November 18, 2020

4 Sutradara Perempuan Tombak Perfilman Korea Selatan

Sutradara-sutradara perempuan Korea Selatan tampilkan karya baik dan beragam di tengah dominasi laki-laki dalam industri.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
Women in Film Thumbnail, Magdalene
Share:

Parasite (2019) karya Bong Joon Ho menjadi film tanpa bahasa Inggris pertama yang meraih Piala Oscar kategori Best Picture adalah momen bersejarah industri film global dan Korea Selatan. Prestasi tersebut juga menjadi gebrakan kultural serta apresiasi untuk film di luar ranah Hollywood dari acara penghargaan yang dikritik kurang melibatkan keberagaman ras dan budaya. Dalam pidato kemenangannya di Golden Globe untuk film asing terbaik, Bong Joon Ho menyatakan bahwa banyak film menakjubkan lainnya dari negaranya.

Dunia sinema Korea Selatan memang telah melakukan terobosan sejak beberapa dekade terakhir, lewat film-film seperti Oldboy, Miracle in Cell No.7, The Handmaiden, Okja, hingga Train to Busan. Akan tetapi, industri film tersebut masih didominasi laki-laki.

Direktur Seoul International Women’s Film Festival, Kim Sunah mengatakan, rasio perempuan dan laki-laki di sekolah film adalah sebanding, yakni 50:50, tapi tingkat produksi film pendek adalah 30:70.

“Ketika membuat film panjang, hanya 12 persen yang dibuat perempuan, dan sebagian besar adalah produksi independen. Sedangkan untuk film panjang komersial, hanya 5 persen yang dibuat oleh perempuan,” ujarnya seperti dikutip Screendaily.com.

Ketimpangan partisipasi dalam proses produksi bukan satu-satunya masalah yang dihadapi perempuan, pelecehan dan kekerasan seksual di ranah kerja juga menjadi isu di industri film di Korea Selatan.

Gerakan #MeToo di AS, yang mengungkap kekerasan seksual oleh produser Harvey Weinstein, juga berlangsung di industri film Korea Selatan dan menyatakan sutradara Kim Ki-duk serta  aktor Cho Jae-hyun sebagai pelaku kekerasan seksual. Korban pelecehan maupun kekerasan tersebut yang sebagian besar adalah perempuan tidak ingin mengungkapkan kasusnya ke publik karena rasa takut dikucilkan dari industri.

Baca juga: 5 Drakor dengan Karakter Perempuan yang Anti-Stereotip

Sineas perempuan hingga badan perfilman, seperti Women in Film Korea dan badan pemerintah yang mempromosikan film, Korean Film Council (KOFIC), kemudian membentuk organisasi Centre for Gender Equality in Korean Film untuk melawan kekerasan seksual dan ketidakadilan gender. Organisasi tersebut melakukan riset, kampanye edukasi, konseling, pelaporan, dan pendampingan medis, hukum, maupun psikologis kepada penyintas.

Selain menyampaikan kesadaran anti-kekerasan seksual, ruang industri yang setara juga menjadi keinginan sineas perempuan. Salah satu cara untuk mencapai kesetaraan itu adalah mendukung maupun menambah karya dari sutradara perempuan dengan film yang memiliki karakter utama perempuan. Beberapa film dengan ciri tersebut adalah Kim Ji Young Born 1982,  Lucky Chan-sil, The House of Us, dan House of Hummingbird.

Berikut empat sutradara perempuan dengan film tentang kehidupan dari sudut pandang perempuan yang banyak diapresiasi penonton hingga kritikus film.

Yim Soon Rye

Foto: Hancinema

Sutradara veteran Yim Soon Rye tidak hanya bekerja sebagai pegiat film, tapi juga aktivis yang ikut mendukung gerakan #MeToo. Bersama Sim Jae-myung, CEO rumah produksi Myung Films, mereka menjadi direktur utama organisasi anti-kekerasan Centre for Gender Equality in Korean Film.

Salah satu filmnya yang memiliki tokoh utama dan menceritakan pergulatan perempuan ialah Forever The Moment yang diangkat dari kisah nyata atlet bola tangan Korea dalam Olimpiade 2004. Dari karya itu, Yim Soon Rye menerima penghargaan Filmmaker of The Year pada Women in Film Korea Awards.

Karya lainnya yang juga menerima pengakuan baik dari publik hingga kritikus film adalah Three Friends, Waikiki Brothers dan Little Forest.

Baca juga: Drama Korea ‘When the Camellia Blooms’ Tampilkan Ragam Identitas Perempuan

Yim Soon Rye mengatakan industri film adalah bidang yang masih didominasi laki-laki dan di tengahnya perempuan juga harus berjuang melawan masyarakat seksis. Pandangan itu lalu disampaikan dalam dokumenter Keeping The Vision Alive (2001). Ia berpendapat masih dibutuhkan ruang yang tidak bias dan ikut memberi dukungan bagi pegiat film perempuan. Tidak hanya di industri film, pemahaman kesetaraan gender di masyarakat juga perlu digaungkan agar terjadi perubahan.

Kim Do Young

Foto: Krtalk

Kim Do Young adalah sutradara yang mengangkat novel sarat kritik masyarakat patriarkal di Korea Selatan, Kim Ji-Young: Born 1982, ke layar kaca. Dikutip The Korea Herald, sebagai anak perempuan juga seorang ibu, Kim  Do Young banyak merefleksikan dan mengidentifikasi kondisi sosial yang memengaruhi kehidupan perempuan. Mulanya ia takut tidak bisa menyampaikan nilai dan pesan dari novel tersebut. Namun, ia tetap berpendapat bahwa cerita ini harus disampaikan.

Kim menerima penghargaan Best New Director dalam Baeksang Arts Awards untuk Kim Ji Young yang merupakan film panjang debutnya.

Sebelum memulai karier sebagai sutradara, ia adalah seorang aktris. Pada 2012, ia mulai merilis berbagai film pendek dan komersial. Salah satu film pendeknya, The Monologue, tentang kesulitan mengimbangi karier akting dan membesarkan anak, memenangkan Best Picture dalam Seoul International Women’s Film Festival.

Yoon Ga Eun

Foto: Hancinema

Kisah kehidupan anak-anak perempuan menjadi ranah keahlian sutradara Yoon Ga Eun. Dalam dua filmnya The World of Us dan The House of Us, Yoon Ga Eun menyajikan film dengan tema persahabatan, perundungan, konflik keluarga, dan perceraian lewat lensa anak-anak. Yoon Ga Eun mencoba menunjukkan dunia anak-anak secara autentik dengan mengamati cara mereka berperilaku dan membebaskan aktor anak-anak menginterpretasikan alur film.

Baca juga: Ini Satu Alasan Lagi Mengapa Harus Menonton Drama Korea

Yoon Ga Eun menerima penghargaan Best Screenplay pada Baeksang Arts Awards ke-53 dan Best New Director di Blue Dragon Film Awards untuk The World of Us. Ia juga membuat sejumlah film pendek, tentu dengan tokoh utama anak-anak. Sprout tentang seorang anak yang menemukan sejumlah hal baru yang tidak pernah ia ketahui, dan Guest tentang pengalaman anak perempuan menuju pubertas. Ia menerima penghargaan dari Berlin International Festival untuk Sprout dan Prague Short Film Festival untuk Guest.

Kim Bora

Foto: Hancinema

Sutradara dan penulis skenario Kim Bora mengguncang dunia perfilman Korea Selatan dengan film indie genre coming of age, House of Hummingbird, tentang anak perempuan 14 tahun, Eun Hee, dan pergulatan soal pertemanan serta keluarga yang lebih menyukai saudara laki-lakinya.

Film debut Kim Bora tersebut meraih deretan penghargaan dari festival film, beberapa di antaranya NETPAC (The Network for the Promotion of Asian Cinema) dan Audience Awards pada Busan International Film Festival, Best Feature di Berlin International Film Festival, hingga kategori sutradara terbaik pada Baeksang Arts Award ke-56.

Proses produksi Hummingbird berlangsung selama tujuh tahun sebelum akhirnya rilis pada 2018. Jalan panjang berbuah memuaskan ketika karyanya banyak diapresiasi publik.  Sementara itu, kegelisahan dan peristiwa yang dialami Eun Hee berkaca dari pengalaman pribadi Kim Bora semasa SMP.

Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan melihat semakin banyak festival film memutar dan menikmati karya dari sutradara perempuan, baginya itu adalah pertanda yang baik di masyarakat. Untuk sesama sineas perempuan ia berpesan agar tidak mengerdilkan diri dan tidak takut akan kesuksesan.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.