June 24, 2020
5 Pemikiran Filsuf Terkenal yang Sungguh Patriarkal

Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dan tak pantas bekerja di ranah publik telah disuburkan oleh sejumlah filsuf sejak berabad-abad lalu.

by Selma Kirana Haryadi
Issues // Feminism A-Z
Share:

Nama-nama mereka mungkin sudah kita hafal di luar kepala. Begitu pula dengan pemikiran mereka yang dikutip dalam berbagai literatur dengan beragam topik bahasan, dari politik, negara, pemerintahan, retorika, seni, hingga sains. Meski disebut-sebut memiliki kontribusi besar terhadap peradaban manusia, para filsuf laki-laki kenamaan ini tak jarang yang memiliki bias gender dan tak banyak yang menyoroti hal tersebut.

Sejumlah filsuf ini menjadi pencetus pemikiran-pemikiran seksis dan mewajarkan budaya patriarkal yang menomorduakan perempuan. Jangankan bersahabat, mereka bahkan menolak konsep bahwa perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki di segala aspek kehidupan.

Selain tidak memberikan ruang bagi kesetaraan gender dan kemajuan kaum perempuan, filsuf-filsuf ini bahkan memandang perempuan seolah-olah sebagai musuh bagi dunia maskulin yang seharusnya hanya didominasi oleh laki-laki.

Apa saja pemikiran patriarkal para filsuf ini? Simak lima poin berikut ini untuk memahami bagaimana budaya patriarki telah menjadi persoalan mendasar yang turut dilanggengkan bahkan oleh mereka yang dinilai cerdas dan terpelajar. 

  1. Perempuan adalah makhluk tidak sempurna

Ada laki-laki sebagai makhluk sempurna yang diciptakan untuk menjalani kehidupan di ranah privat dan ranah publik. Sementara itu, perempuan sebagai makhluk tidak sempurna yang memiliki banyak kecacatan baik secara biologis maupun psikis. Aristoteles adalah salah satu filsuf yang mencetuskan pemikiran tersebut.

Ia menganggap perempuan sebagai makhluk yang memiliki sifat khusus yang kurang berkualitas. Katanya, “A female is an incomplete male or 'as it were, a deformity'. Kita (laki-laki) harus memandang sifat perempuan sebagai sebuah ketidaksempurnaan alam.”

Menurut Aristoteles pula, janin tercipta dari penyatuan sperma dan darah menstruasi. Ia kemudian menarik benang merah antara sifat biologis organ reproduksi perempuan dan laki-laki beserta zat yang mereka hasilkan dan mengatakan bahwa perempuan hanya menyediakan hal yang pasif, sementara laki-lakilah yang berkontribusi secara aktif memberikan kekuatan, irama, dan aktivitas.

Baca juga: Sejarah Mikroba, Makanan Beku, dan Gelombang Feminisme

Hipokrates juga memiliki pandangan serupa dengan mengakui keberadaan dua jenis janin, yaitu si lemah (perempuan) dan si kuat (laki-laki).

Anggapan mengenai bawaan perempuan yang “tidak sempurna” ini banyak disinggung Simone de Beauvoir dalam bukunya yang legendaris, The Second Sex (1949). Ia membantah teori-teori banyak filsuf, termasuk Aristoteles, yang memvalidasi posisi subordinat perempuan karena bawaan biologis mereka yang pasif.

Menurut de Beauvoir, dalam proses penyatuan biologis, sel kelamin jantan dan betina telah kehilangan individualitasnya. Mereka membaur hingga menghasilkan sebuah senyawa baru yang substansial. Dengan demikian, tidak ada lagi si pasif dan si aktif maupun si dominan dan si submisif. Keduanya memiliki peran dan fungsinya masing-masing yang meski memiliki perbedaan, tetap sama pentingnya.

  1. Perempuan tidak bisa sukses tanpa andil laki-laki dalam hidupnya

Aristoteles juga berpendapat bahwa laki-laki seharusnya mengontrol perempuan karena laki-laki memiliki kecerdasan yang superior. Hal ini, menurut Aristoteles, akan menguntungkan perempuan karena perempuan bergantung pada laki-laki.

Aristoteles menyamakan hubungan laki-laki dan perempuan dengan hubungan antara hewan dan manusia. Menurutnya, manusia berhak untuk memerintah hewan sebagaimana laki-laki berhak memerintah perempuan karena sifat dasar perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki. Pemikiran ini salah satunya ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul Politics (1254), di mana ia banyak menyinggung peran perempuan dalam ranah publik dan privat.

Ada pula filsuf Prancis, Julien Benda, yang dalam tulisannya Rapport d’Uriel menyatakan bahwa perempuan tak lebih dari apa yang dikatakan laki-laki mengenai dirinya karena perempuan tidak dapat memikirkan dirinya sendiri tanpa laki-laki. Berbeda dengan laki-laki yang mampu berpikir tanpa ada perempuan.

Kedua pendapat ini menggarisbawahi nilai perempuan selalu terpisah dari dirinya sendiri. Entah dari kemampuannya untuk menjalani hidup tanpa pengaruh laki-laki, sebagaimana dikatakan Aristoteles, atau kecerdasannya untuk berpikir, mengambil keputusan, dan mengakui (atau merebut) haknya untuk mendefinisikan dirinya sendiri sesuai kemauannya tanpa bias pemikiran laki-laki. Pernyataan ini mengarah ke sebuah asumsi bahwa selain superior, laki-laki juga memiliki hak, bahkan bawaan, untuk menentukan nasib perempuan tanpa andil perempuan itu sendiri.

Filsuf yang paling narsistik barangkali adalah Claude Mauriac—sebagaimana dikatakan Simone de Beauvoir—yang menyebutkan bahwa kecerdasan dan pemikiran-pemikiran brilian yang dimiliki perempuan berasal dari laki-laki. Atau, bila merujuk pada ucapan Mauriac, berasal dari “kami”. Inilah senjata Mauriac tatkala ada perempuan-perempuan yang berani menentangnya atas dasar kesetaraan.

  1. Perempuan adalah objek seks pasif

Perempuan adalah seks, sementara laki-laki adalah pihak yang “menikmati” dan “memanfaatkan” seks untuk kepuasannya seorang diri. Sebagai lanjutan dari pendapatnya mengenai ketidakmampuan perempuan untuk hidup tanpa laki-laki, Julien Benda berpendapat bahwa perempuan datang kepada laki-laki sebagai makhluk seksual yang absolut. Tapi, hal itu merujuk pada sifat sebagai objek di mana perempuan digunakan laki-laki untuk kepuasannya sendiri, tanpa mempertimbangkan manfaat dan timbal balik serupa bagi perempuan.

Itulah yang mendasari berbagai pendapat bahwa perempuan selalu terpisah dan dipisahkan dengan libidonya sendiri. Sebagai objek, tugas perempuan adalah untuk memuaskan nafsu dan libido laki-laki. Sementara, kepuasannya sendiri harus dikesampingkan karena itu dianggap bukan persoalan.

Baca juga: Menjadi Feminis Menurut Saya: Perspektif Laki-Laki

Seksolog Maranon bahkan mendaulat libido dan orgasme sebagai kekuatan sifat jantan sehingga perempuan yang mencapai orgasme disebut “perempuan yang kejantan-jantanan”. Ada pula Sigmund Freud, yang meski tak seekstrem itu, tetap mengidentifikasi seks dan libido sebatas dari perspektif laki-laki dan menyebut libido feminin sebagai penyimpangan dari libido manusia secara umum.

  1. Perempuan tidak cocok berkegiatan di ranah publik

Filsuf kenamaan asal Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, mengatakanperbedaan karakteristik fisik telah menimbulkan perbedaan signifikan dalam hal etika dan intelektualitas laki-laki dan perempuan. Sebagaimana ditulis Antoinette M. Stafford dalam The Feminist Critique of Hegel on Women and The Family (1997), Hegel menganggap laki-laki memiliki kemampuan dalam hal pembelajaran, perjuangan di dunia luar, dan pekerjaan di ranah publik. Sementara itu, perempuan sudah ditakdirkan sebatas untuk merawat keluarga. Hegel juga mengatakan bahwa perempuan bisa saja menjadi manusia yang berpendidikan, tapi dia tidak diciptakan untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu di level lanjut seperti filsafat dan ilmu pengetahuan alam dan sosial.

  1. Perempuan adalah ancaman bagi dunia

Arthur Schopenhauer adalah seorang misoginis klasik. Esainya yang berjudul "On Women" (Über die Weiber) mengundang berbagai kritik karena mengandung berbagai premis yang menunjukkan kebencian tak beralasan pada perempuan.

Selain menyebutkan bahwa satu-satunya fungsi perempuan di dunia ini adalah fungsi reproduksinya lewat kehamilan hamil dan melahirkan bayi, Schopenhauer juga menganggap bahwa perempuan adalah ancaman bagi laki-laki karena sifat perempuan yang kacau dan mengganggu. Keceriaan perempuan dinilainya mencerminkan kurangnya moralitas dan ketidakmampuan untuk memahami berbagai persoalan.

Jalan keluarnya, menurut Schopenhauer, adalah dengan mematuhi mereka yang rasional (laki-laki). Ia juga menyebut perempuan membawa marabahaya sehingga menyebabkan kecacatan mendasar dalam masyarakat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Selma adalah reporter magang di Magdalene. Suka berdebat, bertanya, dan belok ke kiri. Juga suka kamu. Kenapa konsep tentang normalitas harus ada, padahal tidak ada satu pun nilai yang absolut di dunia ini? Kalau tahu jawabannya, jangan sungkan kabari Selma di Instagram @selma.kirana