January 15, 2020
4 Tantangan Bagi Perempuan Saat Banjir dan Mengungsi

Kebutuhan dasar perempuan sering kali tidak dapat dipenuhi saat banjir dan mengungsi.

by Selma Kirana Haryadi
Issues // Politics and Society
Polusi_Sampah_Pencemaran lingkungan_SarahArifin
Share:

Banjir memang bencana buat semua orang. Tapi buat perempuan, ada keunikan tersendiri yang membuat banjir semakin menantang dan menyulitkan, apalagi jika harus sampai mengungsi.

Tantangan ini terutama terkait dengan kebutuhan dasar sanitasi yang tidak dapat dipenuhi, seperti terbatasnya akses air bersih bagi perempuan yang sedang mengalami menstruasi, hamil, dan melahirkan. Belum lagi kebutuhan para ibu dengan bayi dan anak di bawah lima tahun (balita), perempuan lansia, dan perempuan dengan disabilitas.

Pada tahun 2007, Kementerian Kesehatan telah menyusun Pedoman Pelaksanaan Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan. Disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, pedoman tersebut antara lain mengatur standar-standar bagi fasilitas yang disediakan di tiap-tiap pengungsian untuk korban bencana alam, termasuk sanitasi.

Sayangnya, keadaan yang mendesak sering membuat realisasi pedoman ini terhambat. Hal itu membuat perempuan harus segera menyadari bahwa semata menggantungkan nasib pada bantuan yang datang bukanlah pilihan yang tepat. Sebenarnya, apa saja tantangan yang harus dihadapi perempuan di tempat pengungsian? Apa pula kiat-kiat dan solusi yang bisa perempuan lakukan ketika bencana banjir terjadi?

  1. Minimnya akses air bersih

Air bersih jelas merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Bagi perempuan khususnya, air bersih ini juga dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan genital, terutama yang sedang menstruasi. Tetapi air bersih ini merupakan kemewahan saat terjadi banjir dan di tempat-tempat pengungsian. Padahal seharusnya setiap 4-5 jam sekali, perempuan yang sedang menstruasi mengganti pembalut/tampon yang digunakan sekaligus membersihkan vagina. Tisu basah mungkin bisa digunakan namun juga tidak ramah lingkungan.

Bila keterbatasan ini berlangsung dalam waktu lama, perempuan di pengungsian menjadi rentan mengalami penyakit dan infeksi pada alat kelaminnya. Oleh karena itu, Humanitarian Focal Point dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Muhemi mengatakan bahwa menjaga kebersihan alat kelamin harus menjadi prioritas utama perempuan.

“Sekalipun jumlah air bersih tidak cukup untuk mandi, perempuan harus tetap mengupayakan mencuci dan membersihkan alat kelaminnya. Khususnya untuk ibu yang sedang hamil dan menyusui, kebersihan payudara juga harus senantiasa dijaga,” ujarnya.

Tantangan lain juga datang dari para ibu yang membutuhkan lebih banyak air bersih dan popok untuk para anaknya. Bila kebutuhan itu tak terpenuhi, bayi dan anak juga bisa mengalami penyakit dan infeksi. Selain itu, Kementerian Kesehatan dalam dalam Buku Pedoman Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan tahun 2015 mencatat, minimnya akses air bersih juga bisa memunculkan risiko penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV (Human Immunodeficiency Virus) akibat alat medis yang tidak steril.

Baca juga: Perempuan Lebih Rentan Jadi Korban Bencana Alam, Ini Solusinya

  1. Minimnya ketersediaan pembalut

Jika ingin menyumbang pada korban banjir dan bencana alam, ingat juga bahwa pembalut adalah barang penting yang dibutuhkan. Ketersediaan pembalut selalu menjadi masalah di tempat-tempat pengungsian karena barang penting ini belum dijadikan prioritas bantuan. Pembalut yang tersedia di tempat penampungan korban atau pengungsian umumnya terbuat dari pakaian bekas sehingga mengandung banyak bakteri.

Ditambah lagi, banyak perempuan yang berpikir bahwa sedikitnya uang yang mereka miliki di pengungsian lebih baik digunakan untuk membeli makanan ketimbang pembalut yang layak. Hal ini juga membuat pengantian pembalut menjadi jarang dilakukan.

Muhemi dari PKBI menekankan pentingnya setiap perempuan yang tinggal di daerah rawan banjir untuk mempersiapkan dan memiliki emergency hygiene kit atau paket kebersihan darurat.

Kit ini dapat berisi pembalut, pakaian dalam baru, sabun, dan peralatan mandi lainnya. Sehingga ketika banjir terjadi, tiap perempuan bisa mengantisipasi keterbatasan yang ada di pengungsian,” ujarnya.

Namun, Dinda Nur Annisa dari Solidaritas Perempuan menilai persiapan emergency hygine kit bukan semata-mata menjadi tanggung jawab perempuan, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

“Itu membutuhkan kerja sama antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Misalnya persiapan kit itu juga bisa dibarengi dengan persiapan tas khusus yang berisi surat-surat berharga,” jelasnya.

Baca juga: Hanyut, Diculik, dan Berjuang Hidup: Kisah Penyintas Tsunami

  1. Sistem pembuangan limbah yang belum tepat

Perempuan yang sedang menstruasi biasanya membutuhkan lebih banyak ruang pembuangan sampah, seperti pembungkus tambahan. Sampah bekas pembalut perempuan dan popok anak seharusnya juga dibuang ke tempat sampah khusus. Namun kebanyakan tempat penampungan dan pengungsian belum memfasilitasi hal ini. Muhemi dari PKBI mengatakan, pengolahan limbah yang tidak tepat akan menciptakan genangan dan bau menyengat yang kelak menyebarkan virus dan bakteri.

“Sebelum dibuang, sampah bekas popok dan pembalut sebaiknya dicuci terlebih dahulu menggunakan air. Tidak perlu air bersih layak minum, tapi setidaknya air bersih. Kertas atau plastik pembungkus juga seharusnya bisa digunakan untuk membungkus sampah sebelum dibuang,” ujarnya.

  1. Minim ruang privat

Perempuan di pengungsian rentan mengalami pelecehan seksual seperti ketika berganti pakaian, mandi, mengganti pembalut, dan sebagainya. Hal ini umumnya disebabkan oleh lokasi sumber air bersih yang jauh dari pengungsian, penerangan yang kurang memadai, dan minimnya keamanan karena sistem jaga yang belum rutin.

Data Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 2018 menunjukkan bahwa kondisi MCK (mandi, cuci kakus) yang terbatas, gelap dan jauh membuat perempuan sering kali diintip dan dicolek-colek saat antrean panjang. Tenda-tenda pengungsian juga tidak memiliki ruang terpisah bagi perempuan hamil dan melahirkan, serta pemenuhan kebutuhan seksual pasangan suami istri. Akibatnya, perempuan dan anak perempuan rentan mengalami pelecehan seksual dan pemerkosaan, menurut Komnas Perempuan.

Dinda dari Solidaritas Perempuan mengatakan, minimnya ruang privat tidak menjadikan pelecehan seksual terhadap perempuan bisa dibiarkan.

“Satu-satunya alasan seseorang melakukan kekerasan seksual adalah isi kepalanya. Mereka melihat tubuh perempuan sebagai objek. Sehingga, ketika ada bagian tubuh perempuan yang terlihat, mereka menjadikan itu alasan untuk melakukan pelecehan seksual dan pemerkosaan. Penanganan bencana dan pemberian bantuan itu harus responsif dan sensitif gender,” ujarnya.

Muhemi dari PKBI merekomendasikan pemberian ruang privat sebagai prioritas dalam membuat fasilitas di pengungsian.

“Pembagian shelter di pengungsian seharusnya dilakukan berdasarkan kebutuhan tiap keluarga. Selama ini kan di situasi darurat pemisahannya laki-lakinya di sini, perempuannya di sana, anaknya terpisah. Itu sangat mengganggu perempuan,” katanya.

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Di tengah tumpukan tugas kuliahnya, Selma suka mendalami isu-isu politik, gender, dan hak asasi manusia. Hubungi Selma di Instagram @selma.kirana.