Women Lead
January 04, 2021

Toilet Ruang Kesadaran

Toilet adalah surga yang ditinggalkan, tempat para gadis mengobrol diam-diam.

by Agung Wibawanto
Culture // Prose & Poem
Share:

Toilet adalah surga yang ditinggalkan itu
Para gadis ngobrol diam-diam kalau di luar
Lalu di dalam sini kami saling merapikan
Anak laki-laki tak henti-hentinya berfantasi
kami ini hanya boneka mereka
Dan para orang tua selalu cemas
setiap kali kami lebih berani

Bersinar ganas bagai setan
Malaikat mereka mati
Demi melahirkan pelacur manis

Anak-anak perempuan Lilith
Tubuh kami roh yang paling murni




Aku punya rahim dan aku senang menyisir
Rambut saudariku. Cokelat meliuk-liuk

Kami adalah kobaran api
Dunia di luar itu selalu membingkai
Mengatur letupan-letupan pikiran kami
Tapi bayangan dalam cermin toilet adalah milikku
Suatu pohon berdaun rimbun
Saudari. riasan wajah adalah panggilan kita
Mencipta cahaya di celah tembok biru

Aku sungguh tersesat di mana-mana
kecuali tubuhku
Aku menyentuhnya
Kebenaran lalu menjelma suatu pulau
para Dewi.

Enrekang, 21 Desember 2020

Femme Fatale

Tadi pagi, matahari riang dan ringan di papan
pengumuman. Terselip di lima rupa jariku.
Aku mengganti arah angin. Agar matahari
tidak putus.
Tapi, jalan berliku melerai rambutku.
Prang!
Meletus balon kuning. Apa Twitter berkicau?
Unggah saja.

Baca juga: Puisi Latar Film dan Atap Rumah

aku mencari pikiran yang terjebak di beranda kaca
mungkin kelelahan untuk
                                        menggali yang
                                                               sering ditinggali
barangkali ada sepasang sayap burung.
Dan sebagian kita membidik salah sepasang itu
hingga jatuh di bawah kaki meregang nyeri
dengan kengerian.

Lalu beberapa waktu lampau, tidak sedikit yang menjadi
keras dan
               beringas. Sebab beberapa
meneriakkan haknya di jalanan yang pengap dengan
     tatapan tajam para hantu
         masa kelam.

Aku ingin mendengarkan dinding kota yang sudah reot itu
runtuh!
saat engkau yang mengandung kasih dan kelembutan itu
bersatu-padu.

Makassar 19-20 Desember 2018

Hantu itu Masih Nyata

kepada
puan yang takut kehilangan tuhan
adakah surga
bagi para korban
di bumi?

tuan-tuan yang memelihara moralitas
sendal
dari dunia tak kasat mata
hantu-hantu adalah protes masa lalu yang
tak bisa menyentuh

telinga kami kenyang
kabar pelecehan begitu meradang
di jalanan, di kelas, di ruang kerja, di rumah,
di kamar, di mana-mana pokoknya di sekitar
selangkangan pasti rawan
tubuh ini milik siapa sebenarnya?

Baca juga: Irama Rima Belaka

haruskah mereka mati sekali lagi
dan menjadi dedemit penghuni jembatan
lalu menjadi cerita urban
lalu diangkat ke layar lebar

dan tuan dan puan terpingkal-pingkal
menyaksikan dunia perhantuan ini begitu
komidi

dan ketika anakmu mulai bertanya,
maka kau pun dendangkan ninabobo
: itu cuma mitos. tidak boleh dipercaya.
  takut hantu itu syirik.

sementara itu, hantu yang sesungguhnya
masih menjajah hak-hak kita

Makassar, 2019

Monolog

Ada perempuan dalam benakku,
khawatir.
Dia takut suatu waktu,
yang melamar,
datang menawar janji dan mahar.

Ada perempuan dalam benakku,
sendu.
Dia bisik dengan mata yang mendung,
nanti tak rela dimadu, hingga
menjadi benalu.

Ada perempuan dalam benakku,
merana.
Bagaimana dia kelak menyemai cinta,
jika yang saat ini meminang,
karena takut jatuh ke zina.

Ada perempuan dalam benakku,
ragu-ragu
lalu
mengadu
malu
“Apakah kau seperti itu?”

Makassar, 30 Oktober 2017

Agung Wibawanto, sedang belajar menulis kreatif di Institut Sastra Makassar. Sekarang usia saya 26 tahun dan senang merawat dua ekor kucing hitam-putih jantan kembar bernama Dali dan Lorca. Mereka sangat menggemaskan asalkan kenyang.