Women Lead
January 11, 2021

8 Aliran Feminisme yang Perlu Kamu Ketahui

Buat kamu yang awam soal feminisme, pasti sering bingung dengan perbedaan pendapat di kalangan feminis. Faktanya, aliran feminisme itu banyak banget loh. Berikut penjabarannya.

by Jonesy
Issues // Feminism A-Z
apa itu feminisme
Share:

Sekarang ini akun-akun media sosial bertema feminisme banyak bermunculan, membahas isu-isu perempuan dan gender seperti hubungan yang setara, kesehatan reproduksi, hingga ketimpangan gender di berbagai sektor. Tapi, apakah kamu tahu betul apa itu feminisme dan apa saja aliran-aliran dalam feminisme? Mari kita simak berikut ini.

Baca Juga: Melirik Keberagaman Fokus Perjuangan Aliran-aliran Feminisme

Apa itu Feminisme?

Sebetulnya apa sih Feminisme itu? Feminisme adalah rangkaian dari gerakan sosial, politik, dan ideologi yang memiliki tujuan untuk membangun serta mencapai kesetaraan gender di segala aspek, mulai dari politik, ekonomi, ranah pribadi, hingga lingkup sosial. Sering kali banyak yang salah paham dan berpikir feminisme itu ideologi yang membenci laki-laki. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama diuntungkan ketika tidak ada relasi yang timpang di antara keduanya.

Baca Juga: Kritik terhadap Feminisme atau Memang Anti-Feminis?

Di dalam feminisme sendiri terdapat beragam jenis aliran dengan cara pandang berbeda-beda soal beragam isu sosial dan politik. Maka dari itu, wajar saja ada perbedaan pendapat di dalam kelompok feminis sendiri  terkait berbagai isu.

Berikut beberapa aliran feminisme yang perlu kamu ketahui.

1. Feminisme Liberal

Feminisme liberal menitikberatkan pada kebebasan individu bagi perempuan. Di awal kemunculannya pada abad 19-20, perjuangan aliran feminis ini lebih mengarah pada hak individu perempuan dalam ranah politik, ekonomi, dan lingkup sosial. Feminisme liberal sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu, feminisme liberal klasik dan egalitarian.

Baca Juga: Menjadi Feminis yang Tak Sempurna

Feminisme liberal klasik lebih menggarisbawahi pada kebebasan hak sipil individu seperti, hak pilih perempuan, hak memiliki tanah, dan kebebasan berekspresi. Sedangkan feminisme liberal egalitarian, lebih menitikberatkan pada kesempatan yang setara dan adil untuk perempuan dalam mengakses sumber daya.

2. Aliran Feminisme Radikal

Jangan jiper dulu mendengar kata radikal, karena kata radikal sendiri berarti hal-hal yang mendasar. Feminisme radikal adalah aliran feminisme yang berfokus pada hal-hal mendasar atas ketimpangan yang dialami oleh perempuan. Di dalam aliran feminisme radikal juga ada dua sudut pandang berbeda: feminis radikal libertarian dan feminisme radikal kultural.

Baca Juga: Kebijakan Pro Kesetaraan Gender Maju di Luar Negeri, Mundur di Dalam Negeri

Feminisme radikal libertarian muncul pada  tahun 1960-1980 dan berfokus pada berbagai pilihan pribadi perempuan atas tubuh dan seksualitas mereka, baik ia seorang heteroseksual, lesbian, maupun transgender. Aliran feminisme ini percaya bahwa identitas gender feminin membatasi perempuan untuk berkembang sebagai manusia seutuhnya, dan menganggap musuh utama perempuan adalah patriarki.

Berbeda dengan feminisme radikal libertarian, feminisme radikal kultural  mempercayai bahwa selain patriarki, laki-laki juga merupakan bagian dari munculnya opresi terhadap perempuan. Mereka menganggap bahwa laki-laki mengendalikan seksualitas perempuan untuk kepuasan si laki-laki. Karenanya, banyak perempuan yang menganut aliran ini memilih untuk hidup selibat, dan lesbian juga dipandang sebagai cara untuk bebas dari pembatasan yang dibangun budaya heteroseksualitas.

3. Aliran Feminisme Marxis-Sosialis

Seperti namanya, aliran feminisme ini berfokus untuk membebaskan perempuan dari pengotakan kelas, patriarki, seks, serta kapitalisme. Aliran ini muncul berdasarkan isu kaum pekerja perempuan dalam lingkup domestik dan publik dalam mengampanyekan pengupahan kerja domestik bagi perempuan, sosialisasi pekerjaan rumah tangga serta pengasuhan anak.

4. Aliran Feminisme Psikoanalis Gender

Kemunculan aliran ini merupakan perlawanan atas tokoh Psikoanalis, Sigmund Freud. Freud mengatakan bahwa perempuan mengalami “penis envy” atau iri terhadap laki-laki karena tidak memiliki penis, dan akibatnya merasa diri mereka inferior dibandingkan laki-laki.

Baca Juga: Feminisme Universalisme vs. Feminisme Baru: Riak Feminisme Perancis Masa Kini

Aliran feminis psikoanalis gender menggugat pemikiran Freud itu, dengan mengatakan bahwa opresi yang dialami oleh perempuan dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan tidak terlalu berhubungan dengan biologi perempuan.

5. Aliran Feminisme Eksistensialis

Feminisme eksistensialis masuk dalam gelombang kedua feminisme dan berkembang pada tahun 1940. Aliran feminisme ini sangat mendukung perempuan untuk bebas mendefinisikan makna keberadaannya di dunia ini. Aliran ini juga mengajak perempuan untuk menjadikan dirinya sebagai subjek yang diinginkan, alih-alih menjadi objek.

6. Aliran Feminisme Pasca-Modern

Disebut juga sebagai “feminisme bagi kalangan akademis”, aliran ini sulit dimengerti dan dianggap tidak terlibat dalam perjuangan revolusioner sungguhan, seperti protes, boikot, serta demonstrasi. Aliran ini membalikkan keadaan dengan merayakan penindasan yang diterima.

Baca Juga: Antara Wanita dan Perempuan, Apa Bedanya?

Aliran ini menerima kembali feminitas kepada perempuan seperti konstruksi gender dalam masyarakat, merayakan keliyanan (otherness) perempuan melalui cara berada, berpikir, keterbukaan, keberagaman, serta perbedaan. Salah satu ajakan aliran ini adalah menulis serta menggali dengan mengedepankan “feminine writing”, karena menganggap salah satu sumber opresi terhadap perempuan adalah bahasa.

7. Aliran Feminisme Multikultural dan Global

Aliran ini mengenalkan pada cara pandang bahwa perempuan itu heterogen namun  mempunyai beragam irisan yang bertaut seperti umur, status sosial ekonomi, pendidikan, agama, budaya, kewarganegaraan, dan lokasi. Tiap kelompok perempuan merasakan penindasan yang berbeda seiring dengan beragamnya pengalaman dan identitas mereka. Pengalaman tersebut merupakan sebuah pengalaman global, bukan lagi pengalaman komunal dan bentuknya sangat berlapis-lapis.

Baca Juga: Feminisme Muslim Indonesia: Gerakan Perempuan Lawan Konservatisme Agama

8. Aliran Ekofeminisme

Aliran ini menitikberatkan pada hubungan perempuan secara spiritual terhadap ekologi di sekitarnya. Dalam aliran ini posisi perempuan sebagai “perawat” yang lebih membutuhkan, dan lebih dekat serta peka dengan alam ketimbang laki-laki. Seperti perempuan, alam pun “digarap”, “diperkosa” serta “dieksploitasi” oleh kapitalisme yang didominasi oleh laki-laki.