Women Lead
November 15, 2021

4 Tips Menghindarkan Anak Laki-laki dari ‘Toxic Masculinity’

Ini adalah tanggung jawab bersama suami dan istri untuk mengikis ‘toxic masculinity’ sejak usia dini.

by Putian
Lifestyle
Orangtua_Parenting_KarinaTungari
Share:

Kita mungkin sudah familier dengan ucapan “laki-laki tuh harus jago berantem”, “cowok kok enggak bisa naik motor?”, atau “laki-laki macam apaan tuh, ngangkat barang gitu aja enggak kuat?”.  Saat mendengar hal ini, enggak jarang laki-laki merasa kecil diri karena enggak sesuai dengan ekspektasi masyarakat terkait gendernya. Padahal, ucapan-ucapan macam itu hanyalah cerminan toxic masculinity yang tidak perlu laki-laki ikuti, apalagi sampai membuat insecure.  

Toxic masculinity mengacu pada tuntutan ekstrem dalam budaya patriarki kepada laki-laki, di mana mereka harus berperilaku dengan cara tertentu yang diikategorikan sebagai jantan atau “lakik”. Dalam toxic masculinity, kejantanan dikaitkan dengan kekuatan, kepemimpinan, serta usaha mengesampingkan emosi-emosi yang dianggap feminin. 

Faktanya, toxic masculinity sangat berbahaya baik bagi laki-laki sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Tekanan untuk menjadi kuat, pemimpin, atau selalu lebih unggul dari sesama laki-laki apalagi perempuan pada akhirnya bisa membuat laki-laki depresi. Menurut studi, banyak laki-laki tidak sadar saat mengalami depresi dan gengsi mencari bantuan profesional karena takut mendapat stigma dari masyarakat. 

Selain itu, ada juga studi yang menunjukkan bahwa laki-laki yang memiliki toxic masculinity cenderung melampiaskan emosi mereka ke arah negatif ketika egonya tersinggung atau hak istimewanya sebagai laki-laki terancam.

Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk mencegah anak-laki-laki mereka masuk ke dalam lingkaran toxic masculinity. Berikut ini empat tips yang bisa diikuti untuk melakukan hal tersebut.

Baca juga: Didi Kempot Meredam ‘Toxic Masculinty’

1. Setop Mengatakan Laki-laki Tidak Boleh Menangis

Hampir semua laki-laki pernah diperingatkan untuk tidak menangis ketika masih kanak-kanak. Kata-kata seperti “Udahan ih nangisnya, malu diliatin temannya. Masa cowok nangis?” kerap kali diucapkan oleh orang dewasa ketika melihat anak laki-laki meluapkan perasaan-perasaan seperti kesedihan, kekesalan, kekecewaan, dan ketakutan alih-alih mengajari mereka mengenal perasaannya. 

Padahal, menangis bukanlah hal yang buruk, melainkan ekspresi perasaan yang sangat sehat dan manusiawi. Entah bagaimana mulanya menangis dikategorikan sebagai ekspresi feminin yang dilekatkan pada gender tertentu.

Banyak laki-laki pada akhirnya mengalami depresi karena tidak pernah benar-benar diajarkan cara menerima dan mengelola emosinya. Dan, sebagian besar dari mereka tidak pergi mencari bantuan karena takut dipandang enggak lakik.

2. Ajari Menerima Penolakan dan Kekalahan Sebagai Hal yang Wajar

Ibu saya pernah meneruskan pesan Nenek ketika ia masih muda. Katanya, “Jangan sampai menyakiti hati laki-laki, bahaya. Kalau laki-laki sudah sakit hatinya, mereka bisa melakukan apa saja.”

Orang tua konvensional selalu mengajarkan kita untuk memaklumi maskulinitas rapuh laki-laki. Akibatnya, banyak laki-laki tumbuh dengan toxic masculinity. Menganggap bahwa cinta yang tak terbalas melukai gengsinya sebagai laki-laki

Selama saya membantu mendampingi korban kekerasan berbasis gender online (KBGO), saya melihat pola yang sama dalam banyak aduan yang masuk. Di antaranya, pelaku yang sakit hati karena ditolak cintanya, kemudian melakukan kekerasan seksual, dan pelaku yang melakukan penyebaran konten intim non-konsensual yang melibatkan mantannya karena ditolak untuk balikan.  Tidak bisa dimungkiri bahwa banyak pelaku kekerasan seksual ini adalah laki-laki. 

Ada kalanya saya menjadi begitu khawatir saat melihat tawa dan senyum anak laki-laki yang polos. Apa yang dilakukan masyarakat sehingga banyak anak laki-laki tumbuh menjadi pecundang yang menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah

Lalu saya ingat, sejak remaja, kita sering diberi tahu bahwa penolakan adalah hal yang memalukan. Laki-laki harus bisa menaklukan perempuan. Bisa menaklukkan banyak perempuan adalah kebanggaan dan tolok ukur kejantanan. Saya juga pernah mendengar kata-kata seperti penolakan dan kekalahan adalah istilah yang tidak boleh ada dalam kamus laki-laki.

Baca juga: Ivan Gunawan, Deddy Corbuzier, dan Maskulinitas vs. Feminitas

3. Berhenti Menuntut Anak Laki-laki Menjadi Makhluk Paling Kuat

Sejak kecil, saya sering melihat orang dewasa yang memupuk ego anak laki-laki mereka agar selalu bersaing satu sama lain dan menjadi yang paling kuat dalam hal apa pun. Misalnya, dalam satu kelompok permainan, pasti ada beberapa anak laki-laki yang fisiknya tidak sekuat temannya yang lain. Mereka sering kali dikatai cupu, lembek, atau kayak perempuan, bahkan oleh orang tua mereka sendiri. 

Kebanyakan orang tua mungkin menganggap mereka sedang melatih raga dan mental anak mereka agar menjadi tangguh dengan melakukan hal semacam itu. Padahal sebenarnya, hal tersebut hanya menghancurkan perasaan dan cara pandang sang anak terhadap dirinya sendiri. 

Beberapa anak bisa saja terpacu untuk menjadi kuat setelah dikatai seperti tadi. Lalu ketika mereka menjadi lebih kuat secara fisik, mereka berpotensi besar memiliki pola pikir yang sama—memandang rendah laki-laki yang tidak memiliki keahlian pada bidang-bidang yang mengandalkan kekuatan dan gerak fisik. Padahal, tidak semua laki-laki harus bisa seperti itu.

4. Setop Mengatakan Laki-laki Harus Menjadi Pemimpin

Laki-laki tidak harus selalu jadi pemimpin. Banyak laki-laki tidak memiliki leadership yang mumpuni. Banyak laki-laki memimpin hanya dengan bermodalkan ambisi dan narsistik, minim keterampilan, demikian kata seorang psikolog organisasi, Tomas Chamorro-Premuzi dalam TEDxUniversityofNevada. 

Saya sering mendengar orang dewasa mengatakan, ”Kok gitu aja enggak bisa? Gimana mau jadi pemimpin?” atau “Jadi laki-laki harus tegas karena kelak akan jadi pemimpin.” Menuntut laki-laki harus bisa memimpin merupakan penjajahan mental. Persis seperti patriarki menganggap pekerjaan rumah sebagai keterampilan yang harus dimiliki perempuan dan harus mereka kerjakan.

Laki-laki akan dianggap tidak becus bila tidak bisa memimpin. Padahal, tidak bisa memimpin bukanlah hal yang buruk, apalagi memalukan. Tidak bisa menjadi pemimpin bukan berarti tidak bisa diandalkan.

Kita perlu mulai memberitahu kepada anak, saudara, dan teman laki-laki kita bahwa menjadi pemimpin adalah sebuah keterampilan atau kompetensi, bukan kewajiban. Tidak memiliki kompetensi tersebut bukanlah masalah dan sama sekali tidak akan mengurangi keberhargaan seorang laki-laki sebagai manusia.

Sebuah studi yang dipimpin oleh Promundo berjudul “The Man Box: A Study on Being A Young Man in the US, UK, and Mexico” pada tahun 2017 berusaha mengulik pandangan sejumlah laki-laki tentang konsep kejantanan. Istilah man box sendiri mengacu pada seperangkat tuntutan terhadap laki-laki yang membuatnya menjadi “laki-laki sejati” di mata masyarakat. Laki-laki yang berada dalam man box adalah mereka yang masih terjerat standar kelaki-lakian masyarakat konvensional (toxic masculinity). Sedangkan, laki-laki yang berada di luar man box adalah mereka yang sudah bisa membebaskan diri dari seperangkat aturan kejantanan. 

Sebuah kesimpulan penting dari penelitian ini adalah keluar dari man box bukanlah hal yang dapat dilakukan sendiri oleh laki-laki. Untuk mendobrak pandangan sempit masyarakat tentang konsep kejantanan, baik laki-laki maupun perempuan harus terlibat, terutama mereka yang telah menjadi orang tua. Kontribusi awal yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan empat poin di atas.


Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Putian bercita-cita memiliki rumah kecil di pinggir danau. Ia senang menulis cerpen, puisi, dan esai, khususnya seputar isu gender, seksualitas, dan self-love.