tahun hidupnya untuk mempelajari hukum internasional dan hak asasi manusia di Manila dan Costa Rica. Sekarang menjadi pekerja kemanusiaan yang bergerak di isu pengungsi dan pencari suaka.