November 20, 2019
‘Cardcaptor Sakura’, Anime yang Perkenalkan Saya pada Dunia Queer

‘Cardcaptor Sakura’ secara sekilas tampak seperti kartun Jepang kebanyakan, tapi ceritanya membuka mata saya mengenai dunia queer.

by Zahrina Noorputeri
Culture // Screen Raves
Cardcaptor Sakura_IMDB
Share:

Sebagai seorang anak yang lahir di awal tahun 1990an, saya masih sempat merasakan nikmatnya menonton kartun di televisi pada sore hari. Bukan hanya kartun-kartun Barat, tapi juga kartun Jepang atau anime. Salah satunya sangat saya sukai sampai sekarang adalah Cardcaptor Sakura (CCS).

Cardcaptor Sakura diadaptasi dari manga karya Clamp, kelompok mangaka perempuan yang dipimpin oleh Nanase Ohkawa. Ceritanya berpusat pada seorang anak perempuan bernama Sakura Kinomoto yang memiliki kekuatan magis dan ia memiliki tugas untuk mengumpulkan kartu-kartu magis yang membuat kekacauan di dunianya.

Sekilas, CCS memang hanya sebuah manga dan anime dengan genre magical girl biasa, ceritanya pun terlihat lugu dan gambarnya amat sangat kawaii (lucu). Tapi dari sanalah justru untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan apa itu queer dan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).

Tentu istilah queer tidak pernah digunakan secara gamblang di dalam kisah petualangan Sakura. Namun penggambaran beberapa tokoh dan hubungan antar karakternya membuka mata saya bahwa di balik norma-norma gender yang membedakan perempuan dan laki-laki, masih banyak ekspresi gender lain. Dan bahwa hubungan manusia tidak terbatas pada hubungan antara laki-laki dan perempuan saja, tapi rasa suka dan cinta bisa tumbuh pada siapa pun, bahkan pada orang yang memiliki gender yang sama dengan tokoh di dalam cerita tersebut.

Tokoh yang paling queer dalam anime ini menurut saya adalah Ruby Moon alias Nakuru Akizuki. Melihat Ruby Moon yang berpakaian feminin dan berambut panjang, pikiran pertama saya dan kebanyakan teman-teman yang juga menonton anime ini adalah bahwa dia seorang perempuan. Selain itu, dalam wujud manusianya, Nakuru memakai seragam untuk perempuan dengan rok mini dan bergaya kawaii serta selalu mengejar-ngejar Touya, kakak dari Sakura.

Baca juga: 5 Novel Indonesia Bertema LGBT yang Wajib Dibaca

Rasanya tidak ada alasan untuk tidak berpikir kalau Ruby Moon adalah seorang perempuan, sampai akhirnya dalam versi manga, percakapan antara Ruby dan Suppi menunjukkan bahwa ia tidak diciptakan sebagai seorang perempuan namun Ruby memilih untuk berpakaian feminin karena ia merasa nyaman dengan gaya tersebut.

Awalnya sulit bagi saya untuk menerima seseorang yang tidak diciptakan sebagai perempuan ternyata bisa memakai pakaian dan bergaya feminin. Begitu pula sebaliknya, bagaimana mungkin seseorang yang berpakaian feminin ternyata tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan?

Begitulah pikiran saya pada masa itu, yang masih biner dan sempit, sulit menerima kalau identitas gender seperti yang ditunjukkan oleh Ruby Moon adalah sesuatu yang valid dan nyata. Saat ini, laman karakter Ruby Moon di Cardcaptor Sakura Fandom, semacam Wikipedia untuk CCS, sudah diedit dengan menggunakan penyebutan they/them, bukan lagi she/her.

Dan yang paling menarik adalah bahwa ketertarikan sesama jenis bisa timbul sedari kecil, seperti yang dialami oleh sahabat baik sang protagonis, Tomoyo Daidouji.

Tomoyo digambarkan sebagai teman akrab Sakura yang selalu setia menemani Sakura dalam petualangannya. Begitu terobsesinya ia dengan Sakura sehingga saat sahabatnya itu beraksi, Tomoyo sudah siap dengan kostum lucu-lucu dan merekam aksi keren Sakura.

Di balik semua itu, apabila ada yang membaca manga-nya atau menangkap pesan di dalam anime-nya, maka terlihat jelas bahwa perasaan Tomoyo pada Sakura lebih dari sekedar persahabatan, namun ada perasaan cinta.

Baca juga: 9 Manga Wajib Baca dengan Karakter Bapak Rumah Tangga

Segera setelah saya menyadari perasaan Tomoyo pada sahabatnya, mulailah saya memosisikan diri saya sebagai Tomoyo, seorang perempuan yang mencintai sahabat perempuannya, namun terpaksa memendam perasaan tersebut karena teman saya sudah keburu menyukai orang lain. Dan tentu saja karena saya keburu haqul yaqin kalau orientasi kami berbeda. Resmilah saya jadi seorang sad girl.

Kisah cinta sesama jenis yang paling jelas justru ditunjukkan oleh kakak Sakura, Touya dan sahabatnya, Yukito. Ya sahabat, begitulah hubungan mereka diperkenalkan di TV Indonesia, bukan sebagai pasangan kekasih. Padahal jelas benar dalam manga-nya, bahwa Yukito mencintai Touya dan hubungan mereka penuh dengan kasih sayang.

Hal menarik lainnya dari CCS adalah bagaimana anime-nya disensor sedemikian rupa di Amerika Serikat. Versi alih suara bahasa Inggrisnya bukan hanya mengganti nama para tokoh menjadi nama-nama Barat dan judulnya pun diubah jadi Cardcaptors, unsur-unsur homoseksualitas pun turut dihilangkan.

Laman Screen Rant mengatakan, segala dialog maupun gambar yang menunjukkan betapa Tomoyo naksir berat pada Sakura pada akhirnya dihapus dan diganti, sehingga tidak tampak adanya perasaan cinta Tomoyo. Begitu juga dengan dialog antara Touya dan Yukito, serta karakter-karakter lain yang membawa unsur LGBT atau kisah lainnya yang tidak sesuai dengan kaidah penyiaran Negeri Paman Sam, apalagi kalau acara tersebut ditargetkan untuk anak-anak.

Rupanya sebelum Indonesia, AS sudah lebih dulu “rajin” dalam urusan sensor menyensor. Dan apa yang saya petik dari sini? Bahwa sensor bikin anime tidak asyik lagi dan kehilangan banyak cerita menarik yang telah susah payah dibuat oleh para kreatornya.

Ilustrasi diambil dari IMDB.

Zahrina Noorputeri adalah kreator konten pendidikan dan sains.