September 15, 2020
Tayang 24/7

Seorang remaja laki-laki berjuang keras menghentikan penyebaran video pemerkosaan kakaknya di internet: sebuah cerita pendek.

by Lamia Putri Damayanti
Culture // Prose & Poem
Pornografi_Revenge Porn_SarahArifin
Share:

</1>

Seorang remaja lelaki berusia enam belas tahun duduk di kantor polisi selama berjam-jam dengan berbekal satu video dan tidak mau pulang. Ia bilang kakak perempuannya diperkosa sepuluh tahun yang lalu. Ketika ia melaporkan kasus tersebut, hari itu adalah tahun keenam kematian kakaknya.

Polisi bilang, “Sudah, sebaiknya kamu pulang. Kasus ini juga sudah lama terjadi, kan? Akan sulit jika diusut.”

“Tapi sebenarnya polisi pasti bisa melakukannya, kan?” kata remaja itu.

Para polisi itu tertawa geli dan malah menjadikan anak remaja itu sebagai lelucon dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang cukup sulit dijawab olehnya. Misalnya saja, pertanyaan soal siapa saja yang bisa jadi saksi, permintaan terhadap barang bukti, siapa pelakunya, dan sebagainya. Namun merekat bertanya tidak dalam rangka menangani kasus tersebut.

Sementara itu, meski lebih banyak pertanyaan yang dia jawab dengan “tidak tahu”, ia tetap sangat antusias menanggapi pertanyaan-pertanyaan “tidak serius” dari polisi dengan memberikan video yang diunduhnya melalui sebuah platform video porno.

“Kakakmu pemain film porno kali.”

“Enggak, kok! Kakakku guru!”

“Sampingan,” seorang polisi tertawa menimpali.

“Hal begini jamak terjadi. Kamu jangan overacting,” kata yang lain.

Remaja laki-laki itu mengerutkan keningnya. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Dia bilang lagi, “Kalau sering terjadi bukan berarti wajar. Di video itu kakakku kesakitan.”

Polisi yang lain terkekeh menyebalkan. “Itu biasa. Bagaimana ya, menjelaskannya? Kamu sudah delapan belas tahun belum, sih?”

Setelah selama berjam-jam diolok-olok dan akhirnya diusir, remaja itu terpaksa pulang tanpa hasil. Polisi-polisi itu menyuruhnya datang lagi kalau dia sudah punya bukti dan saksi, minimal dua orang dewasa. Kata mereka, video itu tak akan pernah jadi bukti. Padahal, bisa saja mereka mengusahakan untuk mencari pengunggah pertama atau kedua dari video tersebut.

Sepulang dari kantor polisi, ia membuka media sosial pada malam hari dan video kakaknya masih berseliweran di berbagai lini masa. Bagaimana menghentikannya?

{}

</ 2>

Seperti remaja pada umumnya, anak lelaki itu baru saja merasakan desir dan gejolak yang menggebu-gebu pada awal pubertasnya. Kadang-kadang tidak ia hiraukan. Kadang kala membuatnya penasaran juga. Teman sekelasnya berkata bahwa semua hal itu wajar terjadi. Ia kemudian memperlihatkan gambar-gambar porno; mulai dari cerita stensil, kartun, hingga manusia betulan. Remaja lelaki itu diam-diam takjub ketika menghadapi pengalaman-pengalaman pertamanya.

Teman-temannya kemudian memperkenalkan berbagai situs, legal maupun ilegal yang menyediakan konten-konten porno gratis. Menelusuri semua itu menjadi hal yang menyenangkan bagi remaja laki-laki seusianya.

Baca juga: Gadis Desa

Tetapi, suatu kali, ketika untuk pertama kalinya ia berselancar seorang diri mencari video porno di warnet, sebuah video mengusiknya. Video itu dibuat secara amatir. Dari jumlah tangan yang terlihat, mungkin ada sekitar enam orang. Perempuannya satu saja, sisanya laki-laki. Dari kelima laki-laki itu, tak satu pun wajah mereka yang kelihatan.

Satu-satunya yang disorot adalah wajah si perempuan. Ia sangat mengenal betul wajah itu. Itu adalah wajah kakak perempuannya yang meninggal enam tahun lalu. Setelahnya, ia memuntahkan isi perutnya sampai tujuh kali.

Semenjak hari itu, si remaja laki-laki tak pernah lagi suka dengan konten porno. Perutnya selalu mual dan matanya akan berair hampir setiap saat. Tangisan kakaknya di video itu menghantuinya setiap hari. Kemudian, pada suatu pagi di hari Kamis, ia memutuskan pergi ke kantor polisi daripada sekolah. Melaporkan apa yang dia lihat.

{}

</ 5>

Perempuan itu baru berusia tujuh belas tahun waktu pertama kali pacaran. Tapi pacar pertamanya menjadi petaka yang akan mengubah seluruh hidupnya. Dalam logika waktu, kejadian itu terjadi begitu cepat, tidak ada satu persen dari seluruh waktu yang dimilikinya selama hidup. Tetapi dalam logika ingatan, kejadian itu membekas selamanya. Mungkin juga masih mengendap di tengkoraknya meski ia sudah mati. Kepada seluruh hewan dan makhluk hidup yang tinggal di bawah tanah, sel-sel itu akan bercerita. Sebab, setiap sel punya memori. Menyimpannya dalam bentuk protein.

Perempuan itu diperkosa oleh pacarnya dan keempat pria lain atas nama ‘solidaritas pertemanan’. Salah seorang dari mereka merekam kejadian itu dan menjadikannya sebagai alat untuk mengancam. Selama kurang lebih setahun, perempuan itu mesti memenuhi kebiadaban kelima pria itu hingga masing-masing dari mereka lulus SMA dan pergi keluar kota.

Tiga tahun lalu berlalu. Video itu tersebar ke internet. Cepat sekali. Identitasnya dibongkar. Seluruh kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik. Ia sempat dilabrak oleh banyak orang. Ia disebut pelacur. Ia dinamai sundal. Ia terus-menerus mendapatkan ancaman, penindasan, dan perundungan, baik secara digital maupun ketika ia sedang berjalan kaki sendirian di trotoar. Perempuan itu kemudian memutuskan bunuh diri.

Sejak diperkosa kelima lelaku biadab itu, ia pun sebenarnya sudah tak mau hidup lagi. Ingatannya memang telah berhenti. Ia tak lagi mampu mengingat hal lain dan hanya ingin pergi. Kendati telah bertahan dalam trauma bertahun-tahun, ia tak pernah menyangka bahwa video pemerkosaan yang dialaminya akan tersebar dan dilihat oleh banyak orang. Ia tetap tak pernah menyangka semua orang akan tahu. Dan selama video itu tersebar di internet; semua orang akan menyaksikan, ia akan selamanya dihakimi tetapi juga mereka ikutan menikmati.

Ia sangat mengenal betul wajah di video porno itu. Itu adalah wajah kakak perempuannya yang meninggal enam tahun lalu. Setelahnya, ia memuntahkan isi perutnya sampai tujuh kali.

Sebelum benar-benar mati, kadang-kadang ia masih berpikir, mengapa tidak ada yang justru membelanya meski orang-orang tahu bahwa video tersebut didapatkan dengan kata kunci yang erat dengan kekerasan seksual? Mengapa orang-orang malah menikmatinya dan kata kunci itu justru jadi rekomendasi di mesin pencari?

{}

>> 26

Ibu bilang, kakak perempuan remaja laki-laki itu meninggal karena anemia. Dia kekurangan banyak darah kemudian tak tertolong lagi. Tetapi, sehari setelah kematiannya, ia membawa sebuah pisau belati ke seorang dukun. Lalu dengan bantuan doa dan jampi-jampi, pisau belati itu dikubur di sebuah hutan dekat rumah.

Kakak beradik itu tidak terlalu dekat. Jarak usia mereka cukup jauh. Apa yang si adik suka dan apa yang tidak dia suka berkebalikan dengan sang kakak. Jadi, mereka tidak pernah nyambung. Mungkin juga karena waktu itu si adik masih anak-anak sementara kakaknya beranjak remaja akhir. Mereka mengobrol hanya seperlunya saja. Sisanya, mereka akan lebih banyak berdiam diri.

Akhir-akhir ini, remaja laki-laki itu ingin kakaknya hidup kembali dan membawanya ke kantor polisi. Meski sewaktu ia mati usianya baru sepuluh, remaja itu selalu merasa bahwa kematian kakaknya tidak wajar. Ia ingin mengatakan pada polisi bahwa ia tidak bereaksi berlebihan. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa semua yang ia katakan memang benar.

Tetapi orang mati tidak bisa diajak berbicara. Hal ini menyadarkan remaja laki-laki itu mengapa kasus pembunuhan menjadi hal paling menyebalkan. Kalau orang mati bisa ditanyai, mungkin memang tidak perlu ada terlalu banyak polisi di dunia ini.

Kakaknya tak meninggalkan apa pun. Dia juga tak pernah berbicara apa pun soal ini pada sang adik. Semua yang tersisa hanya percakapan di aplikasi penyimpan pesan. Sebagian besar sudah dihapus karena memori penuh.

5, 25, 625, 390.625, masing-masing ditambah satu.

Misalnya begini, dalam satu waktu, penonton di internet berjumlah lima orang. Dengan karakter internet yang masif, bukan mustahil bahwa pertambahan jumlah tayangan dalam satu detik adalah pangkat dua dari angka pertama. Masing-masing jumlah penonton mengalami kelipatan setiap harinya dan ditambah satu. Satu orang ini adalah pengunggah pertama, yang identitasnya masih belum diketahui. Tetapi dia konstan. Meskipun si pengunggah pertama telah lenyap; internet tetap mencatat bahwa ialah yang nomor satu.

Baca juga: Suatu Hari di Batavia

Itulah hal pertama yang dirasakan oleh si remaja lelaki itu. Penonton video kakaknya akan terus berlipat ganda dari hari ke hari. Semua orang akan menikmati video itu alih-alih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Hari ini dia ke kantor polisi lagi. Ia masih mengatakan hal yang sama: Kakak perempuannya diperkosa oleh lima orang. Peristiwa itu direkam dan sekarang tersebar luas di internet sebagai konten porno. 

Ia menambahkan keterangan: (1) Kakak perempuannya diancam akan dibunuh dan harus memenuhi kebiadaban lima lelaki itu selama kurang lebih satu tahun; (2) Kakak perempuannya depresi tetapi tidak berdaya meminta tolong; (3) Video itu akhirnya tetap tersebar; (4) Kakaknya semakin depresi dan akhirnya memutuskan bunuh diri; (5) Selama enam tahun video itu tersebar luas dan tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya; (6) Kelima pemerkosa kakak perempuannya tetap melenggang bebas dan mungkin hidup mereka masih baik-baik saja; (7) Tidak ada yang tahu di mana mereka berada; dan (8) Tidak ada yang tahu siapa pengunggah pertama.

Polisi masih memberikan tanggapan yang sama. Si remaja lelaki pulang dengan perasaan marah. Kepalanya ingin meledak. Dadanya sesak hingga tenggorokannya terasa sakit dan penuh seperti diisi batu dan diolesi balsem. Ia bahkan tidak tahu bahwa sepanjang jalan tangannya terus mengepal dan air matanya mengalir.

3906252 + 1

Kira-kira, akan berapa jumlahnya? Banyak sekali. Meski sebetulnya semua itu sudah bukan lagi persoalan angka. Maksudnya, angka itu sebenarnya tidak penting-penting amat jika dia bisa dilenyapkan dalam sekali klik. Yang paling penting dari itu semua adalah serentetan peristiwa di balik video itu.

Remaja lelaki itu kemudian berinisiatif mengirimkan surat ke website video porno bersangkutan. Ia menulis surat panjang dengan bahasa Inggris pas-pasan. Sesekali ia menggunakan alat penerjemah daring karena putus asa menyusun kata-kata.

Sebetulnya, hal yang paling membuatnya putus asa adalah menjelaskan kronologi mengenai video tersebut. Jari-jemarinya kaku. Ia sempat menghabiskan waktu dua jam penuh hanya untuk menenangkan pikirannya. Ucapan-ucapan polisi itu terngiang di kepalanya. Ia marah dan selama berbelas-belas menit menahan diri untuk tidak meninju layar komputer. Ia ingat bahwa itu komputer di laboratorium sekolah. Maka, ia cepat-cepat mengurungkan niat.

Internet begitu gelap. Tetapi manusialah yang tetap paling mengerikan. Sebab gelapnya internet berasal dari manusia juga.

Surat itu selesai dalam tiga jam tanpa bantuan siapa pun. Ia menulis surat panjang sekali. Tetapi inti dari semua itu: Ia meminta agar video itu segera diturunkan dan persebarannya dihentikan. Ia juga meminta agar dilakukan penyelidikan bagi pengunggah pertama dengan sanksi yang jelas. Ia tidak ingin ada lagi yang melihatnya. Ia tidak mau bahwa tindakan kekerasan yang dialami oleh kakak perempuannya malah menjadi konten porno dan tempat syahwat lelaki lain.

Apakah video itu konten porno? Mengapa orang bisa terangsang dengan konten kekerasan? Seharusnya orang-orang berempati. Bukan bermasturbasi.

Internet begitu gelap. Tetapi manusialah yang tetap paling mengerikan. Sebab gelapnya internet berasal dari manusia juga.

lim
1 -> ∞

Remaja lelaki itu terus mengirim ulang pesan tersebut berkali-kali karena tidak ada balasan yang berarti. Video kakaknya masih tersebar dan semua orang masih bisa melihatnya. Sekarang, skenario di kepalanya semakin mengerikan. Bagaimana jika ada banyak orang yang mengunduh dan mengunggahnya kembali sehingga persebaran video itu semakin tidak terkendali?

Reupload. Reupload. Reupload.

Ia sudah tidak mau melihat konten porno lagi karena perutnya mual membayangkan kekerasan yang terjadi pada kakaknya. Ia juga lama-lama yakin bahwa kakaknya bukan satu-satunya. Hal ini menjadi skenario terburuk kedua.

Video ketelanjangan yang tersebar di internet belum tentu video porno yang berasal dan untuk kenikmatan seseorang. Di baliknya bisa jadi ada pemaksaan, pelecehan, juga ada kekerasan, ada ketidakadilan, ada penindasan. Memikirkan kemungkinan buruk di balik video-video lainnya membuat perutnya mual lagi.

Ketika ia melewati kantor polisi, ia tak bisa menahan diri dan muntah tepat di depan pagar. Suatu malam, karena tak tahan dengan perlakuan polisi, ia melempar air kencing yang ditaruh di dalam botol ke depan kantor polisi lalu berlari sekencang mungkin.

<∞>

Ibu remaja laki-laki tersebut tinggal seorang diri. Seperti kebanyakan perempuan tua di desa lainnya, ia tidak tahu apa-apa soal teknologi dan mau tak mau teralienasi dari arus perkembangan digital yang menderu. Perempuan itu mungkin masih berpikir bahwa anak perempuannya meninggal karena anemia dari jin jahat yang menyuruhnya memutus nadi. Perempuan itu juga mungkin tak tahu bahwa anaknya sudah dikenal seantero jagat internet oleh orang mesum karena video pemerkosaan yang tersebar sebagai konten porno.

Diasingkan oleh teknologi. Diasingkan oleh kecepatan. Diasingkan oleh semua yang asing dan tak terjangkau oleh tangan keriputnya.

Bukan salah perempuan itu.

Seperti perempuan kebanyakan. Mereka telah sibuk lebih dulu mengurusi urusan domestik ketimbang belajar hal-hal baru.

Ah, apa jadinya jika si remaja lelaki ini juga punya anemia, kemudian pergi dan tak kembali?

Baca juga: Menertawakan Kesucian

Pesan balasan baru sampai kemarin malam. Di sana mungkin baru saja siang. Isinya kira-kira begini: platform tersebut merasa tak punya tanggung jawab untuk menghentikan semua sirkulasi persebaran video. Seluruh tanggung jawab ada pada pengunggah video. Mereka juga tidak dapat melakukan investigasi atau penyelidikan menyeluruh kepada pengunggah video dengan landasan hukum tertentu. Apalagi, mereka terbentang di antara dua negara yang membuat implementasi hukum jadi semakin rumit. Intinya mereka tidak mau ikut campur dan merasa tak punya tanggung jawab moral sebagai platform berbagi-simpan video porno.

Remaja lelaki itu meremas rambutnya. Matanya merah lagi. Kali ini, ia merasa seluruh oksigen di tubuhnya lenyap. Ia marah sekali. Bagaimana caranya untuk menghentikan semua ini? Bagaimana caranya agar video itu tidak tersebar? Bagaimana caranya melenyapkan video itu? Bagaimana caranya menghapus memori seluruh penonton yang terlanjur melihat kakak perempuannya? Bagaimana caranya menghapus semua trauma ini? Bagaimana membangun harkat dan martabat kakaknya kembali? Bagaimana caranya menemukan pemerkosa kakaknya dan membunuh mereka satu per satu lalu hidup bahagia di penjara anak-anak?

Bagaimana membuat kakaknya hidup kembali, mengulang nasib, dan tidak mati dengan cara seperti itu?

Bagaimana?

Seperti jumlah views, trauma yang diderita itu juga terus berlipat ganda, bahkan secara banal dan tak teratur. Laju pertumbuhannya tak akan pernah bisa diprediksi karena berasal dari mana saja. Berapa banyak yang akan mengakses? Seluruhnya akan memuai, langgeng, dan bahkan abadi. Seluruhnya tanpa batas, tak berhingga.

Remaja itu tak bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh kakak perempuannya sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidup. Trauma tak berhingga. Ketakutan tak berhingga.

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk. Ibunya masuk dengan wajah berseri-seri. Ia menunjukkan telepon genggam produk Cina yang paling murah tetapi sudah dijalankan dengan sistem android. Baru dibeli dengan hasil menabung dengan susah payah. Bak anak kecil yang mendapatkan mainan baru, perempuan itu minta dibuatkan dan diajari menggunakan aplikasi pesan instan.

Setiap pulang sekolah, remaja laki-laki itu tetap ke warnet. Uang jajannya yang tidak seberapa selalu ia tabung untuk membayar biaya sewa satu jam berselancar di ruang-ruang digital. Ia tak bisa menggunakan layanan internet gratis di komputer sekolah karena yang ia lakukan adalah mengunjungi website video porno atau media sosial tertentu untuk mengecek keberadaan video kakak perempuannya beserta jumlah tayangannya.

Lalu, ia berjuang sendirian membuat banyak akun untuk melaporkan dan memblokir akun-akun penyebar video kakak perempuannya. Seorang diri, ia mencoba berlipat ganda.

Lamia Putri Damayanti lahir dan tinggal di Magelang. Telah menerbitkan dua novel berjudul Dering Kematian (Bentang Belia, 2015) dan Di Jok Belakang Mobil (Bababasi, 2019).