Women Lead
October 08, 2021

‘Squid Game’ Sampai ‘The Hunger Games’, Alasan Suka Tema ‘Deadly Games’

Squid Game bukan karya sinema pertama yang membawa tema deadly games, meski penuh adegan bikin ngeri, kenapa masih banyak digemari?

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Lifestyle
Share:

Kalau permainan masa kecil dijadikan mematikan, seperti di Squid Game (2021), rasanya saya kalah sebelum permainan dimulai. Walaupun permainan anak-anak yang peraturannya enggak susah, tekanan hidup atau mati tetap bikin merinding. Bayangkan permainan 17 Agustus, seperti balap karung, panjat pinang, atau makan kerupuk, harus dipertaruhkan dengan nyawa. Apalagi kalau permainan Dalgona diganti dengan memisahkan kacang rempeyek tanpa meretakkan kerupuknya yang digadang warga Twitter. Belum apa-apa, rasanya sudah didor saja. Kalau dipikir memang menakutkan terjadi di dunia nyata, untungnya gim mematikan itu hanya sebatas di layar kaca. 

Sejatinya, tema semacam permainan mematikan atau deadly games ini juga tidak dimulai dari Squid Game. Bisa dibilang pionir tema deadly game datang dari Jepang dengan Battle Royale (2000) yang diadaptasi dari buku berjudul sama terbit tahun 1999. Squid Game hingga trilogi The Hunger Games (2012-2015) juga berkaca dari Battle Royale. Ada juga As the Gods Will (2014) juga dari Jepang yang serupa tapi tak sama karena melibatkan siswa sekolah.

Baca juga: Glorifikasi Saipul Jamil, Haruskan Pesimis pada Televisi Kita

Namun, cerita deadly games tidak melulu harus seperti ketiga karya itu. Kadang ada yang seperti Ready or Not (2019) yang secara literal berupa permainan hide and seek berbahaya dan tidak di dalam arena. Contoh lain, Escape Room (2019) yang bercerita tentang sekumpulan orang yang dijadikan korban eksperimen. Oleh karena, temanya yang eksplisit, menonton film atau serial deadly games memang harus berhati-hati dan tidak bisa sembarangan menonton. Pasalnya, adegannya bisa menjadi hal triggering. Meski demikian, deadly games tetap menjadi tontonan yang digemari, berikut alasannya:

1. Cerita tentang 'survival’

Satu hal yang paling melekat dengan tema deadly games adalah survival atau bertahan hidup. Pasalnya, nyawa yang menjadi taruhan. Di antara semua karya sinema deadly games, Alice in Borderland (2020) yang tampaknya paling mematikan dan melelahkan secara mental dan emosional. Keinginan penonton agar pemain selamat semakin intensif.   

Kalau menilik aspek historis dari cerita survival, Catherine Redford dari University of Oxford mengatakan, bisa dilacak sejak 960 Masehi. Buku Exeter mengisahkan cerita tentang orang-orang yang harus bisa menyelamatkan dirinya di tengah segala kenelangsaan yang dialaminya. Naskah seperti itu terus berkembang dan biasanya membawa tema tinggal satu orang yang selamat di tengah kekacauan duniawi. Pesan yang dilekatkan di cerita semacam ini merupakan harapan atau awal yang baru. 

“Tidak peduli seberapa suram kondisinya atau tipisnya kesempatan (untuk selamat), kita akan berpegangan pada prospek untuk bertahan hidup,” tulisnya di The Conversation

Baca juga: Hollywood Suka ‘Remake’ Film Asia, Apakah ini Problematik?

2. Wujud eskapisme, picu adrenalin

Tema film gore, psychological thriller, hingga distopia selalu ada penggemarnya. Karya sinema deadly games pun biasanya menggabungkan ketiga genre tersebut dan menciptakan cult following-nya sendiri. Penggemar pun mengonsumsi konten agresi semacam ini ataupun dokumenter true crime karena ‘dilindungi’ oleh tembok layar kaca.  

Anne Bartsch dari University of Augsburg dan Louise Mares dari University of Wisconsin-Madison menjelaskan ketertarikan pada film penuh agresi dalam forum What Attracts People to Violent Movies? Mereka mengatakan, penonton film genre itu tidak suka dengan kekerasan, tapi tertarik karena memicu adrenalin dan ada sensasi ketegangan. Selain itu, mereka juga semacam dijanjikan di balik segala agresi itu ada motivasi altruistik.

Meski demikian, konten deadly games harus selalu diberi rating dewasa. Caroline Fitzpatrick, psikolog dari Universite Sainte-Anne mengatakan, orang tua harus mengawasi anak agar tidak terpapar konten tersebut. Pasalnya, anak akan menjadi anti-sosial, tidak merasa bersalah jika berbohong, atau bisa memanipulasi orang lain. 

“Ini akan memberikan gambaran kalau dunia sangat berbahaya dan penuh orang jahat. Mereka yang memiliki pandangan tersebut  bisa menginterpretasikan gestur yang tidak sengaja dilakukan sebagai serangan,” tulisnya di The Conversation.

Baca juga: Memperbesar Volume Perempuan dalam Film Indonesia

3. Sentil kapitalisme dan pemerintah otoriter

Cerita dengan tema deadly games umumnya tidak sekadar sekelompok orang yang ikut permainan berbahaya. Namun, selalu ada maksud lain di balik ceritanya atau hal-hal yang membuat para pemain terlibat di dalamnya. Battle Royale dan The Hunger Games, misalnya, dimotori oleh pemerintah otoriter yang membuat anak remaja harus bertarung sampai berakhir tragis. Alasannya, agar masyarakat lebih mudah dikendalikan dengan ketakutan. 

Kedua cerita tersebut pun terinspirasi dari perang dan respons penulis yang tidak setuju cara pemerintah menanganinya. Koushun Takami, penulis Battle Royale (2009) mengatakan, “Ibu saya hidup di zaman perang dan televisi selalu mengatakan kalau masyarakat mendukung perang. Ibu saya berkata yang sebaliknya, kalau orang tidak suka perang hanya saja tidak bisa mengungkapkannya.” 

Selain itu, pesan tersembunyinya juga suka menyentil isu kapitalisme. Orang-orang Capitol dari The Hunger Games atau film Brasil, 3%, mengharuskan seseorang ikut permainan biar bisa naik kelas sosial. Bahkan Squid Game disebut alegori masyarakat kapitalistik. Lee Sung-ae, pakar film Korea dari Macquarie University mengatakan hal senada. 

“Ini tentang homo economicus, alih-alih homo sapiens. Ini ada orang yang hanya memikirkan tentang uang. Kita hidup di era orang-orang tanpa sadar mengikuti ideologi neoliberal, jadi saya pikir penonton mengidentifikasi diri mereka di cerita,” ujarnya dikutip dari The Age.  

4. Metafora kehidupan

Film deadly games suka menunjukkan di balik permainan berbahaya itu ada semacam Bung Besar dari mimpi buruk distopia novel 1984 yang menyusunnya. Mereka menyaksikan pertarungan hanya untuk kesenangan semata. Selain itu, bisa menjadi refleksi masyarakat modern harus bertarung setiap hari, sementara orang kaya atau kelompok satu persen bisa duduk santai ketika dunia terbakar. 

Karenanya, tema ini kadang seperti kuda Troya yang diam-diam membawa metafora kehidupan. Misalnya Ali dari Squid Game yang menunjukkan kalau menjadi orang baik atau terlalu naif di kehidupan nyata akan sangat mudah ditipu. Pengkhianatan yang dialami Ali pun menjadi cerminan di dunia nyata dan sifat manusia. Deadly games juga menguji nilai moral manusia jika berada di situasi yang sama, apakah nantinya akan membentuk persekutuan untuk menjadi penyelamat. 

Meski demikian, tidak harus menunggu permainan mematikan terjadi di dunia nyata untuk mulai bersikap baik pada manusia. Harapannya, amit-amit jika permainan itu benar terjadi di dunia nyata. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.