Women Lead
December 10, 2020

8 Karakteristik dan Tanda Seorang Social Climber yang Perlu Diketahui

Sebelum era digitalisasi, faktanya fenomena social climber atau panjat sosial sudah ada.

by Kevin Seftian
Lifestyle
Share:

Fenomena social climber atau panjat sosial (pansos) sudah ada bahkan sebelum era digitalisasi. Namun, hampir setiap kalangan di kota-kota besar besar memperkeruh kondisi pansos ini, terutama lewat media sosial. Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah keadaan ini disebabkan penyakit kejiwaan?

Social climber adalah sebutan untuk orang yang senang memamerkan sesuatu barang kepunyaannya, situasi atau kondisi, dan hal yang bisa menaikkan status sosialnya. Contohnya sangat banyak bertebaran di media sosial, seperti meng-upload konten foto makan di restoran yang fancy, jalan-jalan ke luar negeri, atau berteman dengan ruang lingkup sosialita dan orang lain yang kelihatan mewah.

Sebetulnya enggak jadi masalah dari unggahan yang seperti itu, asalkan memang enggak menjadi sesuatu yang dipaksakan, enggak mengada-ngada, dan enggak dibuat sengaja kelihatan lebih kaya dari kondisi yang sebenarnya.


Social Climber merupakan penyakit kejiwaan

Sampai sekarang ini memang belum ada penelitian secara medis yang sukses memberi isyarat atau punya bukti kuat kalau social climber disebabkan atau dimasukkan sebagai penyakit kejiwaan. Namun, biasanya apa pun yang terlalu berlebihan itu enggak bisa dibilang baik.

Cepat atau lambat, menjadi social climber malah dapat memberikan efek pada berbagai sudut kehidupan orang yang pansos ini. Contoh gampangnya, ingin terus punya tampilan yang kelihatan glamor padahal uang di rekening pas-pasan. Bisa-bisa malah memberi dampak pada aktivitas keuangannya, dan ujung-ujungnya malah menjadi stres sendiri. Dari kenyataan ini, bukan enggak mungkin keadaan ini dapat memberikan pengaruh yang negatif kepada kualitas hidupnya.

Biarpun banyak yang bilang menjadi beken dan menonjol itu menyenangkan, tapi enggak perlu seakan-akan berubah jadi orang lain demi mendapatkan kesenangan. Bahagialah karena sudah bisa mencapai impian dengan usaha dan kerja keras sendiri. Biarpun enggak ada penelitian yang menghubungkan antara social climber dan penyakit kejiwaan, bukan menjadi diri sendiri dan bekerja dengan keras ingin meningkatkan status sosial dengan menjadi seorang yang pansos atau panjat sosial, ujung-ujungnya ketenangan hati dan pikiran dapat menjadi taruhannya.


Kenali karakteristik social climber


Memang enggak semua seorang sosial climber itu punya pola yang sama, namun umumnya mereka dapat kita lihat melalui ciri atau karakteristiknya. Kalian pasti akan sadar beberapa orang seperti ini ternyata ada di dalam ruang lingkup pertemanan, atau malah jangan-jangan kalian sendiri yang sudah menjadi pansos tanpa kalian sadari? Untuk itu, uuk kenali karakteristik dari seorang sosial climber berikut ini:

  1. Social Climber akrab karena status sosial

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, orang yang pansos umumnya akan senang punya teman yang hanya dilihat dari status sosialnya saja. Mereka akan memilih kawan berdasarkan dari apa yang mereka punya, pakai, atau kenakan.

Contoh gampangnya, seseorang yang memakai barang atau pakaian mahal, atau bisa juga ternyata orang itu punya jabatan, pengaruh penting, aset, atau harta yang banyak. Sehingga si tukang pansos itu akan menempelnya supaya mendapatkan status sosial yang kelihatan naik.

  1. Senang berteman dengan orang penting atau punya pengaruh

Orang yang pansos umumnya enggak tahan untuk menginfokan bahwa ia kenal dengan orang-orang penting atau orang penting yang juga diketahui oleh temannya. Dan juga, mereka mencari info apakah kalian juga punya kenalan kepada orang-orang yang punya kuasa lainnya supaya ia bisa mendekatinya atau enggak.


  1. Social climber sangat hirau dengan penampilan

Karakter seorang social climber lainnya adalah sangat peduli sekali dengan penampilannya. Yup, biasanya ia akan berjuang dengan sangat gigih untuk looks-nya agar kelihatan berasal dari kalangan atas. Ia juga memastikan kawan-kawannya yang berada di lingkupnya juga punya penampilan yang glamor sama seperti dirinya.

Contohnya, ia akan dengan pede-nya atau percaya diri menunjukkan baju-baju dengan harga fantastis dan enggak masuk akal, serta buatan desainer terkenal dan memakai aksesoris buat menunjang penampilannya agar lebih mendapat perhatian orang lain. Penampakannya ini akan dibuat sedemikian rupa supaya status sosialnya kelihatan sama atau malah kelihatan lebih dibandingkan orang lain.

  1. Sangat ketat dalam memilih kawan

Supaya bisa memperoleh pengakuan sosial, seorang social climber akan berjuang untuk ikut bersarang ke dalam lingkaran pergaulan yang mereka ingini. Dalam usahanya buat memiliki pengakuan sosial, mereka pastinya akan sangat ketat memilih kawan atau teman dan enggak akan basa-basi atau membuang waktu dengan orang lain yang mereka anggap punya status sosial di bawah mereka.

  1. Social climber suka memanfaatkan teman

Salah satu karakter yang gampang ditemui oleh seorang social climber adalah suka sekali memanfaatkan teman. Umumnya, ia juga mencoba memakai prestasi, popularitas, serta koneksi orang lain buat keuntungan pribadi. Bahkan, enggak jarang upaya dan ketekunan mereka dalam menghampiri kalian, atau sebaliknya, terlihat sangat berlebihan dan condong enggak sopan.

  1. Tukang pansos biasanya kurang empati

Seseorang yang suka panjat sosial biasanya punya teman yang terlihat berjibun. Tetapi, nyatanya cuma sebagian kecil yang dirasa dekat atau mereka tahu secara mendalam. Secara garis besar, seseorang yang pansos condong ke narsis serta individualis sehingga enggak begitu peduli untuk memahami orang lain lebih mendalam. Ini karena ikatan pertemanan yang ia bentuk cuma didasari keuntungan untuk dirinya sendiri.


  1. Seorang yang pansos enggak bisa dipercaya

Suka sekali tiba-tiba membatalkan janji di saat-saat terakhir apabila ia mendapatkan ajakan lain yang lebih kelihatan menjanjikan termasuk karakter social climber. Umumnya, ia akan mau melakukan apa pun agar selalu berada di atas. Dengan begini, jika ada orang yang dibilang suka menghalangi atau menghambat, ia enggak akan ragu buat meninggalkannya. Apakah kalian termasuk punya karakter yang seperti ini?

  1. Seseorang pansos selalu ingin mengendalikan social circle

Dalam sebuah grup pertemanan misalnya, seorang yang pansos biasanya selalu berusaha untuk mengatur atau memegang kendali social circle  dan enggak pakai ragu buat mencampakkan, mengganti, serta mengucilkan teman yang berada di grup tersebut. Apa lagi jika ada kawan yang dibilang merugikan atau enggak bisa mendukung menaikkan status sosialnya.

Sampai sekarang, memang belum ada hasil medis yang menandakan bahwa social climber termasuk varietas penyakit gangguan jiwa. Biarpun begitu, apa pun yang terlalu berlebihan tentu enggak bagus, termasuk juga kebiasaan menunggangi orang lain buat menaikkan status atau strata sosial.