August 18, 2017
Trauma Kekerasan Akademis

Pelecehan dan tekanan dari seorang dosen membuat mahasiswi ini trauma dengan lingkungan akademis.

by Raline
Issues // Politics and Society
Share:
Saya seorang mahasiswi angkatan 2011 fakultas Ilmu Budaya di salah satu universitas negeri di Indonesia. Awal 2016 kemarin saya telah menyelesaikan ujian proposal dan disibukkan oleh kegiatan bimbingan penulisan skripsi dengan dua orang pembimbing.

Pembimbing pertama adalah dosen yang cukup akrab dengan saya. Selain mengikuti mata kuliah yang dibawakannya, kadang-kadang kami juga terlibat diskusi di beberapa forum. Sementara pembimbing yang kedua adalah dosen yang saya tidak kenal sama sekali bukan karena tidak pernah mengambil mata kuliahnya, melainkan wajahnya hampir tidak pernah muncul, baik itu dalam forum diskusi atau sekedar lalu lalang di sekitar kampus. Menurut para senior saya, dia adalah seorang dosen di fakultas ini namun beberapa tahun belakangan ia tengah menyelesaikan gelar doktoralnya di benua lain dan akhirnya kembali lagi ke sini.

Di hari pertama bimbingan semuanya berjalan dengan baik, saya mulai berkenalan dengan pembimbing baru, suasananya sangat menyenangkan ia ternyata lebih santai dari yang saya duga. Namun selama dua bulan bimbingan, ia sering merayu saya dengan menanyakan hal-hal pribadi saya, mulai dari nama pacar saya sampai alasan mengapa ia sering mengantar saya ketika bimbingan. Semuanya saya jawab  dengan santai karena saya masih menganggap itu adalah salah satu cara yang dia gunakan untuk mengakrabkan diri dengan mahasiswa. Ia juga kerap menelepon saya untuk mengajak ngopi bersama di luar. Karena jadwal saya begitu padat, maka ajakannya sering saya tolak dengan halus.

Selang tiga bulan setelah bimbingan selesai, rencananya saya akan mendaftar sidang skripsi sehingga saya kembali lagi berkonsultasi dengan beliau guna meminta tanda tangan persetujuan sidang skripsi yang telah disetujui oleh pembimbing pertama. Namun responnya kali ini sangat berbeda dari sebelumnya. Ia sepertinya enggan meladeni saya, dan berkali-kali ia menentukan jadwal bimbingan pukul 9 pagi namun baru ingin bertemu pada pukul 6 sore dengan alasan yang tidak masuk akal seperti, "Maaf hari ini saya sibuk.” “Saya akan keluar sebentar membeli galon. Kamu pulang saja!"

Karena merasa dikejar waktu, maka saya melakukan segala cara untuk mendapatkan tanda tangan dan menemukan momen yang pas untuk berbicara. Kami kemudian berjanji bertemu sehabis makan siang di ruangan dosen. Setelah makan siang ia kemudian merevisi skripsi saya dan mencoret nyaris semua halaman pada bab 1-3 yang ia bimbing sendiri, lalu membeberkan skripsi saya di depan semua dosen yang ada di ruangan itu. Jadilah saya bahan bulan-bulanan mereka. Mereka seperti mengolok-olok skripsi saya dan menertawakannya beramai-ramai, hal yang sangat tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.




Saya menerima banyak sekali kekerasan verbal pada hari itu. Mereka bahkan mengatakan saya menyogok pembimbing pertama agar bisa mendapatkan tanda tangannya. Karena tidak tahan diperlakukan seperti itu, saya pun buru-buru pamit dan pulang dengan bercucuran air mata.

Keesokan harinya saya tetap datang lagi dan memulai bimbingan pukul 6 sore. Waktu itu saya bersama seorang teman perempuan yang kebetulan ingin melakukan bimbingan juga dengan beliau. Tibalah giliran skripsi saya untuk direvisi, ia kembali mencoret-coret skripsi saya tanpa perasaan dan menyuruh saya mengganti rumusan masalah yang jelas-jelas telah ia setujui beberapa bulan yang lalu.

Tidak terima dengan hal ini, saya kemudian angkat bicara membela hak saya. Namun ia sepertinya semakin berang dan mengatakan bahwa saya terlalu terobsesi untuk menjadi sarjana. Ia juga menyarankan kepada saya agar tidak usah terburu-buru mengejar pendidikan karena biayanya tidak murah. Saya cukup tinggal di rumah merias diri, lalu menikahi pria yang mapan. Ia juga beberapa kali mencolek lengan saya sambil mengeluarkan kata-kata ancaman kepada saya.

Karena merasa terancam dan berpikir bahwa sudah tidak ada harapan lagi untuk menyelesaikan hal ini, saya akhirnya memilih pindah ke luar kota. Pupus sudah harapan keluarga untuk melihat anak pertamanya memakai toga. Banyak keluarga yang bertanya-tanya dan memaksa saya agar segera diwisuda tanpa mengerti kondisi saya yang sebenarnya.

Saya sadar tindakan yang saya ambil ini adalah tindakan pecundang yang memilih lari dari masalah daripada harus menyelesaikannya. Namun waktu itu saya tidak punya cukup nyali untuk bersuara, mengingat banyaknya ancaman-ancaman dari berbagai pihak yang mengintervensi, membuat saya semakin terpukul.

Saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan asing di Denpasar dan berpikir suatu hari nanti saya akan kembali melanjutkan pendidikan saya. Namun trauma akademis itu masih ada, masih membekas hingga sekarang.

Raline, 23 tahun, INTP-A, selalu mendebat pikiran-pikirannya sendiri.