February 24, 2020
Mainan Beridentitas Gender Lebih Berisiko dari yang Kita Pikir

Mainan anak perempuan membuatnya berlatih menjadi cantik dan merawat orang lain, sementara anak laki-laki berlatih mendapatkan apa yang mereka inginkan.

by Megan K. Maas
Issues // Gender and Sexuality
stereotype_peran_gender_biner_heteronormatif_Sarah Arifin
Share:

Orang tua yang ingin membesarkan anak-anak mereka secara lebih terbuka terhadap segregasi maskulin dan feminin (gender-nonconfirming) kini memiliki pilihan mainan baru: Boneka yang netral secara gender.

Diumumkan pada September tahun lalu, perusahaan mainan Mattel mengeluarkan boneka humanoid yang tidak secara jelas diidentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan. Boneka-boneka tersebut datang dengan berbagai pilihan pakaian dan dapat dikenakan dalam berbagai gaya rambut dan pakaian.

Namun, bisakah boneka atau mainan lain yang netral gender benar-benar mengubah cara kita berpikir tentang gender?

Mattel mengatakan upaya tersebut menanggapi penelitian yang menunjukkan “anak-anak tidak ingin mainan mereka ditentukan oleh norma gender.” Hasil penelitian terbaru di AS melaporkan bahwa 24 persen remaja Amerika Serikat memiliki orientasi seksual atau identitas gender nontradisional seperti biseksual atau nonbiner, sehingga keputusan tersebut masuk akal secara bisnis.

Sebagai seorang psikolog perkembangan yang meneliti gender dan sosialisasi seksual, saya juga berpendapat bahwa keputusan itu masuk akal secara ilmiah. Gender adalah identitas dan tidak didasarkan pada jenis kelamin biologis seseorang. Bagi saya, adanya boneka-boneka ini berguna karena akan lebih mencerminkan bagaimana anak-anak melihat diri mereka sendiri.

Sayangnya, boneka saja tidak cukup untuk membalikkan sosialisasi puluhan tahun yang telah membuat kita percaya bahwa anak laki-laki memakai pakaian biru, berambut pendek dan main mobil-mobilan; sedangkan anak perempuan suka merah muda, memanjangkan rambut mereka dan bermain boneka.

Baca juga: Biarkan Mainan Anak Tidak Berkategori Gender

Lebih penting lagi, usaha ini juga tidak akan mengubah bagaimana anak laki-laki diajarkan bahwa maskulinitas itu baik dan feminitas adalah sesuatu yang kurang – sebuah pandangan yang menurut penelitian saya terkait dengan kekerasan seksual.

Merobohkan biner

Jenis-jenis mainan yang dimainkan anak-anak di Amerika Serikat tersedia dalam biner gender yang jelas. Mainan yang dipasarkan untuk anak laki-laki cenderung lebih agresif dan melibatkan aksi dan kesenangan. Mainan anak perempuan, di sisi lain, biasanya berwarna merah muda dan pasif, menekankan keindahan dan pengasuhan. Padahal dulu tidak seperti itu.

Pada akhir abad ke-19, mainan jarang dipasarkan untuk jenis kelamin yang tertentu. Namun, pada 1940an, produsen menyadari bahwa keluarga kaya akan membeli seluruh set pakaian, mainan, dan aksesori baru lainnya jika produknya dipasarkan sesuai jenis kelamin yang berbeda.

Maka lahirlah gagasan bahwa merah muda itu untuk anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki.

Saat ini, pemasaran mainan berbasis gender di AS sangat mencolok. Di lorong mainan apa pun, kita dapat dengan jelas melihat pangsa pasar yang dituju. Lorong mainan perempuan hampir secara eksklusif berwarna merah muda, menampilkan sebagian besar boneka Barbie dan putri. Sementara lorong anak laki-laki kebanyakan berwarna biru dan memiliki mainan truk serta pahlawan super.

Baca juga: 5 Cara Dobrak Stereotip Peran Gender dalam Keluarga

Merobohkan biner

Munculnya boneka netral gender adalah tanda bagaimana pemisahan biner anak laki-laki dan perempuan ini mulai runtuh, setidaknya terkait anak perempuan.

Sebuah penelitian pada 2017 menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat dari mereka yang disurvei setuju agar orang tua mendorong anak perempuan untuk bermain dengan mainan atau melakukan kegiatan “lawan jenis.” Sekitar 80 persen perempuan dan generasi Milenial mengungkapkan pendapat yang sama.

Namun ketika ditanya soal anak laki-laki, dukungan turun secara signifikan. Hanya 64 persen, dan jauh lebih sedikit responden laki-laki yang sepakat, yang setuju untuk mendorong anak laki-laki melakukan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Mereka yang lebih berumur atau lebih konservatif bahkan lebih cenderung berpikir itu bukan gagasan yang baik.

Secara tersirat, ini menunjukkan ada pandangan bahwa sifat-sifat yang secara stereotip berhubungan dengan laki-laki–seperti kekuatan, keberanian dan kepemimpinan – itu baik, sedangkan yang terkait dengan feminitas–seperti kerentanan, emosi, dan kepedulian – itu buruk. Dengan demikian, anak laki-laki menerima pesan bahwa keinginan untuk meneladani anak perempuan itu tidak baik.

Dan banyak anak laki-laki diajari berulang-ulang sepanjang hidup mereka bahwa memperlihatkan “sifat perempuan” adalah salah dan menunjukkan bahwa mereka bukan “laki-laki sejati.” Lebih buruk lagi, mereka sering dihukum karena itu, sedangkan menunjukkan sifat-sifat maskulin seperti agresi sering dihargai.

Ada pandangan bahwa sifat-sifat yang secara stereotip berhubungan dengan laki-laki itu baik, sedangkan yang terkait dengan feminitas itu buruk. Anak laki-laki menerima pesan bahwa keinginan untuk meneladani anak perempuan itu tidak baik.

Pengaruh pada ekspektasi seksual

Sosialisasi gender ini terus berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi ekspektasi laki-laki terkait hubungan romantis serta seksual. Penelitian tahun 2015 yang saya lakukan dengan tiga rekan mengeksplorasi bagaimana peserta merasa gender mereka memengaruhi pengalaman seksual mereka.

Sekitar 45 persen perempuan mengatakan bahwa mereka memiliki ketakutan mengalami bentuk kekerasan seksual hanya karena mereka perempuan. Sementara itu tidak ada laki-laki yang melaporkan kekhawatiran yang sama dan 35 persen mengatakan bahwa karena mereka laki-laki berarti mereka seharusnya memperoleh kenikmatan.

Temuan ini dapat dikaitkan kembali dengan jenis mainan yang kita mainkan. Anak perempuan diajari untuk bersikap pasif dan berusaha cantik dengan bermain boneka putri serta merias wajah. Sementara anak laki-laki didorong untuk lebih aktif atau bahkan agresif dengan mobil-mobilan, senjata mainan, dan mainan figur yang menekankan sisi membangun, bertempur, dan bahkan dominasi.

Analisis terbaru dari mainan Lego menunjukkan dikotomi ini dalam apa yang ditekankan untuk anak laki-laki, misalnya keahlian membangun dan profesi yang terampil, dibandingkan dengan anak perempuan, yang ditekankan untuk merawat orang lain, bersosialisasi, dan menjadi cantik. Jadi, anak perempuan menghabiskan masa kecilnya berlatih bagaimana menjadi cantik dan merawat orang lain, sementara anak laki-laki berlatih mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Hal ini menghasilkan standar seksual ganda, yang menempatkan laki-laki sebagai aktor yang kuat dan perempuan adalah bawahan. Dan bahkan dalam kasus kekerasan seksual, penelitian telah menunjukkan, orang akan lebih menyalahkan korban perkosaan perempuan jika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai peran gender tradisional, seperti selingkuh dari suaminya–yang justru lebih diterima jika dilakukan oleh laki-laki.

Baca juga: 7 Produk Khusus Perempuan dan Laki-laki yang Cuma Akal-akalan Bisnis

Sebuah penelitian tahun 2016 menemukan bahwa laki-laki remaja yang menganut norma gender maskulin tradisional lebih mungkin terlibat dalam kekerasan dalam pacaran, seperti kekerasan seksual, pelecehan fisik dan emosional serta menguntit.

Boneka Mattel yang netral gender menawarkan variasi yang sangat dibutuhkan dalam mainan anak-anak, tapi anak-anak, juga orang dewasa, perlu belajar lebih banyak toleransi tentang bagaimana orang lain mengekspresikan gender secara berbeda dari yang mereka lakukan. Dan anak laki-laki, pada khususnya, membutuhkan dukungan dalam menghargai dan mempraktikkan sifat-sifat feminin yang lebih tradisional, seperti mengomunikasikan emosi atau merawat orang lain–keterampilan yang diperlukan untuk hubungan yang sehat.

Netralitas gender lebih berarti tidak adanya gender, alih-alih toleransi terhadap ekspresi gender yang berbeda. Jika kita hanya menekankan itu, saya yakin feminitas dan orang-orang yang mengungkapkannya akan tetap tidak dihargai.

Jadi pertimbangkanlah untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai gender konvensional dengan boneka anak-anak yang sudah ada, seperti membuat Barbie memenangkan pertandingan gulat atau memasang rok tutu pada Ken. Dan dorong anak-anak lelaki di lingkungan Anda untuk bermain bersama mereka juga.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Megan K. Maas adalah Asisten Profesor dalam Kajian Pembangunan Manusia dan Keluarga di Michigan State University, AS.