May 13, 2020
Sejarah Mikroba, Makanan Beku, dan Gelombang Feminisme

Ada garis sejarah yang menarik antara bencana wabah penyakit, popularitas makanan beku, dan feminisme.

by Nadya Karima Melati, Kolumnis
Issues // Feminism A-Z
Share:

Bencana pandemi virus corona yang menghantam peradaban di masa industri mempopulerkan dua hal dalam bidang industri: Usaha mikro, kecil dan menengah, serta tren makanan instan--beku dan bubuk.

Ketika wabah COVID-19 merebak di Eropa, saya menyaksikan bagaimana orang-orang berbondong-bondong membeli kebutuhan primer seperti tisu toilet dan tepung terigu untuk membuat roti. Selain itu, makanan dan bumbu instan juga populer di kalangan ibu rumah tangga, khususnya kelas menengah-bawah. Makanan beku dan instan selalu menjadi solusi saat krisis. Dalam krisis COVID-19 ini, saya sebagai diaspora Indonesia di Jerman turut menyetok Indomie, sebagaimana tetangga saya menyimpan piza beku.

Ada garis sejarah yang menarik antara bencana wabah penyakit, popularitas makanan beku, dan feminisme. Bagaimana manusia mengawetkan makanan dan mencuci tangan adalah tindakan untuk menjinakkan makhluk-makhluk tak kasat mata, dan hal ini juga punya dampak terhadap gelombang hak-hak perempuan untuk bekerja.

Selama pandemi, ada beberapa hal yang menarik terkait teknik memasak yang populer di seluruh dunia. Banyak orang dalam karantina di Eropa membuat roti dari rumah. Kesamaan dari roti dengan virus yang sedang ditakuti di seluruh dunia ini adalah satu: Sebelum ditemukannya mikroskop elektron oleh Wendell Meredith Stanley tahun 1931, keduanya belum populer.

Walau begitu, pertemanan dan permusuhan manusia dengan mikroba dan virus sudah terjadi sebelum kita bisa benar-benar mengenal mereka. Manusia dalam peradabannya melakukan domestikasi tumbuhan, mulai dari beras sampai pisang. Secara vegetatif ataupun generatif. Fermentasi, pengasinan, dan pembekuan adalah teknik-teknik manusia menjinakkan mikroba dan mengendalikan mereka.

Baca juga: Ekofeminisme: Perempuan dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

Manusia menyeleksi dan mengembangbiakkan bakteri dalam medium tertentu seperti ragi pada roti dan tapai, dan menyingkirkan yang lain seperti salmonela dan kolera. Sebagaimana filsuf Thales menyatakan bahwa air adalah permulaan kehidupan, hal tersebut tidak bisa ditampik. Cairan adalah medium untuk mikroba berkembang biak dan mikroba menyebabkan bahan pangan cepat membusuk. Manusia mencari cara untuk mengendalikan pertumbuhan makhluk mikroskopis, salah satunya dengan mengubah bentuk medium cairan melalui pengeringan dan pembekukan. Hasilnya: Bahan pangan menjadi lebih awet. Bersamaan dengan kemajuan industri dan kapitalisme, tercipta beberapa makanan-makanan cepat saji seperti mie instan, bumbu bubuk dan daging beku olahan.

Industrialisasi yang tumbuh di bawah sistem akumulasi kapital menyokong kepopuleran makanan cepat saji. Beberapa negara punya kultur makan siang lama, sebut saja Perancis yang memberikan waktu makan siang 2 jam, Yunani 3 jam, dan Italia 1,5 jam. Waktu makan yang lama ini belum termasuk waktu kerja untuk menyiapkan makanan alias memasak. Kapitalisme tidak ramah dengan kerja domestik begitu juga dengan waktu istirahat yang panjang karena dianggap tidak efisien. Makanan cepat saji dilihat sebagai pilihan bagi para pekerja yang praktis dan cepat. Makanan instan memotong waktu memasak dan memakan, sehingga lebih banyak waktu digunakan untuk bekerja. Akumulasi kapital membuat makanan instan dalam kaleng dan beku menyebar seiring dengan industrialisasi di seluruh dunia.

Feminisme membunuh masakan rumah?

Revolusi Industri memang dimulai di Inggris dan Eropa bagian Barat, namun kepopuleran makanan instan harus dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang dan memasukkan perspektif pengalaman perempuan dan feminisme untuk melihat gambaran utuh mengapa industri makanan instan dan beku populer pasca 1950an.

Dari lensa mikroskop, kini sejarawan beralih ke lensa yang lebih besar: Sejarah politik dunia. Dunia, khususnya pada Amerika dan Eropa menyelesaikan Perang I dan II pasca kekalahan Jerman dan Jepang. Ketika perang terjadi, laki-laki ke medan pertempuran sementara perempuan didorong untuk mengisi pos-pos industri yang ditinggalkan oleh lelaki. Perempuan Eropa dan Amerika juga mengenal penggunaan celana pada masa-masa perang. Perempuan mencicipi hal-hal yang mereka tidak bisa miliki sebelumnya seperti memiliki uang dan bergerak bebas.

Dimulainya propaganda anti-makanan instan yang tidak baik untuk tubuh bermuara pada perempuan yang menolak domestikasi dan memasak makanan rumahan. Feminisme dianggap sumber punahnya generasi teknik memasak.

Sayangnya, setelah perang berakhir, perempuan dipaksa kembali ke rumah dan menjalankan tugas-tugas domestiknya. Sejarah Jerman mencatat kebangkitan Nazi mendomestikasi perempuan dari ruang kerja termasuk universitas. Dan di Amerika, kampanye-kampanye "good housewife" berdengung kencang supaya perempuan kembali ke rumah.

Beberapa perempuan bersedia kembali ke rumah dengan kesadaran feminisme yang kuat, bahwa selama ini pembedaan tugas perempuan dan lelaki ternyata hanyalah propaganda negara untuk menihilkan mereka dalam sejarah. Beberapa perempuan memberontak dan gelombang feminisme mengentak di seluruh dunia sepanjang 1940-1960, hingga terlaksana Konferensi Internasional Perempuan di Meksiko tahun 1975 (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women, CEDAW).

Perempuan mengalami beban ganda antara bekerja dan mengurus rumah. Ketika mereka akhirnya mengenyam pendidikan dan bekerja, beban domestikasi seperti mengurus rumah tetap melekat kepadanya. Kampanye keluarga ideal yang terdiri dari ayah bekerja, ibu mengurus rumah dan dua anak sebagaimana dipopulerkan dalam era Orde Baru, membebani perempuan pekerja. Keberadaan makanan beku dan instan diadaptasi oleh ibu rumah tangga yang dipaksa bersinergi antara kerja publik dan domestik. Makanan beku dan makanan siap saji membantu perempuan dengan beban ganda. Sebab memasak masih dijadikan tuntutan kewajiban perempuan sehingga makanan beku yang murah dan mudah diakses menjadi pilihan bagi perempuan bekerja yang memiliki waktu sedikit sebab dihisap kerja domestik dan publik.

Ledakan popularitas makanan beku di Amerika tidak lepas dari peran Clarence Birdseye di tahun 1940 yang mengembangkan inovasi pembekuan cepat. Dengan maraknya produksi kulkas yang disertai freezer, makanan beku menggeser makanan kaleng, dan makanan siap saji menjadi penganan utama di Amerika pada dekade berikutnya.

Baca juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Sialnya setelah gelombang New Left di Amerika Serikat tahun 1970an, patriarki hadir mempermasalahkan perempuan dengan budaya masak instan. Dimulainya propaganda anti-makanan instan yang tidak baik untuk tubuh bermuara pada perempuan yang menolak domestikasi dan memasak makanan rumahan. Feminisme dianggap sumber punahnya generasi teknik memasak yang diwariskan turun temurun dan menyumbang angka obesitas dan kanker akibat ibu rumah tangga yang jarang memasak. Makanan beku dianggap penuh racun dan merusak tumbuh kembang anak sebab tidak memenuhi sumber gizi ideal. Begitu pula di Indonesia, seorang istri dianggap tidak sempurna jika tidak bisa memasak.

Kepunahan masakan rumahan tidak ada, justru menurut sejarawan asal Prancis, Theodore Zeldin dalam bukunya History of Humanity (1994), teknik memasak berkembang lebih luas daripada teknik manusia bercinta.

Saya percaya, bahwa memasak adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki manusia dalam era industri. Dengan kemampuan memasak, kita menyeleksi apa saja yang masuk ke dalam tubuh dan menjadi bagian dalam tubuh kita. Namun waktu untuk memasak dan menikmati masakan tidak boleh dilepaskan begitu saja dalam sejarah dan perdebatan tentang masakan dan bahan pangan.

Teknologi dan ilmu pengetahuan mengembangkan olahan pangan, menemukan hal-hal yang tak kasat mata yang ternyata bisa dijinakkan dan menguntungkan peradaban manusia. Manusia sendiri tidak boleh terlepas dari posisinya di alam, sebagai bagian dari alam dan mengetahui bagaimana alam bekerja. Sebagaimana mikroba, perempuan juga diatur dalam seperangkat peran-peran untuk menyokong reproduksi kapital dan biologis umat manusia.

Memasak dan mengasuh rumah bukan kehendak alam terhadap perempuan melainkan peran sosial yang dibebankan kepadanya. Kita percaya pada kemampuan manusia menangani wabah setelah ditemukannya mikroskop dan identifikasi virus. Peradaban yang maju harus juga siap untuk melepaskan beban domestikasi perempuan, dan mempersilakan lelaki dan seluruh gender lainnya untuk berkontribusi dalam tugas-tugas pengerjaan rumah tangga. Sebab tidak hanya dengan mikroba, sesama manusia juga harus saling bekerja sama, kan?

Nadya Karima Melati adalah penulis dan peneliti sejarah dari Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) Indonesia.