Women Lead
January 08, 2021

Apa Pun Alasannya, Grooming adalah Kekerasan Seksual

Anak-anak rentan terkena kejahatan grooming oleh orang dewasa dengan dalih pacaran.

by Siti Parhani, Reporter
Lifestyle
Child Abuse 33 Thumbnail, Magdalene
Share:

Baru-baru ini di Twitter ramai diperbincangkan masalah hubungan beda usia yang terpaut jauh antara laki-laki dan perempuan, atau biasa disebut grooming.

Seseorang bernama Natasha, dengan akun @natashaaw, mengisahkan pengalaman traumatisnya berpacaran dengan laki-laki berusia 24 tahun, saat ia sendiri masih berumur 15 tahun. Ia mengingatkan bahwa anak-anak memang sangat mudah dimanipulasi, apalagi jika orang dewasa yang menjadi pacarnya menyanjung mereka sampai mereka terlena.

Mereka itu bisa banget ngasih validasi-validasi supaya kita merasa ‘spesial’, padahal itu taktik doang,” tulisnya di Twitter.

Twit tersebut memicu banyak korban grooming oleh laki-laki dewasa untuk turut bersuara. Ada yang mengatakan dirinya sampai kehilangan rasa percaya diri setelah berpacaran dengan laki-laki berusia 23 tahun saat usianya 16 tahun. Selain sering kali terbuai dengan kata-kata manipulatif mantannya itu, ia juga berkali-kali diselingkuhi, sampai ia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.

Kata-kata ‘kamu lebih dewasa dari perempuan seusiamu’ itu bukan compliment, it’s just manipulation tactic to make the minor feel special,” cuitnya.

Namun, meskipun banyak korban bersuara, tidak sedikit pula yang menuduh Natasha melakukan generalisasi. Mereka berargumen bahwa tidak semua hubungan dengan orang yang lebih dewasa berarti manipulasi. Ada juga yang mengatakan kalau kasus manipulasi seperti itu tidak ada hubungannya dengan umur, tapi lebih ke karakter.

Yang dilupakan oleh sebagian orang, usia di bawah 18 tahun secara hukum adalah usia anak-anak, dan ada kerentanan ketika mereka berhubungan dengan orang dewasa. Posisi anak yang masih polos dan belum mengerti hubungan yang konsensual membuat mereka lebih rentan untuk dimanipulasi oleh kepentingan orang dewasa.

Baca juga: Facebook, Telegram Sarang Predator Seksual, Perempuan dan Anak-anak Makin Rentan

Apa itu Child Grooming?

Dari segi pengertian, child grooming adalah sebuah upaya orang dewasa untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak atau remaja, sehingga mereka dapat memanipulasi atau mengeksploitasi, bahkan melecehkan korban.

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Anna Surti Artiani mengatakan, grooming ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk dan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk senior, guru les, orang yang tidak dikenal, atau mentor. Selain memanipulasi untuk tujuan seksual, pelaku yang secara sengaja memainkan emosi anak hingga ia terpuruk secara mental juga termasuk dalam kekerasan psikis, ujarnya. Dalam beberapa kasus, pelaku bisa saja turut mendekati keluarga korban, sehingga ia semakin tidak sadar sedang dimanipulasi.

Grooming itu bagian dari kekerasan seksual, meskipun si pelaku ini beralasan cuma mencari kesenangan atau mencari teman ngobrol. Memacari anak di bawah 18 tahun itu tetap sebuah kekerasan seksual terhadap anak,” ujar Anna kepada Magdalene.

Menurutnya, banyak anak yang terbuai dengan mereka yang berumur dewasa dengan alasan mereka lebih pengertian, mau mengalah saat berkonflik, atau selalu mengapresiasi dan memberikan penghargaan berlebih. Padahal, hal-hal tersebut bukan cara yang tepat untuk memperlakukan anak dan justru sebaliknya, itu bisa jadi adalah tindakan manipulatif, kata Anna.

“Itu bukan cara memperlakukan anak-anak, itu manipulasi, kekerasan seksual masuknya. Apalagi di-grooming dan disuruh melakukan hal-hal yang membuat dia puas secara seksual. Anak-anak itu perlu diajak bicara dan diskusi, tapi bukan berarti di-grooming ya. Itu beda ceritanya,” ia menambahkan.

Baca juga: Dicap Lebih Lemah, Anak dan Perempuan Muda Rentan Alami Pelecehan Daring

Grooming Tidak Terbatas Secara Fisik

Saat ini, grooming tidak lagi hanya terbatas pada hubungan fisik. Di dunia digital pun grooming sudah marak terjadi. Di level yang lebih ekstrem, perilaku grooming ini bisa sampai pada tindak kriminal, di mana pelaku biasanya adalah seorang predator seksual.

Selain media sosial, kanal-kanal game online yang digandrungi anak-anak menjadi salah satu tempat berburu para pemangsa seksual. Pada 2019 lalu misalnya, publik dihebohkan dengan kasus Prasetya Devano, yang melakukan grooming kepada lebih dari 10 anak melalui aplikasi game Hago. Ia memanipulasi anak-anak usia 9-15 tahun dengan cara membujuk mereka, melakukan pendekatan emosional lewat telepon, kemudian mengajak anak untuk melakukan video call sex (VCS).

Aplikasi yang sedang menjadi tren anak muda seperti Tiktok juga tidak kalah rentan. Baru-baru ini, ramai tersebar video dari akun Tiktok @Fadil yang bertuliskan “Buat anak [kelahiran] tahun 2004, kalian udah bisa buat KTP. Om tunggu di KUA ya”.

Ketika ada salah seorang yang menulis di kolom komentar bahwa umur minimal pernikahan adalah 19 tahun, ia malah menjawab bahwa hal itu bisa diatasi kalau perempuannya sudah dihamili. Meski belum ada korban, namun unggahan yang disukai hampir 230 ribu orang itu merupakan bentuk normalisasi dari perilaku grooming di internet.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Anna mengatakan bahwa masalah grooming ini tidak boleh dinormalisasi apalagi disepelekan.

“Kalau pelaku secara konsisten tertarik dengan tubuh anak-anak secara seksual, bukan cuma tertarik supaya dekat, bisa jadi pelaku itu pedofil,” ujarnya.

Menurut Anna, orang tua punya peran besar dalam mencegah anak agar tidak menjadi korban grooming. Hal yang paling mendasar dan praktis yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah dengan menangkap perubahan pada anak, mulai dari benda-benda yang anak miliki, sampai dengan perubahan perilaku yang ditunjukkan anak.

Baca juga: Hati-hati Di Internet dan Hal-hal yang Perlu Diketahui Soal KBGO

“Misalnya nih tiba-tiba anak punya barang-barang yang enggak pernah orang tua belikan. Apalagi, kalau harganya lumayan mahal. Terus, tiba-tiba orang tua merasa, anaknya kok secara perilaku berubah banget? Jadi sering main HP dan teleponan. Itu bisa saja dia sedang berhubungan dan kena grooming orang dewasa,” ujar Anna.

Hal lain yang tak kalah penting diperhatikan orang tua adalah pendidikan seksual yang tepat bagi anak. Ini bisa dimulai dengan memberi pemahaman sejak dini bahwa anak punya otoritas atas tubuhnya, dan orang lain—bahkan orang tua sekalipun—tidak bisa menyentuh apalagi meraba badan mereka tanpa izin. Anak-anak selalu punya hak untuk menolak hal-hal yang bikin tidak nyaman.

“Pendidikan seksual yang tepat tentang konsep tubuh kita itu tidak boleh disentuh orang lain, akan membuat anak sadar bagaimana caranya untuk menolak. Bahkan, dokter saja hanya boleh meraba bagian tubuh kita saat di ruang pemeriksaan. Apalagi kalau ada orang asing yang tiba-tiba mendekati kita, minta ini itu, ajari anak untuk bisa menolak itu semua,” tambahnya.

“Terakhir dan enggak kalah penting adalah membangun komunikasi yang baik dengan anak, supaya mereka lebih terbuka dengan orang tua. Seperti yang saya bilang, anak itu harus diajak bicara dan diskusi,” kata Anna.

Siti Parhani merupakan reporter Magdalene. Bisa dipanggil Hani. Mempunyai cita-cita utopis bisa hidup di mana latar belakang manusia tidak jadi pertimbangan untuk menjalani hidup.