Women Lead
January 07, 2021

Feminisme Universalisme vs. Feminisme Baru: Riak Feminisme Perancis Masa Kini

Sebagai negara kelahiran Simone de Beauvoir, menarik untuk melihat perkembangan feminisme di Perancis saat ini.

by Jafar Suryomenggolo
Issues // Feminism A-Z
Sisterhood_Feminisme_KarinaTungari
Share:

Bagaimana sebaiknya agenda feminisme disebarluaskan agar diterima masyarakat luas? Apakah ada strategi interseksional tertentu agar kaum perempuan memperoleh pengakuan yang adil? Bagaimana caranya agar perempuan dapat terbebas dari peran gender tradisional? Apakah perempuan perlu bekerja sama dengan laki-laki, dengan tanpa menyalahi agenda feminisme?  

Pertanyaan-pertanyaan ini kerap timbul dalam arah langkah gerakan perempuan. Tidak hanya di Indonesia, tapi di banyak negara lain. Termasuk juga di Perancis, negara yang punya indeks kesetaraan gender yang relatif tinggi di Eropa (dan dunia). Pertanyaan-pernyataan tersebut mencerminkan pergulatan nyata yang tiap kali ada. Dari hal ini pula kiranya kita bisa melihat riak feminisme Perancis masa kini.  

Di penghujung 2020, Alice Coffin menjadi buah bibir publik Perancis. Sebagai penggiat feminisme, perempuan berusia 42 tahun itu sangat vokal menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai menghambat kebebasan perempuan. Pada 2013 ia juga turut mendirikan AJL (Perkumpulan wartawan LGBTI) sebagai bagian dari aktivismenya. Sebagai anggota kelompok politik garis hijau (“Écologie pour Paris”), ia terpilih masuk menjadi anggota Conseil de Paris (semacam dewan pertimbangan kota Paris) sejak Juni 2020.

Kelompok politik garis hijau, yang mendorong agenda politik perlindungan lingkungan hidup, memang memperoleh dukungan suara yang lumayan dari rakyat pemilih di dalam pemilihan lokal 2020 lalu di banyak kota di Perancis, termasuk di Paris. Dalam kancah politik formal, Alice Coffin menjadi salah satu wakil yang baru masuk sebagai hasil dukungan penduduk kota Paris.

Baca juga: Feminisme Muslim Indonesia: Gerakan Perempuan Lawan Konservatisme Agama

Melawan Dominasi Maskulin

Pada September 2020, Alice Coffin menerbitkan Le Génie Lesbien (Lesbian Jenius), kumpulan esai ini langsung menjadi sensasi karena memuat ide-ide yang dianggap berbeda dari pemikiran dan gerak feminisme yang ada di Perancis selama ini.

Di dalam buku itu, ia menggugat banyak hal terkait dominasi maskulin di Perancis. Bukan hanya dominasi di dalam kehidupan politik, tapi juga dominasi di alam pikir. Ia menceritakan pengalamannya tumbuh sebagai remaja lesbian dan merasa tokoh panutan di berbagai bidang didominasi laki-laki. Hal ini membuat laki-laki tampak jenius di mata publik dan serta-merta menjadi tokoh panutan anak muda, termasuk anak muda perempuan (lesbian).

Karena didominasi laki-laki, perempuan (lebih-lebih lesbian) tidak memperoleh panggung semestinya. Apa yang dilakukan perempuan sering dianggap tidak penting sehingga mereka tidak tampak “jenius”. Perempuan (lebih-lebih lesbian) tidak masuk (atau sulit) menjadi tokoh panutan, bahkan kerap dengan sengaja disingkirkan dari sejarah.

Karena itu pula, judul bukunya tersebut berusaha untuk merebut kembali ide jenius yang seakan-akan adalah kepunyaan laki-laki belaka. Ia ingin menekankan bahwa lesbian juga punya andil di dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, dan mereka adalah “jenius” yang layak juga menjadi tokoh panutan. Anak muda perempuan bisa punya tokoh panutan mereka sendiri, tanpa perlu melihat tokoh laki-laki.

Pengalaman perempuan dan persoalan yang mereka hadapi, baik di Indonesia dan Perancis, adalah universal. Riak feminisme Perancis mengungkapkan beragam strategi yang bisa dan perlu ditempuh oleh gerakan perempuan.

Tak heran, ia menulis bahwa, “Aku tidak lagi membaca buku karya penulis laki-laki, tidak lagi menonton film karya laki-laki, tidak lagi mendengarkan musik karya laki-laki. Setidaknya, aku mencoba demikian.”

Sayangnya, kalimat tersebut ditafsirkan berbeda oleh beberapa media. Ia dituding membenci laki-laki, dan terlebih hendak “menghilangkan pria.” Apakah ia sedang mengumandangkan radikalisme feminisme baru yang anti-pria?

Debat Baru Soal Feminisme

Di ranah politik Perancis, apa yang dilakukan Alice Coffin telah membuka perdebatan baru. Apakah arah gerak feminisme selama ini tidak cukup membawa perubahan masyarakat yang lebih mumpuni dan aman bagi perempuan?

Bukankah sudah banyak contoh perempuan Perancis yang memegang posisi kunci penentu kebijakan publik, seperti misalnya Wali Kota Paris, Anne Hidalgo, yang seorang politisi Partai Sosialis dan diakui sebagai feminis? Bukankah juga belakangan ini Kota Paris kena denda administratif sebesar 90 ribu euro (sekitar Rp1,5 milyar) karena komposisi perempuan di jabatan senior pemerintah kota melebihi aturan hukum?     

Ketika Coffin masuk sebagai anggota dewan kota Paris, ia langsung bersuara lantang. Yang diserangnya adalah Christophe Girard, seorang broker politik, yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Paris bidang budaya, yang dituding punya rekam jejak yang kotor dan tidak menjabat posisi publik.

Baca juga: Feminisme dan Budaya Pop: Jangan Hanya Mengganti Saluran

Coffin berseberangan dengan Hidalgo, yang berpendapat tidak perlu mendongkel Girard. Namun begitu muncul sorotan tajam atas Girard yang dituding pernah melakukan pelecehan seksual, Hidalgo tidak lagi bisa membela wakilnya itu. Girard mundur dari jabatannya dan kini berada dalam penyelidikan polisi. Kasus ini memperlihatkan adanya perbedaan strategi feminisme antara Anne Hidalgo yang mengusung “feminisme universalis” dan Alice Coffin yang mengusung “feminisme baru”.

Di Perancis, feminisme universalis mengutamakan pemberdayaan dan penguatan perempuan. Strategi yang ditempuh bisa bermacam-macam, dengan tujuan agar perempuan memperoleh perlindungan hukum dan kesetaraan yang adil, termasuk lewat representasi dan kuota politik.

Guna memajukan kaum perempuan, penggiat feminisme mampu mengajukan klaim perempuan sebagai bagian dari kerangka republik yang universal, termasuk bekerja sama dengan laki-laki. Misalnya, tanpa perlu mengedepankan identitasnya sebagai perempuan feminis, Hidalgo dapat mencapai tujuan-tujuan politik feminisme.

Gambar sampul buku karya Alice Coffin (September 2020)
Gambar sampul buku karya Ovidie dan Diglee (Agustus 2020)

“Feminisme baru” mengutamakan esensialisme feminisme sebagai gerakan perempuan. Perempuan demi, untuk, dan bagi perempuan, tanpa perlu bekerja sama dengan laki-laki. Guna memajukan kaum perempuan, penggiat feminisme perlu mengajukan klaim perempuan sebagai perempuan; identitas dan pengalaman perempuan adalah unik sehingga perlu dikedepankan dalam tiap gerakan perempuan. Misalnya: perempuan selalu (dan akan tetap) menjadi korban femisida dan kekerasan seksual persis karena gendernya, oleh para pelaku laki-laki (baik secara sadar, sengaja, maupun terstruktur ataupun tidak).  

Penulis-penulis Muda Feminis

Sesungguhnya, Alice Coffin tidak sendirian. Di sampingnya, ada banyak penulis muda yang menyuarakan persoalan-persoalan perempuan yang selama ini kerap terpendam (atau dipendam). Mereka menjadi bagian dalam riak feminisme baru.

Contohnya, buku Baiser après #MeToo (Ngentot setelah #MeToo) karya kolaborasi penulis Ovidie dan perupa Diglee (Agustus 2020). Buku apik ini mengedepankan serangkaian pertanyaan tentang pengalaman dan fantasi perempuan soal seks yang selama ini kerap diabaikan, dipendam, dan juga disepelekan oleh laki-laki.

Menarik melihat Ovidie dan Diglee memakai kata slang baiser (setara fucking) daripada kata yang lebih "halus" seperti bercinta atau bersanggama. Ini juga bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi feminisme baru, yang memandang bahwa perempuan bebas berkata-kata, tidak perlu takut dipandang rendah, murahan atau tidak bermoral. Dan justru itu adalah tanda kebebasan perempuan. Sementara itu, feminisme universalis tidak akan menggunakan kata-kata kotor, apalagi kata-kata umpatan, yang dipandang seksis. 

Buku ini menggoyahkan anggapan atas pengalaman seksual sebagai ruang privat, intim, dan tak perlu dibicarakan di publik. Harapannya, akan tercipta seksualitas perempuan yang lebih sehat, aman, dan menyenangkan—sekalipun tanpa keterlibatan pria di situ.

Baca juga: 5 Pemikiran Filsuf Terkenal yang Sungguh Patriarkal

Apa yang terjadi di Perancis mungkin dirasa jauh bagi kita di Indonesia. Konteks ekonomi, sosial, dan politik, serta budaya di Perancis berbeda dari Indonesia. Terlebih, situasi umum di Perancis boleh dianggap lebih mumpuni dalam melindungi dan mendukung kebebasan perempuan. Hal ini sudah terbukti lewat indeks kesetaraan gender.

Namun, pengalaman perempuan, baik di Indonesia dan Perancis, adalah universal. Begitu juga, berbagai persoalan yang mereka hadapi. Riak feminisme Perancis mengungkapkan beragam strategi yang bisa dan perlu ditempuh oleh gerakan perempuan.

Melawan dominasi maskulin adalah juga agenda feminisme Indonesia. Berupaya “menghilangkan laki-laki” dari alam pikir dan mendongkel pria-pria yang punya rekam jejak kotor adalah juga strategi pembebasan. Penulis-penulis muda juga memicu perdebatan-perdebatan segar yang membuka arah baru bagi gerakan perempuan Indonesia dalam membela para perempuan yang termarginalkan. Hal ini juga menciptakan ruang-ruang yang lebih sehat, aman, dan menyenangkan bagi perempuan, baik di publik maupun privat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari.

Jafar Suryomenggolo adalah penerima LITRI Translation Grant 2018 atas terjemahan beberapa cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019). Ia kini menetap di Paris, Perancis.