October 12, 2020
Surat Cinta untuk Anak-anak Perempuan di Indonesia

Anak-anakku, maafkan para orang tua yang belum bisa mewujudkan dunia yang aman dan ramah bagi anak perempuan.

by Lela Latifa
Lifestyle
Share:

Teruntuk anak-anak perempuan kami di Indonesia, bagaimana kabarmu hari ini?

Sedang apakah dirimu sekarang? Apakah sedang mematut diri di depan cermin sambil mengepang rambut keritingmu? Apakah sedang membantu ibumu berdagang nasi bungkus? Apakah sedang sekolah di depan gawai? Apakah sedang menjahitkan celana bapakmu yang robek? Apakah sedang di dapur bersama anggota keluarga lain untuk menyiapkan hidangan acara adat? Apakah sedang bersembunyi dan mengobati luka?

Hari ini adalah harimu, Hari Anak Perempuan Sedunia.

Maafkan kami, para orang tua, yang belum benar-benar berhasil mengupayakan hal-hal ini untukmu:

Bebas bias gender

Suatu hari, aku belikan kamu mainan sebuah robot elektrik. Tetangga berkata padamu, “Kok, anak perempuan main robot? Tuh, sana main masak-masakan sama teman yang lain!” Seolah kamu dianggap bukan perempuan pada umumnya hanya karena mainan. Maaf ya, Nak! Dunia patriarkal ini memang masih akan mengikatmu dengan berbagai stereotip bias gender. Mainanmu saja perlu mereka atur.

Suatu hari, saat kamu membaca selebaran tentang kelas robotika, anak laki-laki yang paling besar di perkumpulan mainanmu merebutnya dan berkomentar, “Emang anak perempuan bisa bikin robot? Coba! Pegang obeng saja enggak bisa!”

Maaf ya, Nak! Memang dunia ini banyak diisi dengan laki-laki yang menganggap dirinya superior. Budaya patriarkal pun mendukung mereka untuk tampak superior. Sedihnya, bias seperti itu membuat kalian meresapi gagasan kecerdasan berdasarkan gender sejak dini. Akhirnya, hal itu berdampak pada pemilihan minat dan karier kalian kelak.

Baca juga: Mainan Beridentitas Gender Lebih Berisiko dari yang Kita Pikir

Dunia yang tidak membungkammu

Oh iya, tadi aku amati dari jendela, saat kamu mencoba merebut kembali selebaran milikmu dan tegas berkata, “Eh, itu punya saya, kembalikan! Kata siapa saya enggak bisa? Memangnya kamu sendiri bisa?” Saat mengatakan itu, aku lihat matamu melebar, garis wajahmu menegang, tanganmu mengepal. Tiba-tiba Pak RT yang sedang lewat  berteriak, “Wah, wah, anak perempuan kok, kasar! Perempuan, kok, sok mau jadi jagoan.”

Kamu pulang dengan perasaan sedih sekaligus marah. Membela apa yang jadi hakmu, disudutkan. Pembelaanmu bahwa si anak laki-laki itu mulai membuat ulah lebih dulu pun tak diterima. Maaf ya, Nak! Dunia patriarkal ini punya serangkaian norma tak tertulis yang “harus” diikuti oleh anak-anak perempuan. Kamu dianggap harus lembut, penyayang, tidak banyak bicara, pemaaf. Tapi dengarlah aku, bicara adalah hak semua orang. Kamu memang harus tumbuh jadi anak yang menyenangkan, tapi tak harus jadi anak yang menyenangkan orang.

Menghargai upayamu bukan fisikmu

Suatu hari, kamu menang perlombaan robotika. Kamu mengalahkan dua finalis laki-laki di sesi presentasi akhir. Majalah sekolah memuat fotomu di halaman siswa berprestasi dan mencantumkan judul, “Si Cantik yang Meluluhkan Hati Juri Robotika.” Kamu pulang dan menunjukkannya padaku.

Aku bahagia kamu disebut cantik. Semua orang memang suka dipuji dengan kata-kata yang dinilai positif. Akan tetapi, aku juga sedih. Mengapa narasi yang mereka buat seolah tidak menjadikan kemampuanmu sebagai fokus?

Rasanya tak begitu caraku mengasuhmu. Aku selalu menghargai upayamu dan semua kemajuan yang kamu tunjukkan. Aku mengajarimu untuk selalu bangga pada dirimu sendiri atas itu semua. Bukankah kamu menang karena proyekmu menawarkan hal baru dan  kemampuan presentasimu mengesankan?

Tapi, memang begitulah sedihnya jadi perempuan. Coba saja kamu buka internet dan kamu cari berita tentang prestasi perempuan. Pasti tak sedikit jumlah media yang fokus pada fisik perempuan sebagai bumbu untuk memberitakan prestasinya.

Baca juga: Biarkan Mainan Anak Tidak Berkategori Gender

Dunia yang aman

Aku gembira melihat ekspresimu ketika kami memberimu izin untuk memiliki akun media sosial. Tak lama berselang, kamu justru tampak murung dan gelisah. Akhirnya kamu bercerita bahwa ada komentar yang melukai harga dirimu di media sosialmu, di fotomu yang sedang utak-atik robot dengan caption, “Perempuan bisa melakukan apa pun yang dia mau dan mendapatkan apa pun yang dia inginkan.”

Kupikir, apa yang salah dengan kalimat positif itu? Nyatanya, ada yang mengirimimu pesan yang secara tega membuat tuduhan bahwa kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu inginkan karena fisikmu. Ia juga membubuhkan kalimat-kalimat yang tidak etis. Aku tidak terima dengan ini. Ini adalah kekerasan berbasis gender online. Kamu harus tahu!

Kamu tahu, anakku, dunia patriarkal ini memang tidak akan pernah melihat kita sebagai subjek. Mereka tidak ramah dengan berbagai kemajuan kita sebagai perempuan. Kita pikir, dunia ini sudah modern. Teknologi dan perangkat hidupnya iya, tapi pikiran dan perangkat nilainya tidak banyak berubah.

Kamu lihat temanmu yang di seberang sana? Mengapa ia tampak murung? Bisa jadi ia menghadapi hal yang sama denganmu. Mengapa aku bisa tahu? Sebab, aku dan yang lainnya juga kerap mengalami hal yang sama sejak kecil.

Ingin sekali rasanya bisa memberikan lingkungan yang lebih aman dan ramah untuk semua hal baik yang ingin kamu wujudkan. Tapi perlu satu desa untuk membesarkan anak. Perlu lebih banyak feminis untuk membesarkan anak perempuan yang hebat. Kami masih berjuang.

Lela Latifa adalah seorang ibu dan penulis lepas di sebuah media yang berfokus pada pengasuhan serta keluarga.