September 17, 2020
Surat Cinta Buat Doraemon, Karakter Kartun Revolusioner

Doraemon karakter kartun revolusioner yang bisa digemari lintas generasi dan waktu.

by Siti Parhani, Reporter
Culture
Share:

Berwarna biru dan berkepala lebih besar dari badannya, robot kucing  dari abad ke-22 dengan kantong ajaib di perutnya itu bernama Doraemon. Ia dikirim dari masa depan oleh cicit Nobita, Sewashi untuk membantu anak SD yang sering membuat masalah itu.

Saya selalu ingat bagaimana situasi di Minggu pagi saat kami bersaudara duduk manis menonton serial Doraemon, sambil menebak-nebak alat dari masa depan apalagi yang akan ia keluarkan untuk membantu Nobita. Membayangkan masa depan dengan segala kemudahan karena teknologi jelas sangat memompa imajinasi. Siapa yang tidak ingin memiliki teman yang punya segala solusi dari setiap masalah seperti Doraemon?

Siapa sangka kartun kesayangan yang mengisi masa kecil berbagai generasi itu ternyata sudah berumur 50 tahun tepat pada September ini.

Karakter Doraemon dibuat oleh Fujiko Fujio, nama pena untuk Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko, pada tahun 1969. Sebelum mengudara menjadi animasi di televisi yang biasa kita tonton sekarang, Doraemon merupakan manga yang diterbitkan oleh Yoiko, Yochien, Shogaku Ichinensei, Shogaku Yonnensei, Shogaku Rokunensi, majalah bulanan dengan edisi berbeda-beda yang disesuaikan dengan segmen pembaca.

Tak kurang dari 45 buku cerita Doraemon telah dipublikasikan pada tahun 1974 sampai 1996. Kesuksesannya luar biasa, dengan penjualan lebih dari 80 juta buku pada 1992, dan terus melejit sampai 100 juta kopi lebih pada 2015. Doraemon pertama kali muncul di TV pada 1973 melalui Nippon Television. Enam tahun kemudian, stasiun televisi Asahi akhirnya secara resmi mengakuisisi Doraemon sebagai salah satu program acara di televisinya.

Popularitas Doraemon bahkan mengalahkan “Godzilla” sebagai serial fiksi Jepang yang juga ditayangkan di banyak negara. Baik dalam bentuk manga maupun film animasi, Doraemon telah melanglang buana ke lebih dari 35 negara di Asia dan Eropa. Pada 2014, Doraemon menembus pasar Holywood dengan menggaet Disney XD untuk kerja sama. Di tahun tersebut, hampir 2005 kopi serial Doraemon dikirimkan.

Baca juga: 9 Manga Wajib Baca dengan Karakter Bapak Rumah Tangga

Di Indonesia, sejak masuknya Doraemon pada 1980an hingga sekarang, popularitas Doraemon tidak pernah redup. Hal ini terlihat dari kesedihan masyarakat saat tahu bahwa Nurhasanah, pengisi suara Doraemon sejak 1990an meninggal Juli lalu. Nama Nurhasanah trending di Twitter, Instagram, hingga Facebook. Namanya jadi judul utama di berita TV nasional dan dikenang sebagai orang berjasa. Hal ini sekaligus mengukuhkan jika Doraemon tidak hanya hidup dalam imajinasi kita. Di kehidupan nyata bahkan pengisi suaranya dicintai banyak pihak.

Kritik kelas sosial

Popularitas Doraemon di banyak negara tentu bukan tanpa alasan. Karakter Doraemon yang sering ngomel tapi ujung-ujungnya tetap membantu Nobita yang pemalas; Takeshi atau Giant dan Suneo teman sekolah Nobita yang suka melakukan perundungan; Shizuka, anak perempuan yang punya sifat lemah lembut; ditambah penggambaran keluarga Nobita yang tipikal orang tua Asia–ibu rumah tangga dan bapak pekerja, membuat cerita-cerita Doraemon lebih relatable dengan konflik kehidupan kita sehari-hari. Sehingga tak heran jika Doraemon sangat diterima di Indonesia maupun negara lainnya.

Artikel Japan Times bertajuk “Back to the future: The world celebrates the 50th anniversary of Doraemon”, menunjukkan bahwa Doraemon bukan hanya membawa konflik keseharian kehidupan masyarakat Asia, tapi juga merepresentasikan kelas sosial yang terus relevan sepanjang masa. Nobita berasal dari keluarga kelas pekerja, begitu juga Giant yang bertahan hidup dengan ibunya yang punya kios kecil. Sedangkan Suneo dan Shizuka berasal dari kalangan menengah atas yang sangat dimanjakan oleh orang tuanya. Suneo diceritakan suka pamer mainan mahal atau jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya.

Selain itu, masalah relasi antara anak dan orang tua yang digambarkan Doraemon juga hampir menyentuh realitas. Ibunya yang suka mengomel dan Nobita sebagai anak tunggal yang segan dan takut pada orang tuanya lebih memilih mengadu dan bercerita kepada Doraemon saat ada masalah. Hal itu cukup merefleksikan relasi orang tua-anak yang tidak begitu terbuka. Sosok Doraemon kemudian menjadi gambaran pengharapan kelompok kelas menengah ke bawah seperti Nobita. Doraemon secara tidak langsung hadir sebagai teman imajinatif impian kita ketika kanak-kanak.

Baca juga: Liar dan Imajinatif: 6 Anime Ghibli yang Wajib Ditonton

Di Amerika Serikat, serial Doraemon tidak begitu populer dibandingkan kartun-kartun besutan Nickelodeon. Padahal sebelum rilis di Amerika melalui Disney XD, cerita Doraemon sudah dirombak terlebih dahulu. Dari mulai nama tiap karakter, makanan, hingga tempat dimodifikasi supaya sesuai dengan budaya di Amerika. Nobita berubah menjadi Noby, Shizuka menjadi Sue, Suneo menjadi Sneech, Jyaian menjadi Big G, dan Dekisugi menjadi Ace. Latar tempat yang awalnya merupakan kota-kota asli Jepang diubah menjadi kota fiksi di AS. Sedangkan dorayaki kudapan kesukaan Doraemon berubah menjadi Yummy Bun. Namun Doraemon tetap tidak begitu populer di sana.

Profesor literatur dan film yang meneliti tentang industri film Jepang dari Universitas Oregon, Amerika Serikat, Alissa Freedman mengatakan, banyak anime yang menggambarkan kehangatan keluarga Jepang seperti Chibi Maruko Chan dan Doraemon tidak begitu sukses di Amerika Serikat. Hal itu salah satunya karena kultur Asia dan Amerika yang cukup kontras. Pasar anime di Amerika Serikat lebih banyak didominasi anak muda yang menggandrungi anime fiksi surealis seperti One Piece atau Naruto.

“Mereka perlu membaca situasi dan kultur di Jepang dulu untuk mengerti candaan yang dilontarkan di film Doraemon. Selain itu, penggambaran Nobita sebagai laki-laki cengeng, lemah dan sering menangis dianggap tidak masuk dengan budaya Amerika. In America, boys don’t cry,” ujar Freedman.

Kritik terhadap sistem pendidikan

Selain representasi kelas sosial, Doraemon juga punya kritik terhadap situasi pendidikan di Jepang yang kompetitif. Jepang dikenal sebagai negara yang membentuk masyarakatnya agar disiplin dan bekerja keras. Sistem pendidikan di Jepang merupakan salah satu yang terbaik di Asia setelah Singapura, juga termasuk yang paling keras. Budaya malu di Jepang yang tinggi membuat anak-anak dituntut untuk mendapatkan nilai sempurna saat di kelas.

Pada 2015, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Jepang sebagai negara dengan angka bunuh diri terbanyak di dunia, termasuk bunuh diri anak usia 10-19 tahun. Profesor Kenzo Denda dari Fakultas kesehatan Universitas Hokkaido dalam penelitiannya “Assessment of Depressive Symptoms in Japanese School” menemukan bahwa 1 dari 14 anak di sekolah umur 5-15 tahun terindikasi mengalami depresi, sehingga kasus bunuh diri anak setiap tahunnya di Jepang cukup tinggi.

Doraemon bukan hanya membawa konflik keseharian kehidupan masyarakat Asia, tapi juga merepresentasikan kelas sosial yang terus relevan sepanjang masa.

Karakter Nobita yang kesulitan belajar, selalu mendapat nilai jelek di sekolahnya, kurang percaya diri, tidak berambisi untuk jadi yang pertama, dan mendapat perundungan merupakan salah satu hal revolusioner bagi perkembangan film anak di Jepang. Doraemon menggambarkan bahwa permasalahan anak seperti Nobita itu jamak terjadi di Jepang, dan secara tidak langsung mengkritik sistem pendidikan yang mencetak anak untuk menjadi sempurna. Dalam beberapa kampanye bahkan Nobita dijadikan sebagai simbol menolak bullying.

Dalam jurnal yang ditulis oleh Miho Tsukamoto, berjudul Educational and Technological Perspectives in Doraemon—Hope and Dreams in Doraemon’s Gadgets menunjukkan bagaimana Doraemon sebagai budaya pop sekarang ini dijadikan ikon buku pelajaran di sekolah dasar agar lebih mudah dipahami anak-anak. Doraemon dan karakter komik lainnya mulai dipertimbangkan sebagai sarana efektif mengajari anak. Di tingkat universitas, cuplikan film Doraemon sering kali jadi contoh kasus soal-soal yang berhubungan dengan teknologi, desain, dan fisika.

Pada 2018, Kementerian Pendidikan Jepang mengangkat karakter-karakter anime kesayangan anak-anak seperti Nobita dan Chibi Maruko Chan sebagai sebuah buku yang mengangkat bagaimana memaknai hubungan sosial berdasarkan karakter anime. Mereka menamai sesi  buku itu dengan nama Nobita ni mabao yang artinya belajar dengan Nobita. Buku ini mengajak anak-anak untuk merefleksikan kehidupan Nobita dan bagaimana mereka ingin hidup di masa depan.

Kendati sekarang ini Doraemon banyak diangkat sebagai ikon anti-bullying pada anak, namun hal itu ternyata tidak serta merta dimaknai sebagai hal yang sama oleh negara lain. Selain Amerika Serikat yang mengkritik Doraemon karena memperlihatkan sifat-sifat jelek pada anak, Doraemon juga pernah dijegal oleh India pada 2008 dan Perancis pada 2016 dengan alasan yang sama. Padahal dalam penelitian bertajuk “Influence of Doraemon on Bangladeshi Children: A CDA Perspective” yang ditulis oleh Nujhat Nuari Islam dan Tuhin Biswas menunjukkan, Doraemon yang diterjemahkan ke dalam bahasa Hindi terbukti lebih efektif mengajarkan anak-anak India yang sebagian berbahasa Bangla untuk lebih mengenal bahasa Hindi. Doraemon juga sangat digandrungi oleh anak-anak di sana.

Baca juga: ‘Cardcaptor Sakura’, Anime yang Perkenalkan Saya pada Dunia Queer

Terkait dengan banyaknya kritik kepada Doraemon tentang alur cerita dan karakter, Doraemon sebetulnya terus bertransformasi menjadi lebih bijak dan beragam. Sejak 2006, Doraemon yang merambah ke layar lebar terus memperbarui ceritanya dengan mengangkat isu lingkungan hidup dan perubahan iklim, seperti pada film Nobita’s Dinosaurus (2006), Doraemon Into The Magic Planet (2007), Nobita and The Green Giant (2008), dan masih banyak lagi. Karakter Giant dan Suneo juga perlahan berubah menjadi lebih banyak menolong dan merangkul Nobita dalam menghadapi masalah.

Pada 2014, Doraemon juga merilis versi animasi tiga dimensinya yang pertama dengan judul Stand By Me. Film ini berhasil masuk box office di seluruh dunia dengan pendapatan US$194 juta. Meski dengan cerita dan ciri khas yang sama, Stand By Me banyak mengajarkan tentang nilai-nilai kehilangan dan berharganya orang di sekitar kita. Baru-baru ini Shin-Ei Animation kembali merilis trailer dari sekuelnya yaitu Stand By Me 2 yang harusnya tayang pada Agustus lalu, namun harus tertunda karena pandemi COVID-19.

Terlepas dari kontroversinya, Doraemon masih jadi sosok ditunggu oleh para penggemarnya hingga sekarang. Bagi saya sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa Doraemon bukan hanya sekedar film kartun anak yang mengajarkan baik dan buruk atau salah benar, eksistensinya itu menembus usia dan waktu. Setelah 50 tahun ia lahir, Doraemon masih sama digandrunginya oleh anak-anak maupun orang tua.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.