Toilet Ruang Kesadaran
Toilet adalah surga yang ditinggalkan, tempat para gadis mengobrol diam-diam.
Toilet adalah surga yang ditinggalkan itu
Para gadis ngobrol diam-diam kalau di luar
Lalu di dalam sini kami saling merapikan
Anak laki-laki tak henti-hentinya berfantasi
kami ini hanya boneka mereka
Dan para orang tua selalu cemas
setiap kali kami lebih berani
Bersinar ganas bagai setan
Malaikat mereka mati
Demi melahirkan pelacur manis
Anak-anak perempuan Lilith
Tubuh kami roh yang paling murni
Aku punya rahim dan aku senang menyisir
Rambut saudariku. Cokelat meliuk-liuk
Kami adalah kobaran api
Dunia di luar itu selalu membingkai
Mengatur letupan-letupan pikiran kami
Tapi bayangan dalam cermin toilet adalah milikku
Suatu pohon berdaun rimbun
Saudari. riasan wajah adalah panggilan kita
Mencipta cahaya di celah tembok biru
Aku sungguh tersesat di mana-mana
kecuali tubuhku
Aku menyentuhnya
Kebenaran lalu menjelma suatu pulau
para Dewi.
Enrekang, 21 Desember 2020
Femme Fatale
Tadi pagi, matahari riang dan ringan di papan
pengumuman. Terselip di lima rupa jariku.
Aku mengganti arah angin. Agar matahari
tidak putus.
Tapi, jalan berliku melerai rambutku.
Prang!
Meletus balon kuning. Apa Twitter berkicau?
Unggah saja.
Baca juga: Puisi Latar Film dan Atap Rumah
aku mencari pikiran yang terjebak di beranda kaca
mungkin kelelahan untuk
menggali yang
sering ditinggali
barangkali ada sepasang sayap burung.
Dan sebagian kita membidik salah sepasang itu
hingga jatuh di bawah kaki meregang nyeri
dengan kengerian.
Lalu beberapa waktu lampau, tidak sedikit yang menjadi
keras dan
beringas. Sebab beberapa
meneriakkan haknya di jalanan yang pengap dengan
tatapan tajam para hantu
masa kelam.
Aku ingin mendengarkan dinding kota yang sudah reot itu
runtuh!
saat engkau yang mengandung kasih dan kelembutan itu
bersatu-padu.
Makassar 19-20 Desember 2018
Hantu itu Masih Nyata
kepada
puan yang takut kehilangan tuhan
adakah surga
bagi para korban
di bumi?
tuan-tuan yang memelihara moralitas
sendal
dari dunia tak kasat mata
hantu-hantu adalah protes masa lalu yang
tak bisa menyentuh
telinga kami kenyang
kabar pelecehan begitu meradang
di jalanan, di kelas, di ruang kerja, di rumah,
di kamar, di mana-mana pokoknya di sekitar
selangkangan pasti rawan
tubuh ini milik siapa sebenarnya?
Baca juga: Irama Rima Belaka
haruskah mereka mati sekali lagi
dan menjadi dedemit penghuni jembatan
lalu menjadi cerita urban
lalu diangkat ke layar lebar
dan tuan dan puan terpingkal-pingkal
menyaksikan dunia perhantuan ini begitu
komidi
dan ketika anakmu mulai bertanya,
maka kau pun dendangkan ninabobo
: itu cuma mitos. tidak boleh dipercaya.
takut hantu itu syirik.
sementara itu, hantu yang sesungguhnya
masih menjajah hak-hak kita
Makassar, 2019
Monolog
Ada perempuan dalam benakku,
khawatir.
Dia takut suatu waktu,
yang melamar,
datang menawar janji dan mahar.
Ada perempuan dalam benakku,
sendu.
Dia bisik dengan mata yang mendung,
nanti tak rela dimadu, hingga
menjadi benalu.
Ada perempuan dalam benakku,
merana.
Bagaimana dia kelak menyemai cinta,
jika yang saat ini meminang,
karena takut jatuh ke zina.
Ada perempuan dalam benakku,
ragu-ragu
lalu
mengadu
malu
“Apakah kau seperti itu?”
Makassar, 30 Oktober 2017