November 11, 2020

‘The Queen’s Gambit’: Beth Harmon dan Bias terhadap Kemenangan Perempuan

Serial ‘The Queen Gambit’ di Netflix memperlihatkan bias terhadap kemenangan perempuan dan diskriminasi gender dalam olahraga.

by Retno Daru Dewi G. S. Putri
Culture // Screen Raves
Share:

Saya adalah pemegang sertifikat Dan 1 atau sabuk hitam tingkat pertama taekwondo. Tujuh buah medali dari kompetisi tingkat sekolah menengah dan universitas sudah saya kantongi sebelum saya memilih untuk fokus belajar dan bekerja.

Mengikuti olahraga bela diri sejak berusia 13 tahun sangat membantu saya dalam mengembangkan kepribadian. Taekwondo juga membuka mata saya tentang kesetaraan di antara perempuan dan laki-laki. Ketika berlatih, sering kali kami berpasang-pasangan dengan lawan jenis. Taekwondoin perempuan tidak ragu untuk berlatih menendang taekwondoin laki-laki, dan begitu juga sebaliknya. Selain itu, selama menjadi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo Universitas Indonesia, semua tugas, termasuk menggotong dan mengeluarkan peralatan latihan yang berukuran besar dan berat, dilakukan bergantian. Semua berlatih dan bekerja sama dengan setara.

Namun saya termasuk beruntung. Berbeda dengan Elizabeth “Beth” Harmon dalam serial Netflix, The Queen’s Gambit, saya tidak menggeluti olahraga di tahun 60an yang penuh dengan dominasi laki-laki.

Beth adalah atlet catur fiktif yang sangat brilian. Di usia sembilan tahun, dia mampu mengalahkan anggota-anggota klub catur di sekolah menengah setempat. Beth juga meraih gelar juara kompetisi catur tingkat negara bagian, nasional, hingga internasional. Walaupun Beth sangat berprestasi, menjadi atlet olahraga catur yang didominasi oleh laki-laki di tahun 60an sangat menantang bagi perempuan.

Baca juga: Kapten Cantik, Bidadari Lapangan: Kosa Kata Media untuk Sepak Bola Perempuan

Di awal kariernya, Beth dianggap tidak mampu memenangkan kompetisi catur karena jenis kelaminnya. Dia juga sempat mendapatkan perlakuan seksis dari media yang hanya fokus pada penampilan dan melupakan prestasinya. Hal ini mengingatkan saya akan judul-judul seksis media-media di Indonesia ketika meliput Defia Rosmaniar, yang mempersembahkan sembilan medali untuk Indonesia pada kompetisi taekwondo tingkat internasional selama tujuh tahun terakhir.

Perlakuan serta komentar seksis bagi atlet perempuan masih terjadi hingga hari ini (masih ingat Serena Williams yang disuruh senyum?). Dan seperti Beth Harmon, diskriminasi terhadap perempuan di bidang olahraga juga masih berlangsung, seperti kesenjangan dalam honor yang diterima perempuan dan laki-laki, misalnya. Pada The Queen’s Gambit, Beth diremehkan dan baru diakui setelah dia meraih gelar juara kompetisi catur negara bagian Kentucky. Dia harus menjadi cemerlang di tingkat negara bagian terlebih dahulu untuk mendapatkan pengakuan dari komunitas catur yang mayoritas beranggotakan laki-laki. Setelah itu, tidak ada halangan yang berarti bagi Beth untuk memenangkan berbagai kompetisi dengan tingkat kesulitan yang tidak kalah menantang. Sayangnya, serial televisi yang disutradarai oleh Scott Frank ini mengesampingkan bakat Beth sebagai satu-satunya faktor yang membuatnya berprestasi.

Bias patriarki

Sejak kecil, Beth memiliki ketergantungan pada obat penenang yang membantunya meraih kemenangan. Pertama kali Beth berkompetisi di usia sembilan tahun, dia dibekali beberapa pil penenang oleh sahabatnya, Jolene. Bahkan Beth direpresentasikan sebagai atlet yang tidak dapat mempelajari strategi-strateginya tanpa mengonsumsi obat penenang berwarna hijau tersebut sebelumnya.

Baca juga: Pro Gamer Perempuan: Selain Jago, Harus Cantik

Ketergantungan pil-pil hijau yang membantu Beth memenangkan kompetisi terlihat seperti pandangan pesimis patriarki yang bias akan prestasi perempuan. Perempuan-perempuan berprestasi ada kalanya dilabeli dengan hal-hal lain di luar bakat yang dimilikinya. Omongan-omongan usil seperti, "Pasti dia kenal sama panitia kompetisinya", "Iyalah pintar, kan dia anaknya Bapak A", atau "Oh ya jelas berprestasi, kan dia menikah sama si Mas B" sering kali dilontarkan untuk mengomentari mereka.

Pola pikir patriarki masih melanggengkan “pil-pil hijau” yang selalu dilekatkan pada perempuan. Bahkan tidak jarang ada bias terhadap kemenangan perempuan, dianggap meraih kemenangan karena penampilannya yang menarik. Atau mereka yang berpenampilan menarik dianggap tidak layak untuk memiliki prestasi yang gemilang, seperti yang dialami oleh Beth.

Saya dan taekwondoin perempuan lain beruntung karena pada kompetisi taekwondo, seperti olahraga lain pada umumnya, kami dipisah berdasarkan jenis kelamin. Sehingga, penilaian yang diberikan murni karena kemampuan kami. Namun hal ini bukan berarti kami bebas dari komentar seksis media dan alasan “pil-pil hijau” sebagai faktor lain yang memengaruhi kemenangan kami. Beth memang pada akhirnya berhasil membuang pil-pil tersebut namun tetap mencari gantinya, seakan-akan ketergantungan dilekatkan pada perempuan dalam meraih prestasi. Apalagi pada bidang yang didominasi oleh laki-laki.

Pelanggengan anggapan perempuan memiliki emosi berlebihan ketika menstruasi adalah keliru. Apa yang membuat atlet menang atau kalah ketika bertanding adalah bakat dan strategi yang mereka miliki, bukan emosi.

Selain itu, yang sangat mengganggu saya adalah bagaimana kompetisi yang dilalui Beth bersamaan dengan siklus menstruasi yang dialaminya untuk pertama kali. Tidak hanya representasi kram perut dan keluarnya darah yang sangat tidak alami, Scott Frank menciptakan adegan di mana Beth meninggalkan kompetisi untuk mengonsumsi obat penenang. Seolah-olah kami, perempuan, tidak mampu beraktivitas dan melewati berbagai macam tekanan ketika sedang menstruasi.

Ingatan saya pun kembali ke masa-masa di mana saya sering kali mengalami hari pertama menstruasi bertepatan dengan hari saya bertanding taekwondo. Tidak ada darah yang mengucur berlebihan, dan saya juga termasuk perempuan yang beruntung karena tidak membutuhkan penghilang rasa sakit setiap menstruasi. Sehingga gambaran emosi Beth yang digambarkan mengganggu kompetisinya tidak bisa saya sepakati sebagai perempuan.

Pelanggengan anggapan perempuan memiliki emosi berlebihan ketika menstruasi adalah keliru. Apa yang membuat saya menang atau kalah ketika bertanding adalah bakat dan strategi yang saya miliki, bukan emosi. Saya yakin atlet-atlet perempuan di luar sana juga seperti itu. Sangat disayangkan Beth digambarkan jauh dari representasi perempuan yang sebenarnya. Tapi apa boleh buat, sutradara laki-laki dengan male gaze mereka pasti selalu memiliki kekurangan dalam mentransformasi perempuan dari dunia nyata ke dalam karyanya.

Baca juga: Pembatasan Level Testosteron pada Atlet Perempuan Munculkan Diskriminasi

Maskulinitas rapuh

Menyimak perjuangan Beth juga mengingatkan saya akan fenomena mansplaining yang umum dialami perempuan yang berprestasi. Dua tokoh laki-laki, Harry dan Benny, adalah atlet-atlet catur yang kalah di tangan Beth. Akan tetapi mereka berusaha mengajari dan mengatur gaya bermain Beth, serta menjauhkan atlet catur tingkat nasional tersebut dari obat penenang dan alkohol. Walaupun terdengar positif, sifat Harry dan Benny yang serba mengatur hanyalah bentuk lain dari toxic relationship yang secara drastis menjauhkan Beth dari pribadi dan gaya bermainnya sendiri. Sehingga ketika kambuh, Beth kehilangan kendali dan mengonsumsi zat-zat adiktif secara berlebihan.

Selain mansplaining, sifat minder laki-laki turut muncul ketika Harry membantu Beth mengasah strategi dalam bermain catur. Harry, yang selalu kalah oleh sang juara, merasa egonya terancam lalu mengatakan bahwa Beth terlalu pintar untuknya dan meninggalkan Beth keesokan harinya. Keminderan laki-laki seperti ini juga sering kali muncul ketika mereka mengetahui bahwa saya seorang taekwondoin. Ujaran norak, "ih ngeri banget", keluar dari mulut mereka, seolah-olah bahwa perempuan yang menggeluti olahraga bela diri menyeramkan.

Mungkin mereka berekspektasi agar saya beralih ke olahraga lain agar tidak terkesan menakutkan di mata laki-laki. Namun, seperti Beth yang tidak bergeming ketika Harry pergi, saya juga tidak berusaha untuk membuktikan bahwa saya tidak seganas yang mereka kira. Bukan tanggung jawab saya dalam menangani maskulinitas mereka yang rapuh. Toh, yang tidak minder pasti akan memuji dan menanyakan prestasi serta keaktifan saya dalam berolahraga. 

Diskriminasi hari ini mungkin tidak seekstrem yang dihadapi Beth. Namun, masyarakat masih saja melekatkan “pil-pil hijau” pada perempuan yang berprestasi. Kemampuan perempuan yang cemerlang masih sering diremehkan dan dianggap sebagai hasil bantuan faktor-faktor eksternal selain bakat dan kepintaran mereka sendiri. Hal ini diperburuk dengan pelanggengan oleh media bersudut pandang patriarki yang seksis sehingga kesuksesan perempuan tertutup oleh asumsi-asumsi yang menjustifikasi usangnya pemikiran masyarakat.

Ibu Beth, Alice Harmon, PhD., berpesan pada Beth kecil, "Men are gonna come along and wanna teach you things. Doesn’t make them any smarter. In most ways, they’re not. But it makes them feel bigger." Abaikan mereka yang memiliki ego rapuh serta percaya diri yang kerdil. Perempuan harus terus berani maju mendobrak pola pemikiran patriarki. Sehingga pintu kesempatan bagi perempuan semakin terbuka lebar dan ketidakadilan bisa dihilangkan. 

Selain mengampu mata kuliah Bahasa Inggris Akademik, Daru adalah pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia. Topik-topik yang diminati Daru adalah isu gender, kesehatan mental, filsafat, bahasa dan sastra.