November 18, 2020

4 Cara Ajari Murid Keterampilan Menangkal Hoaks

Seorang guru di SMA di Jawa Timur berbagi tips untuk membekali murid dengan keterampilan menangkal hoaks di era media sosial.

by Masbahur Roziqi
Lifestyle
Virality of hate_SOcial Media_Hoax_Cyber_Digital_SarahArifin
Share:

“Pak, saya bingung. Akhir-akhir ini, ada saja pesan berantai WhatsApp (WA) yang masuk ke HP saya. Isinya ngajak ikut demolah, ngajak meneruskan pesan yang nadanya kayak menganggap remeh virus corona gitu, sampai pesan tidak jelas yang terkait virus corona gitu pak. Gimana ya Pak, caranya biar tidak terpengaruh?”

Pesan dari murid saya itu meluncur pada WA saya pada masa pembelajaran daring ini. Ia merasa resah setelah sempat mengabaikan pesan-pesan tidak jelas yang masuk ke HP-nya selama ini. Berangkat dari situ, dia memberanikan diri untuk bertanya kepada saya.

Saya pun langsung meresponsnya dengan mengatakan untuk terus mengabaikan pesan-pesan macam itu sementara waktu. Bersamaan dengan itu, saya memikirkan cara terbaik untuk membekali murid saya tersebut.

Tapi kemudian, melintas di benak saya pikiran kalau-kalau pesan WA berantai tidak jelas itu masuk tidak hanya pada satu anak saja? Bagaimana jika ke hampir semua murid di sekolah?

Saya mulai khawatir jika pesan itu adalah bagian dari menjamurnya hoaks di Whatsapp. Lantas saya berpikir, bagaimana kalau pembekalan tidak hanya saya berikan kepada satu murid saja supaya lebih banyak orang yang bisa menangkal hoaks di kemudian hari.

Selama pandemi, interaksi langsung antara murid, guru, dan teman-temannya sangat terbatas. Karenanya, menurut saya penting bagi para murid untuk punya keterampilan menangkal hoaks, apalagi sekarang banyak ditemukan kata-kata bernada negatif dan provokatif di media sosial. Jika para murid sudah tersulut, bisa muncul dampak tidak diinginkan seperti cyberbullying karena hoaks, pencemaran nama baik, hingga timbulnya konflik interpersonal.

Perkara ini semakin menjadi perhatian saya mengingat murid-murid masih berada di masa remaja, di mana tahap perkembangannya masih seputar pencarian jati diri. Siapa sih saya? Apa sih yang bisa saya lakukan? Wah, saya tidak bisa diam kalau ada berita kayak gini? Maju sudah, urusan akibat belakangan.

Ada tiga tujuan khusus yang saya harapkan dapat murid capai setelah memiliki keterampilan menyaring berita hoaks. Pertama, tujuan kognitif, yakni murid mampu menelaah mana saja yang termasuk hoaks. Selanjutnya, tujuan afektif, yakni murid meyakini pentingnya menguasai keterampilan menyaring berita hoaks. Terakhir, tujuan psikomotor, yakni murid mampu berlatih menyaring berita hoaks.

Baca juga: MadgeTalk: Pemberitaan Media Makin Tak Bermakna, Kita Harus Bagaimana?

Kegiatan pertama yang guru perlu lakukan adalah menyampaikan contoh-contoh berita hoaks yang marak ditemukan di lingkungan sekitar murid, atau yang murid ketahui sendiri. Dalam hal ini, guru lebih dulu memberdayakan murid dengan memberikan gambaran berita hoaks yang familier di kalangan murid daripada langsung menyampaikan pengertiannya.

“Ada sahabat kamu yang mengatakan dia melihat pacar kamu jalan bareng dengan tetangga kamu. Sahabat kamu itu bersumpah dia melihat dengan mata kepala sendiri. Tapi, dia lupa kapan melihat dan ciri-cirinya seperti apa. Apa yang akan kalian lakukan jika mendapat informasi seperti ini? Langsung melabrak pacar kamu? Langsung minta putus lewat telepon? Marah-marah kepada orang tua pacar anda atau saudara pacar kamu? Atau bagaimana kamu menyikapi info itu?”. Pertanyaan ini saya munculkan untuk memancing pemikiran kritis peserta didik.

Dari beberapa murid yang saya berikan pertanyaan awal tersebut melalui Google Form, ada sebagian yang memilih akan meluapkan emosi negatifnya pada sang pacar. Sebagian lainnya akan meminta waktu pada pacarnya untuk bertemu. Dari beberapa hasil tersebut, dapat terlihat ada murid yang langsung percaya pada informasi tersebut, padahal kebenaran informasinya belum jelas pada ilustrasi kasus tersebut. Itu artinya murid rentan pula menjadi korban hoaks.

Setelah itu, saya mengajak murid untuk menyelami dampak hoaks yang dekat dengan mereka. Contohnya, potensi munculnya bullying atau cyberbullying. Murid yang terpancing mempercayai berita hoaks akan rentan menjadi korban dan pelaku cyberbullying karena mereka merasa harus menunjukkan kuasa atau kekuatannya terhadap orang yang menurutnya membuat dia marah atau kecewa. Padahal, belum tentu informasi tersebut benar.

Selain itu, murid yang menjadi korban hoaks dan akhirnya menjadi korban cyberbullying yang cukup intens juga akan mengalami penurunan kesehatan mental. Jika murid ini tidak mendapatkan pertolongan psikososial pertama, akan muncul kemungkinan ia melakukan tindakan gegabah atau mengalami depresi. Bahkan yang terburuk, ia bisa terpikirkan untuk bunuh diri hanya karena ia ingin terlepas dari beban cyberbullying yang menimpanya.

Bagaimana sebaiknya menerapkan keterampilan menyaring berita hoaks itu? Saya mengusulkan beberapa tahapan untuk melakukannya, baik kepada murid maupun sesama rekan guru dan masyarakat luas.

Baca juga: Anggota DPR: Hoaks dan Fitnah Hambat Pengesahan RUU PKS

  1. Tahap identifikasi

Pada tahap ini, ada tiga kegiatan yang dilakukan para murid: Bersikap skeptis atas informasi atau berita yang dia terima; mencermati berita atau informasi yang dia terima; dan mengidentifikasi sumber berita.

  1. Tahap verifikasi

Pada tahap ini, murid mencari berbagai informasi yang berbeda dari informasi awal yang dia terima, kemudian dia dapat membandingkan informasi yang dia terima dengan penelusuran informasi yang dia lakukan. Dalam melakukan verifikasi, murid bisa menggunakan aplikasi penangkal hoaks untuk meyakinkan penelusuran mandirinya.

  1. Tahap evaluasi

Pada tahap ini, murid membaca kembali hasil temuan verifikasi informasi yang telah dia lakukan. Kemudian, murid memastikan tidak ada hal rancu atau meragukan pada berita atau informasi yang telah dia verifikasi, dan murid mempertimbangkan dampak positif dan negatif atas informasi atau berita tersebut.

  1. Tahap pengambilan keputusan

Pada tahap ini, murid menetapkan informasi atau berita tersebut hoaks atau bukan. Tidak hanya itu, setelah mempertimbangkan dan memutuskan status berita tersebut, murid juga mesti bertanggung jawab atas keputusannya, apalagi bila ia berpikir bahwa berita tersebut urgen untuk dibagikan. Seiring dengan ini, murid juga perlu menyertakan pesan agar orang lain juga melakukan pengecekan atas informasi yang dia bagikan.

Dengan melakukan tahapan-tahapan tersebut, saya berharap murid dapat berikhtiar untuk menangkal berita hoaks. Ini adalah bagian perjuangan generasi muda untuk melek hoaks, dan pada akhirnya bisa bersatu melawannya.

Masbahur Roziqi adalah guru bimbingan dan konseling SMA Negeri 2 Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.