Women Lead
December 01, 2020

Tes Keperawanan Berangkat dari Kesalahpahaman, Mengapa Masih Diteruskan?

Tes keperawanan seperti di Polri dan TNI tidak hanya seksis dan menyakitkan, tetapi juga merupakan pengalaman traumatis bagi banyak perempuan.

by Sherria Ayuandini
Safe Space
Share:

Tanggal 25 November sampai 10 Desember ditetapkan sebagai momen kampanye global 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Dalam momentum ini, penting bagi masyarakat untuk menyoroti bahwa pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan bukan hanya individu dan orang terdekat, melainkan juga aparat lembaga negara dengan mengatasnamakan moralitas. Hal ini problematis karena kerap kali, hal yang digadang-gadang sebagai moralitas tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Satu di antaranya ialah tes keperawanan untuk seleksi polisi dan prajurit perempuan yang sudah selayaknya dihapuskan.

Pada 2014, Human Rights Watch merilis hasil riset tentang tes keperawanan untuk calon anggota perempuan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Setahun berikutnya, lembaga ini merilis bahwa praktik serupa juga terjadi dalam rekrutmen prajurit perempuan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kala itu, publik Indonesia mengecam keras Polri atas praktik “tes keperawanan” terhadap pelamar perempuan dalam proses perekrutan polisi. Cerita miris tes keperawanan juga diungkap dalam proses rekrutmen prajurit perempuan di TNI, tapi sampai kini sistem tersebut belum berubah.

Baca juga: Menjadi Seorang Perawan

Banyak yang mengangkat soal ketidakadilan praktik tersebut. Mereka berpendapat bahwa tes itu bersifat seksis, menyakitkan, dan menciptakan trauma. Mereka juga mengingatkan bahwa keperawanan tidak relevan dengan apakah seorang petugas dapat melakukan tugas kepolisian atau tidak.

Namun, sedikit yang mempertanyakan aspek yang paling meragukan dari praktik mengerikan ini: Validitas tes itu sendiri.

Prosedur tes keperawanan di berbagai negara

Tes keperawanan tidak hanya terjadi di Indonesia. Di banyak negara, perempuan kerap diwajibkan untuk menjalani pemeriksaan meski pun alasannya sering kali tidak ada hubungannya dengan kepentingan perempuan tersebut. Turki, Mesir, Maroko, dan Irak, adalah sebagian negara yang juga melakukan tes keperawanan yang kontroversial.

Dalam satu kasus di Turki pada awal 1990-an, seorang siswi bunuh diri setelah menjalani tes keperawanan yang diinstruksikan oleh kepala sekolahnya.

Cara tes yang dilakukan bisa bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Kita sekarang mengenal istilah “two fingers test” yang dilakukan oleh Polri. Di beberapa tempat di Irak, pemeriksaan bersifat visual. Seorang perempuan dianggap perawan saat tidak ada tanda “robek” pada selaput daranya.

Di satu desa di Maroko, tes ini agak lebih imajinatif. Pengantin harus menjalani “tes telur”. Pengantin perempuan berbaring telentang dengan kaki terbentang. Pemeriksa, biasanya perempuan yang lebih tua, kemudian akan memecahkan sebutir telur yang terbuka ke vaginanya. Jika telur menyelinap ke dalamnya, dia akan dianggap tidak lagi perawan.

Apa pun metodenya, ada dua aspek yang sering digunakan untuk menentukan keperawanan perempuan: Selaput dara ‘masih utuh’ dan lubang vagina yang kencang. Keduanya masih banyak dipercaya menandakan keperawanan pada perempuan. Tidak ada dasar yang dapat diandalkan untuk kesimpulan semacam itu.

Mitos selaput dara

Mari kita mulai dengan selaput dara. Selaput dara adalah membran di saluran vagina. Dokter masih belum sepakat mengenai fungsinya. Banyak yang percaya bahwa selaput itu sama sekali tidak berguna bagi tubuh perempuan.

Jika kegunaan selaput ini dianggap masih merupakan misteri, kondisi keperawanan yang diidentikkan dengan keutuhan selaput tersebut merupakan salah satu mitos medis terbesar yang pernah ada. Banyak yang memperoleh kesan bahwa selaput dara perawan menyerupai salah satu dari dua hal berikut: Selaput serupa balon yang menutupi lorong vagina atau menyerupai cincin dengan tepi yang halus.

Beberapa percaya bahwa setiap gangguan pada selaput dara bisa mengakibatkan robeknya organ itu. Maka, bukan hal yang aneh jika anak perempuan dinasihati untuk berhati-hati saat mengendarai sepeda atau perempuan muda disarankan agar tidak menggunakan tampon (sejenis pembalut berbentuk silinder kecil) karena takut bisa merusak selaput dara mereka.

Pada kenyataannya, selaput dara lebih tepat bila dibandingkan dengan— menggunakan kata-kata dokter yang sering merekonstruksi selaput dara— kelopak bunga. Selaput memiliki takik, lipatan, dan celah, bahkan saat selaput tersebut masih ‘perawan’. Selaput dara sifatnya fleksibel dengan kepadatan yang berbeda, beberapa tipis namun beberapa yang lain cukup tebal.

Jika terjadi penetrasi, selaput dara mungkin mengalami luka. Namun, sering kali, selaput dara meregang dan tidak rusak.

Karena itulah, tidak akurat untuk berpikir bahwa satu tindakan seksual akan selalu menghasilkan perubahan pada selaput dara. Ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki selaput dara halus berbentuk cincin sebenarnya sudah aktif secara seksual selama bertahun-tahun.

Kebalikannya juga benar. Selaput dara perempuan perawan mungkin memiliki satu celah besar dan beberapa lekukan di sana-sini. Ini adalah jenis selaput dara yang banyak salah dipercayai untuk menandakan bahwa seorang perempuan telah mengalami penetrasi seksual.

Baca juga: Tidak Perawan Lagi Berarti Rusak?

Inilah sebabnya para seksolog, ginekolog, dan dokter umum sama-sama sering enggan ditanyai mengenai opini mereka apakah seorang perempuan perawan atau tidak berdasarkan kondisi selaput daranya. Para dokter di Belanda menggunakan kata-kata berikut saat menerima permintaan tersebut:

Tidak ada indikasi untuk menunjukkan bahwa perempuan yang dimaksud tidak lagi perawan.

Trauma pada selaput dara tidak mudah ditentukan. Sudah ada penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa ahli forensik kasus pelecehan seksual pada anak sekalipun sering kali tidak dapat membedakan tanda-tanda penganiayaan pada selaput dara anak perempuan. Hal ini terutama terjadi pada kasus ketika anak tersebut dibawa ke rumah sakit selang beberapa waktu setelah terjadinya penganiayaan.

Asumsi yang salah

Aspek kedua yang sering diperiksa adalah rapatnya vagina. Ada kepercayaan luas bahwa perempuan yang tidak tersentuh secara seksual memiliki lubang vagina yang rapat karena selaput dara utuh dan bahwa laki-laki dapat merasakan kerapatan tersebut saat berhubungan seksual.

Ini adalah asumsi yang keliru. Kerapatan vagina tidak disebabkan oleh selaput dara, namun sebagai akibat dari otot dasar panggul yang terkontraksi. Semakin kuat kontraksi otot, semakin sempit saluran vagina.

Perlu dicatat bahwa ketika seorang perempuan merasa cemas, terutama bila berhubungan seks, dia secara otomatis mengencangkan otot dasar panggulnya. Banyak dokter menganggap hal ini adalah alasan mengapa perempuan perawan sering dirasa ‘sempit’ oleh pasangannya.

Bagi perempuan yang ingin ‘lebih sempit’, dokter di Belanda menyarankan mereka untuk berlatih mengerutkan otot panggul mereka. Ini mirip dengan aktivitas otot tersebut ketika seseorang menahan buang air kecil.

Tegangnya otot panggul adalah saran yang juga diresepkan oleh dokter kepada perempuan yang berharap dapat lulus menjalani “tes telur” di Maroko. Dengan mengencangkan otot panggulnya, perempuan tersebut berhasil melampaui “tes telur” yang harus dia jalani.

Lebih menyerupai fabel daripada fakta

Setiap jenis tes keperawanan yang bergantung pada pengamatan selaput dara atau kerapatan vagina hasilnya tidak definitif dan sering kali sama sekali tidak benar. Keyakinan bahwa lebih mudah untuk melihat keperawanan seorang perempuan daripada seorang laki-laki lebih merupakan sebuah dongeng daripada fakta ilmiah. Sayangnya, ini adalah dongeng yang masih banyak dipercaya dan dipraktikkan untuk menekan para perempuan.

Tidak seorang pun, baik perempuan maupun laki-laki, boleh dipaksa untuk dicek keperawanannya, terlepas dari kesahihan ujiannya.

Perlu dipikirkan, jika alat uji keperawanan yang saat ini dipakai sangat tidak dapat diandalkan, mengapa ada orang yang tega dan berani memaksakan dilakukannya ujian yang hanya didasarkan pada kesalahpahaman? Termasuk oleh Polri dan TNI kepada calon anggota perempuan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Sherria Ayuandini adalah research affiliate, University of Amsterdam.