Women Lead
June 24, 2021

Menilik Tanda-tanda Pertemanan yang Baik

Sebagian orang merasa relasi yang dijalinnya dengan seseorang sudah tergolong pertemanan yang baik, padahal secara tidak sadar, ia jatuh dalam pertemanan yang buruk.

by Alexis Elder
Lifestyle
Ini ciri-ciri bahwa temanmu toksik
Share:

Kata ‘toxic’ kian populer di media daring belakangan ini. Mulai dari relasi dengan pacar, keluarga, sampai teman pun ada yang masuk dalam kategori ini. Ada kalanya kita tidak sadar mana yang tergolong pertemanan yang baik dan mana yang tidak. Kebingungan ini bisa muncul ketika ada ketegangan antara dua teman dan satu di antaranya berada di posisi dilematis antara menjadi teman yang baik atau “melakukan yang seharusnya”.

Contohnya, ketika kita dihadapkan situasi yang membuat kita tergoda untuk berbohong demi seorang teman, maka akan tampak seolah-olah pertemanan dan moralitas berada dalam posisi yang bertabrakan.

Saya adalah seorang ahli etika yang mempelajari isu-isu seputar pertemanan, jadi ketegangan ini sangat menarik bagi saya.

Baca juga: Kenali Tanda Pertemanan ‘Toxic’

Mudah untuk mengatakan bahwa orang yang tidak baik cenderung memperlakukan teman mereka dengan buruk juga. Contohnya, mereka bisa berbohong, curang, atau mencuri dari teman-temannya. Namun, mungkin juga seseorang berlaku buruk pada beberapa orang dan berlaku baik pada yang lainnya.

Jadi adakah alasan mendasar lain untuk berpikir menjadi orang baik adalah keharusan untuk pertemanan yang baik?

Masalah dalam Pertemanan dan Moralitas

Mari mulai dengan melihat kasus saat moralitas dan tuntutan dalam pertemanan berada dalam konflik.

Salah satu syarat suatu pertemanan yang baik adalah sikap terbuka terhadap cara pandang teman kita, bahkan ketika perspektif mereka beda dengan milik kita. Pertemanan juga tampaknya mengharuskan kita untuk peduli terhadap kesejahteraan teman kita. Bukan hanya mengharapkan yang terbaik bagi mereka, kita pun juga ingin terlibat dalam menyediakan hal-hal baik tersebut. Ini adalah hal yang membedakan perhatian dari teman dengan perhatian orang yang memang berkelakuan baik.

Namun, kita juga perlu tetap terbuka akan apa yang dirasa baik oleh teman kita sendiri: Seenaknya melakukan sesuatu atas dasar yang kita pikir itu yang terbaik untuk teman kita, meski teman kita tidak setuju, cenderung paternalistik. Dalam beberapa keadaan, sedikit paternalisme masih boleh ditoleransi, seperti menyembunyikan kunci [kendaraan] teman ketika ia sedang mabuk. Namun, secara umum hal tersebut adalah sifat yang buruk dalam pertemanan.

Beberapa pemikir menyatakan bahwa terbuka pada perspektif teman dapat membukakan pintu pada bahaya moral. Contohnya, pertemanan dengan seseorang yang memiliki nilai yang berbeda bisa secara perlahan mengubah nilai kita sendiri, termasuk pada hal-hal yang buruk. Hal ini benar terutama ketika hubungan tersebut membuat kita cenderung menganggap serius sudut pandang mereka.

Akademisi lain berpendapat bahwa kombinasi antara keinginan untuk membantu teman dan terbukanya dengan sudut pandang merekalah yang menimbulkan masalah terbesar. Dalam membuat argumen ini, akademisi Dean Cocking dan Jeanette Kennett mengutip kalimat dari novel Pride and Prejudice karya Jane Austen.

Dalam kalimat tersebut, protagonisnya, Elizabeth Bennett memberitahu Tuan Darcy yang dingin dan kaku bahwa, “Kepedulian kepada sang pemohon akan membuat seseorang siap untuk mengabulkannya tanpa menunggu alasan mengapa seseorang harus melakukannya.”

Dengan kata lain, ketika teman meminta kita untuk mengatakan kepada bos bahwa ia sakit alih-alih pusing pasca-mabuk, kita harus melakukannya hanya karena ia meminta kita untuk melakukan hal tersebut.

Pandangan tentang Kebaikan dalam Pertemanan

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, meninjau ulang apa yang dikatakan oleh filsuf Aristoteles tentang pertemanan dan menjadi orang yang baik bisa membantu.

Bagi Aristotles, terdapat tiga jenis pertemanan. Satu, pertemanan kegunaan, misalnya antara rekan kerja yang ramah. Dua, pertemanan kesenangan, contohnya antar-anggota tim trivia atau permainan hobi. Dan tiga, pertemanan di antara mereka yang merasa satu sama lain baik dan berharga bagi diri mereka sendiri. Yang terakhir inilah yang ia sebut sebagai pertemanan kebajikan, bentuk pertemanan yang terbaik dan paling lengkap.

Maka sangat jelas mengapa menghargai seseorang karena kebaikannya merupakan karakteristik pertemanan yang baik. Tak seperti pertemanan lain, hal ini melibatkan penghargaan kepada teman atas diri mereka sendiri, bukan hanya atas apa yang bisa mereka lakukan untuk kita. Lebih jauh lagi, pertemanan jenis ini mengakui karakter dan nilai mereka berharga.

Beberapa mungkin cemas bahwa hal tersebut menciptakan standar yang terlalu tinggi: Bahwa syarat teman yang baik haruslah orang yang baik, membuat pertemanan yang semacam itu sangat jarang. Namun pemikir Aristotelian, John Cooper berpendapat bahwa artinya kualitas pertemanan bermacam-macam sesuai dengan kualitas karakter teman-temannya tersebut.

Mengesampingkan hal-hal lain, orang-orang yang biasa-biasa saja cenderung memiliki pertemanan yang biasa-biasa pula, sedangkan orang yang lebih baik akan memiliki pertemanan yang lebih baik pula.

Apa itu Kebaikan?

Jika kita tidak memberi definisi apa itu “orang baik” atau membiarkan tiap-tiap orang memiliki penilaian sendiri soal apa itu kebaikan, hal ini menjadi sangat subjektif. Namun, Aristoteles juga menawarkan perhitungan objektif tentang apa yang menjadikan seseorang orang yang baik.

Orang yang baik, menurutnya adalah seseorang yang memiliki sifat-sifat yang baik. Sifat yang baik seperti keberanian, keadilan, dan kesederhanaan adalah karakter berkualitas yang membantu kita menjalani hidup sebagai manusia yang baik, sendiri dan bersama orang lain.

Baca juga: 5 Aturan Dasar Jika Ingin Pinjam Bahu Teman untuk Bersandar

Aristoteles berpendapat bahwa, seperti ketajaman yang menjadi tolok ukur pisau yang baik, kita berfungsi sebagai manusia yang lebih baik jika kita bisa melindungi apa yang kita hargai, bekerja sama dengan baik, dan menikmati kesenangan dalam kesederhanaan.

Ia mendefinisikan kualitas yang tidak baik, atau sifat buruk, sebagai kualitas yang membuat pemiliknya sulit untuk hidup dengan baik. Misalnya, para pengecut kesulitan dalam melindungi apa yang penting, orang rakus yang tidak bisa berhenti makan, dan orang-orang yang tidak adil mengambil lebih dari bagiannya. Karakter macam itu mereka kesulitan bekerja sama dengan baik dengan orang lain. Hal ini halangan besar bagi makhluk sosial.

Yang terakhir dan yang paling penting, ia mengatakan bahwa kita membangun kualitas, baik ataupun buruk, melalui praktik yang berulang: Kita menjadi orang yang baik dengan berulang kali melakukan kebaikan, dan begitu pun sebaliknya dengan keburukan.

Menghubungkan Kebaikan dan Pertemanan

Bagaimana kemudian hal tersebut bisa membantu kita dalam memahami hubungan antara menjadi orang yang baik dan menjadi teman yang baik?

Saya telah menyatakan bahwa dalam pertemanan ada proses saling membantu dan juga melibatkan keterbukaan terhadap perspektif teman. Jika kita berasumsi bahwa Aristoteles benar mengenai hubungan antara karakter yang baik dan kemampuan untuk hidup dengan baik, maka membiarkan seorang teman melakukan hal buruk itu tidak baik karena itu membuat sang teman lebih sulit untuk bisa menjalani kehidupannya dengan baik.

Tetapi, pertemanan juga tidak bisa dijalankan dengan memaksa teman meninggalkan keyakinan mereka soal apa yang mereka butuhkan, meskipun apa yang mereka yakini itu salah. Jadi, satu-satunya orang yang bisa kita perlakukan secara konsisten baik sebagai teman adalah mereka yang memiliki karakter yang baik.

Kita tentu saja bisa mengubah nilai dan reaksi pribadi kita agar lebih menyamai teman kita. Kebanyakan dari hal ini terjadi secara tak sadar, dan beberapa perubahan mungkin baik. Namun ketika perubahan yang terjadi lebih buruk, (misalnya, menjadi penakut dan tidak adil), kita dirugikan oleh hubungan pertemanan kita.

Jika waktu yang dihabiskan bersama teman saya yang malas cenderung membuat saya kurang termotivasi dengan hidup saya sendiri, maka dapat dikatakan saya menjadi lebih buruk. Hal tersebut bisa menjadikan teman seperti itu buruk bagi kita, bahkan jika dia tidak sengaja.

Pertemanan yang benar-benar baik, ternyata, mustahil terjadi kecuali jika kedua teman tersebut adalah orang baik.

Ketegangan yang jelas antara pertemanan dan moralitas ternyata hanya ilusi yang dihasilkan dari gagal berpikir dengan hati-hati dan jernih tentang hubungan antara keterbukaan akan sudut pandang teman, dan keinginan kita untuk membantu mereka.

Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles,

“Pertemanan orang jahat nyatanya menciptakan hal yang jahat (karena mereka tidak tenang, mereka bersatu untuk tujuan yang buruk, dan selain itu mereka menjadi jahat dengan menjadi semakin serupa satu sama lain). Sedangkan pertemanan antara orang baik adalah baik, dan digandakan dengan pertemanan mereka; dan mereka pun dianggap menjadi lebih baik pula dengan kegiatan mereka dan dengan mengembangkan diri satu sama lain; dan dari satu sama lain, mereka mengambil cetakan karakteristik yang mereka ikuti.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Alexis Elder adalah asisten profesor bidang Filsafat, University of Minnesota Duluth.