Women Lead
June 10, 2021

Ria Ricis dan Perkara ‘Semua Demi Konten’

Ria Ricis dinilai tak sensitif membuat konten yang mengeksploitasi cerita kematian sang ayah.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Issues // Politics and Society
Share:

YouTuber Ria Ricis banjir hujatan usai mengunggah lima video berurutan di tengah kabar berpulangnya sang ayah, Sulyanto bin Sastro Martoyo, Jumat (4/6). Video-video itu di antaranya bertajuk Pa Aku Pulang, Rumah Baru Papa, Lihat Kamar Papa Terakhir Kali, Waerebo Tempat Saya Berduka, hingga Ulang Tahun Ibu Tanpa Papa. Selain memuat iklan (adsense) yang kurang etis, sang influencer ini juga dinilai nir-sensitif. Sama tak sensitifnya seperti Atta Halilintar yang membuat momen keguguran istrinya, Aurel Hermansyah sebagai sumber cuan di Youtube.

Apa yang dilakukan oleh Ria Ricis atau Atta Halilintar yang menjadikan kehidupan pribadi sebagai sumber konten YouTube, sebenarnya bukan fenomena baru. Di luar negeri, video yang berisi cerita kehidupan sehari-hari sudah populer sejak 2001 lewat acara realitas The Osbournes (2001-2005) yang menampilkan bintang rock Black Sabbath Ozzy Osbourne dan sang istri, Sharon, beserta anak-anak mereka. Berikutnya kita tahu, ada The Anna Nicole Show (2002-2004), Being Bobby Brown (2005), dan tentu saja yang paling terkenal, Keeping up with The Kardashians (2007-2021) yang konon mengantongi keuntungan US$930 ribu per episode, menurut catatan Stylecaster.

Bedanya, acara-acara tersebut muncul di televisi. Kini, platform media berkembang tapi jenis kontennya masih berupa kehidupan pribadi yang itu-itu saja. Dari catatan 10 besar kreator YouTube Social Blade 2019, empat di antaranya konsisten membuat konten tentang kehidupan pribadinya. Mereka adalah Baim Paula, Rans Entertainment, Atta Halilintar, dan Ricis Official.

Baca juga:  Perisakan Dunia Maya oleh Oknum Youtuber

Bukan tanpa alasan mengapa para pesohor itu membuat konten tentang kehidupan pribadi mereka. Mereka cuma orang-orang yang paham bahwa secara psikologis, manusia memang cenderung menikmati drama, apalagi drama kehidupan orang kaya dan terkenal, yang bisa menjadi pelarian dari kepenatan hidup sehari-hari. Jika lelah bekerja, tonton saja video Atta Halilintar naik helikopter pribadi, sembari mengkhayal tipis-tipis jadi orang kaya. Jika ingin belajar soal seluk beluk rumah tangga padahal pacar masih belum ada, tonton saja video Rans Entertainment atau Baim Paula.

Karena faktor itulah, para YouTuber rajin mengekspos cerita pribadi mereka. Jangan salahkan Ria Ricis jika ia kemudian begitu bernafsu mengeksploitasi momen meninggalnya sang ayah. Jangan salahkan juga Atta Halilintar yang mengobral cerita keguguran istrinya yang juga seorang selebritas itu. Mereka cuma hamba adsense dan pemuja traffic yang sadar betul, memang harus begini jika memutuskan nyemplung ke Youtube.

Perlu diketahui, logika bisnis YouTube memang menempatkan penonton sebagai penyiar sekaligus. Maksudnya, penonton bisa mempublikasikan sendiri konten kreasinya, lalu mendapatkan penghasilan dari para pengiklan. Berikutnya, YouTube bekerja memaksimalkan algoritme agar bisa memberikan sugesti video kepada penonton. Video jenis apa? Kamu sudah bisa menebaknya, dong. Pasti enggak jauh-jauh dari unsur bombastis, sensasionalitas, dan mengaduk-aduk emosi penontonnya.

Jika beruntung, maka para penonton YouTube yang oleh Statista.com dinobatkan sebagai audiens media sosial terbanyak Indonesia 2019 (88 persen), akan mampir menonton videomu dan membuat pundi-pundimu bertambah lewat klik-klik mereka.

Baca juga: Di Internet, Perempuan Influencer Tak Pernah Bisa Jadi Diri Sendiri

Yang Absen dari Konten Ria Ricis

Meskipun saya tak sepenuhnya menyalahkan Ria Ricis karena kontennya yang tak sensitif dan cenderung sensasional, tapi bukan berarti ia tak layak dikritik. Buat saya yang cuma rakyat jelata, saya merasa posisi saya dan Ria Ricis sangat timpang dalam relasi kreator-audiens.

Karena itulah saya berkeyakinan, Ria Ricis punya tanggung jawab moral untuk membuat konten bermutu demi cuan, eh maaf, maksudnya demi kepentingan publik. Konten bermutu ini banyak wujudnya, bisa konten edukatif maupun tayangan-tayangan kritis. Ini bukan preferensi pribadi tapi saya kira banyak yang sepakat bahwa konten prank itu tidak ada unsur memanusiakan manusia. Demikian halnya konten yang mengeksploitasi air mata ibu yang ditinggal mati suami, tak menarik sama sekali. Itu hanya tayangan yang membuat kita ingin sekali menyebut kreatornya sebagai orang yang menghalalkan segala cara demi konten.

Ria Ricis sendiri sudah selangkah lebih maju karena tidak tergoda mengeksploitasi konten-konten misoginis ala Logan Paul dan Sam Pepper yang menjebak perempuan di jalan dengan tali laso lalu memaksa mereka berciuman. Thank God, Ria Ricis juga tidak membuat konten-konten tak bermutu yang isinya nge-prank sampah kelompok LGBT ala Ferdian Paleka. Tapi tetap saja konten Ria Ricis sekarang belum membawa kebaikan apa pun buat saya selaku penonton setia top 3  trending video YouTube.

Baca juga: "Frame and Sentences" YouTube Channel Tackles Crucial Issues in Indonesia”

Sebagian orang mungkin merasa tak dirugikan jika Ria Ricis bikin konten soal ayahnya yang meninggal. Ketika dia bikin acara jalan-jalan ke Ragunan pun saya kira itu tak membawa pengaruh apa-apa dalam kehidupan kita. Toh, kalau enggak suka tinggal pindah channel. Tapi masalahnya, logika bermedia mestinya tidak sesederhana itu. Karena ini medium publik yang kita nikmati bersama, ada tanggung jawab yang harus diemban para kreator untuk mengurangi polusi-polusi visual dan emosional di YouTube. Soalnya berharap ke pemerintah, kan, sepertinya agak sulit, ya.

Jadi, sebagai penonton yang cerdas dan sedang berikhtiar menularkan pengawasan publik berbasis kesadaran personal dan komunitas keluarga saya sendiri, setidaknya saya menuntut hak saya agar Ria Ricis bikin konten yang lebih baik, sensitif, dan kritis. Jangan melulu unsur sensasi yang dikedepankan.

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.